1/03/2018

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 7 PART 2

SINOPSIS Just Between Lovers Episode 7 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Just Between Lovers Episode 7 Part 1
Seo Joo Won mengejar ibunya dan meminta maaf.
“Maaf. Masalah ini... harusnya kuatasi sendiri.”
“Kau sudah bisa mendiri sekarang, dari pada disalahpahami orang lain, Ibu akan pergi dari rumah itu.”
“Tidak. Kita tak bisa keluar seperti ini. Dinding di sini dibangun oleh ayah. Dipermalukan... hanya soal sementara. Jika Ketua meninggal seperti ini tanpa surat kuasa, akan sulit bagi Direktur Jeong untuk mengambil alih kontrol manajemen. Maka kita punya kesempatan.” 
“Apa maksudmu? Jangan lakukan hal seperti itu. Keluarga itu sudah banyak membantu kita dalam kesulitan.”


“Ibu...”
“Jangan lagi menambah masalah.”
“IBU!”
“Ibu, takut ditinggalkan sendiri. Ketua bisa ibu rawat sendiri.” 
“Kenapa melakukan hal itu? Jangan-jangan... Ibu mencintai ahjushi itu?! Makanya kau pindah ke rumah itu?!”
Ibunya hanya menunduk dan diam saja, lalu Seo Joo Won pergi.
“Joo Won.”


Yoo Jin lalu muncul
“Kenapa anda tidak berbohong saja? Kejujuran tidak selalu baik.” 
“Yoo Jin. Tolong bicaralah pada Joo Won.”
“Tidak mau. Jangan lagi meminta tolong padaku. Aku sudah memberinya satu kali. Kali ini aku berencana berada di sisi Joo Won apapun yang terjadi. Pulanglah. Ayah sudah menunggu.”

Gang Doo mengantar Moon Soo sampai ke depan rumahnya dan menyuruh Moon Soo masuk, tapi dai menolak dan mengatakan agar Gang Doo lebih dulu pergi.


Ibu Moon Soo keluar.
“Moon Soo.”
“Ibu...”
“Ah, halo. Senang bertemu denganmu.” Gang Doo tampak gugup bertemu dengan Ibu Moon Soo.
“Bukankah tadi kau berdiri di sini?”
“Tidak. Aku pergi. Aku mohon diri. Sampai jumpa.” Gang Doo pergi dengan cepat dan tidak menghiraukan ibu Moon Soo yang memanggilnya.
“Kau pergi? Tunggu!”


Ibu bertanya pada Moon Soo siapa pria yang bersamanya. Moon Soo mengatakan dia adalah teman kerja.
“Kerja? Dia mirip preman kampung, apa pekerjaannya?”
“Ibu kenapa menilai orang dari penampilannya. Dia pekerja keras.” 
“Kalau begitu kerja saja. Jangan jalan bersama.”
“Ibu.”
“Aku tidak menyukainya. Tatapan matanya aneh. Pasti ada kisah di balik itu.” 
“Lalu bagaimana denganku?”
“Kau kenapa?”
“Aku juga punya kisah. Maka tidak ada yang mau main denganku.  Aku tidak tahu soal orang lain, tapi kita tak boleh bicara begitu.” 
“Selalu sok pintar. Cepat masuk ke dalam!”


Setelah jauh dari rumah Moon Soo, Gang Doo berhenti dan berbicara pada dirinya sendiri.
“Augh! Apa kabar, bukannya senang bertemu denganmu. Apaan itu? Memangnya wawancara kerja? Lalu kenapa kau lari? Kau melakukan kesalahan? Benar-benar bodoh.”


Seo Joo Won datang ke apartemen Yoo Jin dalam keadaan mabuk. Yoo Jin bertanya apakah dia baru saja minum, lalu menyuruhnya untuk menunggu di bar di bawah sementara Yoo Jin berganti pakaian lalu menemaninya minum lagi. Tapi Seo Joo Won langsung menerobos masuk.


