12/14/2017

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 1 PART 2

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 1 Part 1
Moon Soo berbicara dengan seorang wanita di depan sauna.

“Bibi. Kenapa kau ke sini? Bagaimana dengan ibu?”
“Tidak ada pelanggan yang datang ke sauna. Ibumu... dia pergi pagi-pagi sekali dan...”
“Bibi, tasku.” Moon Soo menitipkan tasnya lalu berlari.


Moon Soo melihat ibunya sedang bertengkar dengan dua orang wanita.

“Dasar kau. Kau mabuk di siang bolong. Kau bangga membiarkan anakmu mati? Hidup dengan tenang saja tidak akan cukup. Kau harusnya malu. Kalau kau membuka sauna dengan uang yang kau dapat dari menjual anakmu... Harusnya kau merendah dan menjalani kehidupan yang baik. Tapi yang lakukan hanyalah minum... Aigoo, kau tak tahu malu.” Seorang wanita memarahi ibu Moon Soo yang sedang mabuk.


Moon Soo merangkul ibunya yang sempoyongan.

“Ibu, putrimu disini. Ayo pergi. Berapa botol yang dia minum?” lalu membayar minuman ibunya.
“Ibu, ayo pergi. Sampai jumpa.”


Moon Soo masih merangkul ibunya saat berjalan pulang.

“Apa kau juga berpikir aku keterlaluan? Apa aku seperti itu?” ibu bertanya pada Moon Soo.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Supaya aku tidak melupakannya. Aku harus berteriak, sehingga aku tidak akan lupa kalau aku sudah mengirim Yun Soo. Jika tidak, aku bisa melupakannya.”
“Jika bisa, lupakan saja. Aku juga tidak bisa mengingatnya.”
“Kau dan Ibu berbeda. Ibu harus mengingatnya. Karena ini semua salahku.”


“Kenapa itu salah Ibu?”
“Itu... Itu adalah kesalahan ibu saat anak mereka pergi lebih dulu. Jika aku hidup dengan baik, mereka akan mengatakan kalau aku hidup dengan baik... Jika hidupku hancur, mereka akan bilang aku tidak tahu diri meskipun aku membuatku anakku meninggal. Jika aku tertawa atau menangis... Orang akan menunjukiku. Jadi, bahkan jika aku minum dan mara-marah... Jangan terlalu membenciku.”


Moon Soo dan ibunya sampai di rumah, lalu Moon Soo membaringkan ibunya yang sudah mabuk berat.


Moon Soo akan menyalakan lilin di kue ulang tahun, tapi tidak jadi dan mencabut lilin-lilinnya dari atas kue lalu memandangi foto keluarganya.

“Lagipula, umurmu tidak bertambah.” Moon Soo bebrbicara kepada adiknya di foto itu.


Flashback saat Moon Soo di rumah sakit karena kecelakaan tertimpa gedung yang runtuh.

“Moon Soo! Syukurlah... Moon Soo! Moon Soo! Moon Soo, kau tidak apa-apa? Moon Soo, bisakah kau mendengarku?” ibunya menangis melihat keadaan Moon Soo.
“Ibu...”
“Ya, ini ibu.... Sayangku, kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan Yun Soo?”
“Yun Soo...”
“Apa yang kau bicarakan? Dia bersamamu. Moon Soo, sadarlah. Dimana Yun Soo? Dimana dia? Kalian bersama, 'kan ?!”
“Aku tidak tahu...”
“Kenapa kau tidak tau?! Kenapa?! Pikirkan lagi! Yun Soo! Yun Soo! Dimana Yun Soo? Kenapa? Kenapa hanya kau yang ada di sini? Kenapa kau disini sendirian? Yun Soo! Ingat baik-baik!” ibunya menangis histeris dalam pelukan ayahnya.


Moon Soo dan ibunya menunggu di depan sebuah ruangan lalu ayahnya keluar dari ruangan itu.


“Apa itu dia?
“Lebih baik kau tidak melihatnya.”
“Tidak... Yun Soo!”
“Sayang!”
“Yun Soo! Ibu sudah bilang untuk bersama-sama. Ibu menyuruh kalian untuk bersama-sama!”


“Bagaimana denganmu? Di mana kau tadi, meninggalkan kedua anakmu? Aku sudah bilang untuk tidak menjual Yun Soo!” ayahnya balik memarahi ibu.
“Apa hanya aku yang salah? Ini salahku? Siapa yang tidak peduli dengan anak-anak karena terlalu sibuk di luar rumah? Dimana kau saat aku kesana-kemari mencari Yun Soo? Di mana kau?”
“Wali Ha Yun Soo.” Dokter memanggil.


