1/09/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 3 PART 2

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 3 Part 1
Ma Wang menyusul Oh Gong ke dapur dan melihatnya sedang menangis sambil memandangi sebotol saus yang dibuatnya waktu itu.
“Hei. Hei. Hei. Hei, kau... Kau sungguh ingin aku menyingkirkan Sam Jang? Apa Geumganggo ini tidak bekerja? Apa ini palsu? Apa ini?”
“Ini bumbu yang ku buat saat mau menangkap dan memakan Sam Jang.”
“Tapi kenapa... kau menangis?”
“Ketika aku memikirkan bagaimana rasanya jika memakan Sam Jang... air mataku keluar dengan sendirinya.”
“Karena tidak memakannya, kau merasa tidak adil? Tapi, kau menghabiskan tiga hari tiga malam untuk merebus saus ini sehingga bisa... memakan Sam Jang. Mangsanya tepat di depanmu namun kau tidak bisa memakannya!”


Oh Gong masih berbicara sambil menangis.
“Tentu, itu pasti tidak adil. Rasa kehilangan bagi predator yang tepat di depan matanya... Ma Wang. Seandainya aku memakan dia, maka dia tidak akan ada di dunia ini lagi, 'kan? Hanya memikirkan itu membuat hatiku terasa di cabik!”
“Ah, jadi... itu alasan kau menangis?”
“Hanya membayangkan itu membuat hatiku terasa sakit. Jika aku kehilangan dia... itu pasti sangat menyakitkan.”
“Hei, hei, jika hatimu sakit, kenapa menyimpannya? Berikan itu supaya bisa ku buang.”
“Mengapa kau membuangnya? Akan tiba suatu hari di mana aku bisa melepaskan Geumganggo dan memakan Sam Jang. Dan ketika hari itu datang... Ketika hari itu datang! Oh, ini sangat menyedihkan.” Oh Gong tidak mampu meneruskan kata-katanya, dia semakin menangis lalu pergi.


Saat Oh Gong sudah pergi, Ma Wang berbicara sendiri.
“Geumganggo mengendalikan hatinya... tapi jiwa iblisnya masih hidup? Ah, si bodoh.”


Seon Mi tidak bisa tidur, dia hanya berpindah-pindah posisi tidurnya sambil mengingat Oh Gong.
“Apa seharusnya aku tidak memanggilnya? Dewa Agung... Son Oh Gong...”
Saat dia berbalik dan membuka matanya, Oh Gong sudah berada di tempat tidur bersamanya.
“Bagaimana kau tahu aku baru selesai mandi?”


“Mengapa kau datang?”
“Sudah ku bilang akan menemanimu. Kau bertingkah sangat angkuh tadi, aku tidak tahu kau berani memanggilku ketika tidur.”
“Apa maksudmu aku memanggilmu? Aku tidak memanggilmu.”
“Kau memanggilku.”
“Aku tidak berpikir kau akan datang hanya karena menyebut namamu.”
“Tidak. Aku hanya bisa datang saat kau sangat memikirkanku dan memanggilku. Kau pasti selama ini memikirkanku, bukan?”


“Mulai sekarang tidak akan. Kecuali situasi bahaya, aku tidak akan memanggilmu. Aku tidak ingin mengganggumu atau merepotkanmu. Jadi pergilah.”
“Aku tidak mau. Mengapa aku harus setuju? Berapa banyak yang akan kau beri? Apa yang kau lakukan? Tidak.” Kata Oh Gong sambil menyanyikan sebuah lagu.


Oh Gong dan Seon Mi keluar dari kamar. Oh Gong menuju dapur dan membuka kulkas, lalu memarahi Seon Mi karena di sana tidak ada makanan.
“Apa kau menjalani hidup dengan tidak makan apapun?”
“Aku makan di luar. Aku tidak perlu mengisinya saat makan sendiri di sini. Seperti yang kau tahu, aku tidak punya keluarga, teman, atau pacar.”
“Mulai sekarang, kau punya aku. Ketika kau butuh, panggil aku. Aku akan menunggu panggilanmu.”
“Tidak, aku hanya akan memanggilmu jika di saat genting seperti janji kita.”
“Lalu, kau mau aku bagaimana? Mati karena sangat merindukanmu?”
“Kenapa kau merindukanku?”
“Karena cinta yang menyebalkan ini. Jika tidak suka, jangan ragu untuk melepasnya.” Oh Gong menunjukkan gelang yang dipakainya.
“Tidak.”


Oh Gong sangat marah, dia lalu memukul sebuah batu yang sangat besar hingga terbelah.
“Ini sungguh membuatku gila. Geumganggo sialan ini! Aku kesal sampai ingin mati, tapi masih merindukannya. Apa yang harus ku lakukan?”


Seon Mi dan Han Joo datang ke sebuah apartemen yang akan dijual karena pemiliknya selalu mendengar suara berisik di lantai atas, padahal lantai atas tidak pernah digunakan.


