12/08/2017

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 11

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 11


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Nothing to Lose Episode 10
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Nothing to Lose Episode 12

Jung Joo dan ibunya berada di tempat penyimpanan abu. Abu Kyung Ho berada di bawah abu ibunya. Mereka berdua tampak sangat sedih.  Ibunya lalu keluar,  Jung Joo masih memandangi foto kakaknya. 

Han Joon datang dalam keadaan basah kuyup. Jung Joo memandangnya dengan sinis. 

“Kau membatalkan kesepakatan dengannya? “

Han Joon tidak menjawab,  dia berjalan mendekati Jung Joo tapi Jung Joo mundur menjauhinya. Han Joon lalu membungkuk untuk memberikan penghormatan kepada Kyung Ho. 


Han Joon berada di luar dan menangis dalam hujan.  Eui Hyun datang lalu memayungi Han Joon. 
“Apa kau juga berpikir demikian? Apa kau berpikir ini juga salahku?”

Eui Hyun tidak menjawab apapun,  dia hanya menatap Ha  Jokn. Dia memberikan payungnya dan berjalan masuk. Han Joon melempar payung nya,  kemudian dia berteriak. 

“Kau pikir ini salahku?! “


Eui Hyun masuk bersama Young Hoon.  Young Hoon menyerahkan kotak berisi barang-barang milik Kyung Ho kepada Jung Joo. Eui Hyun membawakan segelas kopi. 

“Itu barang-barang Kyung Ho. “ Young Hoon memberitahu. 

Jung Joo membukanya dan melihat ada sebuah album foto. 

“Itu adalah miliknya yang paling berharga.” Young Hoon melanjutkan.  Lalu Jung Joo melihat foto-foto dirinya dan ibunya. 

“Bagaimana dia bisa memiliki foto-foto ini?”

“Dia memandangi foto-foto itu untuk menahan kerasnya penjara.  Dia juga punya foto dirimu memakai jubah hakim.”


Young Hoon juga memberikan kotak kecil berisi sarung jari buatan Kyung Ho.

“Ini juga.  Dia marah,  hanya inilah yang bisa dia berikan untuk adiknya yang menjadi seorang hakim.”


Eui Hyun mengantarkan Jung Joo dan ibu angkatnya pulang. Ibunya tertidur di kursi belakang. 

“Bagaimana kamu datang?”
“Untuk mewakili pengadilan.”
“Ini mimpi kan?”
“Bukan.”
“Aku tahu.”
“Tidurlah. “


Sa Jung Do sedang bermain catur bersama Do Jin Myung. Sa Jung Do memintanya untuk tidak menemuinya lagi,  karena khawatir dengan apa yang akan dikatakan putranya. Do Jin Myung bertanya kenapa dengan Eui Hyun, lalu mengatakan maksud sebenarnya. 

“Ada orang brengsek yang melakukan konseling dengan Myung Hee. Dia sangat miskin hingga pengacara umum tidak mau bekerja dengannya. Dia meminta Myung Hee untuk mencarikan pengacara. Ku pikir dia ingin memintamu,  tapi menurut ku dia keberatan karena dia khawatir aku akan cemburu.”

Do Jin Myung memberi tahu bahwa orang itu adalah Kim Joo Hyung. 

“Apa yang kau pikirkan?!  Dia membunuh Choi Kyung Ho! Bagaimana bisa kau menyuruh ku membela orang yang membunuh Choi Kyung Ho?!”

“Tenang lah. Ku beri tahu,  ini karena Myung Hee. “

“Apa benar karena Myung Hee?  Tidak ada hubungannya denganmu?”

“Tidak ada.  Apa aku gila? Aku sedang berusaha masuk ke Blue House.  Kenapa aku harus melakukan hal bodoh,  kecuali aku sepenuhnya kehilangan akal. Aku bisa menekankan putraku jika mencampuri pemilihan ku. Situasiku kini sangat jauh berbedan dari 10 tahun lalu. Itu terjadi karena Choi Kyung Ho berkelahi dengan Kim Jok Hyung yang menyandera Lee Jung Joo. Tidak ada hubungannya denganku.”

“Kau yakin?”

