12/25/2017

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 Part 1
Di sebuah acara perncarian bakat, seorang gadis menyanyi di depan tiga orang juri.


Juri pertama memberikan komentarnya.
“Baik. Terima kasih atas nyanyianmu. Suaramu... Ada perbedaan antara menggunakan energi dan tidak menggunakan energi sama sekali. Bagiku, penampilanmu agak kurang. Aku akan memberimu "gagal".”


Juri kedua juga memberikan tanda silang pada gadis itu.
“Aku penasaran kenapa kau tidak sedih. Aku tidak merasakan emosimu. Aku tidak antisipasi akan penampilanmu selanjutnya.”


Sekarang giliran King Woo Ma yang menilainya.
“Kurasa hanya keputusanku yang bisa menyelamatkanmu. Peserta, apa kau sedih ketika bernyanyi?”
“Iya. Aku sangat sedih.”
“Aku tidak mendengar kekuatan itu. Lebih keras!”
“Iya! Aku sangat sedih!”
“Sekeras yang kau bisa agar semua orang di sini tersentuh. Sekali lagi. Satu lagi!”
“Aku... sangat sedih.”
“Ya! Kesedihanmu membuatku menangis. Kau... Lolos!”


Gadis itu menemui King Woo Ma di belakang panggung.
“Terima kasih telah meloloskanku.”
“Jadi kau sudah tidak sedih?”
“Kupikir ini hal benar yang harus kulakukan, datang ke sini setelah makan sereal.”

“Kalau begitu keluarlah dari tubuh anak ini.”
“Baik.”
Gadis itu pinsan dan keluarlah sesosok hantu wanita yang tadi berbicara dengan Seon Mi.
“Astaga. Baiklah. Wanita malang.”


King Woo Ma sedang berbicara dengan sekertarisnya. Wanita itu memberitahukan bahwa peserta yang dirasuki oleh roh sudah sadar.
“Jika dia sadar telah lolos setelah tidur siang, dia pasti merasa hebat.”
“Anda memberi hantu kesempatan untuk meredakan kebencian dan juga membiarkan keinginan manusia menjadi kenyataan. Anda sangat menakjubkan, Ma Wang.”
(Ma Wang berarti "Iblis" dalam bahasa Korea)
“Aku harus melakukan hal seperti itu karena akan menjadi dewa.”


Wanita itu memberikan bahwa seseorang yang tinggal dengan King Woo Man telah mebuat masalah, lalu dia menyerahkan selembar surat tilang.
“Ini bukti tilang karena ngebut bulan ini untuk plat nomor 99 Doo 5050. Tolong beritahu dia untuk hati-hati.”


King Woo Ma membaca surat tilang itu dan menunjukkan ekspresi yang sangat kesal.
“5050... ngebut di kecepatan 190 km/jam... Ini... orang ini... dia terlalu bersenang-senang!”


Son Oh Gong memarkir mobilnya di depan rumah orang, saat pemilik rumah itu akan memarahinya, dia mengatakan bahwa dia adalah seorang pendeta.
“Oh, Bapa. Saya minta maaf. Kami menunggumu. Silakan masuk.”


Kedua pemilik rumah menyambutnya dan menunjukkan ke arah barang-barang di lempar dari lantai atas.
“Bapa, selamat datang. Di sana. Dia tidak pernah membuang barang-barang keluar rumah sebelumnya.”
“Kurasa dia tidak senang aku di sini. Apa yang terjadi?”
“Anakku jadi sangat aneh. Dia melayang di udara ketika tidur. Bapa, tolong bantu kami.”


Oh Gong mendekati jendela tempat barang-barang itu dilempar. Kemudian dia mengambil pemukul dan bola baseball dan memukul bolanya ke arah jendela.


Bola itu terlempar lagi keluar dengan sangat kencang hingga tertancap di batang pohon.
“Haruskah aku menemui dan menangkapnya sekarang?”


