12/07/2017

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 PART 1

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 BAGIAN 1


#8 – Kakak Laki-Laki & Adik Perempuan


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 7 Part 2

“Dia bukan putraku! Aku tidak mau mengatakan atau mendengar apapun. Pergilah!” kata seorang wanita paruh baya yang mengusir Jin Young dan Inspektur Park dari rumahnya.


Inspektur Park lalu memberitahu bahwa mereka datang bukan untuk putranya, melainkan mencari Thien. Wanita itu bilang mengenal Thien, tapi belum 10 hari tinggal di sana ia sudah melarikan diri. Wanita itu juga bilang bahwa Thien pergi bersama pria berpakaian hitam. 


Karena merasa Jin Young membela orang-orang jahat, wanita itu mennggunakan sapunya untuk mengusir mereka.


Lalu, Sersan Kim datang dan mengabarkan bahwa ia menemukan CCTV saat uang 500 dollar diambil dari rekening Thien. Karena saat itu sedang ada kasus penipuan telepon, Polisi masih menyimpan rekamannya. Polisi itu nantinya akan mengirimkan rekaman itu untuk mereka. Wanita dengan sapu itu memperhatikan mereka bicara.


Sersan Kwon bergabung bersama yang lainnya. Ia sudah memeriksa daerah tersebut tapi tidak menemukan orang sama sekali. Inspektur Park merasa heran karena di sana banya sekali rumah kaca, jadi tidak mungkin jika tidak ada pekerjanya.


Sersan Kim lalu menerima foto hasil CCTV dari bank, namun yang mengambil uang dari rekening Thien bukanlah dirinya melainkan seorang pria. Sayangnya kualitas gambarnya kurang bagus.


Seorang detektif bernama Kang Sang Cheol datang dan menunjukkan rekaman CCTV lainnya.


“Dua orang terlihat masuk ke bank, tapi hanya satu yang keluar. Motelnya saat ini sudah tidak ada. Aku juga tidak bisa menemukan suaminya,” kata Detektif Kang. Ia juga menceritakan rumor tentang penusukan diantara pekerja asing karena masalh perselingkuhan pada musim semi lalu. “Saat itulah Thien menghilang. Tidak ada banyak informasi mengenai Thien, karena dia pendatang baru di tempat ini.


Inspektur Park: “Di mana semua orang?”
Detektif Kang: “Maksudmu para orang asing?”
Inspektur Park: “Ya.”
Detektif Kang: “Mereka mungkin ada di gunung. Mereka takut karena detektif dari Seoul ada di sini.”
Jin Young: “Di mana gunungnya?”
Detektif Kang: “Lewat sini..”


Sesampainya di gunung, para imigran gelap berlarian namun tim berhasil menggiring mereka masuk ke salah satu rumah kaca yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.


Sersan Kim menunjukkan foto pria yang mengambil uang di rekening Thien. Semua orang bilang tidak mengenalnya.


Jin Young melihat seorang wanita yang melihat ke arah lemari di belakangnya. Karena curiga, Jin Young akan membuka lemarinya.


Namun, seseorang keluar lalu berusaha melarikan diri. Inspektur Park dan Jin Young berhasil menangkapnya.


Sersan Kim menyamakan wajah pria itu dengan foto di ponselnya. “Aku rasa ini benar dia,” katanya. Sersan Kwon bertanya di mana Thien, tetapi pria itu malah menangis.


Seorang wanita lalu  memberitahu jika pria itu tidak bisa Bahasa Korea. Wanita itu juga bilang ia tidak mengerti bahasanya, karena dia berasal dari Kamboja sedangkan pria itu dari Vietnam, dan tidak ada lagi orang Vietnam di sana.


Sersan Kwon bertanya yang mana tas pria itu. Ia lalu membuka tasnya dan menemukan sebuah liontin milik Thien. Pria itu menangis lagi. “Apakah kau mencekik Thien?” tanya Sersan Kim sambil mempraktekkannya.


Sambil menangis, pria itu menunjuk-nunjuk dirinya dan berkata, “Oka.. Oka.. Dou Dou..” Sersan Kwon berinisiatif untuk mencari penerjemah Bahasa Vietnam.


Sersan Kim lalu menggerakkan tangannya seperti sedang menggali. “Di mana Thien? Di mana kau menguburnya?” Lalu pria itu menunjuk ke suatu arah.


Mereka membawa pria itu ke arah yang dimaksud. Pria itu histeris. Ia menunjuk ke arah jalan aspal. Jin Young lalu memakai sarung tangannya dan mendekat lebih dulu ke arah jalan aspal.


“Aku rasa ini sebuah scarf. Sepertinya dia dikubur di sini,” kata Jin Young. Mereka mengeluh pasti biaya menggali aspalnya mahal. Jin Young merasa aneh, karena pria itu terlalu mudah mengaku. Inspektur Park lalu meminta Sersan Kim agar mencari penggali yang murah.


Il Seung sudah selesai membajak ponsel Oh Il Seung. “Keluarlah. Aku tahu kau ada di sana. Harusnya kau menyamakan langkah kakimu denganku, seperti yang kau ajarkan dulu.”


Detektif Kang lalu tertawa dan bertanya apakah ia terlalu kentara. Ia lalu melihat ponsel Il Seung dan mengambilnya. “Sini, kau tidak tahu cara menggunakannya. Dia hanya punya satu panggilan keluar,” kata Detektif Kang. 


Detektif Kang lalu menghubungi nomor itu. Mesin menjawab, “Masukkanlah nomor pin untuk mendengar pesanmu.” Detektif Kang mengeluh tapi ia mengerti karena isinya rahasia. Ia lalu menunjukkan contoh kartu pin dan bertanya pada Il Seung apakah melihatnya di barang-barang Oh Il Seung.


