12/16/2017

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 2 PART 1

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 2 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 1 Part 2
Flashback.
Lee Gang Doo sedang bermain bola saat menunggu ayahnya menyelesaikan pekerjaan di proyek. Dua orang gadis melewatinya, mereka adalah Moon Soo dan Yun Soo.


“Kau sudah membeli  hadiah untuk Jae Young?”
Gang Doo menunjukkan tas yang dibawanya.
“Ayo pergi.” Gang Doo pun mengikuti ayahnya.


Manager proyek memanggil ayah Gang Doo.
“Pak Teknisi. Jika kau pergi seperti ini, siapa yang akan melakukan pekerjaan lainnya?”
“Dari beberapa hari yang lalu, aku sudah bilang hari ini putriku ulang tahun, Manajer Proyek.”
“Jika aku memperhitungkan semua itu, bagaimana kita bisa menyelesaikan konstruksi sesuai tenggat waktu? Aku bahkan membawa anakku untuk bekerja di sini.”


Seo Joo Won sedang melakukan pekerjaannya di proyek ayah nya.


“Kalau begitu, aku akan pergi setelah mengelas beberapa lempeng baja lagi.” Kata ayah Gang Doo kepada managernya.
“Ayah akan menyelesaikannya dengan cepat. Tunggu Ayah di sana sambil makan es krim.”  Gang Doo mengikuti perintah ayahnya.

Gang Doo sedang makan es krim, dari dalam toko es krim dai bisa melihat Moon Soo sedang bercermin dan memakai lipstik.


Gang Doo beberapa kali menggodanya dengan mengetuk kaca, sehingga Moon Soo bingung dan terkejut karena kacanya bergetar, tapi tidak ada siapapun. Moon Soo tidak dapat melihat siapa yang ada di balik kaca, hanya bisa melihat pantulan dirinya saja.


Setelah ketukan yang ke 3 tiba-tiba gedung bergetar, dan barang-barang berjatuhan. Dinding dan atap mulai retak.


Kaca yang membatasi Gang Doo dan Moon Soo pecah, mereka lalu berteriak dan merunduk. Kemudian mereka bisa melihat satu sama lain.


Di luar gedung sudah banyak orang yang berkerumun, polisi, serta pemadam kebakaran. Para korban yang berhasil dievakuasi dibawa dengan ambulance.


Gang Doo adalah salah satu korban yang masih hidup dan sedang menunggu petugas menemukan dirinya. Saat dia sadar, dia merasakan sakit hingga berteriak karena lututnya tertusuk besi hingga tembus ke sisi lain, tapi tidak ada petugas yang mendengarnya.


Kembali ke masa sekarang. Gang Doo sedang menghancurkan monumen di proyeknya dengan menggunakan palu besar. Potongan monumen itu bertuliskan:
Kami akan mengenang jiwa korban yang meninggal dalam kecelakaan yang tidak disengaja itu. Kami akan mengenang semangat mereka dan mengenang rasa sakit pada hari itu. Mereka yang tidak bisa hidup di dunia ini, kami harap...


Setelah monumen itu hancur, dia lalu menjatuhkan dirinya ke tanah dan duduk diam memandang puing-puing. Setelah itu dia berjalan pergi dari lokasi itu.


Seo Joo Won masuk ke ruangan Moon Soo dan mencarinya.
“Ha Moon Soo-ssi, dia belum datang, ya?”
“Sepertinya begitu.”
“Tolong hubungi dia.”
“Hari ini aku harus  mengunjungi lokasi konstruksi. Kecuali itu sangat sulit baginya.”
“Aku saja yang pergi.”
“Kupikir akan lebih baik jika Nona Ha Moon Soo pergi sendiri.”
“Baik.”


Seo Joo Woon melihat ke meja Moon Soo dan melihat beberapa artikel. Diantaranya berjudul “Lokasi Bencana Runtuhnya Gedung Yang Luar Biasa”, dan “Penutupan Gedung Mall S Karena Bencana Tahun 2005”.


Dia ingat saat mendengar Moon Soo berkata kepada staffnya saat itu “48 orang... Tidak hanya 48 orang... Tapi sebanyak 48 orang meninggal.”


