12/07/2017

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 PART 2

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 Part 1

“Dia kakak Thien,” kata Jin Young. Jadi, pria itu berusaha menggunakan Bahasa Korea agar mereka mengerti. Dia bermaksud mengucapkan ‘oppa’ dan ‘dongsaeng’. “Dia berada di Vietnam saat insiden ini terjadi,” lanjut Jin Young.


Inspektur Park  jadi semakin yakin kalau ini adalah perbuatan Gil Choon. “Thien dikuburkan tidak terlalu, apakah para pekerja tidak menyadarinya?’ tanya Sersan Kwon. Inspektur bilang bagaimana mereka bisa tahu jika mayatnya tertutup tanah dan aspal.


Penggali lalu berteriak memanggil para detektif. Dia menemukan sebuah kerangka tangan di sisi yang ia salah gali sebelumnya. Inspektur melihatnya dan meminta segera agar pita pengaman dipasang dan NFS segera datang.


NFS memerika seluruh bagian jalan yang sebelumnya ditutup aspal.


Sesampainya di kantor, para detektif langsung memasang wajah malas karena Pimpinan Cho sudah ada di sana. Ia ingin mendengar hasil penyelidikannya.


Inspektur Park: “Ada lima mayat yang ditemukan. NFS sudah membawa mayatnya dan Tim Forensik sudah membawa bukti-buktinya.”
Pimpinan Cho: “Apa kesimpulanmu? Apakah ini perbuatan Song Gil Choon?”
Inspektur Park: “Kami belum tahu karena penyelidikan belum selesai.”
Pimpinan Cho: “Kau pasti punya dugaan. Katakan seberapa yakin kau? 90 persen? 91 persen?”


Inspektur Park: “Dari apa yang sudah terkumpul aku sangat yakin..”
Pimpinan Cho: “Jadi 100 persen?”
Inspektur Park: “Aku sangat yakin kalau aku lapar!”


Lalu Sersan Kwon datang membawakan pizza. (yang adalah iklan hehe) Mereka mengajak Pimpinan Cho untuk makan juga. Ia protes bahwa seharusnya ini waktunya bekerja bukannya makan, tapi tetap mengambil dan memakan pizzanya. Inspektur Park bertanya kenapa Pimpinan Cho ingin menarik perhatian orang-orang.


Inspektur Park: “Apa kau ingin menutupi kasus dana Lee Kwang Ho dengan kasus ini?”
Pimpinan Cho: “Apa maksudmu? Kau hanya ingin melakukan yang terbaik untuk negara kita.”


Di rumah Oh Il Seung, Detektif Kang berkata jika dia menyimpan kartu memorinya di rumah pasti NIS sudah mengambilnya. “Di mana dia menyimpan uangnya? Pasti dia membutuhkan tempat yang luas,” kata Il Seung. Tapi Detektif Kang bilang, bahwa kartu memori itu lebih penting karena ada rekaman Lee Kwang Ho dan Gook Su Ran saat mereka melakukan serah terima uang. 


Il Seung: “Detektif Kang, apa kau tahu apa yang aku pikirkan saat hampir tenggelam? Aku ingin hidup. Aku tidak memikirkan hal itu saat dijatuhi hukuman mati dulu. “
Detektif Kang: “Apa itu berarti kau akan meneruskan hidup sebagai Oh Il Seung?”
Il Seung: “Jangan khawatirkan itu.”


Lalu Il Seung mengambil tanda pengenal polisinya. Ia melihat ada sebuah gambar berwarna emas di sana. Ia memastikannya pada Detektif Kang apakah warnanya selalu emas. “Ya, kenapa?” 
Flashback..


Saat di sel hukuman, Il Seung menatap kartu tanda pengenal Oh Il Seung asli. Namun warna gambar tersebut adalah hitam bukannya emas. Ia lalu menyembunyikan kartu itu di sela dinding. 


Il Seung: “Astaga, ini gila.
Detektif Kang: “Kau mau kemana?”
Il Seung: “Jangan ikuti aku. Aku akan kembali.”


Ddak Ji ada di dalam bus. Ia menatap barang peninggalan Jong Sam sambil menangis.


Bus Ddak Ji berselisih jalan dengan Il Seung yang akan kembali ke Penjara Musan untuk mengambil kartu memorinya.


Il Seung sampai di lokasi. Saat ini lokasi yang tadinya kosong, tampaknya akan segera dibangun. Il Seung melihat sekitar dan akan masuk ke jalan penjara. Tapi ponsel Oh Il Seung berdering, “Halo..Halo?” tapi tidak ada jawaban.


Il Seung lalu membuka pagar besi dan masuk ke dalanya.


Pak Kwak dan Asisten Ki membawa mobilnya ke tempat mereka pertama kali bertemu Il Seung palsu
Pak Kwak: “Aku penasaran apa yang sedang Jong Sam lakukan sekarang.”
Asisten Ki: “Dia sudah mematikan ponselnya.”


Pak Kwak: “Lalu? Aku bisa menyalakannya lagi. Dia mungkin sedang bertemu Baek Kyung sekarang.”
Asisten Ki: “Ya. Kita sudah menghubungi Baek Kyung sebelumnya.”
Pak Kwak: “Astaga, andai saja dulu Oh Il Seung tidak menyadari bahwa kita menyadap ponselnya, kita pasti sudah menemukan uangnya dan mengembalikannya. Lalu kita semua akan bahagia.”


Il Seung turun ke sel hukuman, dan mengambil tanda pengenal Oh Il Seung. Lalu terdengar suara pintu terbuka.


Baek Kyung masuk dan bertanya, “Apa kau menemukan tanda pengenalnya?”


Il Seung lalu melemparkan tanda pengenalnya ke atas, lalu mereka mulai berkelahi.


“Ayo kita nyalakan kameranya,” kata Pak Kwak.


Mereka terus berkelahi, sampai ponsel Oh Il Seung terlempar.


Saat berhasil menjatuhkan Il Seung, Baek Kyung ke atas berusaha untuk mengambil tanda pengenalnya. Tapi Il Seung berhasil menariknya turun kembali, dan mereka jatuh bersama.


Lalu ada suara orang yang mendekat. Il Seung langsung bersembunyi di balik tembok toilet dan Baek Kyung pura-pura masih melanjutkan pekerjaannya membersihkan sel.


Petugas yang curiga lalu memperhatikan sekeliling, sampai akhirnya ia menyorotkan senternya dan melihat lubang di langit-langit.


Baek Kyung menyerang para petugas. Momen itu dimanfaatkan oleh Il Seung untuk melarikan diri. 


Baek Kyung melihatnya dan ikut naik ke atas. Namun petugas berhasil menariknya.


Petugas satunya melaporkan keadaan darurat bahwa ada tahanan yang melarikan diri. Alarm berbunyi! Ia juga memberitahu kalau ada satu tahanan lagi yang melarikan diri.


Sementara yang lainnya melakukan pengejaran, salah satu petugas mengecek Baek Kyung. Petugas terkejut karena melihat darah mengalir dari kepala Baek Kyung.


Il Seung yang sudah ada di atas, mengambil tanda pengenalnya lalu segera pergi.


Ia sampai di akhir jalan. Ia berusaha membuka pintu terakhir, namun tidak bisa. Karena ada sebuah mobil parkir tepat di atas jalan keluarnya.


Petugas: “Dia di sana! Tangkap dia!” [crstl]
Comments


EmoticonEmoticon