12/19/2017

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 14 PART 1

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 14 BAGIAN 1


#14 – Pergi dari Sini!


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 13 Part 2

Pak Kwak menyuruh Asisten Ki menyetir mobilnya lebih cepat agar tidak ketinggalan kapal. Il Seung juga ada di dalam mobil itu dalam keadaan terikat.


Pengacara An melarang Ketua Gook menghubungi Pak Kwak, karena ia yakin sebentar lagi mereka akan sampai. Manajer Lee juga ada bersama mereka di Pelabuhan Incheon.


Saat memasuki area pelabuhan, Incheon sadar. Ia mengamuk karena menduga Ddak Ji ada di bagasi. Mobil sempat oleng. Pak Kwak yang ada di sebelah Il Seung berusaha mengatasinya sambil menyuruh Asisten Ki mempercepat mobilnya. Il Seung terus berontak.


Mobil berjalan tidak stabil, hingga jaring ikan yang tersimpan di pinggir jalan tersangkut di ban mobil, padahal kecepatan mobil sangat kencang. Alhasil mobil terbalik!


Manajer Lee dan Pengacara An sangat terkejut. Lalu Ketua Gook langsung berlari menuju mobil Pak Kwak.


Il Seung berhasil keluar dan langsung mengecek bagasi. Ddak Ji benar ada di dalamnya dan berada dalam kondisi terjepit.


Pak Kwak dan Asisten Ki juga berhasil keluar dari mobil yang terbalik. Dan berusaha mengeluarkan kopernya, namun tersangkut.


Ddak Ji merasa sudah terlalu terlambat untuk dirinya keluar. Terlihat banyak darah di wajahnya. Il Seung berteriak meminta pertolongan. Asisten Ki dan Pak Kwak pun melepaskan kopernya dan akan membantu Il Seung.


Tapi Ketua Gook datang dan berteriak agar mereka mengeluarkan uangnya dulu. Mereka pun akhirnya membatalkan niatnya untuk membantu Il Seung.


Bensin mulai keluar dan api mulai memercik. Ddak Ji menyuruh Il Seung pergi. Tapi Il Seung tidak mau. Ia terus berusaha mengeluarkan Ddak Ji. Ddak Ji lalu mengeluarkan mainan semangkanya dan meminta Il Seung agar merawat Eun Bi untuknya. Ddak Ji dan Il Seung sama-sama menangis.


Pak Kwak berhasil mengeluarkan kopernya dan berlari menuju Ketua Gook. Asisten Ki terlihat ingin membantu tapi ia tidak bisa melakukannya. Padahal Il Seung terus berteriak agar mereka membantu menyelamatkan adiknya. 


Api mulai menyala. Dan seseorang menarik Il Seung tepat sebelum mobilnya meledak.


Chul Gi-lah yang menolongnya. Ia juga menahan Il Seung agar tidak mendekat ke arah ledakan.


Manajer Lee, Ketua Gook, dan Pengacara An hanya berdiam diri di dalam mobil dan mendengar teriakan Il Seung.


Asisten Ki dan Pak Kwak tampak berlari menuju sebuah kapal sambil membawa kopernya.


Melihat kopernya selamat, para penjahat utama tersenyum tipis dan membawa mobilnya meninggalkan pelabuhan.


“Ddak Ji....” Il Seung terus berteriak.


Esoknya harinya, Ketua Gook menerima laporan kalau uangnya sudah terkirim dengan selamat dan menyampaikannya pada Manajer Lee.


Manajer Lee lalu menuangkan teh ke gelasnya, lalu ke gelas Pengacara An. Setelah dia diam sejenak, barulah dia menuangkan tehnya ke gelas Ketua Gook. Sebelumnya, Manajer Lee pernah hanya menghidangkan teh untuk Pengacara An saja, karena merasa Ketua Gook sudah berbuat kesalahan.


