12/17/2017

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 11 PART 1

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 11 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Avengers Social Club Episode 10 Part 2
Seo Yeon dan Mi Sook sedang melihat siaran konferensi pers Baek Young Pyo di tv dan kemudian dia pulang.


Seo Yeon berteriak pada ayahnya.
“Oppa sendiri yang mau sekolah keluar negeri?”
“Seo Yeon, masuklah ke dalam.” Mi Sook membujuknya, tapi dia masih berteriak.
“Karena dia gagal dalam ilmu pengetahuan, makanya ayah malu padanya jadi, ayah menyuruhnya untuk sekolah di luar negeri Oppa sudah bilang dia tidak mau pergi! Dia takut! Tapi ayah memaksanya pergi!”


“Yah, Baek Seo Yeon! Memangnya kau tahu apa sampai bicara kasar pada ayahmu seperti ini?!” 
“Kenapa? Apa ayah akan memukuli aku juga?! Aku berharap aku juga mati!
“Dasar!” Baek Young Pyo mengangkat tangannya, tapi Mi Sook lebih dulu menamparnya.


“Beraninya kau mengangkat tanganmu padanya?”
“Kau...” Baek Young Pyo tidak bisa berkata-kata.
“Kau... Kau sudah tamat! Kemasi barang-barangmu, Seo Yeon.”
Seo Yeon menuruti perintah ibunya.

“Ay! Apa yang kau lakukan?!”
“Kenapa aku menahannya sampai sekarang... Karena kau ayah dari anak-anak kita... Walau cuma hal kecil, setidaknya kau tidak mengangkat tanganmu pada Seo Yeon.”
“Kau juga melihatnya, gadis itu, dia bilang berharap dia mati juga!”
“Begitulah yang dirasakan Seo Yeon! Demi melindungi reputasimu, kita bahkan tidak bisa mengantarkan Seo Jin dengan benar Dan sekarang, memanfaatkan anak yang sudah meninggal, bisakah kau menyebut dirimu ayah?”
“Berapa kali harus kukatakan?! Aku melakukannya bukan demi diriku sendiri! Tapi untukmu dan Seo Yeon, untuk keluarga kita...!”
“Kau... Tidak pernah sekalipun berbuat sesuatu untuk kami.”


“Kau mau pergi kemana? Berhenti di sana!”
Mi Sook dan Seo Yeon tidak mendengarkan Baek Young Pyo dan berjalan keluar rumah.


Jung Hye sedang duduk di meja makan saat Soo Gyum pulang.
“Aku pulang.”
“Kau terlambat hari ini.”
“Aku tadi main dulu ke rumahnya Hee Soo. Orang itu... Dia menerimanya dengan senang hati kan? Baguslah kalau begitu.” Soo Gyum bertanya tentang ibunya.
“Setelah dia melakukan wawancara, dia akan segera pergi.” Jung Hye memberi tahu Soo Gyum.
“Sekarang, aku benar-benar bisa hidup tanpa harus bertemu dengannya.”
“Sebelum dia pergi, mungkin sekali saja...”
“Aku sudah muak dan capek. Nyonya juga belum berubah pikiran kan?”
“Setelah wawancara orang itu keluar, bahkan Geon Ah tidak akan bisa menghentikannya.”
“Ya. Kalau itu terjadi,
“Bahkan kakek tidak bisa menahan nyonya.”