Moon Soo sedang melakukan pekerjaannya di salon, lalu datang seorang wanita yang dipanggil bibi.
“Astaga. Kenapa kau masih disini? Kau tidak mau bekerja hari ini? Mintalah ibumu untuk turun dan cepatlah  pergi. Aku akan menyelesaikannya.”
“Ini. Bibi harus melakukannya dengan teliti.”
“Aku sudah sering melakukannya. Kau tidak mau pergi?”
“Oh, ada pelanggan.” Moon Soo mendengar suara bel di sauna lalu menuju ke sana.


Moon Soo membuka loket sauna dan memberi salam.
“Selamat datang.” Dia kaget melihat Seo Joo Woon ada di depannya.
“Aku khawatir kau mungkin sakit. Tapi syukurlah kau tidak sakit. So Mi bilang dia mengirimimu SMS. Kau tidak tahu?”


Moon Soo lalu mencari ponselnya dan membukanya.
“Aku menerima SMS-nya.”
“Kau sengaja tidak masuk kerja? Kau tidak berencana untuk berhenti bekerja, bukan?”


Moon Soo dan Seo Joo Woon sudah berada di dalam mobil.
“Maafkan aku karena tidak menelepon.” Moon Soo merasa tidak enak.
“Karena aku datang tanpa menelepon dulu, anggap saja kita impas.”
“Maafkan aku.”
“Tidak perlu minta maaf. Itu membuatku merasa seperti murid yang sedang bolos sekolah, itu membuatku merasa tidak bijaksana.”
“Maafkan aku.”
“Kau bilang itu tidak nyaman saat seseorang terus meminta maaf... saat pihak lain  mengatakan tidak apa-apa.”


“Omong-omong, kita mau kemana?”
“Lokasi proyek. Ada kecelakaan yang terjadi di masa lalu, jadi kita harus teliti dalam proyek ini. Tolong periksa lokasinya sehingga modelnya bisa mencerminkan semua variabel yang mungkin.”
Moon Soo termenung mendengar penjelasan CEO Seo.
“Jangan terlalu yakin hanya pada blueprint. Saat itu, kemiringannya lebih curam daripada yang diperkirakan sehingga banyak retak terbentuk selama proses pengerasan beton. Karena tekanan dari Pemilik Tanah, mereka tidak bisa menunda hari pembukaan. Jadi mereka memulai pekerjaan perbaikan untuk menambahkan lempengan logam.”
“Jika bangunan itu tidak mampu menahan berat lempengan logam, maka bangunannya akan runtuh.” Moon Soo melanjutkan kalimat CEO Seo.
“Benar. Karena kecelakaan itu, empat puluh...”
“48 orang meninggal.” Moon Soo memotong kalimat CEO Seo.
“Tidak. Penyebab kecelakaan disimpulkan sebagai salah perhitungan dari insinyur proyek. Karena insinyur itu melakukan bunuh diri, sebanyak 49 orang meninggal dunia.”


Mereka sudah sampai di lokasi proyek. Moon Soo turun dari mobil dan berdiri dengan tatapan kosong.


“Ha Moon Soo-ssi. Kau baik-baik saja?” CEO Seo berdiri di sebelahnya.
“Ya. Silakan pergi lebih dulu. Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu dulu.”
CEO Seo pun pergi.


Tiba-tiba CEO Seo mengulurkan sebuah termos minuman kepada Moon Soo.
“Jaga tubuhmu tetap hangat. Minumlah.”
Setelah Moon Soo menerimnya, dia kembali berjalan menuju area proyek.


Seo Joo Woon melihat puing-puing monumen yang berserakan.
“Astaga.” Seo Joo Woon sedang mengamati monumen yang sudah hancur.
“Aku heran kenapa ini bisa hancur.” 
“Yang benar saja.”


Moon Soo bersandar di sisi mobil sambil jongkok dan berbicara sendiri.
“Tidak ada yang terjadi di sini. Tidak ada yang tejadi disini. Tidak akan ada yang terjadi. Tidak akan ada yang terjadi. Tidak akan ada yang terjadi.”
Gang Doo melihatnya dari kejauhan “Apa yang dikatakan pada dirinya sendiri?”


“Seseorang menghancurkan ini dengan sengaja. Tidak terjadi apa-apa kemarin. Kenapa monumen ini hancur?”
“Baiklah, bersihkan ini dulu dan mencari tahu apakah semuanya baik-baik saja.”
“Baik.”
“Tolong jangan melapor ke kantor pusat dulu. Jika kau menemukan sesuatu, tolong segera hubungi aku.”
“Ya, aku mengerti.”


