12/12/2017

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 9 PART 1

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 9 BAGIAN 1


#9 – Tanda Pengenal Oh Il Seung


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 8 Part 2

Dari dalam bus yang dinaikinya, Ddak Ji yang sedang menangisi kematian Jong Sam, malah melihat seseorang mirip Jong Sam  yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengan dirinya. Karena penasaran, ia meminta supir untuk menghentikan busnya.


Ddak Ji sampai di area pembangunan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat, lalu menemukan pagar besi di bawah tanah.


Ddak Ji lalu melihat para pekerja yang mulai berdatangan. Ia panik dan bersembunyi.  Sayangnya, ia tidak bisa menghentikan saat seseorang menyetir mobilnya mundur sampai menutupi pagar besi.


Si supir terlihat menyerahkan kunci mobil pada temannya.


Ddak Ji juga melihat ada yang berusaha membuka pagar besi itu dari dalam. Akhirnya ia keluar dari perembunyiannya dan memberitahu si supir agar menggeser mobilnya, karena ada orang yang terkunci di bawah mobil.

Ddak Ji berusaha mendorong mobilnya, namun tidak berhasil.


Sementara itu, petugas yang mengejar semakin banyak dan semakin dekat.


Supir berhasil mendapatkan kuncinya kembali, namun karena merasa gugup, ia kesulitan untuk memasukkan kuncinya. Akhirnya ia berhasil menjalankan mobilnya.


Ddak Ji langsung membuka pagar dan membantu Il Seung palsu naik.


Il Seung yang sudah berhasil naik, sangat terkejut karena yang membantunya ternyata adalah Ddak Ji. “Kau?” Tapi Ddak Ji langsung menyuruh Il Seung agar pergi dari sana.


Petugas yang sedang mengejar menerima informasi dari handie talkienya yang menyuruh mereka mundur, karena jika ada yang mengetahuinya maka mereka semua akan dipecat.


Petugas di ruang kontrol memberitahu bahwa banyak orang dl luar karena sedang ada pembangunan, dan itu bisa membahayakan pekerjaan mereka. Petugas yang mengejar akhirnya kembali ke dalam penjara.


Il Seung dan Ddak Ji berhasil sampai di pinggir danau. Merek mencoba mengatur napasnya. Il Seung lalu memukul bahu Ddak Ji, dan bertanya apa yang terjadi. Tapi Ddak Ji membalas dengan pukulan yang lebih keras, “Harusnya aku yang bertanya!”


Ddak Ji sangat kesal karena ia hampir mati karena terlalu khawatir. Tapi Il Seung malah menggodanya.


Ddak Ji: “Kenapa tidak ada yang mengejar kita?”
Il Seung: “Kau benar. Kenapa tidak ada yang mengejar?


Di penjara, Baek Kyung yang sudah mendapat pertolongan pertama, lalu dibawa ke dalam ambulance.


Petugas yang tadi meminta petugas yang lain untuk mundur berkata bahwa mereka akan membuat alasan bahwa Baek Kyung terluka saat bekerja di workshop. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menutup lubang di sel hukuman dan juga menutup jalurnya. Ternyata jalur itu adalah pintu keluar darurat bagi petugas di masa lalu yang sudah ditutup saat bangunan baru dibuat.


Petugas lain bertanya, bagaimana dengan tahanan yang satu lagi. Namun karena tahanan masih lengkap, maka mereka menganggap itu di luar yurisdiksi mereka.


Seorang petugas memperlihatkan ponsel yang ia temukan di sel hukuman. Itu ponsel Oh Il Seung asli yang terjatuh saat Il Seung dan Baek Kyung berkelahi. “Anggap itu tidak pernah ada,” kata Kepala Penjara.


Pak Kwak dan Asisten Ki melihat ambulance pergi membawa Baek Kyung. Mereka kesal karena kehilangan Jong Sam dan memutuskan untuk menemui Baek Kyung agar mengetahui apa yang sudah terjadi.


Di rumah sakit, Asisten Ki mengawasi Baek Kyung yang sedang diperiksa oleh dokter dan ditemani seorang petugas.


