1/02/2018

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 22 PART 1

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 22 BAGIAN 1


#22 – Mereka Menemukan Sebuah Rekaman


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 21 Part 2

Il Seung yang sedang melamun disadarkan oleh Sersan Kwon yang mengajaknya makan, karena Ketua Jang akan mentraktir mereka. Il Seung menolak, karena ia harus pergi ke suatu tempat.


Il Seung lalu mengambil foto Ketua Jang saat masih menjadi detektif yang sebelumnya juga ditunjukkan pada Pak Choi. Il Seung lalu mengambil beberapa paperclip dan pergi keluar.


Il Seung memakai sarung tangan dan mengetuk pintu Kantor Ketua Jang. Tidak ada yang menjawab. Ia lalu mencoba membuka pintunya, namun terkunci. Ia menggunakan paperclip yang ia bawa sebelumnya, untuk membuka pintu tersebut.


Il Seung berhasil masuk. Ia mencoba membuka laci meja kerja Ketua Jang. Ia membuka kuncinya dengan menggunakan paperclip tadi.


Di laci pertama, ia tidak menemukan apa-apa. Tapi di laci kedua, ia melihat berkas mengenai dirinya sebagai tahanan.
Flashback..

“Kau mengenalku kan? Atau mungkin tidak. Aku agak yakin kita pernah bertemu sebelumnya. Kau terlihat familiar,” kata Ketua Jang.


“Dia tahu,” gumam Il Seung. Ia lalu merapikan kembali berkasnya ke dalam laci. Ia kemudian membuka laci ketiga yang menggunakan kunci gembok.


Setelah berhasil membuka kunci gemboknya, di laci yang ketiga Il Seung menemukan sebuah ponsel model lama. Ia melihat isinya,namun daftar panggilannya kosong. Ia mendengar suara pintu dibuka dan langsung bersembunyi.


Ketua Jang masuk ke ruangannya sambil bicara di telepon. “Ya, Pak. Aku akan segera kesana. Baiklah.” Ia lalu menutup teleponnya dan membuka pintunya.


Il Seung masih was-was. Setelah mendengar pintu ditutup, ia akan berdiri. Namun ia dikejutkan dengan Ketua Jang yang sudah ada di depannya.


Ketua Jang: “Aku belum pergi. Aku sudah tahu. Kau mengawalinya dengan mengecek sidik jari, dan sekarang kau bahkan menyelidiki kantorku, padahal kau hanya petugas Polisi biasa.”
Il Seung: “Kau sudah tahu bahwa aku bukan Polisi.”


Ketua Jang lalu bertanya apakah ia harus memberitahukan semua orang tentang siapa Il Seung sebenarnya.


“Haruskah aku mengatakan sesuatu juga? Tentang orang yang kau hubungi melalui ponsel ganda yang ada di lacimu?” Il Seung mengancam balik. “Aku tidak masalah jika harus kembali ke penjara, tapi kau akan kehilangan banyak hal,” lanjutnya.


Il Seung pergi dan Ketua Jang memanggilnya, “Kim Jong Sam.” Il Seung berhenti dan menoleh kemudian bertanya apa yang Ketua Jang lakukan di depan Pak Choi.


“Apa dia sudah mengenalimu? Apakah itu alasanmu membunuhnya?” tanya Il Seung. “Jika iya, maka itu akan menjadi pengakuan. Apa kau membunuh Ketua Jin?”


“Kau seharusnya tidak mengatakan itu dengan suara keras,” kata Ketua Jang yang berjalan mendekati Il Seung dan menusukkan jarinya di ulu hati Il Seung. “Jika kau menunjukkan semua kartumu, bagaimana kau bisa menang?”


Setelah Il Seung keluar, Ketua Jang mengambil ponsel yang ada di laci dan juga ponsel yang baru saja dipakainya. Ia kemudian mematahkan keduanya.


Di ruang rawat Jin Young, mereka sedang melihat rekaman CCTV. Jin Young menyuruh Il Seung untuk duduk di sampingnya di atas ranjang. Il Seung tidak mau, tapi Jin Young mengatakan mereka harus melihatnya bersama-sama.


“Ayahku pergi ke bank jam 9 malam. Lalu dia masuk ke Restoran Odong Blowfish House jam 10 malam. Dia meninggalkan restoran jam 10.45, dan masuk ke Gedung Jinsung jam 10.56.”


Jin Young heran kenapa ayahnya datang ke bank jam 9 malam, padahal saat itu bank pasti sudah tutup. Il Seung berkata bahwa Ketua Jin adalah pimpinan perusahaan besar, pasti ada orang yang bersedia menemuinya walaupun bank sudah tutup.


