1/18/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 PART 2

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 Part 1
Ma Wang sedang merasakan efek samping dari obat yang diberikan Sekertaris Ma untuk menetralisir darah Sam Jang. Kedua tangan Ma Wang bergetar hebat dan sulit dikendalikan, wajahnya pun tampak pucat. Sekertaris Ma berencana membatalkan semua jadwal Ma Wang hari ini tapi Ma Wang melarangnya.
“Kurasa, aku harus mengonsumsi sesuatu... yang lebih efektif.”
“Anda sudah kehilangan banyak tenaga akibat mengonsumsi obat. Meminum yang lebih kuat lagi tidak memungkinkan.”
“Aku tak apa. Dibandingkan rasa malu tidak bisa menahan kelaparanku... dan meneteskan liur seperti ini, mengonsumsi obat dan kehilangan tenaga lebih.”
“Karena Anda sudah menjadi seperti ini, bagaimana kalau memakan Sam Jang saja?”
“Jangan bicara soal Sam Jang!”


Setiap Sekertaris Ma mengucapkan nama Sam Jang, kedua tangan Ma Wang semakin sulit dikendalikan.
“Bagaimana kalau Sam Jang? Kenapa Ma Wang harus menderita karena Sam Jang? Saya akan menangkap Sam Jang. Tolong makan saja Sam Jang.”
“Sudah kubilang jangan bicara soal Sam Jang! Bahkan mendengar nama Sam Jang saja membuatku  lebih gemetaran. Aish, sial.”
“Maafkan saya.”


Ma Wang dan Sekertaris Ma baru saja menyelesaikan sebuah wawancara di tv dengan baik.
“Saya senang obat yang saya bawakan efektif.”
“Aku mendapatkan banyak energi dari penonton yang memulihkan kekuatanku. Jelas, energi dari siaran langsung memang yang terbaik.”


Para penggemar Ma Wang sudah menunggunya dan meminta foto. Ma Wang bersedia berfoto dengan mereka tapi tiba-tiba tangannya bergetar lagi.


Seon Mi datang untuk bertemu dengan Pal Gye.


“Anda baik-baik saja? Anda tidak sehat lagi?”
“Foto itu menangkap perubahan warna mataku. Ikuti mereka dan hapuslah.”
“Saya mengerti.”
Sekertaris Ma lalu pergi mengejar para gadis itu.


“Kenapa seperti ini lagi? Kenapa ini? Tenanglah. Sam Jang bahkan tidak sedang di dekatku. Huh? Tidak, kenapa Sam Jang ada di sini?”
Ma Wang melihat Seon Mi datang dan kedua tangannya kembali bergetar tak terkendali. Dia lalu segera pergi, tidak menghiraukan Seon Mi yang memanggilnya.


Oh Gong berada di lantai atas mengamati Seon Mi yang sedang mengikuti Ma Wang. Oh Gong membalik sebuah jam pasir.


Seon Mi terus mengikuti Ma Wang yang menjauhinya agar tetap bisa mengendalikan diri.


Akhirnya Ma Wang tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia berubah menjadi monster.


Matanya berubah menjadi merah dan taringnya muncul lagi. Dia sudah bersiap memangsa Sam Jang dan sedang menunggunya. Tepat saat Seon Mi akan datang, Oh Gong memukul Ma Wang sampai pingsan dan membawanya masuk lift.


Pasa saat yang tepat, Seon Mi datang dan tidak bisa menemukan Ma Wang.


Seon Mi pun menemui Pal Gye. Pal Gye memberikan tas dan mantel milik Seon Mi yang tertinggal di rumah Ma Wang.
“Oh, Ma Wang-nim juga di studio kan hari ini?”
“Entahlah. Sam Jang, hati-hatilah...”
“Apa?”
“Oh, bukan apa-apa. Cobalah untuk tidak meninggalkan barangmu sembarangan begitu. Sampai jumpa.”


Di tempat lain, Pal Gye secara tidak sengaja bertemu Sekertaris Ma yang sedang mencari Ma Wang.
“Kau mencari Ma Wang?”
“Di mana dia?”
“Ma Wang pada akhirnya ingin menyantap Sam Jang kan?”
“Babi, jika kau berani buka mulut, aku akan mencabik-cabikmu.”
“Tenang. Tenang. Aku juga mendukung Ma Wang memakan Sam Jang. Jika ada yang bisa kubantu, akan kulakukan. Tapi sebagai gantinya, sisakan segigit untukku.”


