1/19/2018

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 31 PART 2

SINOPSIS Doubtful Victory Episode 31 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Doubtful Victory Episode 31 Part 1

Di Kantor Kejaksaan, Jaksa Kim berusaha membujuk Ketua Gook agar mengakui tentang kejahatan Lee Kwang Ho juga. Karena menurut Jaksa Kim, tidak adil bagi Ketua Gook jika harus dipenjara sedndirian.


Il Seung datang dan Jaksa Kim menyebutnya buronan. Il Seung tidak mempedulikan ucapan Jaksa Kim dan meminta izin untuk bicara dengan Ketua Gook.


Jaksa Kim: “Maafkan aku. Tapi Ketua Gook terus saja menutup mulutnya, jadi kalaupun aku mengizinkanmu...”
Ketua Gook: “Aku perlu bicara dengannya. Bisakah kau meninggalkan ruangan ini.”
Jaksa Kim: “Aku tidak percaya ini. Aku bertemu banyak tersangka, tapi aku tidak pernah bertemu orang yang membuatku merasa ditinggalkan.”


Jaksa Kim bilang ia sangat kesal. Tapi Il Seung berjanji mereka tidak akan lama. Jaksa Kim setuju untuk keluar dari ruangannya sendiri, asalkan Il Seung memberitahukan apa yang ia bicarakan dengan Ketua Gook.


Ketua Gook langsung menanyakan tentang Pak Cha. “Aku akan mencarinya. Kenaoa Lee Kwang Ho mencekik Nona Hong?”  tanya Il Seung.


Manajer Lee menatap piring yang berasal dari Restoran Odong 10 tahun lalu. Ia lalu membakarnya. Kemudian dia mengambil sebuah gelas dari tempat yang sama, dan menatapnya.
Flashback..


10 tahun yang lalu, Nona Hong menuangkan teh untuk Manajer Lee dengan gelas itu. Lalu Manajer Lee meminumnya.


Man. Lee: “Restoran ini memiliki teh barley terbaik.”
Nona Hong: “Aku kecewa. Kau memuji teh barley di restoran ikan buntal.”
Man. Lee: “Apa yang kau lakukan bersama Jin Jung Gil? Nona Hong, apa kau tahu bagaimana aku bisa sampai di tahap ini? Itu semua berkat keberanianku. Aku bisa menebak jika seseorang berencana untuk mengkhianatiku. Perasaanku tidak pernah salah. Apa yang kau lakukan?”


Nona Hong berkata bahwa dia memberikan Ketua Jin senjata yang bisa menghancurkan Manajer Lee. “Aku rasa pembunuh sepertimu, tidak cocok menjadi presiden.”


Manajer Lee lalu memasukkan gelas teh itu ke dalam tempat pembakaran bersama barang-barang bukti lainnya. Sekarang dia hanya bisa berharap bahwa Ketua Gook akan tetap diam.


Il Seung: “Kau tidak tahu kenapa Lee Kwang Ho melakukannya?”
Ketua Gook: “Menurut tebakanku, itu mungkin karena Ketua Jin. Nona Hon adalah orang yang memberikan rekaman itu kepada Ketua Jin.”
Il Seung: “Apa kau sedang membicarakan rekaman yang Ketua Jin bawa dari restoran sebelum dia meninggal?”


Ketua Gook menganggukkan kepalanya, tapi ia tidak yakin apa isi rekaman itu. “Nona Hong sudah lama merekamnya. Dan ada rekaman pembicaraan tentang kehidupan pribadi Lee Kwang Ho.”


Il Seung menduga bahwa itu adalah kelemahannya, sampai-sampai dia sendiri-lah yang mencekik Nona Hong. Ketua Gook menyimpulkan bahwa Il Seung sudah percaya padanya. “Tidak, aku tidak percaya padamu. Aku hanya mengambil kesempatan, tidak peduli itu benar atau salah. Untuk menangkap Lee Kwang Ho, aku akan rela mendengarkan cerita paling konyol sekalipun,” kata Il Seung yang kemudian menanyakan seberapa banyak hal yang Pak Cha ketahui.


Menurut Ketua Gook, Pak Cha tidak akan tahu banyak, karena ia mengidap alzheimer. Tapi Ketua Gook yakin kalau Pak Cha memiliki smeua rekaman tentang semua hal yang Manajer Lee perintahkan padanya.


