1/29/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 9 PART 3

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 9 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 9 Part 2
Oh Gong berlaku baik pada Ma Wang karena dia merasa menyesal.
“Karena kita bertengkar tentang zombie itu, Na Chal Nyeo jadi diungkit. Karena sudah begini, haruskah aku membuang zombie itu?”
“Tidak perlu. Jangan salahkan Bu Ja. Jika kau menyesal, maka bekerja keras lah untuk mendapatkan poin bagiku... sehingga aku bisa menjadi Dewa.”
“Benar. Kau perlu menjadi Dewa dengan cepat supaya bisa menyelamatkan Na Chal Nyeo.”
“Dia bukan sembarang Na Chal Nyeo, dia dulu Dewa. Aku yang mengubahnya menjadi monster Na Chal Nyeo. Karena dia bertemu denganku, takdirnya berubah.”
“Ya. Mengapa Dewa berkencan denganmu? Takdir yang buruk.”
“Seharusnya ada wanita lain yang bertakdir sial seperti dia. Ada Sam Jang, yang takdirnya berubah kan? Alasan Jin Seon Mi menjadi Sam Jang itu salahmu.”
“Dan karena itu aku memakai Geumganggo dan melindunginya.”
“Sam Jang bilang ingin menjadi orang normal. Dia harus memasang Geumgganggo dan menangkap roh. Dari pada menjadi Sam Jang yang bisa memanggil Son Oh Gong... dia ingin menjadi manusia normal yang bisa menikah dan punya anak. Tapi kau membuat itu tidak mungkin dengan mengubahnya menjadi Sam Jang. Jadi, kau tidak perlu menertawakanku. Kau juga orang yang sangat jahat. Ingat itu. Astaga, kau bahkan tidak bisa menenangkan diri dengan alkohol karena laranganmu. Benar?” Ma Wang menepuk bahu Oh Gong lalu pergi.


Oh Gong merenungkan perkataan Ma Wang “Jin Seon Mi yang normal?”


Han Joo memberika voucher makan kepada Seon Mi karena telah menjaga anak-anaknya. Seon Mi menolaknya karena lebih baik voucher itu untuk Han Joo dan keluarganya saja. Tapi menurut Han Joo, lebih menyusahkan jika dia dan anak-anak makan di luar.
“Selain itu, anak-anakku hanya makan topokki.”
“Aku iri.”
“Karena topokki?”
“Aku iri pada orang-orang yang menikmati kehidupan normal sepertimu.”
“Ini bukan apa-apa. Anda juga bisa berkencan dengan seseorang dan menikahinya. Kenapa tidak melakukannya?”
“Hidup seperti itu sangat sulit bagiku.”
“Mengapa? Lalu mengapa Anda tidak meminta pria untuk makan topokki bersama?”
“Haruskah aku mencobanya? Aku jadi gugup.”
“Aku akan menelponnya dan bertanya. Dimana ponselku?”
Han Joo lalu keluar untuk mengambil ponselnya. Sepertinya dia akan menghubungi Jonathan.


Seon Mi tersenyum sendiri saat memikirkan Oh Gong “Kau tidak perlu ponsel untuk memanggilnya.”


Han Joo terkejut dengan Oh Gong yang mendadak ada di belakangnya. Oh Gong bertanya siapa yang akan ditelepon Han Joo, tapi dia tidak mau menjawabnya.


Seon Mi keluar, Oh Gong mengatakan kalau dirinya datang pada saat yang tepat untuk makan topokki bersama Seon Mi (sebelum Han Joo lebih dulu menelepon Jonathan).
“Lalu, kau akan pergi denganku untuk makan topokki?”
“Tentu.”
“Baiklah. Aku akan mengambil mantel dan segera kembali.”