Ma Wang sudah berada di ruangannya bersama Oh Gong
“Haruskah aku minta maaf saja?”
“Tidak, tidak. Kunyah saja dan telan. Aku bahkan tidak ingin mendengar suaramu.”
“Baiklah. Di saat seperti ini, berada di dekatmu dan berkata begini mungkin terdengar seolah aku sedang meledekmu. Aku juga seperti Ma Wang, gara-gara Geumganggo menderita. ‘Merasakan yang dia rasakan. Love.’ Saat kau melakukan hal seperti itu, aku sangat kesal. Aku tidak bisa menahan diri melakukan hal ini padamu. Kau memahami situasiku kan?”
“Ya, aku sangat memahaminya. Aku juga akan memastikan membalas dendam untuk ini, mengerti?”
“Kuharap begitu. Kau mengatakan padaku sudah melatih kesabaran selama ribuan tahun, tapi bertahan selama ini saja tidak sanggup.”
“Jika aku tidak menahan diri, orang yang kau cintai itu sudah lenyap. Kau akan mati karena tersiksa.”
“Ma Wang, bukan seperti itu. Jika Sam Jang mati dan menghilang, maka begitu pula dengan Geumganggo. Jadi tidak peduli dia masih hidup atau tidak, aku tidak akan tersiksa. Bagaimanapun juga, sekarang, karena Geumganggo ini, kau tidak bisa membiarkan Sam Jang mati.”


Oh Gong melihat Ma Wang kesulitan menuang air lalu membantunya.
“Kenapa kau terus gemetaran?”
“Ini efek samping obat untuk mematikan energi darahnya.”
“Ah, berikan. Aku akan menuangkannya untukmu.”
Saat akan meminum air yang dituangkan Oh Gong, Ma Wang dengan sengaja menyiram air itu ke wajah Oh Gong. Berpura-pura itu karena tangannya bergetar.
“Aigoo, efek sampingnya... Aah, segarnya.”
Oh Gong tidak bisa berkata apa-apa.


Bu Ja sedang mengamati sebuah mobil, dia berharap menemukan mobil yang dinaiki oleh pria yang akan menguburnya. Dan kemudian bisa mengetahui identitasnya semasa hidup.


Ternyata itu adalah mobil Alice.
“Hei, sedang apa kau? Oh? Kau trainee yang waktu itu. Aku hampir mati gara-gara mimpi buruk karenamu. Dasar sial. Aku tidak ingin bertemu denganmu, jadi pergi sana.”
Alice melihat mobilnya tergores lalu dia mencurigai Bu Ja.
“Bukan aku. Aku bahkan tidak menyentuhnya.”


Bu Ja tidak memperdulikan Alice dan dia akan segera pergi. Tapi alice menarik pundak Bu Ja hingga dia terbentur mobil, dan matanya copot.
“Mau ke mana kau?! Aku menangkap basah kau. Benda yang barusan kau jatuhkan, kau menggunakannya untuk menggores mobilku kan?”


Bu Ja mengambil bola matanya dari tangan Alice dan memasangnya.
“Apa ini?”
“Berikan padaku. Itu mataku.”
Alice pun kemudian pingsan.


Seorang wanita datang, dia sepertinya manager Alice. Bu Ja mengatakan Alice sedang mabuk lalu membantu wanita itu membawa Alice ke dalam mobil.
“Bagaimanapun, terima kasih sudah menjaganya. Kau cantik. Apa mungkin kau punya keinginan menjadi artis?”
“Mungkin.”
“Kau tahu program audisi yang populer belakangan ini kan? Aku casting manajer mereka. Jika kau tertarik ikut audisi, hubungi aku. Ini kesempatan bagimu untuk terkenal.”
Wanita itu memberikan kartu namanya kepada Bu Ja.


Seon Mi dan Han Joo datang ke toko bunga yang akan dijual. Menurut Han Joo pemiliknya ingin menjualnya cepat dan hanya ingin mendapatkan harga tanah yang pantas, dia juga setengah gila setelah kekasihnya meninggal.
“Aku bertemu dia saat konsultasi, tapi dia selayu bunga yang mati.”