Seo Joo Won terkejut dengan Moon Soo yang mendadak muncul.
“Kapan kau sampai disini? Ayo pergi. Kita perlu memeriksa semua tempat.”
“Jadi bukan hanya aku yang merasa tidak nyaman dengan itu.” Moon Soo berbicara sambil melihat ke puing monumen itu.
“Apa?”
“"Ini adalah tempat di mana orang meninggal" Pemilik Tanah seperti apa yang ingin mengumumkan hal itu ke seluruh dunia?”
“Mengumumkannya ke seluruh dunia?”
“Sepertinya begitu.”


“Tutupi saja dengan rapi, dan mulailah...”
“Jika kau menutupinya, akankah hal seperti itu tidak pernah terjadi?” Seo Joo Won tidak setuju dengan Moon Soo.
“ Tidak, maksudku...”
“Kami bukan pebisnis dengan tujuan menjual barang dagangan. Jangan mengatakannya seolah-olah kau tidak tahu itu.”
“Siapa yang melakukan ini?”


Gang Doo sedang duduk di depan restoran ayah Moon Soo yang masih tutup. Tidak lama kemudian, ayah Moon Soo membuka tempat itu.
“Restoran mi macam apa belum buka jam segini? Anda tidak buka saat makan siang? Ahjussi. Anda mengenalku, kan?”
“Sulit untuk melupakan bagaimana penampilanmu.”
“Kalau begitu, Anda pasti tahu bagaimana aku sampai di sini. Aku tidak berpikir jernih jadi aku langsung pergi terakhir kali. Orang yang membawaku kemari... Siapa dia? Wanita itu?”


“Kalau kau tahu siapa dia, lalu apa?” ayah Moon Soo sedang menyapu lalu dengan sengaja mengenai Gang Doo yang sedang duduk.
“Jika aku tahu, aku akan berterima kasih padanya.”
“Sepertinya kau bekerja di sekitar sini. Mampirlah untuk makan mi saat kau lapar.”


Gang Doo dan Sang Man sedang melihat acara dokumenter tentang panda di tv. Lalu Sang Man berguling menirukan panda dan duduk di hadapan Gang Doo.


“Hyung, aku akan menjadi panda di kehidupanku selanjutnya. Lihat, semua yang dia lakukan hanyalah makan dan tidur. Orang-orang masih menganggapnya imut.”
“Kau hanya makan dan tidur juga, dan ibumu selalu memujamu. Dan juga, Panda memiliki kehidupan yang sulit juga. Panda harus memaksa dirinya untuk makan meski mereka kenyang. Mereka harus terus berbaring meski mereka tidak mengantuk sehingga orang bisa menganggapnya lucu. Punggung mereka mungkin kesakitan.”
“Sungguh?”


“Tentu saja. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Menjalani hidup hanya dengan bernafas saja sudah susah. Kecuali dirimu. Itulah kenapa kau harus bersikap baik kepada ibumu.”


“Ayo makan, Sang Man.” Ibu Sang Man menyiapkan makan siang untuk mereka.
“Kenapa kau selalu  berkelahi dengan orang lain. Ada apa dengan tanganmu?” ibu Sang Man bertanya pada Gang Doo.
“Beri aku nasi.”
“Sejak beberapa hari ini, kau terus datang kesini untuk makan. Sewamu bulan ini, dan aku juga menagih uang untuk makanan ini.”
“Ajumma memang tidak pernah memberikan sesuatu kepadaku secara gratis.”
“Ibu, Hyung...”
“Kau adalah hyung (lebih tua). Siapa pun yang lebih tinggi darimu, kau memanggilnya hyung. Astaga.”


Ibu Sang Man memukul kepala Gang Doo dengan centong nasi.
“Sakit.”
“Aku memukulmu agar kau merasakan sakit. Sama denganmu. Jika dia bodoh, kau harus mengajarinya. Kau hanya membiarkan dia memanggilmu seperti itu?”
“Apa Sang Man bodoh? Dia normal. Tidak ada yang bersikap normal seumur hidup mereka juga. Benar, 'kan?”
“Makanlah karena kau bekerja sepanjang malam. Kau perlu menghemat uang saat kau bekerja. Jangan membawa Sang Man ke tempat yang aneh. Jangan membuatnya hyped tanpa alasan.”