“Jika aku berbohong, aku akan menyerah pada Myung Hee. Senang?”


Eui Hyun dan Jung Joo sudah sampai di depan rumah Jung Joo,  tapi Jung Joo masih tertidur di dalam mobil.  Eui Hyun tidak membangunkannya,  dia lalu membaca berkas di sebelah Jung Joo. 


Jung Joo mulai bangun,  dia meregangkan badannya dan tangannya hampir mengenai kepala Eui Hyun. Eui Hyun menahan tangan Jung Joo. 

“Kau sudah bangun?”

“Sudah berapa lama aku tidur?”

“Cukup lama. Aku berpikir akan membangunkan mu.”


Jung Joo akan keluar dari mobil,  Eui Hyun memberitahunya bahwa ibunya berkali-kali keluar untuk melihatnya. 

“Terima kasih banyak untuk hari ini.”

“Yah... Ini sudah agak lama sejak aku mengambil cuti untuk mencari udara segar, jadi tidak apa apa. “
“Aku turun sekarang.” Jung Joo akan membuka pintu mobil. 

“Mari bertemu dalam jubah hakim.  Aku tidak menyadari kau terlihat jauh lebih baik saat memakai jubah.”


Prof Yoo sedang duduk,  lalu suaminya datang dan duduk di sebelahnya. Suaminya ingin menonton acara prof Yoo di tv, lalu dia menyalakan tvnya. 

Dalam acara itu prof Yoo mengatakan ada orang yang bertanya kenapa dia berhenti menjadi hakim lalu menjadi profesor. Suaminya juga bertanya kenapa dia berhenti menjadi hakim. 

Di acara tv itu prof Yoo mengatakan dia tidak melihat seorang yang mencuri, menipu,  melecehkan,  atau membunuh seseorang. Yang dilihatnya adalah pencuri,  penipu,  dan pembunuh yang masuk ke penjara. 

“Pada saat itu aku ketakutan, fakta yang ku lihat hanyalah penjahat,  bukan kasusnya.”

Do Jin Myung mengatakan dengan adanya acara ini maka nilai dirinya akan naik,  dan tidak ada yang tidak bisa dicapainya.  Tapi Myung Hee tidak menanggapi dan bersikap dingin.


Sa jung Do sedang menonton  prof Yoo di tv,  tapi mematikannya saat Eui Hyun datang. 


Eui Hyun memberi tahu ayahnya kalau Kyung Ho meninggal,  ayahnya mengatakan dia sudah mengetahui. 

“Aku jadi penasaran apakah dia memang bersalah atau seorang pria tidak bersalah yang dikirim ke penjara. Bahkan menyebabkan dia meninggal.”

“Hakim juga manusia.  Manusia tempatnya salah.”

“Jika kesalahannya adalah keputusan yang menyebabkan kematian,  ini bukan kesalaha  tapi kegagalan. Hakim itu seharusnya berhenti. Selamat malam.”


Jung Joo sedang melihat foto-foto milik Kyung Ho saat ibunya masuk. Ibu mengatakan dia beberapa kali mengunjungi Kyung Ho tanpa memberitahu Jung Joo. Kyung Ho tidak minta uang,  tapi hanya ingin beberapa foto Jung Joo. Dia lalu merobek kertas pengajuan retrial. 


“Aku sudah cukup lama membersihkan pengadilan,  banyak yang aku dengar. Aku juga tahu beberapa hal. Untuk membersihkan nama Kyung Ho dan membuktikan dia tidak bersalah.  Apa itu? Hanya keluarga dekat yang bisa mengajukan retrial. Benar? Sudah selesai. Aku akan menjadi bibimu lagi. Kamu akan menjadi Choi Jung Joo. Membutuhkan waktu lama tapi kita kembali ke tempat yang seharusnya. Tapi kamu adalah putri yang ku lahirkan dari hatiku.”

Jung Joo menangis dan ibunya memeluknya.


“Putriku.  Kau putriku. Jung Joo.  Aku belum melakukan apapun untukmu tapi kau menganggapku sebagai ibumu. Kupikir aku tidak bisa lagi menjadi ibu setelah disteril, tapi kamu membuat ku menjadi ibu. Kau tahu,  aku sangat senang menjadi ibumu dan kamu putriku,  benar kan?”