Oh Gong masuk ke kamar di rumah itu. Di atas tempat tidur ada seorang anak laki-laki yang sedang diikat.
“Bapa, tolong lepaskan aku. Ini menyakitkan.”
“Sakit? Beraninya kau mencoba menipuku? karena ditubuh anak ini? Jangan buang kekuatanmu. Berhentilah sebelum aku memukulmu.”
“Lepaskan aku. Kau bukan pendeta, kau monyet!”
“Kau sudah tahu siapa aku, namun tidak berhenti bicara omong kosong. Kurasa kau tidak takut. Sudah kuduga, aku harus menghancurkan objek asli rohmu.


Oh Gong lalu menghancurkan barang-barang di belakangnya dengan pemukul baseball. Dan anak yang sedang diikat itu wajah dan suaranya berubah menjadi manakutkan.
“Kemari! Kau terjebak di dunia. Beraninya kau bertindak sombong?”
“Itu sebabnya aku mengumpulkan poin melakukan perbuatan baik untuk menyingkirkan roh jahat sepertimu.”
“Hentikan omong kosongmu! Kau membuatku stess. Hah!”
“Aku akan menghancurkan semuanya terlebih dulu.”


“Tolong lepaskan aku! Aku akan meninggalkan anak ini dan pergi ke tempat lain.”
“Aku tidak mau. Kenapa aku harus melakukannya? Berapa banyak yang akan kau berikan?”
“Son Oh Gong! Dewa Agung, kau tahu Sam Jang sudah lahir?”
“Apa?”
“Aku bertemu seseorang dengan darah Sam Jang. Jika kau makan daging Sam Jang dan meminum darahnya, kau akan menjadi sangat kuat.”
“Apa benar ada manusia seperti itu?”


“Tentu saja! Aku telah mencicipi daging Sam Jang. Baunya sangat lezat.”
“Kau berbohong, kan?”
“Aku bersungguh. Aku meninggalkan tanda seperti ini di Sam Jang. Jika kau membiarkanku pergi, aku akan membantumu menemukan Sam Jang. Bagaimana, Dewa Agung?”
Hantu itu menggigit tangan anak yang dirasukinya dan menunjukkan tanda gigitannya pada Oh Gong.


Saat Oh Gong sedang berbicara pada hantu itu, di belakangnya ada sebuah boneka yang siap menusuk Oh Gong.


Tapi Oh Gong mengetahuinya dan memukul boneka itu hingga hancur dan hilang menjadi asap. 


Anak yang sedang kerasukan lalu pinsang dan berubah menjadi sesosok mirip dengan boneka yang sudah hilang. Sosok hantu pengantin pria pun hilang dan wujudnya kembali menjadi seorang anak laki-laki.


Oh Gong sudah berada di luar rumah yang bertemu dengan pemilik rumah yang sedang berbicara dengan pendeta sungguhan.
“Kami baru sampai di sini.” Kedua pendeta itu tampak bingung.
“Ini Bapa nya.”
“Sudah selesai.” Oh Gong memberi tahu mereka.
“Terima kasih, Bapa!
“Anda dari gereja mana?” seorang pendeta bertanya pada Oh Gong.
“Aku langsung dari sana.” Oh Gong menunjuk langit lalu membuka dedikit jas nya dan menunjukkan sebuah botol. “Dan sebagai tanda terima kasihmu, aku akan membawa ini.” Lalu dia pun pergi.


Oh Gong berbicara dengan seorang pria yang berjualan es krim, dia adalah dewa es. Oh Gong mengkhawatirkan pria itu karena es krimnya tidak banyak yang laku.
“Jangan khawatir aku. Dewa Agung, pikirkan saja bagaimana Anda akan kembali ke surga. Karena Anda menangani boneka kayunya dengan baik, kurasa Anda akan segera dipromosikan.”


“Mungkin juga. Ketika aku kembali ke surga kali ini, hukuman atas laranganku akan diangkat. Jumlah botol yang aku simpan untuk diminum pada saat itu 2.982. Dengan ini, jumlahnya 2.983 botol.” Oh Gong mengeluarkan botol minuman keras dari dalam mantelnya.
“Sebelum Anda mendapat 3.000 botol, kuharap Anda kembali ke surga dan hukum larangan tersebut terangkat.”


