12/19/2017

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 12 PART 2

SINOPSIS Avengers Social Club Episode 12 BAGIAN 2 SELESAI


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Avengers Social Club Episode 12 Part 1
DRAMA SELANJUTNYA || SINOPSIS Just Between Lovers

Hee Kyung dan Hee Soo sampai di rumah saat ibu mereka sedang menontonton tv. Do Hee meminta tolong Hee Kyung untuk menggaruk punggungnya.
“Aku setuju, aku sepenuh hati setuju.” Hee Kyung berbicara saat selesai menggaruk.
“Apanya?”
“Aku juga, kalau ibu bahagia, maka sudah cukup bagiku.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Kami bertemu dengan ajusshi itu.”
“Siapa?
“Orang yang sedang "pendekatan" dengan ibu. Si tukang kayu.”
“Kenapa kalian menemui orang itu? Kalian gila, gila, gila.”
“Bukannya ibu dan orang itu sedang melakukan "pendekatan"?”


“Apa-apaan kalian...?”
“Aigoo, ibu tidak tahu, ibu bahkan tidak tahu namanya, dan ibu tidak tahu berapa umurnya, ibu tidak tahu apa-apa. Apa-apaan ini?”
“Kalau begitu, ibu bertepuk sebelah tangan?”
“Apanya? Kenapa ibu bertepuk sebelah tangan? Oh, baiklah. Itu benar, ibu... Ibu merasa berdebar-debar. Pria macam apa yang melindungi ibu dengan payung dan mengantar ibu dengan mobilnya? Mengatakan kalau wanita sendirian itu berbahaya. Dan hal-hal seperti itu, membuat orang merasa berdebar-debar.”
“Cinta ibu benar-benar bertepuk sebelah tangan. Lanjutkan saja ibu, sepertinya dia orang yang baik. Lakukan saja, dan lakukan semua yang ingin ibu lakukan. Ahjusi itu kelihatannya baik, jadi kalau ibu melakukannya, aku rasa dia akan menerimanya.”
“Ay, dia tidak semenarik itu, ibu jangan terlalu menyukainya, huh?” Hee Soo tidak setuju dengan pendapat kakaknya.


Jung Hye datang menemui Presdir Lee.
“Nak, apa memang harus seperti itu?”
“Keputusanku tidak akan berubah.”
“Soo Gyum juga memintaku untuk melepaskanmu.”

“Ini adalah pilihan dan keputusanku. Jadi, tolong jangan ganggu anak itu.”
“Bukannya dia tidak ada hubungannya denganmu sekarang? Aku menyukai cucuku.”
“Kalau kau ingin Soo Gyum terus berada di sampingmu sebagai cucumu, tolong biarkan dia hidup atas keinginannya sendiri.”
“Kalau kau bercerai dari Byung Soo, kau dan anak itu jadi orang asing.”
“Selama 10 tahun, aku tidak pernah meminta apapun dari ayah. Ini adalah permintaan pertama dan terakhirku pada ayah.”


Hong Sang Man, Baek Young Pyo dan Lee Byung Soo sedang berada di sebuah ruangan di dalam penjara.
“Apa aku bilang pada kalian dulu? Huh? Aku bilang kalian tidak akan selamat, benarkan? Itu sebabnya aku bilang kita harus tetap bersama-sama, tapi kalian malah mengusirku.” Hong Sang Man tampak senang melihat nasib mereka sama dengannya.
Byung Soo : “Aigoo, benar-benar. Aku tidak tahu bokja klub akan bertindak sejauh ini.”
Baek Young Pyo : “Aku masih tidak percaya dengan situasi ini.” 
Hong Sang Man : “Itu sebabnya kita harus mencocokkan pernyataan kita juga.” 
Baek Young Pyo : “Mereka belum memastikan pembayaran ganti rugi, hm.”
Byung Soo : “Itu benar! Karena itu yang dijanjikan padamu kalau kau terpilih.”
Baek Young Pyo : “Tapi memang benar aku menerima uangmu dan menggunakannya, kalau saja detailnya...”