Bok Ja Club berkumpul di tempat biasa. Mi Sook menceritakan apa yang dialaminya semalam.
“Orang itu, ini benar-benar akhir baginya. Tamat! Tidak ada cara untuk menyembuhkannya.”
“B*jingan...! Bunuh saja dia!” Do Hee dan Jung Hye bersautan memaki Baek Young Pyo.
“Itu sebabnya... aku menamparnya. Apa yang dilakukan orang itu pada Seo Yeon, aku membalasnya.”
“Kau seharusnya membalas semua perbuatannya padamu juga! Aku bilang bunuh saja dia!”
“Tenanglah! Jadi, apa Seo Yeon baik-baik saja?” Soo Gyum menenangkan Jung Hye.
“Dia sangat terkejut, tapi Dia baik-baik saja dengan neneknya sekarang.”
“Aku seharusnya menampar orang itu juga.”
“Kau? Kenapa?” Do Hee bertanya pada Jung Hye, lalu Soo Gyum yang menjelaskan.
“Ayah berusaha menyingkirkan nyonya dan aku dari negara ini.”
“Apa? Tapi bagaimana?” Mi Sook juga terkejut mendengarnya.
“Dia bilang akan mengirim kami keluar negeri. Dia menyuruh anak ini memilih universitas, Dan dia menyuruhku memilih rumah.”
“Ah! Ah, orang-orang itu. Mereka berdua bahkan datang ke tokoku, tapi mereka bersikap bodoh... Jadi, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku meminta bantuan dari semua orang, tapi... Aku masih merasa tidak tenang. Mi Sook, bagaimana denganmu?”
“Kalau aku, untuk sementara, aku bisa tinggal dengan ibu mertuaku di rumah sakit tapi, situasi kalian berdua lebih darurat. Kau bahkan tidak tahu kapan mereka akan menyuruhmu naik ke pesawat.”


“Tidak! Sebelum itu terjadi, haruskah kita kirim dia duluan?” Do Hee tampak bersemangat.
“Mengirim siapa?” tapi Jung Hye malah kebingungan.
“Lee Byung Soo, tentu saja!
“Itu benar! Kenapa kita yang harus pergi?”
“Ya... Kita harus mengirim orang itu. Aku suka itu. Tapi bagaimana caranya? Orang yang bisa mengirim Lee Byung Soo pergi, cuma ada satu orang yang bisa melakukannya.” Lalu Soo Gyum mencoba memiikirkan caranya.
“Siapa?”
“Kakek.”
“Ah, presdir? Presdir akan membuat suaminya Jung Hye mundur?” 
“Tepat sekali!” 
“Kalau begitu, kali ini juga, Jung Hye... Kau punya ide yang fantastis kan?”
“Kali ini, bahkan lebih keren lagi.”


Jung Hye datang ke rapat pemegang saham konstruksi Hae Rang. Para anggota yang lain menjadi heran karena Jung Hye tidak pernah datang sebelumnya.
“Aku juga pertama kali ini melihatnya. Mereka bilang dia tidak tahu apa-apa.”
“Bukannya itu menantu tertua? Dia tidak pernah terlibat dalam urusan bisnis perusahaan. Itu benar.” Mereka saling berbisik di belakangya.


Byung Soo memasuki ruangan, dia juga terkejut melihat istrinya di sana.
“Kenapa kau ada di sini?”
“Mulai sekarang, aku memutuskan akan bertanggung jawab sebagai pemegang saham.”


“Baguslah dia datang, ayah.” Byung Soo berpura-pura senang.
“Hyung, kau pasti merasa didukung.” Byung Hoo seperti meledek kakaknya.
“Aku yang memintanya untuk datang. Dia juga harus tertarik pada bisnis mulai dari sekarang.”
“Kau meminta tanda tangan sebagai wakilku kemarin.” Jung Hye membantah pernyataan Byung Soo.


Selama rapat Jung Hye tampak menyimak dengan serius dan mencatat beberapa hal penting. Pertemuan itu membahas proposal untuk proyek pusat perbelanjaan Shanghai di Cina yang diadakan besok.

“Aku rasa aku yang harus bertanggung jawab... Aku sudah mempersiapkan semuanya.”
“Kalau begitu, aku juga akan ambil bagian. Aku akan memastikan semua berjalan dengan baik tanpa halangan.” Byung Soo tidak ingin proyek ini dipegang oleh adiknya. Tiba-tiba Jung Hye masuk ke percakapan mereka.
“Tapi, dimana lokasi pertemuannya?” dan suasana berubah menjadi sunyi.