Dia juga mengatakan kalau dia mengunjungi Kyung Ho setelah mengetahui Jung Joo menjadi hakim,  Kyung Ho sangat gembira dan menangis. 


Do Han Joon sedang membasuh wajahnya di wastafel.  Dia melihat ke cermin, wajahnya seperti orang yang habis menangis. 


Jung Joo dan ibunya berbaring di ranjang,  dan ibunya memeluknya dari belakang. Jung Joo mengatakan adopsinya tidk akan berakhir,  lalu ibunya bertanya apa rencana dia selanjutnya. 

“Hubungan keluarga akan tetap ada walaupun aku tetap menjadi putrimu.”

“Apa maksudmu?”


Jung Joo menjelaskan bahwa dia memenuhi syarat untuk mengajukan tuntutan dari pihak Kyung Ho.
“Jadi kenapa kau merobek kertas itu?”

“Seharusnya kau memberitahuku segera!” ibunya terkejut dan kesal lalu ibunya berkas yang disobeknya dan berusaha menyatukannya lagi. 


Jung Joo sudah bersiap akan pergi,  ibunya sedang menelepon. Dia berbicara di telepon dengan seseorang yang akan mengajukan tuntutan hukum. Setelah menutup telepon, ibunya membujuk Jung Joo agar meminta hakim Moon untuk memenangkan kasus teman ibunya itu. Tapi Jung Joo menolak. Hari ini Jung Joo akan menghadapi komite kedisiplinan. 


Jung Joo menghadap 7 orang komite disiplin. Orang pertama mengatakan Jung Joo telah menjatuhkan harga dirinya di muka umum, dan mempermalukan dirinya sendiri dan pengadilan. Jung Joo mengakui kesalahannya.


Pria kedua bertanya kenapa Jung Joo ada di panel persidangan Kyung Ho, dan seharusnya meninggalkan sidang tersebut. Menurut Jung Joo, sudah sangat terlambat untuk pergi karena sidang sudah dimulai dan sidang membutuhkan 3 orang hakim.


Jung Joo mengatakan bahwa kakaknya tidak bersalah. 

“Apa katamu? Kau pikir kami mendengarkan omonh kosong?” seorang pria yang lain menyela perkataan Jung Joo.

“Aku tidak pernah meragukan bahwa kakakku pelakunya. Aku khawatir hal itu akan merusak karirku sebagai hakim. Aku diadopsi, jadi aku merubah nama belakangku.  Dan aku tidak pernah mengunjungi nya di penjara.


Anggota komisi yang pertama bertanya, bertanya lagi pada Jung Joo.

“Apa ini yang akan kau katakan?”

“Aku salah menilainya. Kakakku adalah korban dari polisi, hakim, pengadilan di negri ini yang salah menghakiminya dengan kejam menghancurkan hidup seseorang. Dan kenyataannya aku ada di sidang itu. Sebagai adiknya, aku membuat penilaian yang salah, tapi sebagai hakim aku menolak membuat putusan yang salah. Itulah mengapa aku di sini sekarang.”


Jung Joo melanjutkan, jika mereka tudak membuat putusan yang salah, maka dia tidak akan memakai jubah hakim sekarang. Itu yang tidak dia sesali. Dan jika dia tidak ada di persidangan saat itu, maka kakaknua akan pergi meninggalkan dunia ini tanpa pernah melihatnya memakai jubah hakim.


“Bisakah kau mengulangi lagi apa yang kau katakan?”

Jung Joo berdiri.

“Ya. Aku akan bertanggung jawab dengan membuktikan Choi Kyung Ho tidak bersalah.” Jung Joo mberi hormat lalu pergi. Dia tidak menghiraukan anggota komite yang memanggilnya.


Jung Joo keluar dari gedung dan menerima menelepon.

“Ya. Aku adiknya ChoinKyung Ho. Apa? Membela diri? Aku akan datang ke sana sekarang. Dia ada di kantor hakim?”


Jung Joo masuk ke kantor Han Joon tanpa permisi, Han Joon sedang mengerjakan sesuatu tentang kematian Kyung Ho.