Soo Gyum sedang duduk di halte, Seo Yeon menghampirinya lalu meemparkan sekotak cokelat dan duduk di sebelahnya.
“Apa ini? Kau berusaha memberiku makanan penganggu?”
“Itu supaya kau bisa lulus ujian.”
“Aku sudah gagal.”
“Apa kau tidak percaya diri?”
“Kau menuai apa yang kau tanam. Tahun ini, aku tidak bisa belajar dengan benar. Apa kau menemui ayahmu?”


Seo Yeon menggeleng lalu balik bertanya “Bagaimana denganmu?”
“Aku masih belum siap.”
“Aku juga. Nanti, mau pergi sama-sama?” 
Seo Yeon menjawab hanya dengan tersenyum dan mengangguk.


“Uh, bisnya datang.” Soo Gyum memberi tahu Seo Yeon lalu menggenggam tangan Seo Yeon dan naik bis bersama.


Jung Hye tampak sangat gugup saat sedang menyetir mobil untuk mengantarkan Soo Gyum ke sekolahnya untuk mengikuti ujian.
“Kalau kau seperti ini, nanti kita terlambat, kenapa kau jadi begini?”
“Um? Apanya?”


“Kau gemetaran sekarang.”
“Oh, itu karena kau mau ikut ujian.”
“Makanya, kenapa Nyonya...”
“Aku tidak tahu, aku gemetaran setengah mati.”
“Tidak perlu begitu. Kau menuai apa yang kau tanam, aku sudah menjernihkan pikiranku
“Ya.”
“Jangan gugup.”


“Kalau kau tidak tahu jawabannya, pilih saja nomor satu.”
“Ya, aku akan pilih nomor 3.”
“Ya, nomor 3, nomor 3 itu bagus.” Dan mereka berdua tertawa.


Presdir Kim menemui Presdir Lee.
“Sekarang waktunya untuk memperjelas semuanya, Presdir.” Presdir Kim memulai pembicaraan.
“Memangnya itu mudah? Kita sudah bersama-sama selama 10 tahun.”
“Kau sudah melihat konferensi pers, Geon Ah tidak punya alasan untuk mempertahankan kerjasama dengan Konstruksi Hae Rang.”
“Baik dalam bisnis maupun hubungan antar manusia, ada saat baik dan juga saat yang buruk.”
“Kalau Presdir bicara seperti itu... Maka biarkan aku melakukan ini. Kenapa tidak kau singkirkan Manajer Lee, satu orang itu saja, presdir?”


Jung Hye datang untuk menemui kakaknya dan memberikan saham yang sudah dijanjikannya.
“Aku tidak tahu kau benar-benar memberikannya padaku.”
“Karena perjanjian tetaplah. Perjanjian.”


“Apa rencanamu di masa depan?” Presdir Kim bertaya dengan sinis.
“Aku akan memikirkannya.”
 “Apa ada sesuatu yang bisa kau lakukan sendiri?” 
“Sekarang, aku tidak takut lagi. Dan tidak ada yang tidak bisa aku lakukan.”
“Aku tidak yakin apa kau tidak punya rasa takut, ataukah kau bertambah berani.”


Jung Hye menjawab cemoohan kakaknya dengan penuh percaya diri.
“Aku berbeda darimu. Bagimu, Geon Ah adalah segalanya. Tapi bagiku, aku adalah segalanya.” 


Jung Hye akan pergi dari tempat itu, tapi dia berbalik dan menyerahkan sebuah kotak.
 “Ah. Ini.”
“Apa ini?
“Kau menyukainya. Cake. Un-nie.” Jung Hye mempertegas setiap suku kata saat memanggil kakaknya.


