12/17/2017

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 11 PART 2

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Avengers Social Club Episode 11 Part 1
Jung Hye berbicara dengan kakaknya di telepon, memberi tahukan rencana Byung Soo.

“Lee Byung Soo berusaha mengirim anak itu dan aku keluar negeri”
“Lalu?”
“Aku dengar ayah memberinya ijin.”
“Memangnya ayah perduli kau ada dimana? Manajer Lee yang memaksanya, dan Jung Joon juga ikut-ikutan memintanya. Makanya dia melakukannya.”
“Aku tidak akan pergi.”
“Apa ada yang bisa kau lakukan sesukamu?”
“Aku akan membuatnya jadi sesuai keinginanku.”
“Yang pasti keputusan berada di tangan Manajer Lee. Bukannya selalu begitu?”
“Aku akan menyingkirkan Lee Byung Soo.”
“Apa itu akan diterima oleh dua keluarga?”
“Makanya aku menawarkan perjanjian padamu.”
“Kau memintaku berada di pihakmu?”
“Saham yang aku miliki, bukannya itu yang paling kau perlukan?”


Do Hee dan Hee Soo selesai belanja dan sedang menunggu taksi. Pria tukang kayu melihat mereka lalu menyapanya.

“Oh! kita ketemu lagi di sini.”
“Ah, kita ketemu lagi.”


Hee Soo memperhatikan gerak-gerik ibunya yang tersipu malu dan salah tingkah.

“Ya, benar. Dia anakku.” Do Hee memperkenalkan Hee Soo kemudian memberi hormat pada pria itu.
“Ah, benarkah? Dia tampan. Apa kau mau pulang?”
“Ah, ya.” Do Hee menjawab dengan malu-malu.
“Bawaanmu sepertinya berat, aku akan mengantarkanmu pulang. Aku bawa mobil.”
Hee Soo langsung merebut bawaan ibunya dan membawanya sekaligus dengan barang yang dibawanya “Kami tidak apa-apa.”
“Kalau begitu... Ah, apa pisaumu bagus semua?”
“Ah, ya, ya.”
“Baguslah. Kau adalah orang pertama yang datang padaku untuk mengasah pisau. Sampai ketemu lagi.”

Do Hee dan Hee sedang membereskan belanjaan mereka dan Hee Kyung datang.

“Ibu sudah bilang nanti saja datangnya setelah kau selesai belajar, kenapa kau cepat sekali datang?”
“Aku sendiri yang harus memasak sayuran untuk ayah.”
“Uh, aigoo, dimana pikiranku?”
“Kenapa? Apa ibu lupa sesuatu?” Hee Soo bertanya pada ibunya.
“Ibu lupa beli pakis.”
“Itu... Yang paling disukai ayah.” Hee Soo megatakannya dengan muka masam lalu masuk ke kamarnya.
“Kenapa dia seperti itu? Ayahmu memang sangat suka pakis. Dipikir-pikir, belakangan ini, dia mulai bicara sesuatu, kemudian berhenti, bicara lagi kemudian berhenti lagi.” Do Hee bingung dengan sikap Hee Soo.
“Ibu, apa mungkin...”


Do Hee masuk ke kamar Hee Soo.

“Anakku...”
“Ya?”
“Hee Soo. Bukan begitu... Ahjusi yang tadi itu, apa kau pikir dia pacarnya ibu?”
“Aku juga dulu melihat dia mengantar ibu pulang.”
“Ah, waktu itu, ibu cuma.... Ibu cuma pergi untuk mengasah pisau, dan waktu itu hujan... Pokoknya, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia itu cuma tukang pahat, pemahat.”
“Bagiku, itu karena ibu tidak memberitahu apapun padaku. Makanya aku sedih, bagiku, karena ibu tidak memberitahu apapun, itulah yang paling membuat aku sedih. Dan juga, aku tidak bisa membayangkan pria lain selain ayah berada di samping ibu.”
“Aigoo. Aigoo, anakku. Kalau ibu punya pacar, ibu akan memintamu memeriksanya dulu.”
Hee Soo pun tersenyum setelah mengetahui langsung dari ibunya “Ayo cepat kita persiapkan semuanya, Noona akan merusak semuanya.”
Mereka pun bersama menuju ke dapur.