Saat Seon Mi masuk ke ruangannya, Oh Gong hanya menatap Han Joo dengan tajam, dan membuat Han Joo mengakui dia akan menelepon Jonathan.
“Benar. Benar. Aku baru saja mau menelpon Jonathan. Benar. Apa maumu? Hanya karena ini, kau tidak boleh menatapku seperti itu?”
“Apa yang harus di irikan? Dia hanya bilang iri karena kau menjalani kehidupan biasa.”
“Apa kau juga iri dengan kehidupan biasaku?”
“Tidak. Sama sekali tidak. Tidak akan pernah.”
“Lalu kau harus membiarkannya pergi. Kau tidak bisa membuatnya bahagia.”
Tiba-tiba Han Joo merasa sakit perut dia lalu meninggalkan Oh Gong.


Seon Mi merasa aneh karena dia membicarakan topokki bersama Oh Gong, bukan soal roh jahat seperti biasa. Oh Gong bertanya apakah hal seperti ini lah yang diinginkan Seon Mi, jika hal biasa yang orang lakukan adalah yang disukai Seon Mi maka dia akan tetap seperti ini saja.
Toppoki yang sudah dipesan terlalu pedas untuk Seon Mi, Oh Gong memintanya untuk memesan lagi tapi Seon Mi menolaknya karena Oh Gong yang memesannya dan mengatakan kalau ini enak.
“Aku bisa menukar ini dengan yang di sana. Tapi tidak mau karena kita akan bersikap biasa. Kau makan ini dan bawa yang baru.” Oh Gong menunjuk makanan yang ada di meja sebelah mereka.


Mereka lalu menikmati toppoki pedas itu.
“Enak?” Tanya Oh Gong.
“Pedas.” Seon Mi melanjutkan makan lagi sementara Oh Gong memperhatikannya.


Setelah makan, Oh Gong mengajak Seon Mi berjalan tanpa tujuan pasti akan kemana. Dia mengatakan kalau dia hanya jalan-jalan seperti yang orang lain lakukan.


“Tidak, tunggu ini tidak normal. Semua orang berjalan seperti ini.” Oh Gong mengambil ponsel dari sakunya dan berjalan dengan memandang pinselnya. Dia juga meminta Seon Mi untuk melakukannya.
“Jangan lihat ke depan, tapi lihat ponselmu.” Lalu dia menggengam tangan Seon Mi.


Oh Gong lalu memasukkan tangannya dan tangan Seon Mi ke dalam saku mantelnya. Seon Mi bahagia dengan perlakuan Oh Gong.


Oh Gong mengantar Seon Mi pulang ke rumah setelah makan bersama dan jalan-jalan.
“Di situasi ini, kau perlu buat keputusan. Yang mana situasi kita? Teman akan masuk, main dan pergi. Keluarga akan masuk, makan dan pergi. Pacar akan masuk, tidur dan pergi.”
“Jangan menggodaku.”
“Ya, aku menggodamu. Tapi aku jadi penasaran.”
“Tentang apa?”


Oh Gong lalu bertanya pada Seon Mi, jika mereka melupakan pemilik dan pesuruh karena Geumganggo, bagaimana jadinya situasi mereka.
“Jika kau bukan Sam Jang, kau tidak punya alasan untuk memanggilku, Dewa Agung. Jika kemampuan istimewamu hilang, aku akan pergi darimu. Apa kau baik-baik saja? Walau begitu, kau sungguh ingin menjadi orang normal? Aku pergi.”
Seon Mi tidak bisa berkata apapun, hanya matanya menjadi berkaca-kaca dan wajahnya sedih.


Saat Oh Gong berada di Sureumdong pun, dia masih memikirkan wajah Seon Mi yang sedih mendengar ucapannya “Jika kemampuan istimewamu hilang, aku akan pergi darimu. Kau sungguh baik-baik saja?”
Oh Gong memikirkan apa Seon Mi akan baik-baik saja jika bersamanya.


Seon Mi datang ke tempat peri Ha. Dia bertanya apa mungkin monster menjadi belahan jiwa manusia, apakah itu hal yang mustahil. Menurut Peri Ha itu adalah mustahil, dan tidak ada satu kasus pun.
“Aku belum pernah melihat manusia menikahi iblis dan hidup bahagia selamanya.”
“Kudengar manusia menemukan iblis sebagai belahan jiwanya. Mereka ditakdirkan oleh Nenek Sam Sin.”
“Dimana kau mendengarnya?”