Jung Hye menemui Do Hee dan Mi Sook di tempat biasa.
“Tapi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tiba-tiba rasanya tidak ada lagi yang harus dilakukan.” Do Hee bertanya pada dua sahabatnya.


“Benar. Aku bangun pagi ini dan rasanya dadaku terasa hampa.” Mi Sook berbicara sambil menyentuh dadanya.
“Apa mungkin ada orang yang memerlukan bantuan kita untuk balas dendam? Ada banyak b*jingan dimana-mana.” Jung Hye memberikan idenya dan Do Hee setuju.
“Bagaimana kalau kita melakukan tugas untuk membantu para korban itu? Haha..”


“Oh Aku ingat pertemuan pertama kita di tempat ini. Sejujurnya, waktu itu aku berpikir kalian berdua itu orang yang aneh.”
“Jung Hye lah yang paling aneh.” Mi Sook menegaskan pendapat Do Hee.
“Aku?”


Mereka mengenang saat pertama mereka bertemu.
“Kau harus bergabung dengan kami.” Jung Hye meminta Do Hee masuk ke club yang dibentuknya tapi Do Hee masih belum mengerti.
“Apanya?”
“Balas dendam. Kita bekerja sama. Untuk balas dendam pada mereka yang bersalah pada kita. Kalau aku menyebutnya pertukaran balas dendam,. Mungkin kalian akan cepat mengerti.”


“Balas dendam?”
“Pertukaran balas dendam? Berhentilah bercanda, Jung Hye.”
“Buam Dong Avengers Social Klub. Bagaimana menurut kalian?”


“Aku dulu benar-benar berpikir kalian berdua itu penipu. Aku datang kesini karena aku penasaran. Tapi, aku masih belum bisa mempercayai kalian berdua. Kepada orang yang baru pertama kali kau temui, kau bilang ayo balas dendam sama-sama dan menyediakan uang yang banyak. Aku terus berpikir apa kau berusaha menipuku atau tidak.”
“Aku bukan penipu. Aku... aku bukan penipu.” Jung Hye cemberut karena Do Hee mengira dia adalah penipu.
“Ya, kau memang terlihat seperti itu. Aigoo. Tapi, Aku ingin tahu apa Soo Gyum berhasil dalam ujiannya.”


 “Aku gagal.”
“Tapi Soo Gyum, kau kan pintar dalam pelajaran.” Mi Sook tidak percaya dengan perkataan Soo Gyum.
“Bagaimanapun pintarnya aku, aku terlalu banyak menghabiskan waktuku bersama Bokja klub. Aku tidak bisa kosentrasi pada pelajaranku.”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau mungkin gagal dalam ujian, tapi tidak dalam hidupmu. Lihatlah Hee Kyung. Meskipun dia tidak pandai, tapi dia tahu dengan pasti apa yang diinginkannya... Dan sekarang dia ada di Noryangjin.”


 “Itu benar. Yang terpenting adalah menemukan impianmu. Kau juga harus mencoba menemukan apa yang ingin kau lakukan.”
“Untuk sekarang, aku rasa aku harus memotong ikatanku dengan dunia.”
“Soo Gyum. Apa kau mau pergi ke gunung atau semacam itu?”
“Aku tidak percaya diri untuk berhenti dari kegiatan bokja klub. Kalau aku mau lulus pada ujian berikutnya, aku harus belajar di rumah belajar.”
“Balas dendam kita sudah berakhir, memangnya kenapa?”
“Tapi, Kau akan tetap mempertahankan bokja klub kan?”
“Tentu saja. Bokja klub kita punya karisma yang mematikan "Bokja klub yang kejam". Sebenarnya, aku juga akan pergi.”
“Kemana?”
“Kemanapun kakiku melangkah.”
“Itu luar biasa.”
“Aku ingin bepergian. Sambil memikirkan apa yang aku inginkan dan apa yang aku suka. Unnies, apa yang akan kau lakukan?”
“Apa maksudmu, apa yang akan aku lakukan? Aku akan menjalani hidup yang normal.”
“Aku ingin bersenang-senang bersama Seo Yeon. Melakukan semua yang tidak bisa kami lakukan dulu.”


