12/24/2017

SINOPSIS My Golden Life Episode 33 PART 2

SINOPSIS My Golden Life Episode 33 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 33 Part 1
Do Kyung mencari di web tentang perusahaan investasi. Dia berencana untuk mencari perusahaan yang tidak berhubungan dengan Haesung. Seorang pelanggan wanita datang menghampiri Do Kyung.


Wanita itu bertanya apakah gym akan buka pada tanggal 25 Desember, dan Do Kyung bilang mereka akan tutup. Do Kyung lalu mengeceknya dan menyadari bahwa tanggal 25 sebentar lagi.


Tiba-tiba seorang pelanggan pria melemparkan handuk tepat ke wajah Do Kyung.


Pria: “Ini bau! Kau ingin aku menggunakannya untuk mengelap tubuhku?”
Do Kyung: “Kau melemparkan handuk padaku?”
Pria: “Ya, kau harus menciumnya juga.”
Do Kyung; “Tuan, gym ini adalah tempat yang higienus.”


Pria itu mengatakan Do Kyung tidak tahu apa-apa karena dia hanya pekerja sambilan. Dia juga menuduh Do Kyung menyelipkan handuk bekas pakai. Do Kyung tidak terima dituduh, ia mengajak orang itu untuk mengecek CCTV. Tapi pelanggan itu tidak mau dan malah pergi sambil mengatakan kalau pekerja sambilan itu pembuat masalah.

“Ah.. padahal aku adalah Choi Do Kyung..Ah..” keluh Do Kyung.


Ji An bekerja sambil memikirkan perkataan Do Kyung bahwa ia diusir.
Flashback..


Ji An mengingat saat Seo Hyun mengatakan bahwa Do Kyung dilatih sebagai pewaris Haesung Grup sejak dia dilahirkan dan Do Kyung tidak akan melakukan apapun untuk melanggar aturan keluarga.


“Mereka tidak akan hanya duduk dan menyaksikan ini terjadi,” pikir Ji An.


Lalu dia berteriak, “Ah, kenapa dia harus meninggalkan rumahnya?” Bos workshop dan karyawan langsung melihat ke arahnya heran.


Ji Soo bekerja di Toko Roti sambil memikirkan ucapan Ibu No yang sepertinya senang saat mengetahui Ji An sudah kembali. Ia juga mengingat perkataan Seo Hyun bahwa ayah dan ibunya sangat menyukai Ji An karena dia sangat cerdas. Ji Soo terlihat kesal.


Bos Kang lalu memanggilnya dan menunjukkan kertas bertuliskan permohonan maaf karena tokonya sudah tutup selama beberapa hari. Dia menanyakan pendapat Ji Soo, tapi tanggapannya biasa saja. “Wah... ini adalah hari pertama kehidupan keduaku dimulai, tapi karyawan magangku terlihat sedih,” kata Bos Kang.


Bos Kang kehidupan barunya tidak boleh menyedihkan. Jadi ia menyuruh Ji Soo untuk pergi keluar untuk makan siang dan mencari udara segar. Ia juga meminta Ji Soo memasang kertas pengumumannya sambil keluar.


“Matilah, mati saja,” kata Ji Soo sambil memukulkan palu mainan ke sasarannya.


Tiba-tiba ada suara, “Kasihan bola-bola itu. Apa yang kau lakukan?” Hyuk datang tiba-tiba dan itu mengejutkan Ji Soo.


Ji Soo berkata bahwa dia hanya ingin melepaskan stresnya. Hyuk menduga ada masalah yang tengah Ji Soo hadapi dan permainan itu tidak cukup bagi Ji Soo untuk meredakan stresnya.


Hyuk mengajak Ji Soo bermain tembak-tembakan. Ji Soo tampak sangat serius dan terus membidik musuh dengan baik. Hyuk memperhatikannya dan berhenti menembak.


Hyuk berkata bahwa akan lebih berhasil jika Ji Soo mengalahkan seseorang. Jadi mereka akan bertanding. Hyuk berkata bahwa pemenang harus memberikan keinginan untuk yang kalah. “Setuju!” kata Ji Soo tanpa berpikir panjang.


Mereka mulai bertanding dan keduanya sangat serius. Hyuk menyenggol bahu Ji Soo agar tembakannya meleset. Ia juga terus bicara, tapi Ji Soo tidak mau diajak bicara karena akan mengganggu konsentrasinya.