Pertemuan sudah selesai, Byung Soo, Byung Hoo, dan Jung Hye berjalan di belakang Presdir.
“Kami hargai kau tertarik pada perusahaan.” Presdir berbicara pada Jung Hye.
“Ke depannya, aku akan lebih perhatian lagi.”

“Karena ini pertama kalinya dalam waktu 10 tahun aku melihat sisi dirimu yang seperti ini. Aku sedikit terkejut. Apa ada yang membuatmu khawatir?”
“Seperti yang sudah ayah ketahui, orang ini punya banyak kekurangan. Mulai sekarang, aku rasa aku tidak boleh berdiam diri saja.” Jung Hye melirik suaminya.


“Hei! Orang ini, memalukan sekali! Ayah, aku akan mengurus semuanya.”
“Urus saja dirimu sendiri. Para pembeli itu sudah terkenal tidak mudah percaya dan kaku. Apa kau yakin kau tidak apa-apa?”
“Aku tahu, mereka benci membuang-buang waktu. Aku sudah memeriksa semuanya.”
“Bisakah ayah benar-benar percaya padamu kali ini?”
“Iya. Karena mereka bilang jadwal mereka padat, dan mereka ingin melakukan pertemuan di pagi hari, aku juga akan bermalam di hotel. Supaya aku bisa sampai tepat waktu pagi nanti. Kali ini, aku yakin sekali. Tolong percayalah padaku, ayah”
“Ini kesempatan terakhirmu.” Lalu Presdir dan Byung Soo pergi.


“Kenapa kau betulan datang?”
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan adik ipar dan...”
“Kenapa? Kau akan memberikan sahammu padanya?”
“Sampai jumpa.” Jung Hye tidak menjawab pertanyaan suaminya.
“Benar-benar orang itu...” 


Bok Ja Club membicarakan rencana mereka selanjutnya. Dan Do Hee paling bersemangat “Aigoo! Jadi, maksudmu pertemuan suamimu dengan orang Cina itu sangat penting kan? Kalau kita mengacaukannya, maka Presdir, suaminya Jung Hye... Benar-benar akan disingkirkan.” 
“Kalau begitu, kita harus melakukan apapun supaya dia tidak bisa menemui mereka. Ayo kita bekerja. Bagaimana cara kita mengacaukannya?” Mi Sook bertanya pada Jung Hye.
“Karena dia bilang akan menginap di hotel malam ini... Kita harus melakukannya malam ini!”
Mereka saling mendekat dan menyusun rencana.


Byung Soo sedang makan malam bersama Baek Young Pyo.
“Kakak ipar pergi dari rumah? Kenapa?”
“Ada orang yang dipukul.”
“Kau memukulnya?”
“Aku yang dipukul, aku...”
“Oh... Oh, apa yang kau lakukan sampai kakak ipar memakai kekerasan... Oh, aku tidak bisa percaya... Kakak ipar sepertinya orang yang lembut. Ini pertama kalinya aku tahu kalau dia punya sisi seperti itu. Dia akan segera kembali. Tetaplah kuat, Sunbae. Sambutan atas wawancaranya bagus. Jadi, kalau kau terus seperti ini sampai pemilihan, maka benar-benar halus...”
“Bagaimana denganmu? Ternyata, ibu kandung anak itu datang ke kantor dan membuat keributan?”
“Oh... aku berusaha mengurusnya, benar-benar sulit. Presdir pasti sangat marah. Kali ini, aku akan membuat dia melepaskan semua kemarahannya dalam satu aksi. Besok, akan ada pertemuan besar dengan pembeli. Oh, setidaknya kita harus melakukannya dengan baik. Bagaimana semuanya jadi buruk bagi Sang Man...”
“Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang ini. Dia bilang dia akan berusaha membentuk organisasi Bokja Klub atau apalah itu, sepertinya tidak boleh kita remehkan?”
“Oh, itu karena Hong Sunbae melakukan kesalahan. Memangnya apa yang bisa dilakukan para ahjuma meski mereka berusaha? Aku minum ini saja, kemudian pergi. Karena aku harus bersiap-siap untuk pertemuan besok pagi.”