“Kalau begitu, ini benar-benar akhir dari bokja klub kita?
“Ini cuma penundaan kegiatan. Bokja klub! Fighting!”


“Apa kau benar-benar bisa pergi liburan keluar negeri?” Soo gyum bertanya pada Jung Hye saat mereka sudah berada di rumah.
“Kenapa?”
“Tidak, hanya saja nyonya pergi sendirian keluar negeri agak...” Soo Gyum sepertinya meremehkan Jung Hye.
“Aku bahkan menceraikan Lee Byung Soo, jadi apa yang tidak bisa aku lakukan?”
“Itu benar. Tolong tisu. Ada apa?” Jung Hye meminta tissue karena dai menumpahkan teh, tapi Soo Gyum malah tertawa.”
“Apa ini tidak mengingatkanmu pada sesuatu?


Soo Gyum menirukan Jung Hye sambil mnegelus tangannya sendiri.
“Unniku sangat menderita, sampai-sampai tangannya terasa seperti tangan laki-laki.”


Jung Hye mengingat kembali saat awal dia bertemu Do Hee. Saat itu dia mabuk di rumah Doo Hee. Dalam keadaan mabuk dia pergi ke toilet dan minta diambilkan tissue. Karena Do Hee sedang melakukan sesuatu, jadi Soo Gyum yang memberikan tissuenya tanpa sepengetahuan Jung Hye.
“Unniku... Sangat menderita... Sampai-sampai tangannya terasa seperti tangan laki-laki. Unnie.”
“Hmmm” Soo Gyum berusaha tidak berbicara.
“Kita harus balas dendam. Semua orang jahat itu, ayo kita bunuh mereka semual! Lee Byung Soo b*jingan. Bokja klub fighting!” Jung Hye meracau dalam keadaan mabuk.


Jung Hye merasa malu lalu segera berdiri dan akan masuk.
“Selamat malam.”


“Tapi... Setelah kau bercerai dari ayahku, kita benar-benar akan jadi orang asing.”
“Itu tidak masalah. Karena kita akan jadi "orang asing". Yang lebih baik daripada keluarga.”


Jung Hye sudah akan akan memulai perjalanannya, saat akan pergi dari rumah dia bertemu Soo Gyum yang juga akan pergi.
“Kenapa kau?”
“Aku juga harus pergi.”
“Untuk belajar di rumah belajar? Sudah mau belajar?”
“Ya.”
“Hasilnya belum keluar. Aku mengira-ngira nilaiku. Aku harus secepatnya belajar.”
“Baiklah. Saat aku bepergian, kau belajarlah dengan keras.”
“Wow... kau kejam sekali bukan? Ayo kita pergi.”


Soo Gyum sedang menunggu bis di halte, Hee Soo menghampirinya.
“Hyung!”
“Kenapa kau datang?”
“Kau bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal sebelum kau pergi? Kalau saja ibu memberitahuku, benar-benar... Aku mungkin tidak bisa melihat wajahmu sebelum kau pergi.”
“Memalukan sekali, tidak perlu ada yang dibanggakan dengan mengulang ujian.”
“Hyung. Apa masalahmu sudah selesai?”
“Ya. Sudah selesai. Kau?”
“Aku juga. Aku barusan berpikir.”
“Dia sungguh bukan supir taksi?”
“Hyung. Kau tidak tahu apa-apa. Ibuku benar-benar populer.”
“Aku tahu, aku tahu. Hong Do Ajumma punya karisma super.”
“Ahjusi itu.. Sepertinya orang yang baik.”
“Baguslah. Sekarang, tinggal aku yang harus melakukan semuanya dengan baik.”
“Hyung. Bolehkan aku mengunjungimu kapan-kapan?”
“Tentu saja. Kalau kau datang, bawalah yang banyak. Kau tahu kan?”