Melalui rekaman itu, Jin Young mendapati ayahnya masuk bank tanpa membawa apa-apa, namun saat keluar ia membawa tas kulit. Dan saat ayahnya keluar dari mobil lagi, ia tidak membawa tas itu keluar. Jadi seharusnya tas itu ada di dalam mobil, namun pada kenyataannya tas itu tidak ada.


Il Seung melaporkan hasil penyelidikannya kepada Inspektur Kang. Ia menduga Ketua Jin datang ke bank untuk mengambil sesuatu di kotak penyimpannya di bank. Inspektur Kang menanyaka tempat tinggal Pak Choi, tapi Il Seung belum berhasil menemukannya.


Sersan Kim dan Kwon datang terlambat. Mereka mengatakan bahwa Ketua Jang yang seharusnya mentraktir mereka malah pergi dan menyuruh mereka menunggu, tapi tidak juga datang.


Sersan Kwon menduga Pak Choi tidak punya tempat tinggal permanen. Il Seung lalu melihat sikat gigi yang dibawa Sersan Kwon.
Flashback..


Il Seung mengingat saat penyergapan Pak Choi, ia melihat sikat dan pasta gigi di mobilnya.


“Aku rasa aku tahu dimana dia tinggal,” kata Il Seung.


Mereka lalu menggeledah mobil Pak Choi dan menemukan banyak barang yang seharusnya disimpan di rumah


“Aku menemukannya,” kata Il Seung sambil mengeluarkan sebuah tas kulit dari bagian bawah bagasi.


Il Seung membuka tas itu dan menemukan sebuah ponsel, yang diduga adalah ponsel ganda Ketua Jin yang dulu hilang.


Selain itu, ada juga buku rekening atas nama Jin Young. “Dia benar-benar orang kaya. Satu juta dollar langsung masuk ke rekeningnya sekaligus,’ kata Sersan Kwon. Tapi Sersan Kim bilang itu tidak ada gunanya, karena Pak Choi sudah mengambilnya. Inspektur menduga Pak Choi mencuci uang itu berkali-kali agar tidak ketahuan.
Flashback..


“Sejumlah besar uang masuk ke rekening pak Choi sehari setelah Ketua Jin meninggal,’ kata Jaksa Kim.


Inspektur Kang menyuruh mereka membawa ponsel itu ke tim forensik, lalu mencari tahu sebanyak mungkin bagaimana Pak Choi mencuci uangnya.


Inspektur Kang menegur Il Seung yang meminta Inspektur Cho untuk memeriksa sidik jari tanpa izinnya. Il Seung mengatakan ada yang mencurigakan dan inspektur bertanya apa itu. “Ketua Jang Pil Sung,” jawab Il Seung.


“Ketua Jang? Katakan padaku,” kata inspektur.


Ruangan Jaksa Kim terlihat sudah kosong, tidak ada lagi berkas yang menumpuk di mejanya. Pengacara An lalu masuk.


Peng. An: “Apa kau sudah siap untuk pindah?”
Jaksa Kim: “Tidak. Ini hanya bossku yang sedang marah padaku.”


Jaksa Kim kemudian bicara dengan hormat kepada Pengacara An karena hanya dialah yang dapat mengubah situasi. “Mengubah situasi? Aku?” tanya Pengacara An.


“Ya. Kau kenal Pak Park bukan?” kata Jaksa Kim lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menghubungi sebuah nomor dan ternyata ponsel Pengacara An berdering. “Ya, kau mengenalnya. Ini ponsel ganda Pak Park.”


Jaksa Kim: “Maksudku, jika kau menggunakan ponsel ganda, kau harus lebih berhati-hati. Aku menebak kau memberinya uang sebagai ganti informasi yang ia berikan. Kau mengirimkanuang ke rekening ibu mertuanya. Dan pengirimnya adalah perusahaan tempatmu bekerja. Sesaat setelah mendapatkan ini aku mengancam Pak Park akan memasukkannya ke penjara, lalu dia menceritakan semuanya. Kau harusnya mempekerjakan orang yang bukan seorang pengecut. Atau kau harus membayarnya lebih banyak, agar dia lebih setia padamu.”


Peng. An berkata,  “Cukup. Apa yang kau inginkan?” Jaksa Kim meminta Pengacara An membereskan masalah yang ia hadapi, yaitu mengembalikan kembali posisinya sebagai jaksa.


Jaksa Kim mengeluarkan lagi papan namanya dan meletakkan di mejanya. Ia lalu mengucapkan terima kasih pada Pengacara An. [crstl]


Comments


EmoticonEmoticon