Byung Soo masuk ke kamar hotel yang sudah dipesannya.
“Bagus, bagus, bagus Sekretaris Joo.” Dia memuji kerja sekertarisnya yang sudah mempersiapkan segalanya untuk petemuan besok. Di dalam lemari pun sudah siap baju yang akan dipakainya.


Byung Soo membaca apa yang akan dikatakannya dalam bahasa Cina besok.
“Ini bagus. Halo. Nihao. Mohon kerjasamanya! Mohon kerjasamanya! Kau orang yang luar biasa. Kau orang yang luar biasa.”
Kemudian dia meletakkan naskahnya dan pergi ke tempat tidur, sebelum tidur dia sudah menyetel alarm.


Bokja Club masuk ke kamar hotel tempat Byung Soo menginap. Jung Hye memimpin mereka masuk, dan memberikan instruksi dengan bahasa isyarat. 


Jung Hye memeriksa apakah Byung Soo sudah tidur nyenyak dengan menggerakkan tangannya di depan wajah suaminya.


Mi Sook bertugas menjahit sesuatu pada pakaian Byung Soo.


Jung Hye sedang membuat sesuatu dengan potongan kertas, lem, dan kardus.


Do Hee dan Mi Sook menyemprotkan cairan yang sangat bau pada pakaian Byung Soo.


Soo Gyum sedang mengetik naskah.


Lalu Soo Gyum membuka kunci handphone Byung Soo.


Sebelum pergi, Do Hee akan mengambil jubah mandi Byung Soo yang tergeletak di lantai.


Soo Gyum, Mi Sook dan Jung Hye sudah selesai berkemas dan sedang menunggu Do Hee. Tiba-tiba Jung Hye bersin.


Byung Soo terbangun lalu menghidupkan lampu. Mi Sook, Jung Hye, dan Soo Gyum berpencar mencari tempat bersembunyi.


Byung Soo bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Dia melihat jendelanya belum dikunci. Lalu dia menguncinya.


Byung Soo akan ke kamar mandi, dia mengambil sandal kamar dari tempat penyimpanan, di sana juga ada Mi Sook yang sedang bersembunyi. Tapi Byung Soo tidak melihatnya.


Byung Soo masuk ke kamar mandi, di dekat pintu ada Jung Hye yang sedang bersembunyi di dalam bathtub.


Byung Soo mencuci tangan di wastafel, di bawahnya ada Soo Gyum yang sedang bersembunyi.


Byung Soo sudah mematikan lampu lalu kembali tidur. Jung Hye, Mi Sook dan Soo Gyum sudah berkumpul lagi. Tapi Do Hee belum juga muncul, lalu mereka mencarinya.


Mereka kembali ke tempat tidur Byung Soo dan melihat ada yang menyala di jendela. Itu ada lah senter Do Hee, dia bersembunyi di luar jendela. Mereka kemudian membuka kuncinya dan membantu Do Hee yang kedinginan.


Sebelum mereka pergi, Soo Gyum meletakkan selembar kertas di meja dan mengambil kertas dari meja dan memasukkannya ke dalam tas.


Keesokan paginya Byung Soo masih terlelap saat teleponnya berbunyi. Dia menerimanya dan
“Ada apa? Apa kau bilang? Apa yang kau bicarakan? sekarang bahkan belum jam 7. Apa?! Jam berapa?!” dia melihat jam di handphone lalu berteriak.


Byung Soo membuka kunci handphonenya tapi selalu gagal.
“Huh? Kenapa tidak bisa? Apa? Apa ini? ini? Aish! Ini masalah besar, masalah besar! masalah besar! Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak boleh terlambat!” dia kebingungan lalu menuju lemari pakaian.