Seo Joo Won langsung masuk dan duduk.
“Tidak pergi? Mau aku ganti baju di depanmu?”
“Bukan pertama kalinya aku melihat.”
“Kenapa kau menyebalkan sekali? Karena dengar ibumu cinta lelaki lain, kau kesal?”
“Kau tahu apa soal ibuku dan bicara begitu?”
“Lalu kau? Kau tahu apa? Setidaknya aku tahu hati ibumu. Kau tinggi tapi masih anak kecil. Ibuku hanya bisa cinta ayahku, seperti itu?”


Seo Joo Won mendorong Yoo Jin ke dinding lalu akan menciumnya tapi Yoo Jin menghindar.
“Aku tidak ingin begini. Ini bukan karena kau rindu padaku. Kau datang karena kesepian? Ingin ditemani seseorang? Kalau begitu aku akan menelpon wanita seperti itu untukmu.”
“Aku salah datang ke sini. Maaf.” Seo Joo Won lalu pergi.


Moon Soo sedang berada di toko material untuk membeli beberapa sample bahan tapi kesulitan menghubungi Seo Joo Won.


Moon Soo lalu menelepon ketua Tim, dia mengatakan CEO sedang sakit jadi tidak datang ke kantor. Moon Soo melihat restoran yang menjual bubur lalu meminta alamat CEO pada ketua Tim.


Moon Soo datang ke apartemen Seo Joo Won dengan membawakannya bubur. Tadinya dia akan meletakkan saja buburnya di depan pintu, tapi Seo Joo Won membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Dia tampak sedang tidak sehat,


Saat berada di dalam, Moon Soo bertanya apakah CEO baru saja pindah, karena ruangannya tampak kosong dan hanya ada tumpukan kardus. Joo Won mengatakan dia sudah tinggal di sana sejak kembali ke Korea.
“Sekarang ini aku lelah sekali.” 
“Ah, ya. Ini... Kalau tidak bisa di makan sekarang, mau kuletakkan di kulkas?”
“Begitu saja. Aku harus berbaring lagi.” Joo Won berjalan menuju kamar dan berbaring di tempat tidurnya.


Moon Soo melihatnya dari pintu kamar lalu menutup pintunya.


Moon Soo mengamati ruangan di sekelilingnya dan berjalan menuju jendela. Saat membuka tirainya dia terbatuk karena banyak debu. Setelah membuka tirai, dia melihat pemandangan yang indah di bawah.


Di meja dapur Moon Soo menemukan botol-botol obat dan juga beberapa botol kosong minuman beralkohol.


Moon Soo membuka kulkas untuk memasukkan bubur yang dibawanya. Di dalam kulkas ada banyak makanan tapi baunya sudah tidak sedap.


Moon Soo kembali ke kantor dan bertemu So Mi yang bertanya bagaimana rumah CEO apakah mewah dengan halaman yang sangat besar. Moon Soo hanya mengatakan kalau pemandangan di sana bagus sekali. Karena di kantor para staff tampak sibuk, Moon Soo bertanya pada So Mi.
“Tapi ada apa ? Kenapa hari ini sibuk sekali?”
“Tidak tahu. Kudengar ada sesuatu di lokasi. Jadi makin buruk karena CEO tidak ada.”


Moon Soo melihat Gang Doo datang dan masuk ke ruangan CEO lalu dia mengikutinya. Di dalam ruangan CEO Gang Doo sedang mengamati jadwal yang tertempel di dinding.
“Ini jadwal satu orang? Makanya semuanya berantakan karena CEO tidak masuk satu hari. Nilai dari waktu ditentukan oleh orang itu, perkataan Jeong Yoo Taek benar. Waktu yang kuhabiskan seperti sampah, kuharap bisa kubagi padanya.”
“Kata siapa waktumu sampah? Mana bisa ditentukan oleh orang? Itu ditentukan dari caramu menghabiskannya.”