“Kau masih tidak ingat?” ayah bertanya dan Moon Soo hanya menggeleng.
“Apa yang terjadi pada saat kecelakaan? Lupakan saja. Ini bukan sesuatu yang baik untuk diingat juga. Syukurlah kau bisa selamat. Apapun yang terjadi, itu bisa saja lebih buruk lagi.” Lalu ayah masuk ke dalam ruangan.


Moon Soo masuk ke dalam sebuah tempat makan yang menjual Mie dan Kimbap. Pria pemilik tempat itu keluar lalu menyapanya.

“Selamat datang.” Penjualnya adalah ayah Moon Soo.
“Aku mau makan Mie. Tolong buat yang pedas.”


Ayahnya lalu masuk ke dapur, tidak lama kemudian keluar dengan membawa pesanan Moon Soo.

“Apa Ayah tidak mau tahu keadaan Ibu? Hari ini ulang tahun Yeon Soo. Ayah harusnya mampir ke rumah.”
“Kau datang ke sini untuk mengatakan ini?”
“Ya. Kupikir Ayah lupa.”



Lee Gang Doo terbangun karena mimpi buruk, dia lalu mencari obat yang tadi dibelinya dan meminumnya.


Dia berjalan keluar dan melewati sebuah kedai. Di sana dia melihat mandor yang tadi bertengkar dengannya sedang makan, lalu meneriakinya dari luar jendela.

“Apa itu enak? Kau sering minum saat kau memecatku dan memerasku? Aku mendapatkan semua penderitaan dan kau mendapatkan semua kesenangan? Hari ini... Orang jahat hidup dengan nyaman!”


“Omong kosong apa ini?” mandor itu keluar dari kedai.
“Benar, 'kan? Ahjussi!”
“Kenapa kau menyalahkanku?”
“Apa kau senang karena memerasku, dan bisa makan daging babi? Jika kau cukup umur, bersikaplah sesuai umurmu. Jangan bisanya hanya memeras orang.”


“Apa yang terjadi, Hyungnim?” sekelompok pria mendekati mereka.


Moon Soo sedang berjalan dan tidak sengaja bertemu sekelompok pria yang berjalan tergesa-gesa.


Moon Soo menuju ke tempat yang ditinggalkan oleh sekelompok pria itu. Di sana Moon Soo melihat seorang pria (Lee Gang Doo) tergeletak dengan wajah hingga badan penuh luka, dia nyaris tak sadarkan diri.


Moon Soo kemudian mendekatinya.

“Kau siapa? Permisi. Kau tidak apa-apa? Permisi.” Pria itu tidak menjawab Moon Soo.


Moon Soo dan Lee Gang Doo berada di rumah ayah Moon Soo.

“Tidak ada rumah sakit yang buka. Aku tidak tega meninggalkan orang yang terluka di jalan.” Moon Soo berbicara pada ayahnya.
“Ya.” Ayahnya memberikan kotak obat.


Moon Soo melihat handphone Lee Gang Do, dia tidak menemukan nomor yang dapat dihubungi. Kemudian dia membersihkan luka Lee Gang Doo.


Lee Gang Doo sudah bangun dan dia bingung berada di mana.


Ayah Moon Soo muncul di pintu.

“Kau sudah bangun? Aku sudah membersihkan lukamu, tapi sebaiknya kau pergi ke rumah sakit. Ponselmu terus berdering sejak tadi. Aku tidak enak untuk mengangkatnya. Karena...”


Lee Gang Doo berjalan dengan tertatih dan terengah-engah. Di ujung jalan dia bertemu dengan adiknya, Jae Yeong.

“Kau... kenapa kau datang ke sini? Bukankah seharusnya kau di rumah sakit?”
“Apa aku mengatakan kalau aku menginginkan ini darimu?” Jae Yeong melemparkan amplop berisi uang kepada kakaknya.


“Hei... Apa yang salah dengan kakak yang memberi adiknya uang?”
“Kau sendiri tinggal di motel jelek seperti ini, namun kau ingin aku menerimanya?”
“Kau tidak apa-apa?”
“Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?”
“Apa kau belajar dengan giat?”
“Ada apa dengan wajahmu?”
“Apa kau sudah makan?”
“Jangan seperti ini dan pulang ke rumah.”
“Ini rumahku.”
“Apa kau benar-benar akan hidup bodoh seperti ini?”
“Bodoh? Aku menjalani hidupku yang seperti ini untukmu.”
“Berhentilah bersikap seperti kau tidak apa-apa. Tidak ada gunanya bagiku.”


