1/22/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 7 PART 3

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 7 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 7 Part 2
Oh Jeong mengatakan pada Oh Gong kalau dia hanya memiliki satu kali kesempatan merasakan minuman dengan memanfaatkan Shingiryu, jadi dia harus memilih dengan seksama alkohol yang ingin dinikmati.
“Aku tidak punya keraguan. Aku akan meminum sake hangat.”
“Ah ya. Kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan pendamping terbaik untuk melengkapi sake. Olahan laut tidak masalah kan?”
“Tidak, tidak. Hanya sekali, jadi Soju yang kuat akan lebih baik.”
“Untuk Soju, sup akan menjadi makanan pendamping yang pas.”
“Makgeoli. Aku menyukai Makgeoli dulu. Oke. Makgeoli. Sudah diputuskan. Untuk Makgeoli, maka yang terbaik adalah pancake daun bawang.”


Tiba-tiba Bu Ja muncul dan mengatakan dia lebih menyukaiizza dibandingkan pancake daun bawang. Oh Jeong pun mengatakan kalau makanannya pizza, minumannya lebih enak bir. Oh Gong lalu menjadi bingung apa yang harus dia pilih.
“Benar, bir. Hei, Zombie! Gara-gara kau, aku jadi berat memutuskan lagi dan hatiku bimbang!”
“Kau sudah bimbang dari tadi kenapa malah menyalahkan aku?”
“Karena aku hendak mengambil keputusan penting, kau masuk saja sana ke kulkas.”
“Sa Oh Jeong-nim membuat kimchi, jadi kulkasnya penuh.”
“Kau memasukkan kimchi di sana? Lalu, dia akan tinggal di mana?”
Oh Jeong mengatakan kalau belakangan ini cuaca sangat dingin, jadi balkon lebih dingin dibandingkan kulkas. Lalu dia menambahkan agar Oh Gong tidak perlu membuat keputusan buru-buru, jadi pikirkanlah dengan sangat hati-hati.


Oh Gong sedang berpikir lagi, Bu Ja membuat Oh Gong bertambah kesal dengan pertanyaannya.
“Son Oh Gong-nim, kenapa kau menggunakan kesempatan bagus itu untuk minum? Kalau aku, pasti kugunakan menemui orang yang sangat kurindukan.”
“Hei, otakmu itu membusuk jadi kau bahkan tidak ingat siapa dirimu!”
“Sekalipun tidak ingat, aku yakin ada seseorang yang kurindukan. Karena dulu aku manusia.”
“Orang-orang yang kau rindukan mungkin tidak akan senang saat melihatmu. Karena kau sekarang bukanlah manusia. Zombie. You are a Zombie. Beraninya kau menatapku seperti itu!? Hei, kau seolah-olah hendak menggigitku saja! Baiklah. Gigit! Gigit! Gigit aku! Coba saja gigit aku, maka aku akan membakar habis semuanya.” Oh Gong yang sangat kesal mengulurkan tangannya pada Bu Ja.
“Oh Jeong-ah. Kita pilih keputusan pertamaku saja. Sake hangat.”
“Untuk Sake, daging panggang tusuk juga cocok.”
“Daging panggang tusuk. Belut akan jauh lebih baik.”
“Kalau Belut itu cocoknya Soju.” Bu Ja kembali membuat Oh Gong kesal, dan segera pergi sebelum Oh Gong berbuat sesuatu padanya.
“Hei, Zombie! Kau akan ku.... Aih, aku bingung lagi.”


Seon Mi masih berada di perpustakaan hingga larut malam. Duyung yang dicari Seon Mi pun muncul, Seon Mi melihat duyung itu bergerak dari satu rak ke rak yang lain.


Seon Mi lalu pergi ke kamar mandi untuk mengisi air ke dalam ember. Dia ingat ucapan Ma Wang yang mengatakan kalau duyung tersiram air, identitas sesungguhnya akan terungkap.


Seon Mi mencari duyung itu dengan membawa ember berisi air. Duyung itu pun muncul di belakang Seon Mi.
“Kau orangnya.”


Seon Mi menyiram air pada duyung itu tapi tidak ada yang terjadi.
“Dia bilang jika kau tersiram air, ekormu akan muncul. Kenapa kau bahkan tidak memiliki kaki?”
Duyung itu melayang lagi meninggalkan Seon Mi.
“Berhenti di sana!”


Seon Mi melihat Oh Gong sedang berbicara dengan duyung itu. Kemudian Oh Gong memberikan pisau.


“Son Oh Gong. Tadi itu si duyung kan? Tapi kenapa dia tidak punya kaki atau ekor?”
“Tidak tahu. Bagaimanapun, aku sudah menyelesaikan tugasku. Ayo.” Oh Gong lalu berjalan dan Seon Mi mengikutinya.
“Tugasmu selesai? Dia kembali ke laut?”
“Dia bilang mengerti.”
“Tampaknya kau memberikan sesuatu kepadanya. Apa itu?”
“Sesuatu yang teman dari laut titipkan untuk dia. Sekarang dia akan membuat keputusan.”
“Bukan sesuatu yang berbahaya kan?”
“Untuk siapa? Manusia?”
“Jika dia hendak menyakiti manusia, kita harus menghentikan dia.”
“Tidak mau. Kenapa harus? Aku sudah menyelesaikan tugasku. Jadi, aku pergi.” Oh Gong segera pergi meninggalkan Oh Gong.