“Aku dengar kau mengambil alih kasus Choi Kyung Ho. Apa kau punya hak memegang kasus ini?”
“Kalau kau memprotes sebagai keluarga korban, yang bisa aku katakan adalah aku tidak punya kendali atas penugasan kasus.”

“Benarkah? Jadi ini takdir.”

“Ayo keluar. Ini tidak pantas dibicarakan di sini.”

“Apa ini pembelaan diri.”


Jung Joo ingin melihat layar komputer,  tapi Han Joon menahan layarnya. 
“Melihat ini tidak akan ada baiknya.”

“Itu agar aku bisa memutuskan.”

“Ini kantor jaksa. Aku jaksanya. Aku yang memutuskan. Aku tidak punya tugas untuk membukanya kepada keluarga korban.”

“Dan keputusannya adalah pembelaan diri?”


Han Joon tidak menjawab pertanyaan Jung Joo, dia menunjukkkan sebuah berkas.
“Laporan polisi ini tidak masuk akal.”


Jung Joo membacanya sekilas, lalu melemparkannya ke meja Han Joon.
“Aku perlu melihatnya.”


Han Joon membiarkan Jung Joo melihat rekaman CCTV saat Kyung Ho berkelahi dengan Kim Joo Hyung.


“Itu adalah sebuah perkelahian. Dalam.sebuah perkelahian, dimana mereka menyerang dan bertahan, melindungi diri tidak berlaku.”

“Saat Kyung Ho menyerang Kim Joo Hyung, Kim Joo Hyung ketakutan dan mendorong Kyung Ho. Sayangnya kepala Choi Kyung Ho membentur bata.”

“Ketakutan? Dia mengajukan retrial untuk membuktikan dia tidak membunuh seseorang. Kau mengatakan seorang seperti itu mencoba membunuh orang?”

“Berpikir  lah rasional, sebagai hakim, sebelum bertindak sebagai keluarga korban. Mengajukan retrial itu berbeda dengan mencoba membunuh.”

“Berbeda? Kakakku mengajukan retrial. Itu bUkan sesuatu yang ditakuti oleh pembunuh sungguhan. Pembunuh yang sesungguhnya yang mengkhawatirkan hidupnya.”

“Apa?”

“Walaupun kakakku menyerangnya, bagaimana kalau Kim Joo Hyung yang memancingnya untuk melakukan ini?”


“Lihat ini.” Jung Joo mencari rekaman CCTV yang menunjukkan Kim Joo Hyung sedang menunggu di luar toilet.

“Lihat. Kim Joo Hyung mengatakan sesuatu pada kakakku. Bagaimana jika dia memancingnya? Dia tahu kamera tidak bisa menangkap apa yang dia katakan, jadi….”

“Kau bisa membuktikan dia yang memancing? Apa kau punya bukti?”

“Apa kau punya bukti dia tidak memancingnya? Kecuali kau mengetahuo apa yang dia katakan saat itu.”

“Ini karena kita tidak bisa. Itu lah kenapa bukti yang lain itu penting. Aku mengatakan dia mengkhawatirkan keselamatannya karena….” Han Joon mencari sesuatu dari mejanya.


Han Joon menunjukkan sebuah sikat gigi di dalam kantong plastik, yang ujungnya sudah ditajamkan.

“Lihay. Sikat gigi Choi Kyung Ho ada di TKP. Ini cukup bisa menjadi senjata. Umumnya, sidik jarinya ada di sini.”

“DNA? Bahkan dalam sidang pemerkosaan dan pembunuhan Kim Ga Yong, bukti yang terpercaya yang membuat kakakku jadi tersangka. DNA nya lah yang ada di pakaian dalam Kim Ga Yong. Tapi kalian harus tahu lebih dari yang orang lain tahu. Bahkan bukti terpercaya mungkin saja dimanipulasi oleh seseorang. Jika seseorang berkonspirasi untuk memalsukan bukti,  putusan yang salah tidak dapat dihindari.”

“Jung Joo.”

“Jangan berani kau menyebut namaku! Tuan Do, kau lebih baik menginvestigasi kasus ini secara benar sebagaimana hidupmu bergantung pada hal ini.”
Comments


EmoticonEmoticon