Flashback. Lee Han Joo sedang berbicara dengan wanita pemilik toko bunga.
“Aigoo, nilainya sangat tinggi. Jika Anda memberiku sedikit waktu lagi, aku mungkin bisa mendapatkan harga penuh.”
“Tolong urus secepatnya.”


Mereka berdua masuk ke dalam toko bunga. Pemiliknya tampak berbeda dengan terakhir kali Han Joo beretmu dengannya, dia tampak segar dan bahkan merubah tatanan rambutnya.
“Aku juga merasa berbeda. Aku tidak ingin lagi menjual tokonya. Maafkan aku.
“Apa? Tapi Anda bilang ingin segera menjualnya. Saat menangis, Anda bilang memiliki terlalu banyak kenangan di sini dan tidak bisa lagi tinggal lebih lama. Jika Anda seperti ini sekarang...”
“Saat itu aku memang merasa begitu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ya, maaf soal ini. Pilih saja satu, akan kuberikan gratis.”


Saat wanita pemilik toko berjalan membelakangi mereka, Seon Mi melihat ada sesuatun dengan rambut wanita itu.
“Tampaknya, sesuatu yang memotongnya. Aku penasaran siapa yang memangkasnya. Kurasa aku tahu.”


Seon Mi lalu berbicara dengan roh yang berada di sebuah pohon.
“Kaukah? Kau yang memotongnya? Ada Iblis jahat yang tinggal di rambutnya. Kau memangkas rambut kekasihmu? Kalau begitu, gadis itu terpengaruh oleh Iblis jahat?”


Seon Mi datang ke tempat di mana wanita pemilik toko bunga itu memotong rambutnya. Seon Mi bertanya kepada seorang nenek yang menawarkan gembok yang dijualnya.
“Nona. Tolong beli satu.”
“Saya tidak punya kekasih untuk memasangnya.”
“Tolong beli dari aku.”
“Nenek, apakah Anda mendengar seseorang di taman ini potong rambut?”
Nenek itu mengangguk. Dan dari kejauhan ada seorang pria yang sedang mengamati Seon Mi.


Jenderal Es datang menemui oh Gong, dia sudah mempunyai rencana untuk menyingkirkan Sam Jang tapi tampaknya Oh Gong tidak siap kehilangan Sam Jang, dan terus mencari alasan.
“Oh. Duduklah. Saya akan membantu semampu saya untuk menyingkirkan Sam Jang. Aku berterima kasih. Tapi kau tidak perlu menutup tokomu untuk aku. Berjualanlah dulu untuk sisa hari ini dan mari pikirkan itu pelan-pelan.”
“Tidak apa. Saat Ma Wang terdetoksifikasi sepenuhnya, kita tidak akan lagi memiliki kesempatan. Jika kita membuat rencana dan mengatur langkah, kita bisa menyingkirkan Sam Jang malam ini.”
“Langsung malam ini?”
“Angin topan berlangsung malam ini. Kemungkinan keberhasilannya akan lebih tinggi jika saya menggunakan kemampuan Jenderal Es dengan baik. Saya akan menahan Anda sehingga Anda tidak akan bisa menghampiri Sam Jang sampai Ma Wang menyantapnya. Malam ini. Kita tidak punya banyak waktu tersisa.”
“Oh! Hari ini! Hari ini waktunya Oh Jeong Yakbap (nasi rasa-rasa)! Malam ini, Oh Jeong bilang akan membuat Yakbap dan menungguku. Karena makanan itu sulit sekali proses pembuatannya, dia bilang dia akan sangat kecewa kalau aku tidak memakannya selagi hangat.”
“Yakbap tetap enak meskipun dimakan saat dingin.”
“Begitu? Aku juga harus menonton ‘My Golden Life’. Kau tidak menontonnya?”
“Ada siaran ulangnya besok pagi. Silakan ditonton dengan tenang di dunia tanpa Sam Jang.”
“Aku harus menonton siaran utamanya.”
Tiba-tiba Seon Mi memanggil Oh Gong. Alasan yang tepat untuk melarikan diri.
“Oh! Sam Jang memanggilku. Ah, benar-benar. Semuanya berantakan. Kurasa malam ini tidak mungkin. Kenapa kau tidak pergi saja membuka tokomu lagi untuk hari ini? Kau harus mengumpulkan banyak uang. Aku pergi.”
“Hyungnim! Malam ini dengan badai akan sempurna.”
Advertisement


EmoticonEmoticon