Gang Doo diam saja sambil mengamati wajah Moon Soo.
“Kenapa? Ada sesuatu lagi di wajahku?”
“Tidak. Jeong Yoo Taek harus melihat ini. CEO Seo melakukan tugas banyak orang.”
“Tapi bagaimana ya? Hari ini CEO tidak bisa bekerja karena tidak sehat.”
“Tak apa. Dia harus istirahat seperti ini agar bisa bertarung lagi.”
“Bertarung?”


Yoo Jin sedang berbicara dengan Pimpinan Proyek di lokasi.
“Anda tahu betul berapa biaya konstruksi sehari jika dihentikan.”
“Apa aku yang menghentikannya? Yang ngotot menghentikan konstruksi dan mengganti pemasok padahal semuanya sudah berjalan lancar di lokasi, adalah CEO Seo.”


Mereka berdua melihat ke arah pintu saat Gang Doo masuk, lalu Yoo Jin berbicara lagi.
“Pasti ada alasannya CEO Seo begitu. Berhenti melakukan perang saraf tak penting.” 
“Sepertinya kau tidak tahu banyak karena cuma duduk di belakang meja. Di lokasi konstruksi... Melakukan perang saraf diperlukan. Aku mengatasi lebih dari 100 pekerja dibawahku! Jika kaptennya tidak bisa memutuskan, semuanya akan mati?”
“Bagaimana kalau bicara setelah kapalnya berlayar? Maka kita bisa mengubah kaptennya. Aku yakin perusahaan investasi sedang di lokasi untuk evaluasi. Kau tidak akan menyebar rumor kalau ada masalah di lokasi dan mengacaukan konstruksi, bukan?”
“Aku juga bagian dari perusahaan ini! Anggota keluarga! Pekerjaanku adalah membereskan konstruksi dengan baik!”


Gang Doo membanting pintu loker dengan sangat keras hingga perdebatan mereka berhenti. Dia lalu berbicara kepada mereka.
“Kalau begitu CEO Seo dan Pimpinan Proyek punya tujuan yang sama. Menyelesaikan konstruksi tanpa kecelakaan, aman dan tepat waktu. Tapi kenapa kalian malah bertengkar? Siapa penjahatnya diantara kalian?”
“Kau cuma pegawai sekuriti. Beraninya ikut campur!”
“Siapa yang terlihat mirip penjahat?” Yoo Jin tampak tertarik dengan apa yang dikatakan Gang Doo. Lalu mereka berdua menatap wajah Pimpinan Proyek.
“Apa? Kenapa? Lihat apa?! Kenapa melihatku?!”
“Kenapa? Merasa bersalah?” Yoo Jin seperti sedang mengejeknya.


Seo Joo Won bangun dan berjalan menuju dapur. Dia melihat tumpukan tempat makan yang sudah dicuci.


Saat akan membuka kulkas, dia membaca catatan dari Moon Soo “Di dalam kulkas ada bubur.” Dia melihat kulasnya sudah bersih dan rapi.


Seo Joo Won lalu duduk dan memakan buburnya.


Saat menengok ke arah jendela, dia melihat tirainya terbuka dan mengamati pemandangan di bawahnya.


Para pekerja proyek memaksa akan masuk tapi ketua Tim tidak mau membukakan pintu karena dia mendapat perintah kalau hari ini tidak ada pekerjaan di proyek.


Gang Doo datang dan membuka pintu untuk mereka.
“Kenapa pintunya tidak dibuka?”
“Katanya hari ini tidak ada pekerjaan. Dan menyuruhku memulangkan semua orang. Aku bisa apa?!”


Gang Doo sedang meghadapi Pimpinan Proyek yang sangat marah padanya.
“Yaa! Yaa! Siapa kau membuka gerbang lokasi?!”
“Maaf. Aku salah mengerti perintahnya.”
Dia menedang lutut Gang Doo lalu pergi.
“Dasar brengsek...” Gang Doo memakinya.


