12/30/2017

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 6 PART 1

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 5 Part 3
Gang Doo sedang memeriksa tempat yang kemarin malam longsor. Saat sedang memeriksanya, tiba-tiba senternya mati. Gang Doo kembali teringat saat dia berada di bawah runtuhan gedung dan menunggu pertolongan. Saat itu ada seorang korban lain, seorang anak laki-laki seusianya menarik kaki Gang Doo untuk meminta tolong. Tapi karena gang Doo mengalami luka parah di kakinya, dia melepaskan tangan anak laki-laki itu dari kakinya.


Saat Gang Doo menuju tangga dan akan pergi dari tempat itu, dia berbalik dan melihat Sung Jae berdiri di belakangnya. Gang Doo sangat ketakutan dan tidak bisa menggerakkan kakinya. Gang Doo mendengar Sung Jae berbicara padanya.
“Kau tidak bisa melihatku? Kau masih tidak bisa melihatku?”


Flashback. Gang Doo sedang duduk di bawah puing-puing bangunan yang runtuh. Dia mendengar seseorang memanggilnya.
“Di sini. Permisi. Di sini... Kau tidak bisa melihatku?”
“Aku bisa melihatmu.”
“Kupikir kakiku tersangkut. Kau bisa melihatnya?
Gang Doo dapat melihat kaki dan sepatu Sung Jae yang tertimpa puing .


Saat masih berada di toko es krim, Gang Doo sempat memperhatikan penampilan Sung Jae. Sepatunya masih baru, sedangkan sepatu Gang Doo sudah lama dan kotor.


Gang Doo mengangkat puing di atas kaki Sung Jae lalu meraih kakinya. Gang Doo berteriak saat memegang kaki Sung Jae, karena kaki itu sudah putus dari paha Sung Jae. Lalu segera melemparkan potongan kaki itu.


Sung Jae dengan panik bertanya pada Gang Doo yang tampak ketakutan.
“Bagaimana? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkannya? Sedang apa kau? Aku bilang tolong bantu aku.”


Gang Doo yang berada di proyek berlari menuju kantor maintenance segera melepas seragamnya dan mengambil jaket.
“Kau di sini? Apa yang sedang terjadi? Hei, Gang Doo.”
Ketua Tim berteriak padanya, tapi Gang Doo tetap pergi.


Gang Doo sedang berjalan di keramaian dan tidak sengaja tertabrak oleh dua orang pria. Dua orang itu akan pergi begitu saja, tapi Gang Doo berteriak padanya dan mengajak berkelahi karena mereka tidak meminta maaf.


Saat Gang Doo tergeletak di jalan stelah berkelahi dengan pria tersebut, Ma Ri lewat dan melihatnya lalu berbicara pada Gang Doo.
“10 tahun yang lalu atau sekarang... Bagaimana kau bisa tidak berubah?”


Direktur Jeong sedang berbicara dengan Seo Joo Won.
“Seluruh area itu adalah Tempat Pembuangan Akhir. Kenapa kita tidak pernah satu pikiran dan membuat keributan besar seperti ini?”
“Lapisan tanah di TPA lebih dalam dari pada daerah lainnya.”
“Kalau begitu, kau seharusnya sudah memasukkannya dalam desainmu. Apa menurutmu uang langsung muncul jika kau mengatakannya”
“Pengukuran tidak muncul dalam file yang kami terima. Kita harus menggalinya sekarang juga atau menggunakan pipa gas...”
“Menggali... Kau pikir itu mudah? Apa kau berbicara omong kosong karena kau tidak tahu biaya yang harus dikeluarkan dengan membuang limbah?”
“Aku tidak tahu. Cheongyu sudah bekerjasama dengan pihak TPA. Jadi, kau pasti lebih tahu itu, Direktur.”
“Apa?”
“Jika memerlukan banyak biaya, kau akan menguburnya seperti yang CEO lakukan? Tolong pertimbangkan kembali. Sehingga kita bisa melakukan eksplorasi bawah permukaan lagi. Aku akan pergi.”


Seo Joo Won mengambil jaketnya lalu berdiri, direktur masih berbicara padanya.
“Apa kau belajar dari ayahmu bagaimana memilih lokasi konstruksi? Jangan menirunya. Kau juga akan membuat kesalahan jika kau melakukannya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi seperti ayahku. Pergilah sekarang. Aku menyuruhmu pergi. Jangan pergi semaumu.”


