12/12/2017

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 10 PART 2

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Avengers Social Club Episode 10 Part 1
Byung Soo pulang ke rumah dengan membawa seikat bunga dan hadiah untuk Jung Hye. 

“Apa sekarang hari ulang tahun ibu?” Soo Gyum keheranan.

“Bukan.” 

“Aku berbuat salah padamu, dan kita adalah orang yang harus hidup bersama seumur hidup kita. Kalau ada yang bisa diselesaikan, maka seleisaikan. Dan mari kita terima apapun yang layak kita terima, hmmm?” Byung Soo berbicara dengan manis, tapi seperti biasa Jung Hye tetap bersikap dingin. Byung Soo bahkan mengatakan pada Soo Gyum agar memberi tahunya apa saja yang dia inginkan sebagai hadiah ulang tahun, lalu dia masuk ke kamarnya sambil tertawa.


Di dalam kamarnya, Byung Soo berbicara di telepon.

“Ya. Carikan saja tempat untuk mereka pergi bulan-bulan ini. Lebih cepat lebih baik.” lalu melihat foto Bok Ja club di handphone nya. “Aku akan membereskan mereka secepatnya.”


Mi Sook sedang merajut saat suaminya bersiap akan pergi. Baek Young Pyo mengatakan agar Mi Sook menyiapkan makan malam karena tim kampanye akan makan di rumah.


Mi Sook menyipakan makanan untuk Baek Young Pyo dan timnya. Tapi Mi Sook kesulitan mendapat informasi dari mereka karena setiap kali Mi Sook mendekat, suaminya menyuruhnya segera pergi dengan alasan mereka sedang membicarakan hal penting.

Semua orang sudah pergi, Mi Sook sedang membereskan meja. Dia melihat ada berkas yang tertinggal. Mi Sook berusaha memotret isi berkas tersebut, tapi suaminya mendadak datang. Dia mengambil berkas yang tertinggal lalu pergi lagi.


Mi Sook menceritakan kejadian di rumahnya kepada Bok Ja club.

“Kalau begitu, bagaimana kalau mencari informasi siapa yang memberikan mereka uang?” Do Hee bertanya pada Jung Hye.

“Dia mencurigai kita dan bahkan mendatangi unnie, kenapa dia mau menjawabnya kalau aku menanyakannya?”

“Bukannya ada bukti? Apa kau tidak mendengar apapun kemarin?” Soo Gyum bertanya pada Mi Sook.

“Aku berusaha mendengarkan nya tapi suamiku menyuruhku pergi. Dia hanya memberitahu mereka agar membereskan dokumen yang ada di kantor. Ah! Itu dia!” Mi Sook sepertinya punya ide cemerlang.


Mi Sook datang ke kantor suaminya dengan membawa buket bunga dan memberikan sesuatu untuk staffnya.

“Omo! Tapi nyonya… Kandidat Baek dan semuanya punya jadwal acara, jadi mereka sudah pergi.”

“Tidak apa-apa. Aku cuma datang sebentar untuk mengantar ini.”

“Omo… Terima kasih.”


Mi Sook masuk ke ruangan suaminya untuk meletakkan bunga dan mencari dokumen. Dari ruangan itu Mi Sook melihat staffnya sedang menghancurkan kertas-kertas. Saat staff itu membuang kertas yang sudah hancur ke tempat sampah, Mi Sook menunggunya pergi lalu membawa kantong sampah berisi potongan kertas yang dicarinya.


Mi Sook memberi anggota Bok Ja club yang lain masing-masing bagian potongan untuk disatukan.

“Aku jelas melihatnya semuanya ada di sini.”

“Jadi maksudmu…. Ki… Kita menyatukan ini semua?”


Mi Sook menempelkan potongan-potongan kertas itu di rumah sakit bersama ibu mertuanya. Tapi tiap kali Mi Sook menyatukan kertas, ibu mertuanya mengacaknya lagi. Memintanya berhenti melakukan ini, karena ini tidak menyenangkan baginya.

Sedangkan Do Hee mengerjakan di rumah bersama Hee Soo dan Hee Kyung. 

“Dokumen apa sih ini?” tanya Hee Kyung.