Seo Joo Won sudah datang ke kantor dan mendapat laporan bahwa semua vendor tidak menerima telpon mereka.


Moon Soo melihatnya dari belakang dan berjalan lagi, tapi CEO memanggilnya.
“Oh, Moon Soo ssi.”
“Ya?”
“Aku tidak tahu kalau pemandangan di rumahku bagus. Terima kasih.”
Sebelum Moon Soo menjawab, CEO berbicara lagi dengan staffnya lalu pergi.


Seo Joo Won datang ke proyek dan melihat portalnya tertutup. Dia meminta pada Pimpinan Proyek agar membukanya, setelah dia membukanya dia birbicara pada Seo Joo Won dengan meremehkannya.
“Buka gerbangnya sekarang. Jangan bersikap kekanakan.”
“Baiklah. Ah, ini juga? Baiklah. Nah, sudah di buka. Tapi mana bahal materialnya?”
“Aku yakin kau yang menghentikannya.” 
“Kalau begitu kembalikan. Aku yakin kau bisa. Semoga sukses. Fighting!” lalu dia pergi.


Seo Joo Won ingin mengejarnya tapi Gang Doo datang dan mencegahnya.
“Menggunakan tangan saat kata-kata tidak ada gunanya, sudah sering kulakukan, itu sia-sia.”
“Lepaskan aku.”
“Alasan kenapa PimPro bersikap keras karena anda terlalu mengancam, CEO. Bukankah artinya posisi kita diuntungkan? Segalanya yang ada di tanah dan lainnya bisa kita kerjaan meskipun tanpa material. Serahkan padaku. Bukankah itu alasanmu menyuruhku di sini? Maka gunakan aku. Lagipula CEO tidak bisa melakukan apapun di sini. Bagaimana jika anda mengembalikan material yang di singkirkan Pimpinan Proyek? Aku akan atasi di sini.”


Direktur Jeung sedang berbicara dengan manager Bank Mok San lalu tidak sengaja Ma Ri lewat lalu memberi kartu nama untuk menawarkan club miliknya. 


Direktur Jeung mengajak Ma Ri ke kantornya.
“Bagus! Punya kantor begini pasti menyenangkan.” 
“Yaa, yaa. Menyenangkan apa? Orang di atas menekanku, yang di bawah ingin memanjat ke atas ku kapan saja. Posisi ini mungkin tampak mudah, tapi sulitnya luar biasa. Karena ini aku....” 
“Benar. Pasti sulit sekali buatmu Direktur. Aku juga begitu. Semuanya mengira seorang madam bisa mudah punya uang jika mengatasi para gadis. Mereka tidak tahu aku berusaha menjual juga di sini.”
“Aku tahu. Aku mengerti... itu yang penting.” 
“Yah... jika aku menghapus riasanku dan kau membuang jabatanmu, kita sama saja.”
Saat Direktur Jeung akan memegang tangan Ma Ri, tiba-tiba istrinya masuk ke dalam kantor.


“Kau tidak memberitahu adikmu? Kalau adik ku...” ucapannya berhenti karena melihat Ma Ri bersama suaminya.
Ma Ri lalu berdiri dan menyerahkan sebuah kartu nama pada Direktur Jeung.
“Direktur, mohon bantu sponsori kami. Aku mohon diri.”


Istri direktur Jeung mengambil kartu nama itu.
“Apa ini? Kau mensponsori hal begini? Kenapa?”
“Ini dekat lokasi konstruksi. Aku berusaha menjaga hubungan baik agar tidak ada komplain.”
“Kenapa adikmu selalu saja merendahkan adik ku” Sebelum Ia seorang Pimpinan Proyek, dia adalah adik ku. Suruh dia sopan sedikit.”
“Baiklah.”


Ma Ri berjalan dengan cepat lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya tampak sedih.
“Kau berharap apa?” lalu dia berjalan lagi.
Comments


EmoticonEmoticon