Gang Doo melihat dengan iri kepada Sang Man yang sangat disayangi oleh ibunya.
“Aigoo. Sayangku, Sayangku. Apa ini? Ayo minum air. Ini. Pelan-pelan. Kau makan dengan lahap.” Ibu Sang Man membersihka nasi yang menempel di pipi Sang Man.
“Ahjumma, beri aku nasi lagi.”


Seorang pelanggan Sauna Koral sedang beradu mulut dengan ibu Moon Soo dan bibinya.

“Pereselingkuhanmu terjadi di tempat lain dan kenapa kau melampiaskannya di sini? Ini bahkan tidak layak disebut rumah pedesaan dan kau menyebutnya sauna. Ini adalah penipuan.”
“Hei? Kau sudah selesai bicara? Siapa yang punya WC sebesar ini?”
“Lihat. Badanku memar. Tanah liat merah berjatuhan. Bagaimana aku bisa mandi dengan tenang saat aku merasa cemas?
“Astaga, wanita ini. Hanya ada wanita di sini. Kami bermaksud memperbaikinya tapi tidak pernah sempat melakukannya.”
“Itulah kenapa kau membutuhkan pria untuk menjalankan bisnis.”
“Kau menyebutkan "pria" dalam setiap kalimat. Apa kau pamer karena sudah mencemooh seorang pria?”
“Apa?”


“Hei! Jangan seperti ini.” Moon Soo datang menengahi mereka.
“Kau sangat bangga dengan hal itu.”
“Aku bermaksud memperbaikinya. Aku akan memperbaikinya saat akhir pekan. Bibi, tolong beritahu pelanggan untuk berhenti menggantungkan pakaian dalam mereka di ruang tanah liat merah. Ini sauna, bukan laundromat. Tanah liat merah terus berjatuhan karena tempatnya terlalu lembab.”
“Benar. Itu bukan kesalahan kami.”
“Aigoo, yang dia tahu hanyalah bagaimana menjadi gundik seorang pria. Lihatlah cara dia berbicara.”
“Apa yang salah dengan menjadi gundik? Apa kau bangga karena suamimu melarikan diri dan kau menderita sendirian?”
“Hei! Astaga, kau mendengar apa yang dia katakan? Moon Soo, kau mendengarnya, 'kan?”
“Itu tidak benar. Kau dan ibuku, kalian berdua sudah lama saling mengenal. Jadi tolong sedikit pengertiannya dan lupakan apa yang terjadi. Jika kau menyerangnya dengan kelemahannya, itu namanya curang.”
“Ibumu menyerangku dengan kelemahanku lebih dulu. Gundik dari seorang pria.”
“Itu bukan kelemahanmu. Tidak setiap wanita menjadi gundik dari seorang pria. Lihatlah dirimu di cermin. Dengan penampilan dan fisikmu, bahkan aku akan memintamu untuk
menjadi gundikku jika aku seorang pria.”
“Kau ada dipihak siapa?” Ibu Moon Soo kesal mendengar perkataan anaknya.”


“Tentu saja aku ada di pihakmu, Bu.”
“Kau tampak bodoh seperti ayahmu tapi kau licik dalam bertindak. Ayahmu hanya tersenyum saat dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bersikap baik pada orang lain. Dia tidak pernah bersikap baik pada orang di sekitarnya. Dia tidak memiliki keahlian apapun tapi dia sangat bangga. Dia langsung pergi saat keadaan menjadi sulit.”
“Kenapa Ibu sekarang mengumpat ayah? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Apa ayahmu punya wanita baru?”
“Apa?”


Ibu Moon Soo menyerahkan amplop dan Moon Soo membukanya.
(Formulir Perceraian, Ha Dong Cheol)
“Kembalikan padanya. Bukannya aku tidak mau bercerai karena cinta. Ini semua kulakukan agar mertuamu tidak akan mengkritikmu saat kau menikah.”
“Ibu. Hentikan. Aku mengerti.”
“Mengerti, apanya.”