Dia membuka lemari baju dan ternyata lemarinya sudah kosong.
“Huh? Pakaianku? Kemana perginya pakaianku? Pakaianku...”
Di dalam lemari terdapat kertas dengan tulisan:
Pergilah ke brankas.
- BJ-
“B! J! Aish! brengsek! benar-benar! Aish!”


Byung Soo akan menelepon dengan telepon hotel, tapi ternyata kabelnya sudah dipotong.
“Ini, Halo? Ha-halo? Arghh! Aku akan membunuh mereka!


Kemudian Byung Soo menuju brankas dan menemukan kotak kecil dengan tulisan: Selesaikan untuk mendapatkan kodenya. BJ.
“Ah! Benar-benar, brengsek!”


Byung Soo membuka kotaknya dan di dalamnya terdapat potongan-potongan kertas.
-Pecahkan untuk mendapatkan kodenya. BJ-
“Hanya.. Ini..” 
Byung Soo terpaksa menyusun potongan kertas itu hingga tersusun dengan benar dan menunjukkan urutan angka.
“Ini dia! Aku berhasil! 6-8-2-3-8-4.”


Byung Soo membuka brankas dengan angka tersebut dan mendapatkan sepasang pakaian lusuh yang sangat bau. Dipunggung baju itu terdapat inisial BJ yang dibuat oleh Mi Sook.


Byung Soo selesai  berpakaian, sebelum pergi dia mengambil kertas yang isinya sudah diganti oleh Soo Gyum.


Byung Soo berlari di sepanjang koridor hotel menuju ke tempat pertemuan. Di sepanjang koridor setiap orang yang berpapasan dengannya akan menutup hidung mereka.


Byung Soo sampai tepat saat rombongan pengusaha dari Cina itu akan pergi. Dia mencegat mereka, tp mereka semua menutup hidung dan tidak mau mendengarkannya.


“Aku minta maaf! Tunggu! 10 menit! Tidak, tidak, 5 menit! Cobalah lakukan sesuatu. Tunggu! Tuan Chow! Maaf, maaf, maaf. Maaf, aku minta maaf, maafkan aku.”

“Begini kelakuanmu?” presdir sangat marah pada Byung Soo.
“Ayah, aku benar-benar minta maaf, situasinya.....”


Dan Han So Ji pun datang...
“Sayang! Kenapa kau pergi tanpa aku? Oh! Omo, ayah, kita bertemu seperti ini, senang bertemu denganmu.”
“Apa sebenarnya yang terjadi?!” presdir makin marah melihat mereka berdua.
“Omo! Bau apa ini?” Han So JI menutup hidungnya.
“Tidak, ayah, tidak, tidak...”
“ Bau apa ini? Lakukan sesuatu! Cepat!”


Rombongan pengusaha itu terus berjalan keluar hotel, Byung Soo masih mengejar mereka.
“Oh, tunggu! Tuan Chow! Tuan Chow! Tuan Chow! Chow! Whoa. Whoa.”
Byung Soo kemudian membuka kertas yang dibawanya, dia membaca naskah bahasa Cina yang diketik Soo Gyum.
“Whoa. Aku sangat jijik padamu! Aku sangat jijik padamu! Jijik padamuuuuu!!!”
Mereka tidak memperdulikan Byung Soo dan cepat-cepat keluar dari hotel.


Han So Ji memberikan kode pada Bokja Club bahwa misi mereka berhasil. Jung Hye dan lainnya sangat senang sekali.


“Cepat. Cepat bayar aku.” Han So Ji menagih bayarannya pada Jung Hye.
“Mari kita buat perhitungan setelah kau selesai melakukan wawancara.”
“Ay!”
“Cobalah bersikap yang benar sekali saja”
“Tapi, apa-apaan gambaran ini? Ada banyak mata yang melihat, jadi kenapa kau tidak pergi?”
“Oh, aku takut sekali. Di sini, pelayanan kamarnya tidak bagus, bisakah kau mengatakannya pada mereka? Sampai ketemu nanti, dah!”