Seon Mi mendapat telepon dari Han Joo yang memberitahunya kalau seorang teman sedang menunggunya.
“Teman?”
“Dia bilang teman masa kecil.”
“Aku tidak punya teman semacam kecil.”
“Sebentar, ya. Aku akan memberikan telepon kepadanya.”


Saat Han Joo memberikan ponselnya pada Jonathan, Seon Mi berpapasan dengan pustaakawan yang tadi dilihatnya. Seon Mi lalu mengikuti pustakawan itu dan menutup teleponnya.


Saat Seon Mi mencari pustakawan, dia melihat duyung itu membawa pisau yang diberikan Oh Gong sambil menangis.


Oh Gong berada di ruangan Ma Wang bersama Naga Giok. Oh Gong sudah melakukan apa yang dikatakan Naga Giok, dan sekarang dia meminta apa yang dijanjikan oleh Naga Giok.
Ma Wang tampaknya tidak mengerti apa yang dibicarakan Oh Gong dengan Naga Giok “Apa maksudmu dengan pisau? Kau tidak mengembalikannya ke laut tanpa membuat masalah?”
“Dia terlanjur tidak dapat kembali tanpa membuat masalah.”
“Muslihat macam apa yang telah kalian berdua lakukan? Apa yang terjadi pada duyung itu?”
Naga Giok yang dari tadi hanya diam saja, sekarang dia berbicara “Karena cinta duyung tidak berujung, maka dia mengorbankan segalanya. Dia menyerahkan segalanya pada manusia serakah dan kemudian dicampakkan. Aku datang untuk menyerahkan pisau untuk dipakainya menikam jantung pengkhianat itu.”


Ma Wang sangat marah mendengar ucapan Naga Giok “Keparat kau! Berani kau memanfaatkanku untuk menyakiti manusia?”
“Jangan buru-buru marah. Bagaimanapun, duyung itu tidak dapat menyakiti manusia. Sudah kubilang. Duyung itu dalam keadaan di mana dia tidak akan bisa kembali tanpa membuat kekacauan.”


Pustakawan itu menuju ke bagian belakang perpustakaan yang tampak seperti gudang. Dia membuka plastik yang di dalamnya ada sesosok duyung. Dia terkejut melihat duyung yang sudah mati, dan kembali ke wujud aslinya.
“Apa ini?” Lalu dia lari karena ketakutan.


Saat akan melarikan diri, dia dihadang oleh Seon Mi.
“Siapa kau?”
“Kau membunuh wanita itu kan?”
“Apa itu? Dia bukan manusia?”
“Dia duyung.”
“Duyung? Tidak heran. Dia sangat patuh. Sampai kupikir dia dungu. Dia bukan manusia? Kalau begitu, aku tdiak membunuh siapa-siapa.” Dia lalu tertawa dengan wajah jahatnya.
“Duyung itu akan menghukummu. Kisah tentang duyung yang akan memaafkan segalanya, berubah menjadi gelembung dan enyah hanyalah dongeng buatan manusia.”


Duyung itu datang ke arah pustakawan lalu menusukkan pisau di dadanya. Pisau itu lalu menghilang.
“Pisau itu akan bersarang selamanya di jantungmu untuk memberikanmu rasa sakit. Sekarang, kau akan dapat kembali ke laut.”
Duyung itu pun kemudian menghilang.


Pustakawan itu sedang berjalan seperti orang yang tersesat dan kebingungan.


Soo Bo Ri mengatakan pada Ma Wang kalau duyung itu tidak membunuh manusia dan itu bukan masalah besar.
“Sekalipun tidak menjadi masalah, tetap tolong periksa itu. Kera sialan itu melakukannya tanpa memberitahuku demi mendapatkan Shingiryu.”
“Dewa Agung, setelah bertemu duyung yang dikhianati oleh manusia... pasti tidak akan bernafsu untuk minum.”
“Apa mungkin keparat itu kehilangan nafsu untuk minum hanya karena kasihan pada duyung?”
“Berandal itu. Insiden dahulu mungkin muncul lagi dalam ingatannya.”
“Inisden dahulu, maksudmu... Son Oh Gong berandal itu juga pernah dimanfaatkan oleh manusia dan mendapatkan pengkhianatan hebat.”
“Berandal arogan itu dihukum atas insiden tersebut dan dikurung di Gunung Lima Elemen. Dia pasti sangat tersiksa meski ribuan tahu sudah berlalu.”
“Dia dipermainkan saat bersikap angkuh.”


Seon Mi datang ke tempat Peri Ha, lalu Peri Ha mengatakan pada Seon Mi agar duduk dengan Oh Gong yang sudah datang lebih dulu. Karena ini kali pertama Oh Gong dan Seon Mi berada di sini bersama.


