1/11/2018

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 10 PART 2

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 10 Part 1
Ibu Moon Soo sedang memotong rambut nenek, lalu dia berkata pada nenek agar sering-seringlah ke sini. Karena bibi di permandian ini, sangat pandai menggosok punggung. Ibu lalu meminta nenek untuk mencoba sauna setelah itu ibu akan mengeblow rambut nenek.


Ibu bertanya pada Moon Soo dimana dia mengenal nenek, Moon Soo mengatakan nenek adalah teman dari temannya.
“Apa dia sakit? Rasanya dia sedang menyiapkan sesuatu... Ibu jadi merasa sedih.”
“Apa maksud ibu?”
“Kalau sering menata rambut orang, kau punya firasat begitu.”


Tiba-tiba bibi masuk dengan panik, ada sesuatu yang terjadi pada nenek.


Di kapal, Gang Doo sedang menarik jaring. Karena kakinya tersangkut, lalu dia terjatuh dan merasa sangat kesakitan pada lututnya.


Moon Soo berada di rumah sakit, saat dia melihat ranjang nenek ternyata dia sudah pergi.


Moon Soo melihat nenek sedang berada di kasir rumah sakit. Nenek mengatakan dia cuma pusing karena kelamaan dalam air panas.
“Waktu itu juga begitu. Kita lakukan tes saja ya?”
“Tak apa.”


Jae Young tiba-tiba muncul.
“Anda tidak baik. Sudah kubilang tunggu sampai harus di opname.”
“Ayo pergi.”
“Kalau pergi terus seperti ini, anda bisa mati. Entah kapan tumor di otakmu bisa pecah. Harus segera dirawat agar bisa sembuh...”
“Kau tahu orang paling banyak mati karena apa? Kanker? Kecelakaan? Bunuh diri? Bukan semua itu. Orang mati karena kemiskinan. Mereka tidak bisa diobati karena sangat miskin. Mereka mati kecelakaan karena bekerja keras melawan kemiskinan. Mereka bunuh diri karena kemiskinan. Orang mati karena miskin! Aku tidak takut sama sekali. Minggir!”


Moon Soo sedang berbicara dengan Jae Young dan terkejut mendengar penjelasan Jae Young.
“Tumornya terletak di Hypothalamus. Jika di operasi, Ia mungkin kehilangan seluruh ingatannya. Makanya ia menahannya seperti itu.”
“Jika di operasi, bisakah ia sembuh?”
“Di usianya, tidak ada jawaban pasti.”
Jae Young mengatakan kalau Gang Doo tidak tahu karena nenek melarangnya memberi tahu Gang Doo.
“Harus kau katakan. Jika ia terlambat tahu, dia akan terluka.”
“Pasiennya sangat keras kepala... bukan kemauanku...”
“Aku juga di sana. Di kecelakaan runtuhnya mall. Ada hal yang terjadi tiba-tiba tanpa peringatan, aku takut dan membencinya. Aku merasa seperti itu, maka Gang Doo juga begitu. Kau harus memberitahu Gang Doo.”
“Aku benci sekali seperti ini.” Jae Young memegang ponselnya lalu pergi.


Gang Doo sedang memindahkan ikan hasil tangkapan ke kapal yang akan membawa ikan-ikan itu ke darat. Lalu seorang pria menyuruhnya untuk mengambil data di kantor. Di dalam ruangan itu Gang Doo melihat ponsel yang berdering karena ada telepon masuk.


Gang Doo keluar dari ruangan itu dan sudah mengemasi barangnya. Dia berbisik kepada pria yang menyuruhnya mengambil data di kantor. Gang Doo lalu melompat ke kapal yang akan membawa ikan.
“Apa? Sekarang? Kenapa tiba-tiba?! Yaa, yaa! Kau gila? Kalau pergi sekarang...” 
“Air pasang! Aku tidak bisa melewatkan air pasang!”


Gang Doo berlari menuju rumah sakit.


Gang Doo mendengarkan penjelasan dari Jae Young.
“Ini disebut Glioblastoma. Ini adalah tumor yang paling ganas. Dalam pemeriksaan sebelumnya ukurnya semakin besar. Pertumbuhannya cepat sekali. Dengan operasi dan jika prognosisnya bagus, dia bisa bertahan setahun lagi.”
“Sudahi omongan besarnya. Dia sekarat? Katakan. Dia sekarat?!!”
Jae Young hanya diam saja.


Gang Doo menangis setelah Jae Young pergi.


Gang Doo muncul di rumah nenek.
“Mau kau apakan semua uangmu?”
“Kunyuk ini! Harusnya bersuara kalau mau masuk! Aigoo... aigoo yaa...”
“Kudengar nenek sekarat. Uangmu mau kau bawa semua?”
“Iya, mau kubawa semua. Kau menyayangkannya? Yaa, semua ini aku pelajari sendiri. Aku tidak perlu lagi cerewet soal uang. Aku akan memamerkannya pada suamiku. Kenapa?”