Mi Sook kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa pakaian. Saat akan keluar, dia berpapasan dengan suaminya yang baru saja pulang.

“Yeobo.” Baek Young Pyo memegang lengan Mi Sook.
“Lepaskan.”
“Aku yang salah, jadi berhentilah melakukan ini dan kembalilah ke rumah bersama Seo Yeon. Waktu pemilihan sudah dekat, dan besok kita ada pertemuan.”


“Hentikan.”
“Apa?”
“Pemilihannya, berhentilah. Kau tidak layak. Kau membuat Seo Jin seperti itu. Dan bukan hanya padaku, tapi kau juga melakukannya pada Seo Yeon. Dan kau membuat ibu bertambah sulit sekarang.”
“Kalau aku jadi pengawas pendidikan, semuanya akan baik-baik saja, tapi kau tidak bisa menahannya beberapa hari lagi?!”
“Aku tidak punya alasan untuk menahannya lagi.” Mi Sook pun pergi.


Byung Soo sedang bertemu dengan Presdir Kim.

“Waktu itu, aku melakukan kesalahan besar, jadi aku bermaksud menemuimu. Tapi, malahan kakak ipar yang menelponku duluan, aku merasa bahagia.”
“Aku dengar kau menemui ayahku? Untuk meminta ijinnya mengirim Jung Hye dan anak itu keluar negeri?”
“Ah, kakak ipar, kau juga melihag tabloid gosip kan? Aigoo, sangat sulit memblokir berita itu. Aku tidak tahu bagaimana ayahmu mengetahuinya, tapi dia juga merasa khawatir.”
“Manajer Lee, kau yang memberitahunya, benarkan?”
“Mungkin karena anak itu lahir dan dibesarkan di luar kota, dia tidak bisa menyesuaikan diri. Jadi kalau dia bisa memperluas pergaulannya di universitas di luar negeri, akan bagus buatnya.”
“Kalau begitu, mengirim anak itu saja sudah cukup.”
“Aigooo, sudah jelas ibunya harus mengurusnya. Yang pasti, dia tidak berguna di sini.”
“Kau bekerja keras, Manajer Lee. Kalau kau menyingkirkan mereka berdua, apa kau pikir semuanya akan berubah?”
“Apa yang kau bicarakan? Ini demi kebaikan dua orang itu.”
“Aku akan mendiskusikannya lagi dengan ayahku. Tidak perlu tergesa-gesa, benarkan?” setelah berbicara Presdir Kim pergi dari tempat itu.
“Kakak ipar sepertinya sedikit aneh. Aku kira dia akan senang kalau isteri pergi. Haha... Tentu saja aku harus melanjutkan rencanaku. Yang pasti, ayah mertua tidak perduli sama sekali pada isteriku.” Byung Soo berbicara pada dirinya sendiri.


Seo Yeon sedang duduk lalu Soo Gyum menghampirinya.

“Apa kau kerasan tinggal di sini?” Soo Gyum bertanya pada Seo Yeon yang sekarang tinggal di rumah sakit bersama neneknya.
“Lebih baik daripada tinggal di rumah. Tidak perlu melihat aku seperti itu.”
“Apa yang aku lakukan?”
“Karena aku lebih suka yang seperti ini. Kau pernah bertanya apa aku membenci ibuku kan?”
“Benar.”
“Alasan kenapa ibu menahan semua penderitaannya karena aku. Itulah yang aku benci. Kalau benar demi aku, maka seharusnya jangan ditahan.”
“Ya. Aku mengerti maksudmu.”


Seo Yeon memberikan sebelah headsetnya kepada Soo Gyum, lalu mereka mendengarkan lagu bersama dengan satu headset milik Seo Yeon.


Jung Hye berada di dalam mobil sambil mendengarkan dari telepon wawancara Han So Ji dengan wartawan.

“Manajer Kontruksi Hae Rang, Lee Byung Soo. Aku bertemu dengannya pertama kali waktu umurku 19 tahun. Itu adalah cinta pada pandangan pertama. Jadi, kami menjadi kekasih yang bergairah dan aku hamil. Tapi waktu dia tahu kalau aku hamil, orang itu tiba-tiba saja berubah.”