“Makanya kita sedang mencari tahu.”


Bok Ja Club berkumpul lagi, semua anggotanya merasa kelelahan menyatukan potongan-potongan kertas itu.

“Kalau aku bisa melakukan ini sebagai pekerjaan, aku pasti mendapatnya banyak uang.” Do Hee mengeluh sambil menyandarkan kepalanya di meja.

“Sekarang setiap kali aku melihat kertas, kepalaku jadi pusing.” Jung Hye juga mengeluh.

“Kalau saja aku fokus seperti ini waktu belajar, aku pasti diterima di Harvard.” keluhan Soo Gyum membuat mereka tertawa.


Tanpa sepengetahuan Mi Sook, ibu mertuanya berhasil menyatukan potongan kertas dan mulai terbaca tulisan “Rekening Luar Negeri….. Kontribusi”.


Byung Soo memberikan brosur universitas di luar negeri kepada Soo Gyum.

“Apa ini?” Soo Gyum meletakkan brosurnya di meja.

“Katanya sekarang adalah waktu yang terbaik untuk pergi ke sana. Lagipula kau harus belajar masalah management. Lebih bagus kalau kau mulai mempelajarinya di universitas.”

“Sedang apa kau?”

“Ah kau. Pilih yang kau sukai. Ini.” Byung Soo tidak menjawab pertanyaan Jung Hye, tapi menyodorkan katalog rumah. Dia mengatakan tidak akan mengirimkan anaknya sendirian, Soo Gyum memiliki ibu yang baik yang akan mendukungnya, dan juga Jung Hye tidak tenang tinggal di sini.

“Ayah!”

“Tidak perlu terburu-buru memutuskan. Kau bisa memilih universitas setwlahbtsetelah tibaba di sana. Semuanya sudah dipilih berdasarkan banyak pertimbangan. Jadi santai saja memilihnya.”

“Bagaimana ayah bisa memutuskan sendiri tentang masalah ini?”

“Karena kau sudah masuk ke keluarga ini. Ini yang harus kau lalui.”

“Aku tidak pernah berpikir begitu. Aku tidak akan pergi.”

“Ayah tidak meminta pendapatmu. Sekarang ini kau cuma harus memilih universitas mana yang mau kau masuki.”

“Hentikan. kau tahu yang kau bicarakan tidak masuk akal.”

Byung Soo tertawa dan mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan izin dari ayah Jung Hye untuk mengirim mereka ke luar negeri.

“Kenapa kau yang memutuskan di mana aku harus tinggal?”

“Karena sudah diputuskan. Pergilah dengan senang.” lalu Byung Soo berjalan ke kamarnya.


Jung Hye mengikuti Byung Soo le kamarnya.

“Ijin dari ayahku. Apa itu maksudnya?”

“Aku tidak bermaksud begitu. Aku berusaha melindungimu dan Soo Gyum. Kau dan dia… Apa kau tidak tahu ada gosip aneh bertebaran? Gosip itu sampai ke telinga ayah, dia sangat khawatir kalau berpengaruh pada perusahaan. Dia berulang kali bilang padaku untuk memastikan kalau tidak berpengaruh pada perusahaan Geon Ah.”

“Aku akan berbicara sendiri dengan ayah mengenai hal ini.”

“Jangan membuat orang capek, lakukan saja seperti yang diperintahkan. Karena tidak ada satupun orang yang menerimamu dan anak itu.”

“Kau. Aku tidak akan membiarkan itu.”


Saat sarapan bersama, Byung Soo mengatakan bahwa dia sudah mengurus soal pindah sekolah. Dia berkata pada Jung Hye bahwa dia menyuruh orang untuk membantunya soal pendaftaran ke universitas.

“Kenapa tidak kau lanjutkan saja bantuan palsu mu?”

“Ah… Dan juga sebelum kalian pergi, belajarlah bahasa inggris.” dia tertawa lalu pergi. Soo Gyum dan Jung Hye melanjutkan sarapan dalam diam.


Jung Hye berbicara di telepon dengan Soo Gyum dan mengatakan kalau dia sudah memutuskan bagaimana dia akan hidup ke depannya. Soo Gyum hanya mengatakan kalau itu keputusan yang bagus, lalu menutup teleponnya.