“Kau sudah tahu sejak tadi kan? Kenapa tidak mengatakannya kepadaku? Karena aku manusia, kau pikir aku akan mencoba menghentikan duyung itu membalaskan dendamnya?”
“Ya. Manusia itu egois dan tidak dapat dipercaya.”
“Son Oh Gong, tadi kau tanya kepadaku apakah kau dan duyung itu sama menyedihkannya? Tidak sama. Aku tidak sedikitpun merasa kasihan kepadamu. Karena aku senang bersamamu. Sekalipun perasaanmu palsu, aku bersyukur dan bahagia kau mencintaiku. Aku sungguh-sungguh.” Seon Mi mengatakannya dengan tulus, tapi Oh Gong menanggapinya dengan sinis.
“Manusia yang ditikam tadi mungkin mengatakan hal yang sama sepertimu pada awalnya.”
“Benar. Karena manusia tidak bisa dipercaya, aku juga merasa aku dapat berubah. Jika aku memanfaatkan dan mengkhianatimu, kau juga bisa menikamku.”
“Sudah kukatakan kan? Sampai aku mati, kau tidak akan bisa mati.”
“Kalau begitu, aku akan melepaskan Geumganggo. Kalau aku melepasnya, tidak akan ada yang terjadi kepadamu. Tikam aku.”


Son Oh Gong berbicara sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Seon Mi membuat kontrak dengannya.
“Kita harus menandatangani kontrak?”
“Kenapa? Kau ingin terlihat seperti orang yang dapat dipercaya tapi tidak mau bertanggung jawab? Licik sekali.”
“Maksudku, itu sangat membebani. Kita semestinya tidak membiarkan sebuah insiden sampai terjadi yang akan berakhir dengan penikaman. Aku hanya bicara seandainya. Seandainya.”
“Jika kau memiliki kesempatan menikmati virtual reality pengalaman apa yang ingin kau rasakan?”
“Aku merindukannya, tapi tidak bisa bertemu, jadi aku ingin bertemu dia.”
“Tidak ada siapa pun dalam hidupmu. Siapa yang kau rindukan?”
“Nenekku. Karena aku tidak bisa bertemu nenekku lagi, aku ingin kembali pada saat masih kecil dan bertemu nenekku.”


Seon Mi lalu meminum whiskey yang selalu dipesannya, dan meminta maaf karena minum sendirian. 
“Tak apa. Aku juga akan segera memiliki kesempatan minum. Whiskey juga akan bagus.”


Jonathan meninggal sebuah amplop di meja Seon Mi, saat akan pergi Han Joo masuk dan berbicara padanya.
“Kau sudah menunggu lama tapi tidak bisa bertemu dengannya. Lalu, bagaimana?”
“Hari ini aku tidak bisa bertemu dia. Masih ada besok, dan besoknya lagi.”
“Okay, see you next day.”
“Dan, aku membutuhkan informasi penting. Apa Seon Mi punya kekasih?”
“No.”
“Good.”


Ma Wang sedang berbicara dengan Naga Giok.
“Jika kau kabur dan mencoba menyakiti manusia, aku sungguh tdiak akan tinggal diam. Karena insiden ini selesai dengan baik, sekarang kembalilah ke laut.”


Ma Wang lalu memanggil Sekertaris Ma yang masuk membawa sebuah akuarium kecil.
“Sekarang, silakan keluar dari tubuh Alice dan masuk ke dalam sini. Aku akan mengantarmu dengan selamat sampai Laut Timur.” Sekertaris Ma berbicara dengan sopan.
“Airnya terlalu kotor.” Naga Giok sedang membuat alasan.
Ma Wang lalu meminta Sekertaris Ma mengganti airnya dengan air mineral.


Naga Giok lalu mengatakan kalau dia belum bisa pergi.
“KENAPA? KENAPA? KENAPA?” Ma Wang mulai kesal dengan ulah Naga Giok.
“Pisau itu adalah harta karun Kerajaan Naga Air. Dan juga, aku mencuri Shingiryu.  Kalau aku kembali, ayahku akan membunuhku. Aku tidak bisa pergi. Aku berhutang padamu untuk semua ini.” Naga Giok berdiri lau keluar dari ruangan Ma Wang.
“Sial...”


Sekertaris Ma lalu menawarkan akan membunuhnya, tapi Ma Wang tidak menyetujuinya
 “Dia anaknya Raja Naga. Dia juga harus syuting iklan. Biarkan Pal Gye mengurusnya sementara ini. Aish, sial.”
“Anda kesal? Bolehkah saya memberitahunkan sebuah kabar baik?”
“Apa itu?”
“Cinta antara Sam Jang dan pria yang Anda kehendaki untuknya sudah dimulai.”
“Ba-bagaimana bisa?”
“Itu... sebentar.” Sekertaris Ma lalu berbisik di telinga Ma Wang, lalu Ma Wang tertawa dengan sangat senang.
“Tunggu saja, berandal. Dendam duyung terbalaskan dan Shingiryu juga didapat.”
Advertisement


EmoticonEmoticon