Presdir Kim sedang berbicara di telepon dengan Presdir Lee.
“Kau mempercayakan bisnis besar itu pada Manajer Lee. Presdir, kau pasti masih punya pengharapan pada Manajer Lee.”
“Yah, itu bisnis yang dikerjakan Manajer Lee mulai dari awal. Saat melakukan bisnis, hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.”
“Aku kira Presdir berpikiran luas. Ternyata aku salah.”
“Apa itu maksudnya?”
“Hanya karena muncul seorang cucu, kau memberikan Manajer Lee. Kesempatan yang tidak beralasan sekarang. Anak laki-laki, anak laki-laki...”
“Bukannya semua orang seperti itu? Bahkan Presdir Kim yang cerdas, mungkin akan sulit menemukan penerus dari perusahaan Geon Ah.”
“Perusahaan yang mengadakan pertemuan hari ini adalah rekan kerja yang penting bagi kami, kalau kau menangani bisnis seperti ini, itu akan membuat kami, yang mengenalkan kalian pada mereka juga terlihat buruk. Sayang sekali.”
“Nanti ke Presdir Kim, aku akan bicara...”
“Aku... sudah bicara dengan ayahku kalau hubungan kami dengan Hae Rang harus dipertimbangkan kembali.”
“Aku akan menemuinya dan bicara langsung dengannya.”


Do Hee sedang berbicara dengan Mi Sook.
“Tinggalah di sini, kau tidak bisa terus-terusan tinggal di rumah sakit.”
“Hee Soo dan Hee Kyung nanti merasa tidak nyaman juga.”
“Tidak, Hee Kyung bilang dia akan segera pergi ke Noryangjin. Karena ada kamar kosong, bawalah Seo Yeon dan tinggalah di sini.”
“Aku akan membicarakannya dengan Seo Yeon.”
“Mi Sook, pikirkanlah baik-baik. Waktu pertama kali kau jadi anggota bokja klub, kau bilang kau akan menahan penderitaanmu demi Seo Yeon. Tapi lihatlah Seo Yeon juga terluka karena itu aku menyesal pada Seo Yeon. Bagaimana perasaanmu sekarang, Seo Yeon juga akan mengerti. Kalau ada yang bisa unni bantu, bilang kapanpun saja, mengerti?”


Hee Soo sedang membuat ramen, Soo Gyum yang akan membatu dilarang oleh Jung Hye.
“Haruskah aku bantu?”
“Tidak boleh. Aku yang akan membantumu. Ramen perlu daun bawang.” Jung Hye memasukkan sebatang daun bawang yang besar tanpa memotongnya terlebih dahulu.
“Haruskah aku taruh satu lagi?” Jung Hye memasukkan satu lagi daun bawang utuh.
“Apa?” Hee Soo terkejut melihat ramen masakannya dengan dua daun bawang utuh.
“Kenapa?”
Soo Gyum dan Hee Soo hanya tertawa melihat tingkah Jung Hye.


Jung Hye memberi tahu yang lainnya “Ramennya sudah siap! Ayo kita makan ramen. Ayo kita makan. Ayo kita makan, ayo makan, ayo makan. Terima kasih makanannya.” Jung Hye sangat semangat menyantap ramen buatan Hee Soo.
“Memang apanya yang spesial? Semua ramen rasanya enak. Memang enak sih.” Soo Gyum yang belum pernah makan ramen buatan Hee Soo tidak percaya kalau ramennya sangat enak.
“Oh, Jung Hye, panas, tiup, tiup, tiup, Oh! Dia bisa buat lagi... oh, rambutmu... oh. Masak air lagi di kompor, oh.” Do Hee membantu memegangi rambut Jung Hye yang hampr masuk ke mangkoknya.