Dewa es menuang air ke dalam teko dan mengbahnya menjadi es sambil berbicara dengan Oh Gong. Oh Gong menanyakan tentang Sam Jang
“Ah... yang darahnya berbau bunga teratai? Aku pernah mendengarnya, tapi tidak pernah melihat manusia dengan bau itu.”
“Benar. Kudengar monster yang telah meminum darah Sam Jang mendapatkan kekuatan luar biasa. Apa benar?”
“Bagaimanapun, jika mereka bilang Anda menjadi sangat kuat, pasti banyak dari mereka yang mengikutinya.”
“Aku bisa memakannya jika dia sungguh ada. Bagaimana bisa dia benar ada?”
“Apa akhir-akhir ini Anda masih tinggal di rumah Ma Wang?”
“Ma Wang memang cenderung sangat mengganggu. Tanah rumah itu adalah lahan yang bagus dan mudah parkir disana.”


Saat Ma Wang sampai di rumahnya petugas keamanan datang dan membawa buket bunga.
“Ada kiriman bunga ucapan selamat.”
“Bunga ucapan selamat? Stasiun TV pasti mengirimnya untukku. Mengapa mereka repot-repot...” Dia kecewa setelah membaca kartu ucapannya.
(Selamat untuk Promosi Son Oh Gong, dari adikmu Sa Oh Jeong)
“Tidak, bukan begitu. Ini untuk Tuan Son Oh Gong.”


Petugas itu menyerahkan bunganya pada Ma Wang karena dia sudah menelepon tapi Oh Gong tidak menjawabnya.
“Karena aku bertemu denganmu, tolong bawa ini sekalian.”


“Karena Anda disini, aku akan memberitahumu.”
“Apa lagi sekarang?”
“99 Doo 5050. Mobil Anda, bukan?”
“Ya, 5050. Benar. Mengapa?”
“Anda selalu memarkir seperti itu. Tapi ini tidak baik. Bukan hanya dua tempat, tapi memakan tiga tempat.” Pria itu menunjukkan sebuah mobil yang diparkir melintang.
“Bagaimana bisa dia melakukan ini? Preman itu.”
“Zaman sekarang, jika seseorang mengambil fotonya, itu akan diposting di Internet.”
“Aku akan mengunyahnya...”
“Jika Anda mendapatkan komentar negatif...”
“Aku akan membunuhnya...”
“Anda akan kesulitan. mAnda orang terkenal. Mohon berhati-hati.”


Wa Man memasuk tempat tinggalnya dengan kesulitan karena membawa buket bungan yang berat. Di dalam dia juga melihat jaket Oh Gong yang diletakkan sembarangan dan ada sebuah patung monyet di depannya.
“Aku sungguh ingin membunuhnya... Oh Gong itu... Ini gila! Berat sekali! Orang gila itu... Dia menggantungnya di sana lagi. Lagi. Mengapa dia menggantungnya di sini? Ini bahkan bukan rumahnya. Mengapa dia menaruhnya di sini? Preman itu. Dia sungguh preman.”


Oh Gong sedang bersantai sambil melihat tv.
“Hei. Sudah kubilang jangan menggantung jaketmu di patungku terus. Saat pulang, aku menyuruhmu menggantung jaket di kamarmu! Mengapa kau tidak menjawab interkom dari pos satpam jika di rumah?”
Oh Gong menjawab sekenanya dan asik menonton tv.
“Aku tidak dengar karena sedang menonton TV.”


Wa Mang sangat kesal karena Oh Gong terus membicarakan acara tv yang dilihatnya.
“Tagihan listrik bulan ini mencapai 20 juta won karenamu.”
Oh Gong menceritakan bahwa dia mendapat promosi tapi belum kembali ke surga dan besok Tetua Soo Bo Ri ingin bertemu dengannya.
“Jika aku mendapat posisi bagus di surga, aku akan mendukungmu, Ma Wang. Sebenarnya, aku bisa menyingkirkan Gunung Marmer berkat dirimu.”
“Apa? Aku tidak berniat membebaskanmu. Itu kecelakaan, kesalahan.”
“Aku membiarkanmu tinggal di sini dengan pola pikir harus menyelesaikan kekacauan yang kubuat. Sekarang setelah kembali ke surga... Kurasa kau akan meninggalkan rumahku. Tapi aku suka di sini. Parkir juga sangat mudah.”
“Tidak, tidak, tidak. Tolong tinggalkan rumahku, Oh Gong. Mengerti?”