“Oh, benar.” Lalu Hee Soo mngeluarkan banyak roti dari tasnya dan memnerikan pada Soo Gyum.
“Aku akan memakannya! Kapan aku bisa memakan semuanya ini? Aku akan memakannya yah, tapi... Kalau aku memakan semuanya ini, aku tidak akan jadi roti kan?”


Seo Yeon mengunjungi ayahnya di penjara.
“Bagaimana kau...?”
“Ayah terkejut kan?”
“Ya.”
“Hari ini peringatan kematian Seo Jin. Aku datang kesini sebelum menemui Oppa.”
“Oh. Kau baik-baik saja kan?”
“Ya. Ayah... Sehat kan?”
“Tentu saja. Apa kabar ibu baik-baik saja?”
“Ya. Aku membawa ini untuk diberikan kepada ayah, tapi...”


Seo Yeon membawakan sebuah jeruk untuk ayahnya.
“Aku tidak bisa memberikannya.” Dia hanya menempelkan jeruk itu ke kaca yang membatasi mereka.


Seo Yeon keluar dari penjara dan ibunya sudah menunggu di luar.
“Kau tidak apa-apa?”
“Ya.”


Mereka berdua lalu pergi ke makam.
“Oppa pasti senang melihatmu datang.”
“Aku datang kesini sendiri beberapa kali.”
“Benarkah?”


Mereka juga mengunjungi makam nenek yang berada di sebelah makam Seo Jin.
“Ibu! Istirahatlah dengan tenang, kami mencintaimu.”
“Oppa, halo.”
“Ibu. Kami datang.”


Hee Soo sedang berjalan bersama Do Hee yang sedang mencoba handphone barunya.
“Aku sudah bilang ganti telpon ibu.”
“Oh. Ini benar-benar bagus. Tapi bagaimana cara pakainya? Ibu harus begadang semalaman untuk belajar.”
“Oh, benar. Ibu... Aku harus pergi ke perpustakaan.” Tiba-tiba Hee Soo meninggalkan Do Hee yang kehujanan.
“Apa?”


Pria tukang kayu itu muncul di belakang Do Hee lalu memayunginya.
“Apa? Kau, yah... oh. Aigoo.”
“Ayo kita pergi.”


Hee Soo masih dia sana dan mengamati dari belakang ibunya yang sekarang sudah berjalan dengan pria tukang kayu.


“Anak-anakku pergi ke tempatmu dan bersikap kasar...”
“Tidak. Itu menyenangkan.”


“Bukan aku yang menyuruh mereka pergi kesana. Sungguh. Aku tidak menyuruh mereka melakukannya.”
“Ya. Aku tahu. Tapi, Aku rasa kita belum tahu nama kita masing-masing. Namaku Park Seung Woo.”
“Aku Hong Do Hee. Tapi, aku lebih tua daripada kau kan?”
“Ya...yah.”
“Mungkin kau boleh memanggilku Noona. Bagaimana kalau Do Hee Noona?”


“Ah... Itu... Tidak bagus. Aku akan memikirkannya.
“Atau. Panggil saja aku Do Hee-sshi.” Mereka berdua tertawa lalu melanjutkan obrolannya di tengah rintik hujan.


Satu tahun kemudian.


Hee Kyung dan Hee Soo datang ke toko ikan ibunya dan membawa berita mengejutkan.
“Ibu! Ibu!”
“Ibu! Ibu!”
“Apa? Apa? Ada apa sekarang?”
“Ibu, noona...”
“Ada apa dengan Noona sekarang?”


Hee Kyung menunjukkan selembar kertas pada ibunya.
“Aku lulus!”
“Bagus! Bagus!” dan mereka pun berpelukan dan melompat-lompat.


