1/28/2018

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 14 PART 4

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 14 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 14 Part 3
Yoo Jin masuk ke ruangan Direktur Jeong, dia melihat kakanya sedang duduk dengan sikap yang tidak seperti biasanya. Yoo Jin lalu bertanya kenapa dia seperti itu.
“Aku capek. Kalau kau mau mengomeli aku juga, aku pass saja.”
“Aku dengar soal kejadian di lokasi. Apa rencanamu?”


Direktur Jeong membetulkan posisi duduknya dan berbicara pada Yoo Jin.
“Aku sudah mempercayakan orang untuk memastikan itu manusia atau binatang. Kita harus menunggu hasilnya.’
“Kenapa harus kita yang memeriksanya? Kalau ada masalah bagaimana?”
“Seo Joo Won sudah setuju, kenapa kau malah begini?”
“Joo Won begitu?”
“Dia pengawasnya. Siapa yang mendepak ayah mertuaku dari posisi pengawas? Dia harus bertanggung jawab!”


Gang Doo datang ke sebuah restoran mewah karena akan menemui Yoo Jin. Gang Doo bilang dia bisa bertemu di tempat biasa. Tapi menurut Yoo Jin ini adalah tempat biasa baginya. Yoo Jin bertanya apa alasan Gang Doo ingin bertemu dengannya.


“Tolong aku. CEO Seo yang kukenal bukan orang yang lepas tanggung jawab. Tapi pada akhirnya, dia tidak datang ke lokasi hari ini.”
“Pasti ada hal penting sehingga dia tidak bisa ke lokasi.”
“Itu bukan lokasi konstruksi biasa. Ada orang yang tidak pernah pulang karena kecelakaan itu.”
“Meskipun begitu, ini bukan wilayahmu untuk ikut campur.”
“Menurutmu kenapa CEO mengirimku bekerja di lokasi? Jadi mata-mata? Yah, awalnya kukira begitu. Ternyata tidak. Dia melakukannya karena merasa tidak tenang. Orang yang tidak tahu apa-apa sepertiku. Dia perlu orang yang mencari masalah pada segala hal. Agar dia bisa mengecek dua kali pada masalah yang terlewatkan. Tenggat waktu mepet, pekerja tidak punya tujuan. Menurutku CEO Seo khawatir dan sedikit bingung. Meskipun itu hanya tulang anjing, kita pastikan lebih jauh. Jika ada masalah, CEO Seo akan disalahkan atas segalanya.”
“Kau kelewatan.”
“Apanya?”
“Kau punya segalanya yang tampak keren.”


Mendengar ucapan Yoo Jin, Gang Doo tersenyum lalun mengambil makanan dari meja. Dia mengatakan itu rasanya enak dan suasananya juga bagus. Dia akan bawa Moon Soo ke sana. 
“Tempat ini hanya untuk member. Hari ini kau yang bayar.”
“Bukankah harusnya yang traktir yang banyak uang?”
“Kau apakan uang dari penjualan tanah?”
“Itu bukan uangku. Aku kugunakan untuk hal lain.”


Yoo Jin menemui Joo Won, dia mengatakan kalau tim forensik polisi akan datang untuk mengeluarkan tulang itu. tapi Joo Won malah bertanya kenapa Yoo Jin melakukan itu.
“Aku tidak bisa membiarkanmu bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kau lakukan. Jika kau tutupi lalu ada masalah, semua kesalahan akan jatuh di tangan manajer lokasi dan kau selaku pengawas. Jika begitu, aku yakin manajer lokasi akan meloloskan dirinya sendiri. Ada satu orang hilang dari kecelakaan runtuhnya mal. Selama kita mendapat hasil tes DNA, konstruksi akan dilanjutkan lagi dalam satu minggu. Itu tidak akan menimbulkan masalah besar. Jadi jangan goyah. Dari sisi perusahaan, ini cara yang lebih bersih. Jika dia ternyata orang hilang, motif kita dibalik taman memorial akan semakin jelas. Aku hanya bisa sejauh ini. Sisanya kau tangani sendiri.”
Seo Joo Won tidak tau harus mengatakan apa. Saat dia akan mulai bicara, Yoo Jin berdiri dan keluar dari ruangannya.