Soo Gyum datang dan masuk ke mobil, lalu Jung Hye mematikan teleponnya.

“Aku sudah bilang jangan datang.”
“Bagaimana aku bisa tenang? Siapa yang tahu hal tidak berguna apa yang akan dilakukannya?”


“Artikelnya akan dirilis besok. Dan, Han Soo Ji akan pergi setelah itu.”
“Baguslah. Setelah artikelnya dirilis, Ayah akan sibuk mengurus kekacauannya. Dan Nyonya bisa menjalankan rencana nyonya. Aku setuju membuat perjanjian dengan Kim Jung Yoon.”
“Perjanjian? Seperti perjanjiannya denganku? Demi sahamku, dia setuju untuk membantuku. Kau tidak perlu melakukan itu.” Jung Hye sepertinya kecewa dengan tindakan Soo Gyum.


Soo Gyum telah menemui kakeknya dan memintanya untuk melepaskan Jung Hye.

“Kakek, "Kakiku", boleh kau tangkap. Aku mengijinkanmu "menangkapnya"
“Apa? Sepertinya kau punya permintaan.”
“Tolong lepaskan nyonya. Aku akan membiarkan kakek "menangkap kakiku". Tapi, tolong lepaskan nyonya”


“Kau tidak perlu melakukan ini.” Jung Hye tidak setuju dengan tindakan Soo Gyum.
“Ini juga balas dendamku.”
“Kau harus meninggalkan rumah ini.”
“Untuk balas dendam?”
“Untuk dirimu sendiri. Keluar dan hiduplah dengan bebas. Itulah balas dendam yang sesungguhnya”
Han So Ji muncul di jendela mobil. “Anakku. Selamat tinggal. Anakku, kau tidak akan terluka oleh orang kampung, benarkan?”
“Pergilah ke jalanmu sendiri.” Soo Gyum berbicara dengan ketus.
“Itu benar. Kalau saja kau membuat keputusan dengan jelas seperti ini. Tidakkah lebih baik bagi kami berdua?”
“Kita semua harus hidup dengan baik sekarang. Ayo kita pergi.” 


Han So Ji menemui Lee Byung Soo di kantornya.

“Kau tahu kalau wawancara yang asli besok?”
“Tentu saja. Cepat berikan yang kau janjikan.” Han Jo Si menagih uang yang dijanjikan Lee Byung So.
“Setelah wawancaranya selesai, setelah aku memastikannya.”
“Kalau begitu cepat berikan aku naskahnya. Kau ingin aku bilang apa?”
“Lakukan yang benar kali ini. Ini akan jadi yang terakhir kalinya bagiku dan kau.”
“Kau menjanjikan akan memberikan dua kali lebih besar dari yang diberikan wanita itu.”
“Aku tahu, akan kuberikan!.”


Jung Hye sedang menelepon wartawan yang mewawancarai Han So Ji.

“Artikelnya pasti akan diterbitkan besok? Aku mengerti.”


Mi Sook dan Seo Yeon sedang bersama nenek.

“Seo Jin... Anakku.” Nenek berbicara dalam tidur.
“Ibu...”
“Nenek tidur terus dari kemarin. Ini aneh.”
“Ibu akan memanggil dokter.”


Di luar kamar perawatan, Baek Young Pyo baru saja datang dan melihat Mi Sook keluar dari kamar.

“Yeobo. Yeobo!”
“Itu... Ibu sekarang ini...”
“Kenapa kau tidak menjawab telponku? Apa?”
“Ini....”
“Kau... Aku ini sibuk, apa kau harus membuat aku datang kesini? Bukannya aku sudah bilang ada pertemuan pasangan hari ini dengan Senator Choi?”
“Sekarang bukan waktunya untuk ini. Ibu sedang...”
“Berhentilah membuat alasan menggunakan ibuku! Bukan cuma sekali dua kali saja kau begitu! Kau berusaha menghancurkan apa yang aku lakukan, makanya kau sengaja melakukan ini! Kau benar-benar mau melihat aku jadi gila?” 
“Ibu!” Seo Yeon memanggil Mi Sook.


Dokter sedang memeriksa keadaan nenek.


“Nenek...!” Seo Yeon menahan tangisnya.
“Ibu... Ya?” Mi Sook mendekat ke sisi ibu mertuanya.