Mereka sudah selesai bermain dan kembali ke mobil Hyuk. Ji Soo menunjukkan hasil permaianannya tadi melalui ponsel dan mengatakan bahwa peringkatnya tinggi. “Kau mungkin punya keturunan darah pemburu,” kata Hyuk tanpa tahu siapa orang tua kandung Ji Soo.


Ji Soo: “Pak Sunwoo, sekarang kau bicara seperti teman padaku.”
Hyuk: “Kita sudah bertanding tadi, dan harapanku adalah agar kita berdua dapat berteman.”
Ji Soo: “Apa? Tapi aku yang menang.”
Hyuk: “Pemenang diharuskan untuk memberikan yang kalah sebuah keinginan.”


Hyuk berkata bahwa mereka sama-sama dewasa jadi aneh jika terus bicara formal. Ji Soo mengerti, tetapi tetap saja itu aneh. Hyuk lalu mengemudikan mobilnya.


Bos Kang bertanya kenapa Ji Soo dan Hyuk kembali bersama, bahkan sekarang Hyuk sudah memanggilnya ‘Ji Soo’. “Ada apa ini? Apa kalian sudah saling jatuh cinta?” goda Bos Kang. Ji Soo bilang mereka tidak pacaran, mereka hanya bertanding bersama dan memutuskan menjadi teman.


Bos Kang: “Bertanding? Dasar kau serigala. Astaga.” (ia berpura-pura akan memukul Hyuk)
Hyuk: “Hyungnim, aku ini adik Hee.”
Bos Kang: “Aku tahu. Seharusnya kalian sudah berteman sejak lama.”
Hyuk: “Aku datang untuk mengukur kamarmu.”
Bos Kang: “Tentu saja, adik ipar. Ikuti aku.”


Setelah Bos Kang masuk, Hyuk mengatakan kepada Ji Soo sampai jumpa lagi dan Ji Soo pun membalasnya dengan ucapan yang sama. Ia sangat senang.


Hyuk datang ke workshop dan meminta maaf karena terlambat karena baru saja bermain games bersama temannya yang terlihat sedang sedih. “Teman tukang roti?” tanya Ji An. Hyuk berkata bahwa ia berhutang banyak pada temannya itu. Ji An tersenyum dan berkata, z“Kau jadi lemah saat bicara tentang teman. Tapi sepertinya kau baru saja bersenang-senang?”


Hyuk: “Aku akan mengajakmu kesana lain kali.”
Ji An: “Berikan saja hasil pengukurannya.”


Ji An melihat Ji Soo keluar dari toko roti.


Ji An: “Kau baik-baik saja?”
Ji Soo: “Kenapa kau bicara padaku? Kau menyuruhku agar tidak menelponmu.”
Ji An: “Kita tidak saling menelepon, tapi kita bertemu secara langsung.”


Ji An lalu memastikan apakah Ji Soo tetap bekerja di toko roti, karena ia pikir keluarnya tidak akan mengizinkannya. JI Soo menduga Ji An hidup seperti keong di rumahnya, tapi dia tidak mau melakukan itu, karena dia tidak menginginkan apapun dari mereka.


Ji Soo juga mengatakan bahwa keluarganya tetap memanggilnya Ji Soo dan menyuruhnya. Ji An merasa senang mendengarnya. Ji Soo juga mengatakan bahwa semuanya berjalan baik dengan Pak Sunwoo. Ji An juga bertanya tentang keluarga Ji Soo dan Ji Soo bilang mereka baik-baik saja. Ji AN terkejut.


Ji An: “Oh baiklah, jaga dirimu.”
JI Soo: “Hey Seo Ji An, apa yang kau lakukan di lingkungan ini?”
Ji An: “Aku bekerja disini. Sampai jumpa.”


“Dia bekerja di lingkungan ini?” gumam Ji An.


Ji An sudah berada di kamarnya. Dia merasa bingung bagaimana mereka baik-baik saja setelah mengusir putra  satu-satunya. Tapi ia yakin Ji Soo tidak mungkin berbohong padanya. Ia juga merasa keluarganya sangat menyukai Ji Soo karena mereka membiarkannya melakukan apa yang ia mau, tidak seperti dia dulu yang harus menuruti perintah mereka.


Do Kyung menemui Sekretaris Yoo di sebuah restoran. Sekretaris Yoo bertanya dimana Do Kyung tidur dan mengapa tidak datang ke rumahnya. Do Kyung tidak mau menjawab dan meminta lampu buatan Ji An dan flashdiscnya.