Gang Doo terdiam mengamati lokasi tempat ditemukannya tulang belulang.


Saat dia berbalik dari lokasi itu, dia melihat Moon Soo berdiri di belakangnya lalu menghampirinya.


“Kapan sampai”
“Ada apa? Apa itu Moon Byeon Ho ssi?”
“Masih belum tahu. Bagaimanapun baguslah, setidaknya mereka menemukannya.”
“Apa memang bagus?”
“Bagus. Ayo pergi. Kita berada di sini tidak akan membantu apapun.”


Saat sedang berjalan bersama Gang Doo, Moon Soo memperhatikan sebuah truk yang melintas.


Truk itu membawa potongan tiang besar dengan huruf A.


Moon Soo berusaha mengejar truk itu tapi Gang Doo menghentikannya.


Gang Doo lalu mengejar truk itu dan berhasil menghentikannya. Karena truk itu berhenti secara mendadak, maka menyebabkan tiang yang ada di atas truk terjatuh. Gang Doo hampir saja tertimpa tiang itu tapi dia berhasil menghindar dengan cara melempar dirinya ke tempat yang aman.


Moon Soo sangat panik lalu berlari mendekati Gang Doo.
“Gang Doo! Tak apa? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Tidak apa-apa?”
“Ya, tak apa. Kau terlihat lebih tidak baik.”
Gang Doo berusaha menenangkan Moon Soo dengan memegang bahunya, tapi Moon Soo melihat tangan Gang Doo bergetar kencang.
“Sungguh tak apa?”
“Ya, sungguh tak apa. Lihat. Tak apa, kan? Ayo.” Gang Doo berusaha berdiri dan mengajak Moon Soo pergi, tapi kemudian dia kehilangan keseimbangan dan pingsan.


Jae Yong sedang melihat barang-barang yang diberikan oleh Gang Doo. Dia sangat senang melihatnya. Kemudian dia mendapat telepon yang mengabarkan kalau hasil tes darah Gang Doo sudah keluar.


Moon Soo mengantar Gang Doo dengan taksi. Gang Doo sudah turun tapi Moon Soo enggan turun karena dia bersikeras Gang Doo harus ke rumah sakit. Gang Doo pun keras kepala menolak ajakan Moon Soo.
“Turunlah dulu. Supirnya harus pergi.”


Moon Soo pun akhirnya, dia sangat menghawatirkan Gang Doo.
“Kau mendadak pingsan. Kau tahu berapa banyak darah dari hidungmu?”
“Setelah istirahat di rumah tidak masalah. Aku muak jika harus ke rumah sakit.”


Sang Man datang dan terkejut melihat begitu banyak darah di baju Gang Doo.
“Hyung, kau mimisan lagi?”


Sang Man lalu memapah Gang Doo menuju ke motel, Gang Doo merasa tidak nyaman dengan perlakuan Sang Man kepadanya.
“Kenapa menempeli aku? Sudah kubilang tak apa.”
“Jangan sakit, hyung! Aku benci dengan penyakit.”
“Tentu saja. Sakit menyebalkan, bukan? Makanya kau juga jangan sakit.”
“Kalau aku sakit, aku bisa mengatasinya. Tapi kalau Hyung atau ibu yang sakit, aku takut. Jangan sakit!”
“Baiklah.”


Gang Doo lalu menghadap ke Moon Soo dan melihat matanya berkaca-kaca.
“Moon Soo, cerialah. Hmm?”
“Pergilah ke rumah sakit.”
“Kau membesar-besarkan situasi karena aku mimisan. Sudah kubilang tidak masalah.”
Gang Doo melepaskan tangan Sang Man dan masuk ke motel.


Ibu Sang Man juga terkejut melihat Gang Doo lalu mengomelinya.
“Kenapa lagi kau?!”
“Ibu! Katanya Hyung pingsan! Dia mimisan!”
“Tidak heran kau pucat sekali belakangan ini. Sudah kukira akan begini. Anak muda bisa mimisan seperti sungai, apa itu masuk akal?!”
“Sungguh, kalian ini kenapa? Apa ini pertama kalinya buatku?”
“Karena bukan pertama kali makanya kami begini!”