Asisten Ki memberi tahu Pak Kwak bahwa sepertinya kondisi Baek Kyung baik-baik saja, sehingga akan dibawa kembali ke penjara. Asisten Ki mengambil kesimpulan bahwa Baek Kyung pasti akan diinvestigasi dan tidak akan bisa menggunakan jalur keluar itu lagi. Jadi Pak Kwak akan membuat Baek Kyung mendapat diagnosa penyakit yang lebih serius agar Baek Kyung tidak dibawa kembali ke penjara. Pak Kwak meminta Asisten Ki untuk memesan kamar rumah sakit yang murah untuk baek Kyung sebagai formalitas.


Petugas memberi peringatan pada Baek Kyung, “Jangan berbuat bodoh.”


Setelah petugas pergi, Pak Kwak masuk dan memuji Baek Kyung, tapi ujung-ujungnya dia bertanya, “Dimana tanda pengenalnya?”


Il Seung dan Ddak Ji pergi ke halte bus. Il Seung memberi tahu Ddak Ji identitas yang ia pakai sekarang, tapi tidak mau menjelaskannya lebih jauh.


Ddak Ji: “Ini tidak bahaya kan?”
Il seung: “Tidak, hanya sementara. Ini akan berakhir dalam beberapa hari.”


Ddak Ji lalu menunjukkan surat kematian Jong Sam yang diberikan petugas penjara padanya. Tadi itu dia sedang menuju tempat yang ditunjukkan di kertas itu, yaitu fasilitas pemakaman untuk orang yang tidak memiliki kerabat. “Kita masih bisa menemukannya jika kita segera kesana. Ayo,” ajak Il Seung.


Ddak Ji sampai di tempat yang dituju, ia menyerahkan kartu identitasnya yang bernama asli Geum Byul. Ia mengatakan bahwa ia sudah seperti saudara bagi Jong Sam. Ia juga mempersilakan petugas administrasi tempat pemakaman untuk mengecek kebenarannya ke Penjara Musan.


Petugas langsung menyuruh Ddak Ji untuk menandatangani sebuah dokumen.


Petugas: “Kau harus menunggu, karena dia belum dikremasi.”
Ddak Ji: “Baiklah.”
Il Seung: “Tunggu sebentar.”


Il Seung dan Ddak Ji terlihat sedang bicara dengan petugas kamar mayat yang memberi tahu bahwa mereka harus membayar biaya sewa per hari. Il Seung setuju dan akan membayar untuk satu bulan. 


Ddak Ji berkata bahwa ia sangat gugup dan bertanya mengapa Il Seung melakukan ini. “Hanya untuk jaga-jaga. Nanti aku mungkin bisa membuktikan bahwa Oh Il Seung dibunuh. Jika kita mengkremasinya, maka buktinya akan hilang,” jawab Il Seung.


Lalu, Il Seung bertanya kenapa Ddak Ji pergi ke penjara. Dia bilang karena ingin menemui Il Seung.
Il Seung: “Kau gila, memangnya kau tidak muak dengan penjara? Kau kan baru saja bebas.”
Ddak Ji: “Aku tidak punya tempat tujuan.”


Eun Bi masih menjalani perawatan di rumah sakit. Ia bertanya kepada Jin Young kenapa dia yang mengalami ini. Jin Young lalu memberitahu bahwa sepertinya Gil Choon mengenali Eun Bi, “Dia dipenjara selama enam bulan di Penjara Musan. Dia dibebaskan tepat di hari dia melakukan kejatan.”


Jin Young: “Apa kau tahu sesuatu?”
Eun Bi: “Kakakku dibebaskan beberapa hari yang lalu dari Penjara Musan.”
Jin Young: “Siapa nama kakakmu?”


Jin Young lalu menganalisis Geum Byul, kakak Eun Bi, yang merupakan teman satu sel Gil Choon. “Komplotannya adalah Kim Jong Sam, tapi Oh Il Seung yang berwajah mirip Jong Sam malah datang untuk menyelamatkan Eun Bi,” gumam Jin Young.


Sersan Kim mengajak Jin Young memakan pizza yang dibawanya, tapi Jin Young menolak. Ia malah meminta Inspektur Park untuk memberikannya izin untuk mengakses foto tahanan atas nama Geum Byul.


Inspektur membaca laporan Jin Young dan bertanya siapa Geum Byul. “Dia kakak Eun Bi, dan juga teman satu sel Gil Choon,” jawab Jin Young.