“Ini.” Nenek memberikan sebuah jeruk untuk Baek Young Pyo.

“Ibu...” Mi Sook menangis sambil menerima syal dari ibu mertuanya.
“Anakku... Aku baik-baik saja... Semuanya baik-baik saja.” Nenek berbicara sangat pelan dan terbata-bata.


“Jangan pergi. Kalau ibu pergi, lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Anakku.... Mi Sook.... Sekarang... Jangan menderita... Lagi...”
“Ibu!” semua menangis saat nenek menghembuskan nafas terakhirnya.


Byaek Young Pyo, Mi Sook, dan Seo Yeon menerima para tamu di rumah duka.


Baek Young Pyo menyambut seorang yang baru saja datang.
“Pak. Kau pasti sangat sibuk...”
“Kau pasti sangat berduka. Kau pasti sibuk dengan kampanye, dan sekarang, ibumu meninggal.”
“Silahkan masuk.” 
Do Hee melihat Baek Young Pyo saat menyambut tamunya.
“Bahkan di sinipun dia tetap berkampanye.” 


“Ibumu sedang bersama ahjuma. Nenekmu pergi ke tempat yang bagus. Dia seperti malaikat, benarkan?” Soo Gyum berdiri di sebelah Seo Yeon yang sedang menangis.
“Bagus sekali kalau dia bertemu dengan oppa. Mereka sudah bersama-sama. Seperti ini... Kalau saja aku tahu dia akan pergi secepat ini... Aku seharusnya lebih sering mengunjunginya.”


“Tetap saja, setidaknya kau melihatnya di akhir hidupnya. Belum lama nenekku meninggal. Tiba-tiba saja, waktu dia bekerja di kebun. Tapi, karena aku melakukan hal bodoh, aku bahkan tidak bisa melihatnya pergi.”
“Apa kau tinggal bersama nenekmu?”
“Iya. Nenek dan kakek yang membesarkan aku. Mereka membesarkan aku dengan baik, benarkan?” Soo Gyum berdiri menghadap Seo Yeon memamerkan dirinya. Seo Yeon pun tersenyum melihat tingkah Soo Gyum.


Jung Hye  sedang mencari berita tentang wawancara Han So Ji beberapa hari yang lalu.

(Wanita simpanan Konstruksi Hae Rang)
(Hasil tidak ditemukan)

Lalu dia menelepon wartawan yang melakukan wawancara, tapi nomornya tidak bisa dihubungi.
“Sudah lewat beberapa hari sejak kau bilang artikelnya akan diterbitkan.” Jung Hye berbicara sendiri.


Byung Soo muncul dengan wajah ceria.

“Apa yang terjadi? Sepertinya sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu. Lihatkan, aku sudah bilang diam sajalah. Kau lebih cocok dengan sifat seperti itu.”
“Apa kau yang membuatnya menghilang?”
“Huh? Apa? Ah... wanita itu. Kaulah yang membuatnya menghilang. Itu sebabnya kau tidak boleh percaya pada orang lain dengan mudah. Jadi berhentilah berusaha melakukan sesuatu padaku, dan cepat saja pilih rumah untuk kau tempati di sana. Haha..” saat Jung Hye pergi dia tertawa.


Jung Hye datang ke kantor kakaknya.

“Aku tidak bisa menghubungi wartawan yang melakukan wawancara.”
“Bagaimana dengan wanita itu? Bukannya aku melarangmu bertindak sendiri? Aku bertemu dan bicara dengan Lee Byung Soo.”
“Apa yang dia bilang?”
“Sepertinya dia ingin mengirimmu ke tempat yang jauh. Apa yang telah kau lakukan,. Sampai-sampai Lee Byung Soo berbuat seperti itu?”
“Dia memerlukan aku, tapi tetap membuat aku berada di sampingnya membuatnya terganggu”
“Kau juga tahu, emosi seperti itu. Kalau aku yang memintanya, ayah akan menghentikannya Tapi kalau kau mendapatkan sesuatu, kau harus memberikan sesuatu sesuai perjanjian. Sepertinya kau terburu-buru. Aku tidak mau sering-sering melihat wajahmu. Lebih baik cepat-cepat mengakhirinya...”
“Apakah berakhir atau tidak, itu terserah aku.” 
Presdir Kim dikejutkan dengan kata-kata Jung Hye belakangan ini.