Manajer Lee menyayangkan Il Seung yang tidak sekalian mati dalam kecelakaan itu. Anda saja Il Seung mati, maka mereka akan menutup kejadian sebelumnya dengan rapi.


Ketua Gook: “Ketua Jang sepertinya terlambat. Haruskah aku membuang tehnya?”
Manajer Lee: “Biarkan saja. Dia menyelamatkan orang yang seharusnya sudah mati. Kita akan membuangnya setelah kita memiliki kesempatan untuk membunuhnya.”


Ternyata orang yang dibicarakan datang. Ketua Jang. “Kau selalu datang saat tehmu sudah dingin,” kata Manajer Lee. (Hmm.. sudah kuduga, dia jadi villain lagi)


Il Seung duduk termenung di rumah duka sambil menatap mainan semangka milik Ddak Ji. Mata Il Seung masih berkaca-kaca. Tidak ada seorang pun yang datang, karena Ddak Ji tidak punya kerabat.


Kecuali Cha Eun Bi. Eun BI datang sambil menahan air matanya. Ia mengambil mainan semangkanya dari tangan Il Seung.
Flashback..


Saat pertama kali bertemu Ddak Ji lagi, Eun Bi menyatukan mainan semangkanya yang sudah terpisah selama bertahun-tahun.


Eun Bi menangis. Il Seung pun meneteskan air matanya tanpa suara.


Hanya ada figura kosong di altar, karena Ddak Ji belum pernah berfoto.


Il Seung dan Eun Bi duduk di lorong rumah duka, tanpa saling bicara.


Il Seung lalu keluar dan Chul Gi sudah menunggunya. Chul Gi meminta maaf. Ia pikir Polisi dapat menghentikan hal itu.


Chul Gi: “Jong Sam, kau harus bekerja untuk Kepolisian Nasional. Pergilah sekarang.”

Il Seung: “Untuk apa? Kenapa? Lee Kwang Ho tidak bisa membunuh detektif?”

Chul Gi: “Dia tidak akan bisa melakukannya dengan mudah. Inspektur Park tidak mudah menyerah. Dan akan lebih mudah untuk bekerja sama dengan Jaksa Kim. Mereka tidak lebih kuat dari Manajer Lee, tapi itu lebih baik dibandingkan sendirian. Dan juga, disanalah Oh Il Seung ingin berada.”


Chul Gi menyuruh Il Seung menangkap Manajer Lee dengan bantuan detektif lain. Tapi Il Seung bilang banyak detektif yang malah bekerja untuknya. Il Seung lalu meninggalkan Chul Gi.


Di Kantor Polisi, orang-orang bertepuk tangan untuk Ketua Jang. Inspektur Park bertepuk tangan dengan malas-malasan dan Jin Young malah tidak melakukannya sama sekali.


“Ya.. Unit Investigasi 5, aku suka unit ini. Kukira Song Gil Choon tidak akan pernah mengaku,” kata Ketua Jang. Ketua Jang lalu mengajak Tim Inspektur Park untuk ikut konferensi pers.


Tapi Jin Young tidak mau ikut karena ia sedang membuat laporan yang harus diselesaikan hari itu juga.


Ketua Jang memulai konferensi persnya yang diawali dengan kisah penemuan lima mayat dibawah aspal. Dan mereka sudah berhasil membuat Song Gil Choon mengakui perbuatannya.


Sersan Kwon: “Kenapa dia melakukannya di luar padahal cuaca sedang sangat dingin?”
Sersan Kim: “Dia ingin menunjukkan wajahnya di depan semua orang.”


Para reporter bertanya mengenai kekhawatiran masyarakat tentang kasus-kasus lain yang belum terungkap, berapa korban  yang hilang, dan lainnya.


Ketua Jang tidak bisa menjawabnya.


Ketua Jang kembali ke ruangannya dan melempar map yang sebelumnya ia bawa. Ia lalu mengangkat telepon dan berkata, “Ya, Ketua.. Maafkan aku.” [crstl]
Comments


EmoticonEmoticon