Il Seung menarik paksa Ddak Ji agar mau menjenguk Eun Bi dengan alasan Eun Bi sudah lama menunggunya. Ddak Ji tidak mau, ia baru akan ke sana jika sudah menghasilkan uang, atau setidaknya saat dia sudah tidak berbau penjara.


Il Seung berkata bahwa ia akan kembali ke rumah sakit besok dan meminta Ddak Ji meninggalkan pesan di ruang perawat, jika akan pergi ke suatu tempat. Il Seung lalu mendorong Ddak Ji masuk.


Ddak Ji melambaikan tangannya, tapi Eun Bi malah bertanya siapa dia. Ddak Ji lalu meminta maaf dan akan pergi.


Eun Bi: “Oppa?”
Ddak Ji: “Apa kau menangis lagi? Kau tidak mau bermain denganmu jika kau terus menangis.”
Eun Bi: “Kau benar-benar Oppa-ku.”
Flashback..


Saat Eun Bi kecil akan dibawa untuk diadopsi, Ddak Ji alias Geum Byul menyuruhnya agar tidak menangis. Ia membawakan mainan, “Kau menangis? Aku tidak mau bermain denganmu, kalau kau menangis terus?”


Ddak Ji memegang tangan Eun Bi, “Tidak sekarang. Kita akan bermain saat aku menemuimu nanti.”


Eun Bi lalu memotong mainan semangkanya, dan menyerahkanya pada Ddak Ji. Semangka itulah yang pernah ia jatuhkan saat akan mencuri di rumah Jin Young remaja. “Kita akan memerlukan ini saat bermain nanti. Bagaimana jika nanti aku tidak mengenalimu?” Eun Bi lalu naik mobil yang membawanya pergi.


Ddak Ji mengeluarkan mainan semangka yang dia miliki, dan Eun Bi pun mengambil benda yang sama dari kantongnya, dan menyatukan kembali semangka itu.


“Kenapa kau datang lama sekali. Ayo kita tinggal bersama untuk waktu yang lama, Oppa,” ajak Eun Bi lalu memeluk Ddak Ji. Mereka sama-sama berusaha menahan tangisnya.


Il Seung juga masih ada di balik pintu dan menyaksikan pertemuan yang penuh haru itu.


Saat berjalan pergi, Il Seung melihat berita saat Lee Kwang Ho dielu-elukan oleh warga pendukungnya dengan judul berita ‘Mantan Presiden Lee Sepertinya akan Dibebaskan.’


Il Seung lalu mengeluarkan tanda pengenal Oh Il Seung asli.


Ketua Gook memarahi Pak Kwak karena tidak tahu kenapa Il Seung mengambil tanda pengenal itu. “Dia sampai membuat kerusahan di penjara, itu berarti ada yang penting di sana. Tidak bisakah kau menebaknya?” Pak Kwak hanya bisa meminta maaf.


“Pergilah, dan buat kemajuan. Temukan apa yang ada di tanda pengenal itu, atau temukanlah informasi lain,” perintah Ketua Gook. “Ah, ngomong-ngomong aku ingin kau menulis surat pengunduran diri. Kau sudah tidak kompeten dan juga lambat. Itu hanya akan merusak organisasi,” lanjut Ketua Gook. Pak Kwak langsung berlutut dan memohon satu kesempatan lagi.


Ketua Gook bilang ia akan mengembalikan lagi surat pengunduran diri itu, jika Pak Kwak berhasil kali ini.


Il Seung membangunkan Detektif Kang yang tidur di rumah Oh Il Seung dan bertanya apakah Detektif Kang tidak punya rumah. Detektif Kang berkata bahwa dia sedang menunggu Il Seung. 


Il Seung lalu menyuruh Detektif Kang mengeluarkan ponslenya. Ia lalu mengeluarkan tanda pengenal Oh Il Seung, dan berhasil mendapatkan kartu memorinya.
Detektif Kang: “Apa itu kartu memorinya?”
Il Seung: “Semoga saja. Aku hampir mati untuk mendapatkannya. Cepat keluarkan ponselmu!”


“Astaga!” kata Detektif Kang saat melihat video yang ada di dalam kartu memori itu. [crstl]
Comments


EmoticonEmoticon