Gang Doo sedang di tanyai oleh atasannya di proyek mengenai monumen yang hancur.
“Hei. Kau bilang tidak terjadi apa-apa kemarin. Lalu kenapa batu pemakaman yang sangat bagus itu pecah?”
“Benar. Entah apa sebabnya, jadi sulit untuk mengetahuinya. Benar, 'kan?”
“Siapa yang menghancurkannya tanpa alasan? Ini membuatku frustrasi. Bagaimana aku bisa melaporkan hal ini? Bagaimana jika malah aku yang disalahkan untuk ini?”
“Tidak, itu tidak akan terjadi. Tempat ini sangat besar. Tidak mudah menjaganya sendirian di malam hari.”
“Benar, benar. Kau bisa memikirkan itu bahkan setelah bekerja di sini hanya satu hari, ya? Tapi, Atasan selalu memberitahu kita untuk mengurangi jumlah orang.”
“Astaga, kau bekerja keras setiap pagi dan malam. Bagaimana kalau minum  segelas bir dingin nanti?”
“Bir? Kedengarannya bagus. Mulutku sudah basah hanya membicarakannya.”
“Kalau begitu aku akan mulai bekerja.”
“Baik. Hei, jangan tertidur dan awasi terus, mengerti?”
“Jangan khawatir tentang hal itu.”


Seo Joo Won sedang berbicara di telepon dengan kepala proyek.
“Tidak ada CCTV di lokasi proyek. Aku memeriksa pintu masuk juga tapi tidak
ada hal yang mencolok selain karyawan kita.”
“Apa ada yang mencurigakan di antara karyawan?”
“Kami memang menyewa satpam untuk sift malam yang baru. Tapi sepertinya dia sangat bodoh.”
“Kirimkan padaku profilnya. Terima kasih.”


Seo Joo Won menerima foto data diri Lee Gang Doo.


Seo Joo Won ingat mereka pernah bertemu sekali.
“Jangan sentuh seseorang yang tidak Anda kenal.” Gang Doo menyingkirkan tangan Seo Joo Won dari lengannya.
(Nama: Lee Gang Doo, Lahir pada Mei 1990)


Moon Soo sedang bekerja di kamarnya, dai teringat perkataan CEO Seo tadi siang.
“Karena insinyur itu melakukan bunuh diri, sebanyak 49 orang meninggal dunia. Jika kau menutupinya, akankah hal seperti itu tidak pernah terjadi?”
Dia haus tapi gelasnya kosong, dan keluar kamar untuk mengambil minum.


Di dapur dia menuang air putih ke dalam gelas, setelah meminumnya Moon Soo merasakn itu bukan air putih. Tapi minuman keras milik ibunya yang sudah dituang ke dalam teko. Lalu dia mencari ibunya karena dia pikir ibunya sudah keterlaluan.

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA
|| Black Knight
|| I'm Not a Robot
|| Two Cops
|| Doubtful Victory
|| Nothing to Lose
|| My Golden Life

Moon Soo melihat ibunya di dalam kolam sauna, dan segera melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan ibunya.


“Ibu! Ibu! Ibu! Ibu, kau tidak apa-apa? Kau tidak apa-apa? Apa yang sedang kau lakukan? Hei!” Moon Soo berteriak membangunkan ibunya.
“Moon Soo. Apa yang terjadi?” ibunya juga berteriak pada Moon Soo.
“Apa yang terjadi? Kenapa Ibu melakukan ini?”


Moon Soo berlari ke dapur dan mengambil semua minuman milik ibunya lalu membuangnya ke bak cuci piring.


“Hei, apa yang kau lakukan? Moon Soo, kenapa kau membuangnya? Mubazir. Yang benar saja. Hei. Moon Soo. Ibu menghabiskan waktu bersama mereka. Ibu hanya akan minum sedikit demi sedikit.” Ibu mencegah Moon Soo dengan memegang tangannya dan berusaha merebut botol-botol itu.
“Lepaskan!”
“Kenapa kau bersikap seperti ini? Kemari, berikan padaku. Berikan padaku. Berhenti!”
“Lepaskan!”


Moon Soo tidak sengaja terdorong hingga jatuh ndan kakinya berdarah.


“Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?”
“Apa menurut Ibu, aku tidak apa-apa?” Moon Soo berteriak pada ibunya.
“Ibu tidak bisa tidur jadi aku minum sedikit. Lalu aku terus memikirkan wanita yang membuat keributan tadi dan ayahmu. Agar aku bisa tersadar, aku akan berendam sebentar di air dingin.”


“Ibu."
“Ya.”
“Jika Ibu ingin mati, katakan padaku sebelum mati. Jangan hanya pergi tanpa mengatakan apapun.” Moon Soo berteriak sambil menangis.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Aku lebih suka Ibu sakit. Saat aku merawatmu, aku akan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan. Aku bosan. Ibu juga kesakitan. Baiklah, aku harus membiarkannya pergi sekarang. Itu akan lebih baik dari ini. Berjanjilah padaku.Tidak mau?”
“Kenapa aku membuat janji seperti itu?”
“Lakukan saja! Aku takut, Bu! Aku benar-benar takut!”