Il Seung: “Rekaman itu berarti ada di Jang Pil Sung, karena dialah yang menculik Pak Cha.”
Ketua Gook: “Tidak. Aku yakin dia tidak menyimpannya di rumah sakit. Dia pasti menyembunyikannya di tempat lain atau memberikannya kepada orang yang sangat ia percayai.”


Ketua Gook menambahkan kalau Ketua Jang memiliki rekaman itu, dia pasti sudah mengkhianati Manajer Lee. Karena Ketua Jang tidaka akan mau bertahan di sisi Manajer Lee, jika memiliki sesuatu yang lebih besar.


Jaksa Kim sudah kembali. “Ini saatnya kau bicara padaku,” kata Jaksa Kim pada Il Seung. Tapi Il Seung malah berpamitan, dan tidak mempedulikan peringatan Jaksa Kim.


Orang yang Chul Gi temui ternyata adalah Inspektur Park. Chul Gi menyebut nama Kim Jong Sam. “Sudah kuduga. Kenapa?” kata Inspektur Park.


Chul Gi: “Dia lulus tes Kepolisian. Dia mungkin sudah menjadi Polisi yang hebat jika dulu tidak dijebak.”
Ins. Park: “Aku tahu. Dia bagus dalam bekerja. Dia juga pria yang baik. Lalu kenapa?”
Chul Gi: “Aku rasa, dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti. Jadi untuk sekarang...”
Ins. Park: “Hyung, tugas kita adalah menangkap orang yang bersalah.”


Inspektur Park merasa kalau yang sedang terjadi itu tidak benar. Chul Gi mengerti, tapi ia mengatakan bahwa jika saja dulu Jong Sam tidak dijebak, maka saat ini ia pasti sedang bekerja bersama Inspektur Park sebagai Polisi yang baik.


Il Seung kembali ke kamar rawat Pak Cha di rumah sakit jiwa. Ia mengingat perkataan Ketua Gook bahwa kemungkinan Pak Cha tidak menyimpan rekaman itu di rumah sakit. Il Seung lalu menghubungi Jin Young.


“Kau ingin mengecek latar belakang Pak Cha? Aku sudah mengeceknya, tapi tidak ada banyak infromasi disana,” kata Jin Young. Jin Young juga mengatakan bahwa tidak ada yang melaporkan hilangnya Pak Cha padahal dia pergi untuk waktu yang lama, karena ia tidak memiliki keluarga. “Aku akan mengirimkan foto dokumennya,” kata Jin Young lagi.


Il Seung: “Kau menghabiskan malam di kantor? Kau harus menjaga dirimu.”
Jin Young: “Ya. Kau juga harus melakukan hal yang sama. Kau ingat gerakan bela diri yang kuajarkan bukan?”
Il Seung: “Ya, tentu saja. Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukan Jang Pil Sung dan Pak Cha?”


Pak Cha mengatakan bahwa dia ingin ke kamar mandi dan juga berkata bahwa seharusnya dialah yang menyetir. “Ngomong-ngomong, kita akan pergi kemana?” tanya Pak Cha. Ketua Jang kelihatannya sudah lelah meladeninya.


Ketua Jang: “Kau akan pergi ke tempat yang ditentukan Anggota Kongres Lee.”
Pak Cha: “Baiklah..”
Ketua Jang: “Pak Cha, apa tidak ada hal yang kau sembunyikan lagi? Sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang dapat menyebabkan masalah bagi Anggota Kongres Lee. Apa kau yakin tidak menyembunyikannya?”


Pak Cha: “Aku memberikannya pada seseorang.”
Ketua Jang: “Pada siapa?”
Pak Cha: “Rahasia. Pada orang itu. Orang yang setiap hari menemuiku.”
Ketua Jang: “Jadi, siapa tepatnya orang itu?”
Pak Cha: “Aaaah, aku harus pergi ke kamar mandi.”


Ketua Jang terpaksa memperbolehkan Pak Cha keluar. “Aku akan kembali.. Aku akan kembali...” kata Pak Cha sambil berlari.


Asisten Ki yang berada tepat di belakang mobil Ketua Jang bertanya apa yang harus mereka lakukan. Pak Kwak lalu mengajaknya untuk menangkap Pak Cha. Sayangnya, Ketua Jang melihat Pak Kwak yang berjalan ke arah Pak Cha. Dia tersenyum sinis, lalu ikut turun dari mobilnya.