Moon Soo datang ke kantor Gang Doo, tapi dia tidak ada di sana. Ketua Tim juga tidak tahu kemana Gang Doo pergi. Moon Soo membawa es krim dan menawarkannya padanya tapi dia menolak. Moon Soo lalu memasukkan es krim ke dalam kulkas.


Nenek datang ke lokasi proyek tapi dilarang masuk ke sana.
“Tidak, Anda tidak boleh masuk! Kawsan ini dilarang untuk orang luar.”
“Sudah kubilang aku ingin melihat-lihat tanahku sendiri. Siapa kau untuk menghalangi jalanku?”
“Keluar! Hei, tutup gerbangnya! Tutup gerbangnya!”
“Hei, kau! Buka gerbangnya! Buka gerbangnya! Hei, kau! Jika kau tidak membuka pintu gerbang...”


Moon Soo melihat nenek sedang memukul pintu sambil berteriak lalu dia menghampiri nenek.
“Nenek, Anda baik-baik saja? Bersandarlah padaku”


Moon Soo dan nenek sedang duduk di halte bis, Moon Soo membuatkannya teh. Nenek memberikan uang pada Moon Soo untuk membayar tehnya. Moon Soo menolak tapi nenek memaksanya.
“Jika kau meminjamkan uang, aku harus membayarnya dengan bunga. Itulah dunia tempat kita tinggali. Kapan lagi kita bisa bertemu? Terima kasih untuk tehnya.”


Nenek pergi dari halte tapi setelah berjalan beberap langkah dia jatuh.


Nenek sudah berada di rumah sakit.
“Bagaimana ini? Aku malah merepotkanmu.”
“Tidak apa-apa.”
“Apa maksudmu tidak apa-apa? Menghabiskan waktu untuk orang lain adalah pekerjaan terberat. Kau bisa pergi sekarang.”
“Aku akan menunggu sampai keluarga Nenek datang.”
“Aku tinggal sendirian. Pergilah.”
“Kalau begitu, aku akan tetap disini sampai Anda selesai menonton TV. Anda sedang tidak sehat.”


“Aku bilang aku baik-baik saja.”
“Nenek tidak terlihat baik-baik saja. Jika kita bersama, Nenek takut akan merepotkanku dan merasa tidak enak. Anda menyuruhku pergi. Dan jika aku benar-benar pergi...Nenek akan merasa sedih dan kecewa. Aku pernah merasakan hal seperti itu. Apa Nenek membutuhkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya. Beritahu aku saja.”
“Buah persik kalengan.”
“Buah persik kaleng?”
“Dingin dan manis. Tidak ada yang lebih baik dari itu jika kau tidak punya selera makan.”


Saat Moon Soo sedang pergi, dokter Jae Young datang untuk memeriksa nenek. Dia memanggil perawat untu memindahkan nenek ke ruangan lain untuk dilakukan pemeriksaan karena keadaan nenek tidak baik.


Gang Doo bangun dan sudah berada di ruang kerja Ma Ri.
“Kenapa aku ada disini?”
“Ini bukan pertama kalinya aku membawamu dari pinggir jalan.”
“Buang saja aku sekarang.”
“Kenapa aku melakukan itu? "Menahan sakit itu menyakitkan"... Apa ada semacam makna mendalam di balik itu? Apapun itu, hentikan sekarang juga. Jika tidak ada gunanya bahkan setelah 10 tahun, maka ganti rencana alih-alih merusak tubuhmu. Aku sudah tua sekarang. Aku tidak bisa membawamu lagi.”
“Berapa usiamu? Kau tetap wanita tercantik di kota ini.”
“Meskipun aku tahu itu omong kosong, itu membuatku merasa senang mendengarnya.”


Gang Doo melihat Ma Ri berpakaian sangat rapi.
“Kau mau pergi kemana”
“Bekerja.”


Ma Ri sedang bersma dengan direktur Jeong.
“Apa ini tempat yang benar-benar ingin kau kunjungi?”
“Ya. Tinggallah dan tunggu disini saat aku sedang memancing.”


Saat Ma Ri sedang duduk dia terkejut karena direktur Jeong tidur dipangkuannya.
“Belai rambutku.”
“Apa yang...”
“Hei. Aku akan memberimu bayaran ekstra. Cepat, aku lelah.”