Nenek duduk dan Gang Doo ikut duduk di sebelahnya, dan kemudian berteriak pada nenek.
“Mau pergi kemana?!!”
“Diam! Aku masih belum mati sekarang!” nenek balas berteriak.
“Kukira sedang sakit. Tapi tenagamu masih banyak. Kalau mau pamer, hasilkan lebih banyak uang dulu.”
Nenek tertawa mendengar ucapan Gang Doo, dan membuat Gang Doo semakin marah.
“Sekarang waktunya tertawa?!!”
“Yaa, apa gunanya menangis? Gang Doo. Ketika seseorang meninggal, apakah ia akan terlihat seperti sekarang?”
“Tidak tahu! Aku belum pernah mati, mana aku tahu? Kenapa?”
“Rasanya tidak adil. Aku akan pergi bertemu suamiku saat di surga. Dia terlihat tampan sekali di usia 30 tahun. Tapi aku jadi nenek keriput. Mana bisa aku menemuinya, memalukan sekali.”
“Baguslah. Aku senang. Suami nenek mungkin sudah selingkuh di sana! Dia sudah punya keluarga baru! Dia sudah melupakanmu karena dia punya wanita lain! Meskipun ke sana, nenek akan di tolak oleh suamimu. Jadi, jangan pergi. Jangan pergi... tinggal saja denganku.”
Gang Doo tamoak sangat sedih, nenek pun hanya memandang wajah Gang Doo.


Di luar rumah nenek, Moon Soo sedang menunggu Gang Doo. Gang Doo tidak menghiraukannya dan terus berjalan, tapi Moon Soo mengikutinya.


Gang Doo tiba-tiba berhenti dan bertanya pada Moon Soo kenapa dia mengikutinya.
“Hanya ingin melihatmu apakah baik-baik saja.”
“Aku baik.”


Moon Soo mengikuti Gang Doo sampai ke depan motel. Saat Gang Doo masuk dia berhenti di depan.


Ibu Sang Man terkejut melihat Gang Doo datang, dai bertanya kapan Gang Doo pulang. Dan bertanya apakah dia sudah makan, lalu akan menyiapkan makanan untuk Gang Doo, tapi dia menolak. 
“Uang sewanya, tidak apa-apa terlambat. Jangan pergi jauh-jauh melakukan kerja kasar. Bau macam apa ini? Aduh busuknya! Amis! Kasih semua bajumu dan mandi! Aigoo, baunya! Bau sekali! Kok bisa manusia baunya begini? Aduh joroknya.”


Gang Doo berdiri di bawah air yang mengalir, kemudian dia menangis terisak.


Gang Doo terkejut melihat Moon Soo ada di atap motel.
“Kenapa belum pulang ke rumah?”
“Aku menunggumu.”
“Kenapa? Ada yang mau di bicarakan? Kalau tidak, lupakan.”
“Ada. Di mall itu... Saat kecelakaan terjadi, kau melihatku kan? Kita bersama, bukan?”
“Kau ke sini untuk tanya itu?”
“Saat aku tanya padamu, kenapa kau bilang tidak?”
“Karena tidak penting.”
“Tidak penting?”
“Ya. Apa yang berubah kalau kau mengingatnya? Di sana ada 48 orang meninggal. Banyak orang yang terluka... Jumlahnya sangat banyak. Di antaranya kau dan aku... lalu kenapa? Apa yang spesial?”
“Kalau begitu pertemuan kita tidak ada artinya? Aku bukan apa-apa buatmu? Selama ini... Cuma aku sendiri yang berdebar?”


Moon Soo memukuli dada Gang Doo sambil menangis.
“Jahat sekali.”
“Kau membuat orang bingung. Ada banyak hal menyebalkan dalam otak ku saat ini. Aku tidak punya waktu ngobrol soal masa lalu. Pergilah. Sesukamu saja.”


Moon Soo keluar dari motel dengan berurai air mata.


Gang Doo memperhatikan Moon Soo dari atas.


Saat Moon Soo berhenti lalu melihat ke atas, Gang Doo bersembunyi di balik dinding.


Ibu Joo Won datang ke kantor dan membawakannya makanan. Dia bertanya kenapa Joo Won bekerja di akhri pekan, dan kapan dia mengubah kata sandi di rumahnya.
“Harusnya telpon saja aku.”
“Seolah kau akan mengangkatnya. Santai sajalah. Pikirkan soal ayahmu. Bekerja siang dan malam. Apa yang dia capai? Kau harus menikmati hidupmu. Jatuh cintalah... Jangan-jangan kau masih punya hati pada Yoo Jin..”
“Ibu, ibu juga jalani saja hidup ibu. Aku masih anak ayah. Tapi ibu bukan lagi istrinya.”
“Joo Won.”
“Lain kali jangan lagi repot-repot ke sini. Sudah malam. Pulanglah.”
“Makanlah saat bekerja.”
Comments


EmoticonEmoticon