Pak Cha sendiri terus masuk ke dalam semak-semak.


Ketua Jang menghampiri Pak Kwak dan bertanya kenapa mereka mengikutinya. “Minggirlah. Kau tidak mau kami memukul wajah tampanmu, bukan? Kami hanya akan membawa PakCha pergi secara diam-diam,” kata Pak Kwak.


Ketua Jang tidak mau minggir dan malah menyuruh mereka pergi, karena dia sedang menjalankan tugas dari Manajer Lee dan memperingatkan agar mereka tidak mengkhianati Manajer Lee.


Ast. Ki: “Tuan, dia hilang.”
Pak Kwak: “Apa maksudmu? Cepat temukan dia.”
Ast.Ki: “Baik, Tuan. Sial.”


Sersan Kim menerima informasi dari Jin Young mengenai lokasi mobil Ketua Jang.


Mereka kemudian melihat orang yang dicari berada tidak jauh dari mereka. Sersan Kwon tidak percaya, karena harus berurusan dengan mereka lagi. “Kita tangkap Jang Pil Sung dulu,” kata Sersan Kim. Mereka lalu menyalakan sirinenya.


Ketua Jang akan melarikan diri, tapi Pak Kwak menghalanginya. “Jika aku ditangkap, maka Ketua Gook juga akan mendapatkan tuntutan karena sudah membebaskanku. Lepaskan aku, lalu kau bisa mendapatkan Pak Cha,” kata Ketua Jang.


“Hey, aku senang melihatmu masih hidup,” kata Sersan Kim. Pak Kwak lalu menghalangi mereka, karena ingin tetap mengamankan Ketua Gook. Ketua Jang berhasil melarikan diri.


“Aish! Aku tidak peduli lagi dengan NIS,” kata Sersan Kim lalu mengeluarkan borgolnya untuk menangkap Pak Kwak yang sudah pasrah. Asisten Ki lalu datang dan menyodorkan tangannya secara sukarela untuk diborgol.


Sersan Kwon: “Ada apa dengan kalian?”
Pak Kwak: “Aku tidak peduli, jika harus ditangkap. Tapi kalian harus menemukan Pak Cha terlebih dahulu.”


Ketua Jang menghentikan mobilnya di suatu tempat. “Pak Cha menghilang. Kartu apalagi yang dia punya?” gumam Ketua Jang. “Orang itu? Siapa dia?”


Il Seung menemui seorang perawat disana.


Tapi, perawat tu sepertinya malah terpesona pada Il Seung. Haha.. Dia tersenyum sangat lebar.


Il Seung menanyakan hal yang dia tanyakan sebelumnya. “Ah, iya iya. Aku sudah mengeceknya. Biaya rumah sakit selalu dibayarkan secara rutin, dan tidak pernah ada yang mengunjunginya kecuali baru-baru ini. Ambil ini,” kata si perawat.


Isi tas itu adalah sepasang sepatu. Il Seung bertanya darimana perawat itu mendapatkannya. Perawat itu bilang sepatu itu ada di kloset kamar mandi.


Perawat: “Dia punya kebiasan menyembunyikan sesuatu di tempat-tempat berbeda.”
Il Seung: “Dimana dia biasa menyembunyikan barang-barangnya?”
Perawat: “Biasanya dia menyembunyikannya di .....”


“Keran pemadam kebakaran,”


“Tangki toilet,”


“Keranjang cuci, dan di bawah kasur.”


Karena tidak menemukannya di tempat-tempat yang disebutkan perawat tadi, Il Seung mencari di sudut lain juga. Tapi hasilnya nihil.


Perawat tadi sedang mengajarkan senam kepada para pasien, dan Il Seung bergabung bersama mereka.


Il Seung: “Nona..”
Perawat: “Oh, ya?”
Il Seung: “Bisakah kita bicara sebentar?”
Perawat: “Baik.”


Il Seung bertanya apa yang sehari-hari dilakukan oleh Pak Cha. “Berdoa,” jawab si perawat. “Dia berdoa bersamaku.”


“Bersamamu?” tanya Il Seung memastikan.(crstl]

1 komentar

  1. Saya pembaca setia doubtful victory..
    Semangat nulisnya ..

    BalasHapus


EmoticonEmoticon