Byung Soo sedang minum-minum di rumah Baek Young Pyo.
“Kakak ipar? Apa hari ini dia tidak pulang juga?”
“Minum sajalah.”
“B.J. Aku harus melakukan sesuatu pada mereka, aku tidak tahan lagi”
“BJ? Apalagi sekarang?”
“Apa kau tahu bagaimana menderitanya aku hari ini?”
“Kau juga menderita?”
“Ayah dan semua klien menunggu, tapi di pagi hari waktu aku mau berangkat, semua pakaianku hilang, semua sambungan telpon putus. Satu-satunya pakaian yang ada, baunya...Ow..”
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau mendapatkan bukti”
“Pihak hotel bilang CCTVnya tidak boleh diperlihatkan. Tapi, tidak perlu melihat siapa mereka. Mereka meninggalkan tanda "BJ" dimana-mana. Sekarang tidak ada lagi yang mereka takutkan, dan keahlian mereka meningkat.”
“Kenapa sebenarnya mereka melakukan itu pada kita? Kapan semuanya jadi salah?”
“Pokoknya, karena mereka, aku hampir saja diusir dan dikeluarkan oleh ayahku. Dia bahkan bilang padaku jangan dekat-dekat dengan perusahaan. Aw, aku benar-benar bisa gila.”
“Aku bisa gila juga.”


Anggota Bokja Club yang lain sudah pulang, di rumahnya Do Hee hanya bersama Hee Soo.
“Ibu, apa kita ketemuan langsung di pasar besok?”
“Ya, ibu akan beli sayuran, jadi cepatlah datang setelah pulang sekolah.”
“Setelah ibu dan aku menyiapkan semuanya, kita telpon noona kalau upacaranya mau dimulai.”
“Ya, dia sama saja tinggal di perpustakaan sekarang ini.”
“Ibu...”
“Apa?”
“Apa ibu tidak menemui teman ibu sekarang ini?”
“Teman ibu barusan pergi tadi.”
”Bukan, yang waktu itu didepan rumah bersama ibu... Um... Tidak. Selamat malam.”
Hee Soo mengurungkan niatnya bertanya sesuatu pada ibunya, kemuadian dia masuk ke kamar.


Byung Soo yang sedang mabuk menerobos masuk ke kamar Jung Hye.
“Hei! Keluar.”
“Apa itu menyenangkan?”
“Ya, benar-benar menyenangkan untuk dilihat.”
“Wow, sekarang kau tidak perlu berhati-hati lagi ya?”
“Kalau kau mabuk, tidur sajalah dengan tenang. Beraninya kau datang kesini dan membuat keributan?”
“Kau... Apa kau melakukan ini supaya kekayaanmu kembali? BJ! Apa kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?”
“Dan kalau tidak?”
“Uh... Kalian sudah menganggu tiga orang!”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi tunjukkan dulu buktinya.”
“Aku, yang jadi korban,... Kamilah buktinya! Berhentilah melakukan hal bodoh dan kemasi saja barang-barangmu!”
“Sh.. dasar b*jingan...”


Setelah keluar dari kamar Jung Hye, Byung Soo masuk ke kamar Soo Gyum.
“Ini ruang belajar, kenapa ayah tidak mengetuk dulu?”
“Terserahlah, cepat buka kodenya.” Byung Soo menyerahkan ponselnya.
“Bagaimana aku tahu kode telpon ayah?”
“Kalau kau tidak tahu, lalu siapa lagi yang tahu?”
“Aku diperlakukan tidak adil.”
“Aww, baiklah, lakukan sesuatu.”
Soo Gyum mengambil ponselnya dan membuat pola untuk membuka kuncinya.
“Itu akan jadi └... atau... ┐. Itu...” Soo Gyum menyerahkan kembali ponsel ayahnya yang sudah berhasil dibukanya.
“Arrgghh.. Kau.. benar-benar.. Aarrrghh! Kau... itu... aku tahu semua hal aneh yang kau lakukan dengan para ahjuma itu! Berhentilah mumpung ayah masih bicara baik-baik, mengerti?”
“Apa yang ayah bicarakan? Aku harus belajar, tolong keluarlah.”
“Aigoo, ini! Ayah peringatkan kau.”
Comments


EmoticonEmoticon