Seorang gadis sedang berbicara di telepon.
“Kenapa kau tidak menjawab teleponku, sayang? Jika kau menghilang begini, kau pikir aku akan putus denganmu? Aku akan menemukanmu. Tunggu saja. Aku sungguh akan mati!” gadis itu menjadi sangat kesal dan akhirnya menangis. Dia mendengar ada suara bisikan berasal dari sebuah boneka dai toko barang antik.


“Bunuh dia. Bunuh Sam Jang.”
Gadis itu mendekat, menatap mata boneka pengantin wanita, lalu tersenyum dengan wajah jahat.


Oh Gong menemui tetua Soo Bo Ri. Tetua membaca laporan Pemberantasan Roh Iblis.
“Kau menangkap boneka kayu itu. Bagaimana dengan pengantinnya?”


“Dia punya istri?”
“Dia mengenakan pakaian pengantin pria. Mereka pasangan.”
“Kalau begitu, aku akan menemukan dan mengurusnya. Ini akan menjadi tugas terakhirku di dunia manusia. Aku harus melakukan pekerjaan dengan bersih.”
“Sebenarnya, kembalinya kau ke surga, belum diputuskan. Kerjamu bagus. Tapi ketika aku mempertimbangkan orang-orang di sekitarmu untuk referensi... reputasimu buruk, Dewa Agung.”


“Referensi apa lagi? Siapa referensinya? Mengapa? Kau akan membalas dendam?”
“Aku ingin dikritik secara khusus dan bersikap reflektif sepenuh hati. Terakhir kali, kau mematahkan 2 jembatan layang di Ssangmun-dong ketika memberantas hantu penyebab kecelakaan mobil, 'kan? Jika kau menyebabkan kerusakan di dunia manusia seperti itu...itu tidak akan terjadi.”
“Aku sangat menderita saat menangkap hantu tersebut.”
“Aku kehabisan kata-kata. Bagaimanapun, kali ini pemulihanmu tampaknya sulit karena ada keluhan.”
“Aku tahu ini akan terjadi. Kau menipuku lagi, 'kan? Hei, Dewa Agung. Sepertinya, kau akan memukulku.”
“Aku gurumu.”
“Guru! Kau seharusnya tidak melakukan ini. Karena kau berjanji akan memberiku posisi di sini, aku tidak menimbulkan masalah sejak meninggalkan Gunung Marmer. Aku menghabiskan waktuku dengan setulus hati!”
“Bagaimanapun, akan sulit bagimu untuk kembali saat ini. Lain kali...”
“Lupakan. Aku tidak akan melakukan ini lagi. Tidak akan! Ugh!”
Oh Gong memukul meja hingga terbelah menjadi dua bagian.


“Sudah selesai? Terus kumpulkan poin sampai waktu berikutnya.”
“Aku tidak butuh. Aku akan melakukannya! Aku hanya... perlu memakan Sam Jang!”
“Bagaimana kau bisa tahu Sam Jang ada disini?” dewa agung sangat terkejut medengar Oh Gong mengetahui tentang Sam Jang.
“Dia benar ada? Ada Sam Jang yang lahir di dunia manusia ini?”
“Tidak.”
“Ada. Kau pikir aku bodoh.”
“Jangan. Jika kau memakan Sam Jang, kau tidak akan pernah bisa melangkah ke surga.”
“Jadi, memang benar ada Sam Jang. Kudengar kau menjadi luar biasa kuat jika memakannya. Itu benar?”
“Oh Gong!”
“Bagus. Lalu aku akan menemukan Sam Jang dan memakannya.” Lalu Oh Gong pergi dari ruangan itu, meninggalkan dewa agung yang sedang kesal.
“Monyet itu tidak mau mendengar kataku. Apa yang harus kulakukan padanya? Aku harus menemui Woo Ma Wang.”
Advertisement

1 comments:

Kereeeen sinopsisny. Jd pgn nonton.


EmoticonEmoticon