Gang Doo sedang mengamati Moon Soo yang sedang duduk di halte di depan proyek.


Gang Doo lalu duduk di sebelah Moon Soo dan mengajaknya bicara.
“Kau bekerja di sana? Aku bekerja di sana juga. Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya”
“Ya.”
“Bukankah nama pemberhentian bus ini konyol?”
“Apa?”
“Lihat. Tertulis "Front of S Mall". Bangunannya sudah lama menghilang.”


Moon Soo kemudian naik bus dan Gang Doo juga naik bus yang sama. Moon Soo melihat ke arah Gang Doo, karena sepertinya dia mengikutinya.


Moon Soo turun dari bis dan berjalan ke kantornya. Di beberapa kali melihat ke belakang karena seperti ada yang mengikutinya. Gang Doo berjalan di belakang Moon Soo dan mengamatinya sampai dia masuk ke kantor.


Moon Soo masuk ke ruangan CEO Seo dan memberikan hasil kerjanya.

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA
|| Jugglers
|| Wednesday 3:30 PM
|| Novoland
|| Secret Seven
|| Oppa is Missing
|| Borg Mom

“Ini adalah draft sketsa pertama. Aku bisa menyelesaikan rendering sebelum rapat besok.”
“Mengenai konfigurasi lokasi bangunan, Aku sudah mendatangi lokasi pagi ini, tapi aku tidak bisa menyelesaikan survei. Jadi butuh beberapa saat. Terima kasih atas kerja kerasmu.”


Moon Soo akan keluar dari ruangan tapi CEO Seo memanggilnya.
“Oh, Ha Moon Soo-ssi. Jika kau tidak nyaman dengan proyek  ini, kau tidak harus berpartisipasi. Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti. Kau bisa berpartisipasi dalam proyek gedung kantor Sinsoo-dong.”
“Tidak, aku akan melanjutkan proyek ini.”
“Karena itu lokasi kecelakaan. Mungkin tidak nyaman untukmu.”
“Aku tetap ingin melanjutkan meski rasanya tidak nyaman. Aku akan bekerja keras.”


Seorang wanita duduk di kursi penumpang sebuah mobil sambil mencoba menhubungi seseorang.


Moon Soo sedang membuat kopi di pantry lalu salah satu staff meuncul di belakangnya.
“Unnie. Kau tahu berapa cangkir kopi yang sudah kau minum? Wajahmu berwarna seperti kopi. Terlihat sangat kering.”
Kemudian mereka melihat ke arah seorang wanita yang masuk ke kantor tanpa mengatakan apapun pada staff di sana.


Wanita itu langsung menuju ke ruangan CEO Seo dan tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk. Tidak lama kemudian mereka berdua keluar ruangan dan pergi dari kantor.


Seo Joo Won duduk dengan wanita itu di sebuah cafe.


“Proyek ini tidak akan mudah sampai kita mulai konstruksi. Karena jika perusahaan memberikan dana, mereka bisa mengubah lokasi. Dewan direksi akan mencoba menjadikannya kawasan bisnis yang lebih menguntungkan, bukan pusat medis...”

“Itulah sebabnya aku memaksa kakakku agar bisa mengambil alih proyek ini sambil bersikeras untuk datang ke Korea. Tentu saja aku melakukan semuanya untukmu.” Wanita itu memotong kalimat Seo Joo Won.

“Terima kasih.”
“Itu saja?”
“Bukankah kau lelah? Pulang dan istirahatlah.”
“Bersama Ibumu dan kakakku? Rumah itu membuatku lebih merasa lelah. Kita akan berakhir menjadi sebuah keluarga. Alih-alih ibumu dan ayahku...akan lebih baik jika kita  datang (menikah) lebih dulu.”
“Tidak. Berkat itu, aku mendapat banyak bantuan dari ayahmu.”
“Aku bisa membantumu.”
“Tidak. Itu akan lebih sulit bagiku. Ibuku tidak menyukai ayahmu. Tapi perasaanku tulus.
“Apa masih ada ketegangan yang tersisa dari masa lalu? Bagaimana dengan sekarang?”
“Ini jam kerja. Aku akan pergi lebi dulu.” Seo Joo Woon berdiri lalu meninggalkan wanita itu.
Comments


EmoticonEmoticon