Baek Young Pyo pulang dalam keadaan mabuk.

“Kita barusan mengucapkan selamat tinggal pada ibumu pagi ini”
“Memangnya kenapa?”
“Kau seperti ini, apa kau bahkan tidak merasa malu pada ibumu?”
“Apakah kematian ibuku juga salahku? Apa kau tahu? Apa kau tahu bagaimana perasaanku?! Apa kau tahu bagaimana aku menahannya setiap harinya?! Apa kau tahu?!” Baek Young Pyo berteriak pada Mi Sook dan melempar bantal ke kepalanya.


Do Hee sedang memberi tahu anak-anaknya kalau ada yang akan datang menginap.

“Ibu, siapa yang akan datang malam-malam begini?” tanya Hee Soo.
“Oh, Mi Sook.”
“Siapa Mi Sook?” Hee Kyung tidak mengenal Mi Sook.
“Oh, itu... kalian tahu Seo Yeon, kan? Seo Yeon dan ibunya Seo Yeon.”
“Jam segini?! Kenapa?” Hee Soo masih tidak mengerti.
“Pertengkaran suami isteri, mereka diusir, benarkan?” Hee Kyung menjelaskan pada adiknya.
“Jaga ucapanmu. Bersikap yang wajar saja seperti biasanya, mengerti?” Do Hee menegur Hee Kyung.


Mi Sook dan Seo Yeon masuk ke rumah.

“Masuklah, Seo Yeon, selamat datang.” Mereka menyambut Mi Sook dan Seo Yeon.
“Aku benar-benar minta maaf datang selarut ini, unnie.”
“Selamat datang di rumah Hong Do! Masuklah, masuklah. Oh, Seo Yeon, kau ingat aku kan, gurumu? Sebenarnya, aku bukan guru lagi. Panggil saja aku unnie. Ayo kita tidur di kamarku.” Hee kyung dan Seo Yeon masuk ke kamarnya.
“Anggap saja rumah sendiri. Baiklah, baiklah... Silahkan masuk.” Do Hee mengajak Mi Sook ke kamarnya.
“Terima kasih, unnie.”
“Untuk apa? Anggap saja rumah sendiri. Berikan saja aku $300. $300.”
Mereka pun  tertawa.


Seo Yeon sedang duduk di depan pintu, dan Hee Soo melihatnya lalu duduk di sebelahnya.

“Kenapa? Apa kau tidak bisa tidur? Cuma saja, tadi, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih. Kau membantu noonaku menyelesaikan kasusnya.”
“Oh, itu. Soo Gyum sunbae yang menyuruhku melakukanny.”
“Pokoknya, terima kasih.”
“Maafkan aku.”
“Huh?”
“Waktu kau terluka, aku melihatnya.”
“Aaahhhh! Aku dengar dari Soo Gyum hyung, kalau bukan dia, pasti kau yang akan menolongku.”
“Sunbae itu benar-benar banyak bicara.” Mereka berdua tertawa.
“Di sini dingin, jadi pakailah selimut waktu kau tidur. Tidurlah dengan nyenyak.”


Do Hee dan Mi Sook berbicara di tempat tidur.

“Apa kau yakin tidak apa-apa?”
“Aku rasa ini satu-satunya cara untuk menghentikan dia.”
“Aku khawatir situasinya bertambah berat bagimu. Setelah kau mengungkapkan semua penderitaanmu. Setelah kau mengungkapkan lukamu, semua orang akan berbicara mengenai dirimu.”
“Aku punya Seo Yeon dan bokja klub.”
“Itu benar. Kau punya kami. Tidurlah dengan nyenyak.”
“Unnie juga.”


Bokja Club sedang berkumpul.