Pembajak 1: “Apakah kau ingat anak yang membawa ponselnya ke sini?”
Pembajak 2: “Siapa? Teman Porn King?”
Pembajak 1: “Ya, kau tidak akan percaya aplikasi yang ada di ponsel itu. Dia punya alat penyadap dan satu lagi untuk mengakses dan mengontrol kamera pengawas.”
Pembajak 2: “Daebak.. Jadi kau menghapusnya?”
Pembajak 1: “Tidak. Aku benci orang yang tinggi, jadi aku biarkan saja.”


Sementara Il Seung mencari kartu PINnya, Detektif Kang mencari alat penyadap, tapi ia tidak menemukan apapun. Il Seung berhasil menemukan kartunya.


Detektif Kang menekan nomor PINnya dan mendengarkan pesan suaranya.


Suara Oh Il Seung: “Aku memasang kamera di kantor Lee Kwang Ho. Aku sudah mengamankan kartu memorinya. Aku punya buktinya. Aku berencana untuk mencuri 100 milyarnya. Aku akan menyembunyikannya di suatu tempat dan akan memberitahumu nanti.”


“Sepertinya ada yang mengejarku. Aku meninggalkan pesan untuk berjaga-jaga jika nanti aku mati. Aku ada di Pelabuhan Incheon.”


“Sepertinya aku ketahuan. Aku akan menghubungimu lagi.” Lalu Oh Il Seung melemparkan ponselnya dan menjalankan lagi mobilnya.


Bip – Ini Kim Yoon Su. Tolong hubungi aku. – Bip – Kau baik-baik saja? Besok, aku akan memanggil kembali Lee Kwang Ho. Hubungi aku. – Bip


Detektif Kang mengambil kesimpulan bahwa Oh Il Seung bekerja sama dengan Jaksa Kim. “Dia memasang kamera dan merekam transaksinya. Ketika mengambil memorinya, dia mencuri uang 100 milyar dollar. Dia menyembunyikan bukti dan uangnya di Pelabuhan Incheon, untuk kemudian menyerahkannya pada Jaksa Kim. Tetapi sesuatu membuatnya takut, jadi dia melemparkan ponselnya, dan melarikan diri.”


Il Seung: “Jadi seperti itulah Oh Il Seung.”
Detektif Kang: “Aku mengerti apa yang terjadi, tapi aku belum menemukan jawaban atas pertanyaanku. Di mana bukti dan uangnya?”
Il Seung: “Truk. Kita harus mencari lokasi truknya.”
Detektif Kang: “Ini berhubungan dengan Lee, jadi dia mungkin sudah membuangnya. Dia mengganti mobil, sehingga tidak ada yang bisa mengikutinya. Aku yakin mereka sudah mengecek semua CCTV.”
Il Seung: “Jadi, kartu memori itu apa?”


Detektif Kang lalu mengambil kartu memori yang ada di ponsel Oh Il Seung dan memberi tahu bahwa foto yang diambil akan tersimpan disana. Il Seung berkata, “Ini sangat kecil! Jika dia menyembunyikannya dengan baik, maka tidak ada bisa menemukannya.”


Manajer Lee Kwang Ho memainkan sempoanya. Ia menghitung bahwa walaupun ia simpan uangnya di bank, bunganya sangat kecil. Jadi lebih baik menyimpannya secara tunai. Tapi sekarang uang hilangnya. Ia berbicara dengan jaksa yang menangkap Jong Sam muda. Statusnya kini ialah sebagai Pengacara Manajer Lee.


Seseorang mengetuk pintu. Ketua Gook masuk. Pengacara menasehati Ketua Gook bahwa seharusnya ia tidak datang, karena mata semua orang sedang tertuju padanya.


Ketua Gook: “Aku bekerja di NIS selama 20 tahun. Kau tidak perlu khawatir.”
Manajer Lee: “Cukup. Apa yang membawamu kemari?”
Ketua Gook: “Aku khawatir. Aku tahu kau sudah membuat perjanjan, tapi kita tidak bisa membiarkan Kim Jong Sam bergerak bebas.”
Manajer Lee: “Kau seharusnya sudah mengurusnya sebelum aku turun tangan.”
Ketua Gook: “Maafkan aku.”


Manajer Lee lalu menyodorkan segelas teh, “Minumlah tehnya.” Ketua Gook mengucapkan terima kasih dan akan mengambil gelasnya. “Oh, ini untuk pengacaraku,” lanjut Manajer Lee.


“Tidak apa-apa, kau bisa meminumnya. Kau pasti sangat haus,” kata pengacara ke Ketua Gook sambil tersenyum mengejeknya. 


Penggali dan alat beratnya sudah datang, tapi dia malah menggali sisi lainnya, bukan sisi yang benar. Sersan Kim mencari yang murah, jadi yang ia dapatkan adalah orang yang baru melakukan pekerjaan itu.


Jin Young lalu menunjukkan sisi yang benar. Penggali menggerakkan alatnya dan membuka aspal yang dimaksud.


Terlihat wajah dan rambut manusia!


Pria yang mengenal Thien kembali histeris. Ia berusaha mendekat ke arah mayat Thien dan terus berteriak, “Oka oka.. Dou dou.. oka oka dou dou”. Sersan Kwon bilang penerjemah pun tidak mengerti artinya.


Jin Young melihat aplikasi bahasa di ponselnya, “Dia bilang ‘kakak laki-laki’ dan ‘adik perempuan’” [crstl]
Comments


EmoticonEmoticon