Sekretaris Yoo menyerahkan flashdiscnya dan mengatakan bahwa semua file yang selama ini Do Kyung kerjakan tentang White Bio ada di dalamnya.


Sek. Yoo: “Kenapa kau meninggalkan uang itu? Kau kan tidak punya cukup uang.”
Do Kyung: “Lihatlah apa yang kau lakukan. Bagaimana kau tahu itu?”
Sek. Yoo: “Kau hanya meninggalkan 200 dollar. Jika kau datang ke rumahku sebagai wakil presiden, maka kau akan memberikan setidaknya 2000 dollar.”
Do Kyung: “Kenapa kau tahu banyak tentangku?”
Sek. Yoo: “Aku sudah bersamamu selama lima tahun, lima tahun.”


Do Kyung: “Kalau begitu kau tahu, aku tidak akan mengambil uang itu lagi.”
Sek. Yoo: “Keadaannya berbeda sekarang.”
Do Kyung: “Cukup, aku mulai merasa lemah. Uang ini untuk ibumu.”
Sek. Yoo: “Baiklah.”


Do Kyung berkata bahwa dia akan menjalani kehidupan sulit yang cukup panjang, jadi Sekretaris Yoo harus melanjutkan hidupnya sendiri. Do Kyung menduga bahwa Sekretaris Yoo tidak akan suka bekerja di divisi urusan umum, tapi dia harus tetap menghidupi ibunya.


Sekretaris Yoo menawarkan ponsel baru untuk Do Kyung atas namanya, ia akan berpura-pura bisu dan tuli jika ditanya tentang Do Kyung. Do Kyung menolak dan sebagai gantinya ia berjanji untuk mengecek ponselnya minimal satu kali sehari.


Ji Ho dan temannya mengunjungi teman sekolah mereka, Sung Hyeok, di cafenya yang bernama Escape Room. Ji Ho lalu bertanya berapa modal usahanya membuka cafe. Sung Hyeok bilang ia tidak tahu pastinya, karena ibunyalah yang membayar. Ia memperkirakan itu sebesar 300.000 dollar.


Ibu Ji An mendatangi Mi Jung dan juga Seok Do. Ia ingin bertanya tentang keputusan suaminya. Seok Do mengatakan bahwa benar kalau ayah akan ikut memancing di laut dalam. 


Ibu benar-benar tidak tahu haru melakukan apa, jika suaminya tidak ada. “Ketika menantuku punya anak nanti, aku akan merawatnya,” kata ibu.


Mi Jung meminta suaminya agar menghentikan ayah. Tapi Seok Do bilang ia tidak punya hak untuk melakukan itu. Seok Do lalu mengatakan bahwa setelah ayah pergi, ia akan menyewakan rumah ayah dan mengambil depositnya.


Ji Ho berkata berkat keluarga kayanya, kini Sung Hyeok menjadi pemilik usaha. Teman Ji Ho merasa perut dan kepalanya sakit. Ji Ho menduga itu karena mereka lapar. Mereka lalu memutuskan untuk pergi dari cafe dan mencari makan.


Ibu bertanya kenapa setiap hari ayah selalu pulang terlambat dan apakah ayah bekerja. Ayah bilang ia hanya mengurus sesuatu. Ibu juga menanyakan lemari pakaian ayah yang kosong. Ayah berkata bahwa dia sudah menyortir barang-barangnya karena mereka akan pindah.


Ibu: “Apa kau benar-benar ingin aku hidup sendiri? Aku hidup dengan membesarkan anak-anakku, bagaimana aku bisa hidup sendiri?”
Ayah: “Biarkan anak-anak pergi dan hiduplah sendiri. Hanya itu yang bisa dilakukan orang tua seperti kita.”
Ibu: “Aku lebih memilih bercerai.”
Ayah: “Kau menginginkannya?”


Do Kyung pulang sambil membawa lampunya dan melihat Hyuk mengetuk lalu masuk ke kamar Ji An. “Apa yang dia lakukan disana pada jam segini? Baiklah, akan kutunggu beberapa menit karena mereka adalah teman.” gumam Do Kyung.


Hyuk meminta maaf karena datang terlalu larut. Ia datang untuk mengambil desain lamanya yang masih tersimpan di kamar itu. Ji An bilang itu tidak masalah, karena dulu itu memang kamar Hyuk. Ji An meminta Hyuk untuk melihat desain furniture yang ia buat untuk Hyuk, tapi Hyuk bilang ia akan mencari desain miliknya dulu.