“Rencana Mi Sook berjalan dengan baik?” Jung Hye bertanya pada Mi Sook.
“Ya, semuanya sudah diatur. Tapi, Jung Hye, artikelnya...”
“Aku rasa ayahku ikut campur.”
“Kami pikir, entah bagaimana caranya, dia menghentikannya. Kalau dia memblokirnya, maka kita harus membukanya.” 
“Haruskah kita melakukan wawancara lagi?”
“Telponnya tidak aktif.”
“Tunggu sebentar. Wawancaranya sudah diposting.” Soo Gyum menunjukkan rekaman wawancara ibunya.
(Anak itu adalah seluruh hidupku. Waktu aku berumur 20 tahun, aku melahirkan sendirian, dan membesarkan anakku dengan susah payah. Belum cukup dia dibawa pergi dariku, aku bahkan diancam dan disuruh untuk meninggalkan negara ini. Aku menentang menantu tertua Konstruksi Hae Rang, yang orang tahu sebagai anak bungsu dari Perusahaan Geon Ah. Aku sangat takut. Karena aku ibu yang lemah dan tidak berdaya. Anakku, ibu minta maaf.)


Jung Hye memukul meja lalu berdiri.
“Lee Byung Soo, aku tidak akan membiarkanmu.”
“Baiklah, penyihir itu... Ayo kita tangkap wanita itu.” Soo Gyum juga ikut berdiri.
“Ayo kita pergi sama-sama.” Do Hee setuju dengan mereka.
“Ayo kita pergi, aku rasa aku tahu dimana dia berada.” 
“Aku pergi duluan.” Jung Hye lalu meninggalkan mereka.


Mi Sook mendapat telepon dari rumah sakit.
“Ya, halo. Rumah sakit ibuku?”


Perawat memberikan beberapa lembar kertas kepada Mi Sook.
“Waktu mengganti seprai, aku menemukan ini.”
“Ya, terima kasih. Apa ini?”
“Apa ini?” Soo Gyum dan Doo Hee juga penasaran.
“In-in-iniii itukan? Benarkan?”
“Ya, benar. Wow, ini daebak.”


Jung Hye pulang kerumahnya, sebelumnya dia diserbu wartawan di depan rumah.

“Diluar, sepertinya ada keributan besar. Kau, seberapa jauh kau akan melakukan ini?” Byung Soo seperti biasa mengejek Jung Hye.
“Kau? Kemana kau menyembunyikan wanita itu?”
“Aku mengemasi banyak barang.”
“Siapa yang bilang kami akan pergi? Apa alasanmu melakukan ini?”
“Aku sudah bilang padamu, Soo Gyum akan pergi dan mendapatkan pendidikan yang bagus, dan kau bisa hidup dengan bebas. Ini bagus untuk semua orang.”
“Kau pikir semua akan berjalan sesuai rencanamu?”
“Sekarang ini, ayahmu dan ayahku keduanya ribut untuk segera menyingkirkanmu. Jadi, sadarilah situasinya, dan cepatlah bersiap-siap.” Byung Soo berjalan pergi.


Jung Hye memukul kepala Byung Soo dengan tasnya.

“Aduh! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila? Kau membuat aku muak.”
“Bagaimana dengan aku? Kau pikir aku menyukai ini? Aku menyesali setiap detik yang kuhabiskan bersamamu!”
“Kau pikir cuma kau saja yang harus menahannya?! Supaya bisa hidup bersamamu, aku harus berusaha keras!”
“Usaha? Apa kau manusia yang mampu melakukan itu?”
“Apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa bersikap seperti ini? Dulu kau bilang aku ini bukan siapa-siapa, benarkan? Lalu bagaimana denganmu? Anak haram dari Perusahaan Geon Ah, menantu dari Perusahaan Hae Rang, isteri dari Lee Byung Soo! Dari semuanya itu, yang mana yang kau peroleh sendiri?”


“Itu sebabnya aku memutuskan hidup secara berbeda kali ini.”
“Kenapa? Apa kau mau bercerai?”
“Memalukan sekali. Seharusnya aku duluan yang mengucapkan itu. Biar kukatakan lagi kalau begitu. Lee Byung Soo, aku tidak mau hidup denganmu lagi. Ayo kita bercerai!”
“Kau tidak tahu posisimu. Bercerai? Dengarkan baik-baik. Kalau kau bercerai dariku, maka kau itu bukan siapa-siapa. Apa artinya dirimu tanpa aku?”
“Yang tersisa dariku adalah aku sendiri.”
“Apa maksudnya itu?”
“Aku... Adalah Kim Jung Hye.
Comments


EmoticonEmoticon