Ma RI membelai rambut direktur Jeong dengan ragu-ragu.
“Bagaimana kau bisa mengatakan kalau kau lelah saat kau pergi memancing di siang hari?”
“Aku sangat lelah. Tidak ada yang mendengarkan aku. Ketika mereka melihatku, mereka semua merengek agar aku memberikan uang. Tidak ada yang tahu...betapa lelahnya aku.”
“Jika kau menginginkan ini, kau tidak perlu membayar mahal untuk itu. Minta saja pada istrimu...”
“Tidak, aku tidak mau. Aku seperti sedang mengemis. Kita memberi dan menerima. Sederhana dan menyenangkan.”


Moon Soo kembali menghubungi Gang Doo tapi nomornya tiak aktif. Lalu dia mengirimkan pesan.
“Jika kau membaca ini, hubungi aku. Jika kau tidak meneleponku, aku akan mencarimu.”


Moon Soo melihat nenek sedang berjalan, dia menghampiri nenek lalu menunjukkan buah persik kalengan yang dibawanya.


Mereka lalu makan buah persik di luar rumah sakit.
“Bagaimana kau bisa menungguku tanpa tahu kapan aku akan keluar rumah sakit? Bagaimana jika kita tidak bisa bertemu?”
“Kalau begitu, aku akan makan semuanya, termasuk jusnya.”
“Apa kau sendirian? Apa kau punya pacar?”
“Tidak.”


Nenek menyerahkan ponselnya pada Moon Soo.
“Aku akan membayar hutang ini, jadi... Masukkan nomor teleponmu di sini.”
“Hutang? Ini bukan hutang.”
“Jika aku lupa, ada pria yang akan membayar hutangnya, jadi jangan khawatir. Meskipun dia tidak melihat semuanya, dia memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Kau sudah memasukkan nomor teleponmu?”
“Sudah.”
“Aku janji. Biasanya aku tidak berjanji pada orang lain seperti ini. Tapi dia berpikir, dia memiliki tujuan dalam hidup ini... Aku akan merasa bangga padanya di mana saja.”
Sepertinya nenek sedang membicarakan Gang Doo.


Seo Joo Won masuk ke ruangan untuk mencari Moon Soo, tapi hanya ada So Mi di sana.
“Anda mencari Unnie? Dia bilang ada urusan penting hari ini. Dia menelepon untuk mengambil cuti. Apa dia pergi menemui Gang Doo oppa? Mereka sering bertemu belakangan ini.”
“Aku harus mengecek konsep model yang akan dipajang di model home opening besok. Tolong beritahu dia untuk tidak membuat rencana lain besok.”


Seo Joo Won akan keluar dari ruangan dan berbicara lagi.
“Sejak kapan kau mulai memanggil rekan kerjamu, dengan 'oppa'?”
So Mi hanya bisa cemberut mendengar CEO berkata seperti itu.


Seo Joo Won menghubungi Moon Soo kemudian Gang Doo, tapi keduanya tidak bisa dihubungi.


Gang Doo masuk ke kamarnya dan melihat Moon Soo sedang bermain dengan Sang Man.
“Kenapa aku tidak bisa menghubungimu seharian? Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau selalu berkelahi?”
“Apa maksudmu, berkelahi? Jika wajahku seperti ini, menurutmu apa yag terjadi pada lawanku?” Gang Doo bertanya pada Sang Man.
“Mungkin mati.” Sang Man menjawab pertanyaan Gang Doo.
“Benar, kan? Tapi kenapa kau ada di sini?”
“Kau tidak pergi ke tempat kerja, dan kau tidak menjawab teleponku. Kenapa aku datang
jauh-jauh kemari?”
“Hyung juga tidak pulang kemarin.” Sang Man memberitahu Moon Soo.
Gang Doo lalu mengajak Moon Soo pergi karena kamarnya berantakan.
“Berantakan disini. Jangan masuk ke dalam rumah seseorang lagi dan cepat pergi. Pergi. Dan kau juga cepat pergi, sudah larut malam. Ayo pergi. Pergi.”


Moon Soo memberitahu bahwa ibu Choi Il Do dikremasi pagi ini.
“Aku melihat mereka menempatkannya di osuarium umum. Kupikir aku harus memberitahumu. Maafkan aku.”
“Untuk apa?”
“Untuk membuatmu melihatnya sendiri. Kau pasti ketakutan.”
“Kau akan ketinggalan Bus.”


Gang Doo menggandeng tangan Moon Soo untuk mengejar bisnya. Saat bis mulai berjalan, Gang Doo mengetuk jendelanya dan bis kembali berhenti.


Moon Soo sudah masuk ke bis dan bis mulai berjalan, Gang Doo melihat Moon Soo yang makin menjauh.
Comments


EmoticonEmoticon