Lee Gang Doo memasukkan amplop yang dilemparkan padanya ke dalam tas Jae Yeong.
“Pergi. Kau tidak cocok ada disini.”


Jae Yeong pergi meninggalkan kakaknya.


Lee Gang Doo masuk ke dalam dan disambut oleh temannya.

“Hyung. kau dari mana? Kenapa kau di sini dan tidak di kamarmu sendiri? Ibu menyuruhku pergi karena Ibu sedang membersihkan kamarku. Apa kau berkelahi lagi?”
“Tidak.”
“Sakit?”
“Sakit, sakit.”
“Ada gadis cantik datang mencarimu. Dia pergi setelah menangis di sini untuk waktu yang lama. Kau seharusnya tidak membuat gadis menangis. Kau akan mendapat karma.”
“Dia bukan pacarku, dia adik perempuanku.”
“Tidak masalah membuat adikmu menangis?”
“Tidak, bukan begitu.”
“Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya.”


Lee Gang Doo mengingat kembali saat dia dikeroyok dan lalu ditolong oleh Moon Soo.


Moon Soo berada di kantor, temannya memberinya secangkir kopi.

“Aku tidak membeli kopi di luar. Mesin espresso di sini sangat mahal.”
“Kelihatannya memang mahal.” Moon Soo tampaknya tidak tertarik dengan pembicaraan tentang mesin kopi.
“CEO yang merenovasi tempat ini sendiri. Dia membeli sendiri semua bahan. Sungguh... Pakaian apapun yang dia pakai, dia punya gaya yang keren. Sekilas dia terlihat kaya, 'kan? Kudengar keluarganya kaya. Bukan hanya banyak uang, tapi bisa dibilang dia berasal dari keluarga yang terpandang. Kurasa... Itu sebabnya dia sudah memiliki studio atas namanya di usianya sekarang.” Gadis itu sepertinya sangat mengagumi Seo Joo Won.
“Dia pasti berbakat.”
“Apa?”
“Dia tidak membuka studionya sendiri karena dia berasal dari keluarga yang terpandang, tapi dia pasti juga berbakat.”


Seo Joo Woon sedang makan malam bersama seorang pria dan seorang wanita. Lalu datang seorang wanita yang dipanggilnya ibu.

“Bagaimana keadaan ayah?”
“Dia tidak enak badan hari ini. Kau tidak bisa menemuinya hari ini. Kau meluangkan waktu untuk datang ke sini. Apa yang harus aku lakukan?”
“Aku bisa datang lagi lain kali. Ayo makan. Sudah lama aku tidak makan masakan Ibu.”


“Aku tidak tahu rumah siapa ini. Sebaiknya kau mengurus makanan Ayah terlebih dahulu. Pergilah.” Ibu Seo Joo Won lalu tidak jadi duduk dan pergi.


“Kapan kakakmu kembali ke Korea?” tanya wanita kepada pria yang duduk di sampingnya.
“Minggu depan. Dia bersikeras untuk kembali. Siapa yang bisa membuatnya berubah pikiran? Bukankah itu rencananya digunakan untuk tujuan komersial? Ada apa dengan pusat medis umum dan bahan energi?” pria itu bertanya pada Joo Won.
“Terjadi kecelakaan di lokasi sebelumnya dan ada beberapa masalah dalam penjualan.” Joo Won berhenti makan lalu menjawab pertanyaan.
“Siapa yang masih ingat itu? Itu semua karena ayahmu. Dan ayahku yang harus membereskan semuanya!”
“Cukup. Kenapa mengungkit orang yang sudah meninggal?” wanita itu berusaha menenangkan pria di sampingnya.
“Itulah maksudku. Jadi, pikirkan almarhum Ayahmu dan lakukan tugasmu dengan baik.”
“Jangan khawatir.” Joo Won tersenyum lalu menjawab singkat.


Joo Won berjalan keluar rumah, ibunya memanggilnya lalu memberikan bungkusan kepadanya.

“Joo Won! Bawa ini. Kau hanya perlu menghangatkannya.”
“Baik. Masuklah ke dalam.”