Soo Gyum menemui presdir Lee.

“Kakek. “kakiku”.... Aku mengijinkan kakek “mengikatnya”.”

“Apa? Sepertinya kau punya permintaan. Biarkan aku mendengarkan.”

“ Lepaskan nyonya. Aku akan membiarkan kakek “mengikat kakiku” tapi tolong, lepaskan nyonya.”
“Apa alasan kamu mau melakukan ini?”

“Ayah berencana mengirim aku dan nyonya ke luar negeri dengan paksa. Aku tidak mau ayah memerintah aku dan nyonya lagi. Aku mau kakek mengurus situasi ini. Kakek bilang, keluarga adalah orang yang kau perlukan. Saat ini aku memerlukan kakek.”


Mi Sook berada di rumah sakit karena ibu mertuanya kambuh. Dia berusaha menelopon suaminya memintanya datang ke RS, tapi Baek Young Pyo tidak bisa datang karena ada pertemuan penting.

Ibu mertua Mi Sook sudah keluar dari IGD, Dokter mengatakan karena ini sudah terjadi 3x dan jika terjadi lagi akan berbahaya, obatnya hanya untuk mencegah penyakitnya bertambah parah saja.


Han So Ji sedang mengambil uang dari bawah kasur, dan dikejutkan oleh Jung Hye yang muncul di belakangnya. Dia mengira itu Byung Soo atau anak buahnya lagi.

“Aku tahu Lee Byung Soo memaksamu keluar. Aku punya permintaan.”

“Apa kau kira aku sedang dalam posisi bisa memenuhi permintaanmu?”


Jung Hye menyerahkan amplop berisi uang.

“Apa yang kau inginkan dariku?”

“Lakikan wawancara. Wawancara tentang Han So Ji, wanita simpanan Lee Byung Soo dari perusahaan Konstruksi Hae Rang. Mau atau tidak?”

“Akan ku lakukan. Akan ku lakukan. Kapan aki harus melakukannya?”

“Satu hal lagi, jangan pernah muncul di hadapan Soo Gyum lagi”

“Uh, baiklah. Baiklah lah. Baiklah.”


Mi Sook pulang ke rumah dan melihat Seo Yeon keluar dari kamar Seo Jin. Mi Sook memberi tahu bahwa neneknya kambuh, dia mengajak Seo Yeon menjenguknya besok. 


Mi Sook selesai berkemas, dan melihat Seo Jin sedang melihat tv. Baek Young Pyo sedang berbicara di acara tv, dia meminta maaf karena tidak jujur dengan keadaan Seo Jin sebenarnya. 

“Dia bersikeras kalau sistem pendidikan di Korea tidak bisa membuatnya memenuhi impiannya, dan memilih melanjutkan sekolah di luar negeri. Kenapa aku tidak bisa menghentikan keputusan anakku adalah karena aku tahu sistem pendidikan di negara ini bermasalah.”

“Itu semuanya bohong.” Seo Yeon berkomentar singkat.


Baek Young Pyo masuk ke rumah, dan Seo Yeon mematikan tv nya.

“Ayah bilang oppa yang mau pergi ke luar negeri. Dia gagal di IPA, jadi ayah bilang ayah merasa malu dan oppa harus pergi keluar negeri. Oppa sering bilang dia tidak mau pergi! Dia bilang takut, tapi ayah memaksanya!”

“Baek Seo Yeon! Memangnya apa yang kau tahu sampai kau berani bicara kasar seperti ini?!”

“Kenapa? Apa ayah akan memukulku juga?! Aku harap aku juga mati saja!”


Baek Young Pyo mengangkat tangannya akan menampar Seo Jin tapi tangan Mi Sook lebih cepat darinya. Satu tangan Mi Sook menangkis tangan suaminya dan tangan tangannya menampar suaminya. Baek Young Pyo sangat terkejut dengan tamparan istrinya.

“Beraninya kau mengangkat tanganmu padanya?”

“Kau…”

“Kau. Sudah berakhir!”
Comments


EmoticonEmoticon