Ibu Sang Man melihat wajah Moon Soo lalu dia juga mengomel pada Moon Soo.
“Lalu kenapa dengannya?”
“Karena aku dia sampai jatuh.”
“Kata siapa itu salahmu?”
“Kalau aku tidak menghentikan truk itu...”
“Sungguh! Salah truk itu yang pergi tanpa mengikat bahan angkutan! Kalau truk itu masuk jalan tol akan lebih berbahaya. Kau sudah menghalangi terjadi kecelakaan. Mengerti?”


Ibu Sang Man mengomel lagi pada Gnag Doo yang sedang berusaha menenangkan Moon Soo.
“Aah, sudah kalian berdua! Cepat mandi dan turun makan. Ini karena kau pemilih makanan makanya tubuhmu seperti ini. Cepat bergerak!”
Setelah mengomeli Gang Doo, dia juga mengomeli Moon Soo “Kau juga makan dulu sebelum pergi! Sepertinya selanjutnya kau yang pingsan!”


Gang Doo sudah menuju ke kamar mandi, tapi Moon Soo masih mengikutinya.
“Kenapa mengikuti aku? Kenapa? Kau mandi sama-sama?”
“Tidak.”
Moon Soo menjawab dengan polos yang membuat Gang Doo tersenyum.
“Jadi tunggu di bawah. Aku turun setelah mandi.”
“Tidak mau. Sama-sama saja. Cepat mandi. Aku akan siapkan baju ganti buatmu. Aku akan menunggu di kamarmu.”
“Dasar....”


Moon Soo membuka lemari baju Gang Doo dan menemukan beberapa kemeja dengan noda darah.


Saat akan mencari kemeja lain, dia melihat ada ponsel Sung Jae yang ditutup dengan tumpukan baju. Moon Soo mengambil ponsel itu lalu mengamatinya.


Flashback. Moon Soo sedang menjahit inisial SJ, yang kemudian dipakai Sung Jae sebagai gantungan ponselnya.


Moon Soo kembali teringat ucapan Jae Young waktu itu.
“Tolong jangan mengungkit soal kecelakaan itu pada kakakku. Beberapa hari bersama mayat...”


Dan juga saat Gang Doo berdiri terpaku di depan rumah Sung Jae.


Moon Soo mengaitkan hal tersebut dan membuatnya menangis.


Gang Doo masuk, Moon Soo berusaha menyembunyikan tangisnya.
“Katanya mau menyiapkan bajuku.”


Moon Soo melihat ke arah Gang Doo tapi tidak berkata apa-apa. Gang Doo melihat Moon Soo yang baru saja menangis.
“Kenapa? Tidak apa-apa? Aku tanya kenapa?”
“Aku harus pulang ke rumah.”
“Makan dulu sebelum pergi.”
“Tidak. Aku pergi dulu. Kau istirahat saja.”


Moon Soo sudah melangkah tapi Gang Doo memegang lengannya.
“Jangan pergi. Kau aneh... Ada yang aneh. Kenapa aku merasa tidak tenang?”


Moon Soo hanya berkata maaf tanpa menatap mata Gang Doo, dia berusaha pergi tapi Gang Doo memegangnya lagi.
“Tatap mataku.”
Moon Soo masih tidak manatap mata Gang Doo, lalu Gang Doo menggoyangkan bahu Moon Soo “Tatap mataku!”


Saat Moon Soo menatapnya, Gang Doo lalu memeluk Moon Soo. Moon Soo berusaha melepaskan pelukan Gang Doo.


“Gang Doo.” Moon Soo mendorong Gang Doo.
“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Kalau tidak kukatakan sekarang, rasanya aku tidak akan mampu mengatakannya. Aku cinta padamu.”
Moon Soo menangis lagi setelah mendengar ucapan Gang Doo, lalu Gang Doo memeluk Moon Soo lebih erat.
Comments


EmoticonEmoticon