Sambil membawa jam beker, Do Kyung menguping pembicaraan mereka di luar pintu Ji An. “Sudah dua menit, apa yang mereka lakukan?” gumamnya. Lalu ia berteriak kalau ada api dan asap.


Ji An dan Hyuk terkejut mendengarnya.


Hyuk keluar dan menunjukkan buku desainnya. “Oh itu bukan api atau asap, apa mungkin alat pelembab udara?” kata Do Kyung. Hyuk bilang ia akan tidur di ranjang malam ini dan Do Kyung langsung setuju.


Yong Gook pulang sambil kedinginan. Ia menagih uang sewa kamar dan juga sewa laptop kepada Do Kyung.


Dari dalam kamar, Ji An mendengar percakapan mereka. Ia juga mendengar Do Kyung ingin meminjam ponsel Yong Gook selama 10 menit dan akan menggunakannya untuk mencari pekerjaan sambilan malam hari.


Hari sudah malam dan Ji An keluar untuk ke kamar mandi. Ia dikejutkan dengan Do Kyung yang masih ada di meja makan sambil mengetik di laptop.


Ji An: “Apa yang kau lakukan diluar sini?”
Do Kyung: “Mengawasi kalian berdua.”
Ji An: “Kenapa kau tidak bisa menggunakan ponselmu?”
Do Kyung: “Agar tidak terlacak. Kirimi aku pesan jika ada masalah. Aku akan mengecek ponselku setiap hari.”
Ji An: “Kenapa kau butuh pekerjaan?”


Do Kyung: “Aku butuh uang.”
Ji An: “Apa kau benar hanya punya 80 dollar?”
Do Kyung: “Tidak, hari ini aku punya 75 dollar dan 90 sen.”


Ji An mengintip dari balik pintunya dan melihat Do Kyung masih sibuk mengetik. Ia lalu menutup pintunya lagi dan melihat jam yang menunjukkan jam setengah empat pagi. “Apa yang dia lakukan sepanjang malam seperti ini?” gumam Ji An.


Di toko roti, Ji Soo mengatakan bahwa dia merasa sangat senang bisa mencium aroma roti lagi di pagi hari. “Ini aroma kebahagiaan,” kata Bos Kang. Ji Soo menyarankan agar Bos Kang sendiri yang mengantarkan roti ke cafe Woo Hee sebagai ucapan selamat pagi.


Bos Kang bilang bahwa mereka sudah ada janji kencan pada saat makan siang, jadi Ji Soo saja yang mengantarkan rotinya. Bos Kang juga menyuruh Ji Soo agar berlatih bicara bebas kepada Hyuk.


Ji Soo datang mengantar roti ke cafe dan menyapa Woo Hee.


Ji An mengenali suara Ji Soo. Ia ada disini karena sedang menjelaskan desain furniturenya untuk Woo Hee. Kemudian ia menoleh ke belakang. Ji Soo terkejut.


Melihat Ji Soo dan Ji An saling bertatapan, Woo Hee berdiri dan memperkenalkan Ji An sebagai temannya. Woo Hee lalu mengambil rotinya dan mengatakan bahwa mereka sedang berdiskusi tentang furniture. Ji Soo lalu pamit pergi.


“Dia teman Nona Sunwoo? Mereka saling mengenal? Bagaimana itu bisa terjadi? Apa mereka bekerja bersama atau bertemu di universitas?” gumam Ji Soo sambil melihat Ji An dari luar kaca cafe.


Soo A menunggu Ji Tae di depan kantornya. Soo A berkata bahwa mereka harus pergi ke suatu tempat. Ji Tae bertanya kemana mereka akan pergi.


Soo A menghentikan langkahnya dan berkata, “Aku hamil.”


Mereka datang ke rumah sakit. Mereka melihat pasangan lain yang begitu bahagia karena akan segera memiliki anak.


Dokter memeriksa Soo A dan mengatakan bahwa usia kehamilannya delapan minggu. Dia juga memperlihatkan detak jantung bayinya.


Bagian resepsionis mengatakan bahwa ia akan mengirim pesan kapan mereka harus melakukan pemeriksaan lagi. Baik Soo A maupun Ji Tae masih sama-sama murung. Kehamilan ini benar-benar di luar rencana mereka.


Di kamar kosnya, Ji Ho menghitung uang tabungannya yang hanya 37.140 dollar. Ia merasa sudah sangat berhemat, tapi tetap saja tabungannya sedikit. Jika bukan gara-gara wanit yang melakukan komplain kemarin, ia pasti mendapat gaji penuh.