Mi Sook mengajak Seo Yeon ke sebuah tempat.
“Seo Yeon. Ini tempat dimana ibu tumbuh besar.”
“Ini pertama kalinya aku datang kesini.”
“Karena ibu bisa datang kesini bersama Seo Yeon, Ibu sangat bahagia.”
“Apa tidak sulit tinggal di sini?”
“Ada saat-saat seperti itu. Tapi ibu baik-baik saja sekarang. Karena ibu bersama denganmu. Ayo kita pergi.”
“Baiklah”


Seo Yeon sedang mengamati ibunya yang sedang membacakan cerita untuk anak-anak di sana, Seo Yeon dan Mi Sook tampak sangat bahagia.


Do Hee sedang memotong kayu di tempat Park Seung Woo dan dia tampak mengelami kesulitan.
“Ada banyak gergaji mesin, tapi selalu saja pakai gergaji tangan.”
“Hei, kau bahkan jadi lebih baik daripada aku.”
“Berapa lama lagi aku harus mengergaji?”
“Pondasimu harus solid dulu.”
“Aish, seharusnya aku buat ubin saja.”
“Apa kau mau minum teh?”


“Tidak bisa, aku ada janji hari ini. Aku harus cepat-cepat menyelesaikannya dan pergi.”
“Siapa yang kau temui? Teman yang punya banyak uang, keren dan masih muda.”
“Mereka bukan laki-laki kan? Ada laki-lakinya juga.”
“Kalau begitu, aku ikut denganmu.” Park Seung Woo memegang tangan Do Hee, lalu mereka berdua tertawa.
“Aigoo. Aku benar-benar populer, dasar.”
“Ayo sungguh kita pergi sama-sama.”
“Aku....tidak bisakah kita ganti jadi ubin saja? Tanganku rasanya mau copot, huh?”


Byung Soo baru saja keluar dari tahanan. Para mantan napi yang lain dijemput oeh keluarganya, tapi dia tidak mengenali satu orang pun yang menjemputnya di sana. Lalu dia berjalan sendiri.


Seo Gyum muncul di hadapannya.
“Ayah!”
“Anakku.”
“Kau sudah banyak menderita.” 
“Apa kau datang untuk melihat?”


Soo Gyum menyerahkan sesuatu pada ayahnya.
“Tofu, ayah harus memakannya supaya tidak masuk penjara lagi.”
“Kau membawakan yang paling mahal kan? Apa belajarmu berjalan dengan baik?” Byung memakan tofu nya.
“Karena aku kehilangan waktu setahun untuk balas dendam pada seseorang, aku harus belajar dengan giat sekarang.”


“Apa kau mengulang ujianmu karena kesalahanku juga?”
“Kalau begitu kesalahan siapa?”
 “Benar, itu semua salahku” Byung Soo merangkul Soo Gyum dan membuatnya merunduk dan minta dilepaskan. Lalu mereka tertawa.
“Ini kekerasan! Kekerasan!”


“Apa kau masih berhubungan dengan orang itu?”
Byung Soo bertanya tentang Jung Hye.


Jung Hye muncul di hadapan sahabatnya dengan penampilan yang sangat berbeda.
“Oh! Omo! Jung Hye!”
“Apa ini benar-benar Jung Hye kita?! Jung Hye, apa terjadi sesuatu?”
“Whoa, nyonya.”
“Ini cocok untukku kan?”
“Jadi kenapa kau mau ketemuan di sini?”
“Aku membuat satu di gedungku.”
“Membuat apa?”


Mereka semua berada di dalam sauna.
“Jadi, maksudmu akhirnya kau membuat ini?”
“Aku tidak bisa membuatnya di rumahku. Dari semua gedung milikku, cuma lantai ini saja yang kosong.”
“Ini benar-benar sauna milik Jung Hye.”


“Ini sauna bokja klub.” Jung Hye menunjukkan tulisan di baju yang dipakai Soo Gyum.
“Aahhh. Kalau aku capek belajar, aku bisa istirahat di sini.”