“Joo Won. Kudengar Yoo Jin akan pulang dan mengambil alih bisnismu. Apa tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Ibu tidak suka kau melakukan pekerjaan seperti itu. Melakukan pembangunan di tempat yang sama... Ibu merasa seperti melihat ayahmu. Membuat Ibu gelisah. Ini bisa jadi masalah. “Aku ingin tahu apakah kau terlibat...”
“Ayah tidak melakukan kesalahan.”
“Aku tahu. Aku tahu itu, tapi aku sangat bodoh masuk ke keluarga ini....”
“Aku tahu itu. Jadi, aku ucapkan terima kasih. Tidak peduli seberapa besar usaha dan bakatku, aku tidak akan ada di posisi ini tanpa mereka.”


Saku ibu Joo Won terus bergetar lalu dia mengambil dari sakunya dan membaca tulisan SOS.

“Aku ingin tahu apa yang dipikirkan orang-orang saat melihatku melakukan ini... Apakah mereka masih berpikir kalau aku ingin menjadi istri keduanya karena serakah akan kekayaannya? Aku hanya pembantu yang tidak dibayar.”
“Masuklah. Jangan membuat masalah lagi.”
“Baiklah.”


Lee Gang Doo menemui atasannya di tempat kerja yang baru.

“Dimana dia menemukan pria sepertimu... Apa dia pikir kita bisa menerima seseorang sepertimu? Apa yang kau lakukan selama ini? Tidak ada yang tertulis disini.” Atasannya kesal melihat CV Lee Gang Doo yang kosong tanpa ada keterangan pengalaman kerja.
“Buang permen karetmu, Bedebah! Beraninya kau mengunyah permen karet saat wawancara?”


Lee Gang Doo sedang diajak berkeliling proyek.

“Kita bergantian setiap minggu untuk mengambil shift malam. Hari ini, kau akan bekerja full-time. 24 jam. Kau akan bekerja pada shift malam mulai besok malam. Jadi, berangkat bekerja jam 7 malam mulai besok. Tentang hari pertamamu bekerja... Minggu... Hei, apa kau mendengarkan aku?”
“Ya.” Perhatian Lee Gang Doo tertuju pada sebuah tulisan di dinding batu.
“Pokoknya, tugas yang paling penting di siang hari adalah mengatur akses poin. Dan itu daerah dimana gedung penelitian akan dibangun. Dan kudengar akan ada taman di sini. Pada akhirnya ini akan tetap dibangun, jadi kau tak perlu khawatir. Dan... Kalau kau pergi ke sana... Hei, apa yang kau lihat? Hah? Bekerjalah dengan rajin! Ini baru permulaan!”
“Baik!” dia masih saja melihat ke arah dinding itu.


Moon Soo sedang mengikuti rapat di kantor.


Selesai rapat, Moon Soo dan staff yang lain sedang mengobrol.

“Rapat hari ini... Kurasa CEO dalam suasana hati yang buruk.” Kata seorang gadis.
“Kudengar Dikteru baru yang menangani proyek ini akan datang minggu depan dari Cheong Yoo. Biasanya dia akan melihat semuanya dengan detail. Mereka masih memperdebatkan apakah mereka akan mengadakan upacara peringatan atau tidak.”
“Oh, iya... aku juga merasa tidak nyaman dengan itu. Haruskah kita mengadakannya?”
“Upacara apa?” Moon Soo yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya berbicara.
“Kau tidak tahu tentang itu, Unnie? Ada kecelakaan besar di tempat Konstruksi.”
“Kecelakaan?”
“Kudengar mereka akan memperingatinya dengan memasang beberapa peringatan sebelum peletakan batu pertama...”
“Tak perlu diperingati. Hanya 48 orang yang meninggal dalam kecelakaan besar itu.”
“ Hanya 48 orang yang meninggal?”
“Ratusan orang meninggal akhir-akhir ini saat terjadi bencana. Apalagi 10 tahun yang lalu...”
“48 orang... Tidak hanya 48 orang... tapi sebanyak 48 orang meninggal.” Moon Soo memotong perkataan staff pria, lalu pergi meninggalkan mereka. Dia menoleh dan melihat Joo Won sedang berdiri dan sepertinya dia mendengar pembicaraan mereka.


Di dalam ruangan, Moon Soo mencari file lalu menemukan file dengan judul “Penutupan Gedung Mall S Karena Bencana Tahun 2005”. Dia membukanya dan melihat artikel “Bangunan yang Sangat Rawan Runtuh”


Lee Gang Doo sedang berdiri memandang dinding di tempat yang akan dibangun gedung.


Moon Soo menatap model bangunan buatannya lalu menghancurkannya.


Lee Gang Doo menghancurkan dinding tempat akan dibangun gedung itu dengan menggunakan palu.
Comments


EmoticonEmoticon