Ayah terbangun karena alarm di ponselnya. Ia lalu bangun.


Ji Tae pulang ke rumah sendiri karena Soo A kembali ke kantornya untuk lembur. Ji Tae melamun sampai tidak mendengar panggilan Ji Ho.


Ji Ho bertanya dimana ayah. Ji Tae bilang ayah tidak ada, karena ayah tidur sepanjang hari dan pergi sebelum mereka pulang ke rumah dan akan kembali sekitar tengah malam.


Ji Ho: “Apa maksudmu?”
Ji Tae: “Dia sangat marah padaku.”
Ji Ho: “Padamu?”
Ji Tae: “Ceritanya panjang, aku tidak mau membicarakannya.”


Ji Ho lalu berkata bahwa dia ingin mendiskusikan sesuatu dengan Ji Tae. Ji Ho bertanya apakah ia bisa mendapatkan pinjaman karena ia sudah berhenti kerja. Ia berencana untuk melakukan pinjaman kuliah sebesar 100.000 dollar.


Ayah ternyata belum pergi dan mendengarkan percakapan mereka.


Ji Tae menyarankan agar Ji Ho tidak membuka usaha. “Carilah pekerjaan lain dan menabung,” kata Ji Tae. Ji Ho mengeluhkan bahwa Sung Hyeok akan dibantu orang tuanya saat ia gagal, tapi jika Ji Ho akan kehilangan segalanya jika menghabiskan tabungannya.


Ayah masih mendengarkan percakapan mereka dan mendadak perutnya terasa sakit lagi.


Saat mendengar mereka naik ke lantai atas, ayah terburu-buru keluar.


Ayah menemui Seok Do di kedai tenda. Seok Do mengatakan bahwa ayah semakin kurus sehingga tidak mungkin untuk ikut memancing di laut dalam. Seok Do lalu mengingat saat sebelumnya ayah merasa sakit perut dan muntah. “Semoga kau tidak sepertiku yang menderita kanker perut,” kata Seok Do. Ayah mengelak


Seok Do menyarankan agar ayah melakukan pemeriksaan keseluruhan dulu sebelum berangkat berlayar. Seok Do pernah melakukan pemeriksaan keseluruhan dan hasilnya bersih, namun dua tahun berikutnya dia malah menderita kanker perut stadium tiga.


Seok Do: ”Kapan terakhir kali kau melakukan pemeriksaan kesehatan keseluruhan?”
Ayah: “Entahlah, mungkin tujuh tahun lalu.”
Seok Do: “Hey, ketika kita memasuki usia 50-an, kita harus melakukannya setiap tahun.”


Seok Do menceritakan apa yang dia rasakan saat sakit dulu dan rasanya sangat buruk, jadi dia mengulangi sarannya agar ayah melakukan pemeriksaan.


Soo A pulang dan ia menyesal tidak bisa bertemu dengan Ji Ho. Ji Tae bilang kalau Ji Ho akan datang lagi sebelum tahun baru.


Soo A: “Apa kau makan masakan China disini?”
Ji Tae: “Aku sudah membuka jendelanya.”
Soo A: “Oh, aku suka morning sick sekarang.”
Ji Tae: “Oh aku mengerti.”


Mereka ternyata berencana melakukan aborsi dan berharap agar orang tua mereka tidak mengetahuinya. (Tidaaak... semoga ga kejadian hiks..)


Suasana natal sudah terlihat, tapi ayah masih saja murung. Ia melihat satu keluarga tampak sangat bahagia bersama cucunya. Sedangkan ayah sedang memikirkan dirinya yang kemungkinan sedang sakit parah.


Ayah berwajah murung dan tampak kesakitan, tapi kemudian dia tertawa sendiri. Seorang wanita pekerja sosial menghampirinya.


Wanita: “Tuan, kau pasti memliki hari yang indah. Kau tersenyum, padahal kau hanya sendirian.”
Ayah: “Tentu saja aku bahagia. Karena ini adalah hadiah natal. Aku diberi istirahat dan juga kedamaian.” [crstl]


1 komentar

  1. Duhhh jngannn aborsiiiii 😭😭😭 kasian papa ji an .. Smogaa gaa btulan sakit 😇😇 ...trima kasih sinopsisnyaa chingu .. Semangat !! Ditunggu next up nya eps.34 😇😇

    BalasHapus


EmoticonEmoticon