Han So Ji muncul dengan penampilan yang aneh seperti biasa dan berbicara pada Soo Gyum.
“Aigoo. Anakku! Anakku!.”


Jung Hye menjeaskan kepada mereka kenapa Han So Ji bisa ada di sini.
“Aku memberinya pekerjaan. Kami tidak sengaja ketemu di Hawaii. Uangnya semua habis di kasino. Dan dia bahkan tidak punya uang untuk kembali...”
“Sejak aku bekerja di sini, pengunjung terus berdatangan.”
“Ibu bilang dapat pekerjaan, dan ternyata di sini?”
“Nak, ada yang ingin ibu berikan padamu. Ikuti ibu, tunggu sebentar, permisi.”


“Kesini, kesini. Duduklah di sini. Apa kau tahu berapa banyak uang yang ibu dapatkan hari ini?”
“Kenapa? Ibu dapat uang?”
“Lihatlah ini. Ini semua uang tip. Hari ini, ibumu di ruang Frozen, ibu menyanyi untuk anak-anak; Ibu berteriak pada mereka; popularitas ibu luar biasa. Benar.”
“Lihat bagaimana enaknya bekerja dan dapat uang kan. Seharusnya ibu dari dulu hidup seperti ini.”
“Ibu mengerti, gunakan dengan hemat.” Han So Ji menyelipkan uang ke kantong celana Soo Gyum.
“Oh, tidak perlu.”
“Apa? Belajarlah yang rajin. Jangan sampai mengulang ujian tiga kali.”
“Tidak adil, ibu tidak adil.”
“Benarkah? Ibu akan kembali bekerja sekarang.”


Bokja Club berkumpul di tempat biasanya.
“Sudah berapa lama ya?
“Benar. Berada di sini membuat aku berpikir untuk balas dendam lagi.”
“Kali ini aku rasa kita bisa melakukan apa saja.”


“Aku juga. Tunggu sebentar. Sudah lama kita tidak berkumpul. Kita harus berfoto.”
“Bagus! Aku suka! Ya! Tunggu, pakai telponku saja. Pakai ini”
“Aku ambil fotonya, I, 2, 3.”
“Oh! Mana, lihat. Kita tidak ketahuan ada dimana.”
“Minta tolong sama orang untuk mengambil fotonya.”


Soo Gyum meminta bantuan seseorang untuk mengambi foto mereka.
“Permisi, apa bisa kami minta tolong memotokan kami?”
“Ucapkan Bokja klub.”
“Bokja klub!”
“Terima kasih. Terima kasih banyak”


“Ayo kita lihat. Aku rasa dia terlalu jauh mengambil fotonya.”
“Sepertinya wajah kita tidak kelihatan, benarkan?”
“Wajah kita terlalu kecil.”
“Biar kuperbesar fotonya.” Soo Gyum memperbesar foto itu dan menuliskan “Bokja Cub Forever”.


“Wow. Telponku bisa berfungsi seperti itu? Wow, hasilnya bagus sekali. Aku harus belajar lagi.”
“Karena dia menghabiskan waktunya seperti itu, makanya dia harus mengulang ujian lagi.”
“Unnie, kirimkan fotonya padaku.”
“Aku juga, unnie.”
“Aku akan menguploadnya di grup.”


Saat mereka sedang mengobrol, di luar jendela mereka melihat seorang suami yang memperlakukan istrinya dengan tidak baik. Istrinya tampak kerepotan membawa barang-barang dan menggendong anak, tapi suaminya tidak membantu sedikitpun.
“Ayo! Aku sudah bilang cepat!”


“Oh, bukan apa-apa, teruskan saja pembicaraan kita.”
Tapi mereka saling memandang satu sama lain seperti sedang berkomunikasi satu sama lain.


Mereka lalu mengangguk dan segera bangkit darimkursi.


Mereka berari keuar mengejar sepasang suami istri itu.

1 komentar


EmoticonEmoticon