Seon Mi dan Han Joo lalu memeriksa ruangannya. Seon Mi mengatakan suara berisik itu bukan dari atas tapi dari ruangan itu.


Saat melihat roh jahat, Seon Mi membuka payungnya lalu menyuruh Han Joon untuk keluar.


Roh Jahat itu menyerang payung Seon Mi, tapi saat itu juga Oh Gong datang menlenyapkan roh jahat dengan tongkatnya.


“Kau seharusnya memanggilku seperti itu.”
“Oh, aku lupa kau akan datang jika ku panggil.”
“Sial. Ini bisa menjadi kesempatan bagimu untuk mati tanpa aku sadari. Aku datang karena merindukanmu tapi kehilangan momen yang tepat.”
“Sayang sekali. Sepertinya kau ingin aku mati. Aku baik-baik saja dengan payungku. Aku tidak akan mati karena roh jahat.”


“Jangan marah. Jika kau marah, itu menyakitiku. Jika orang yang kau cintai sedang kesal, pasti itu sakit bagimu. Kau tidak boleh marah. Jika kau mau marah, lalu lepaskan ini dariku.”
“Aku tidak akan marah, jadi jangan datang ketika aku bekerja... dan jangan ikuti aku. Pergi.
“Dasar, bagaimana kau bisa menyuruhku pergi begitu saja? Ini sangat menyakitiku.” Lalu Oh Gong menghilang dari hadapan Seon Mi.


Saat Oh Gong sudah pergi, Seon Mi tersenyum.
“Dia sungguh datang untuk melindungiku.”


Seon Mi sedang akan makan siang di ruangannya lalu Oh Gong sudah muncul dan mengejutkan Seon Mi.
“Kau makan sendiri?”
“Kaget aku.”
“Apa kau terbuang dari masyarakat?”
“Tidak.”
“Benar, kau harus memiliki orang-orang di sekitarmu dulu agar terusir.”
“Aku tidak memanggilmu.”
“Aku tahu.  Panggil aku. Saat kau makan, panggil aku. Jangan sendiri. Aku akan berada di sampingmu. Panggil aku. Aku tunggu. Aku yakin kau pasti akan sering mengingatku karena ku bilang akan menunggu. Mungkin mengangkat sendok akan mengingatkanmu padaku.”
“Aku tidak akan memikirkanmu atau memanggilmu, jadi pergilah.”
“Kalau begitu, kita makan bersama lain kali.”
“Itu nasi dan kacang. Selamat makan.” Lalu Oh Gong menhilang.


Saat Seon Mi membuka makan siangnya, dia melihat nasi dengan hiasan berbentuk hati.
“Dia bisa melakukan semuanya.”


Tiba-tiba Oh Gong sudah muncul lagi hadapan Seon Mi keesokan harinya.
“Kenapa kau ke sini lagi? Aku tidak memanggilmu.”
“Aku datang ke sini bukan karena kau panggil. Aku datang untuk menjelaskan sesuatu.”
“Apa?”
“Sepertinya kau tidak punya niat mengundangku, jadi setidaknya makan dengan dia.” Oh Gong menunjukkan sebuah boneka monyet berwarna merah.
“Apa itu?”
“Ini Son Yuk Gong.”
“Aku kehabisan kata-kata.”
“Apa ini kenak-kanakan? Mesra? Kau tidak tahan? Kalau begitu, lepaskan ini. Jika tidak, Son Chil Gong dan Son Pal Gong akan segera datang. Kecurangan ini sungguh membuatmu gila, kan?”
“Pergi.”


Setelah melemparkan boneka Seun Yok Gong kepada Seon Mi, Oh Gong lalu menghilang.


Keesokan harinya, Seon Mi sedang makan siang bersama boneka Sun Yuk Gong. Dia sepertinya menunggu Oh Gong yang tidak muncul hari ini.
“Ayo makan. Hei, Yuk Gong. Kenapa Oh Gong Hyungnim tidak datang? Aku sudah memesan dua set. Apa aku harus memanggilnya? Karena ini jadi terbuang. Lupakan.”
Lalu Seon Mi berusaha memakan semua makanannya.


Oh Gong sedang makan es krim di kedai dewa es. Dewa es bertanya kenapa siang ini Oh Gong tidak pergi seperti biasanya. Oh Gong mengatakan wanita keras kepala itu tidak memanggilnya jadi Oh Gong akan menjadi keras kepala juga.
“Mungkin kali ini dia menunggu Anda.”
“Tidak mungkin. Aku tidak akan pergi mulai sekarang.”


Seon Mi masih berusaha menghabiskan makanannya. dia merasa kesepian dan ingin memanggil Oh Gong tapi sekarang sedang tidak ada bahaya.
Advertisement


EmoticonEmoticon