Seon Mi lalu menceritakan apa yang didengarnya tentang lonceng Aeryeong dari cucu pemilik toko umum.
“Begitu? Kurasa Nenek Sam Sin salah.”
“Meski begitu, takdir bisa diputuskan seperti itu kan? Tidak akan berubah kan?”
“Takdir seperti itu tidak bisa di ubah. Takdir baik atau mematikan. Tidak ada yang bisa di ubah.”
“Begitu. Syukurlah.” Seon Mi tampak lega mendengar jawaban Peri Ha, padahal yang dimiliki Seon Mi adalah Saryeong bukan Aeryeong.


Seorang anak laki-laki masih berada di taman hingga malam hari, dia menggigil kedingan dan kelaparan. Dia melihat biskuit tercecer di tanah lalu memungutnya.


Seorang wanita membaca cerita berjudul Hanzel dan Gretel “Seorang anak laki-laki kelaparan sangat terkejut menemukan makanan di depannya. Anak itu mengikuti arah biskuitnya. Lalu, mereka menemukan rumah yang terbuat dari permen di depan mereka. Anak-anak memasuki rumah dan... hidup bahagia tanpa kelaparan lagi.”


Warga sedang melihat polisi menyusur lokasi taman tempat ditemukan jasad anak laki-laki.


Wanita pembaca cerita itu memasukkan buku dan terdengar suara anak-anak dai buku itu.


Setelah memasukkan buku, dia melihat buku berjudul “Matahari dan Bulan” tergeletak di bawah.
“Anak yang ku bawa terakhir kali berhasil lolos dari buku ini. Apa dia merindukan Ayahnya? Itu sebabnya dia kabur?”


Roh anak yang meninggal karena gantung diri datang ke kamarnya dan duduk di samping kakaknya yang sedang menangis sambil memeluk fotonya.


Ma Wang mengatakan pada Soo Bo Ri kalau dia akan menangkap roh jahat yang mencuri jiwa anak-anak, dan tidak membutuhkan poin tapi dia meminta Soo Bo Ri untuk mengatakan satu hal.
“Apa ini tentang Na Chal Nyeo?”
“Tolong beritahu di mana dan bagaimana dia hidup di dunia ini.”
“Walau kau tahu, Ma Wang, kau tidak bisa ikut campur dalam hidupnya.”
“Aku tahu tidak bisa ikut campur. Tentu saja. Jadi tolong katakan padaku apa dia dilahirkan kembali?”
“Jika kau ingin tahu kehidupan atau kematian manusia, maka cepat lah menjadi Dewa.”


Ma Wang tidak puas dengan jawaban Soo Bo Ri. Karena itu saat Soo Bo Ri inginmengambil makanan lagi, Sekertaris Ma mengambil piring berisi makanan tersebut. Saat Soo Bo Ri akan mengambil cangkir minuman, Ma Wang juga menjauhkan cangkir itu.
“Silakan pergi.” Sekertaris Ma mengusir Soo Bo Ri secara terang terangan.
“Anjing yang setia.” Ucap Soo Bo Ri.


Jenderal Es menyodorkan es krim pada roh anak kecil, kata Jenderal Es dia adalah pelanggan pertama setelah toko es krim nya pindah lokasi.


Tapi roh anak kecil itu hanya memandangnya lalu menghilang.
“Kudengar ada roh jahat yang menangkap jiwa anak-anak. Dia bisa berada dalam bahaya. Aku harus melaporkannya ke Dewa Agung.”


Jenderal Es menunjukan sebuah tempat seperti di bawah jembatan, dia mengatakan di tempat itu jiwa-jiwa berkelana kumpul.
“Kudengar jiwa anak-anak yang hilang juga di sini. Ayo masuk.”


Jenderal Es menemui roh anak kecil yang datang ke toko es krimnya dan bertanya siapa orang yang menangkapmu roh itu. dia tidak mau menjawab dan hanya menunduk. Jenderal Es pun kebingungan.


Oh Gong tersenyum lalu bertanya “Hei! Kau suka Dinosaurus? Kau mau melihat Brontosaurus?” roh gadis kecil itu pun mengangguk.


Seon Mi bertanya pada Han Byeol tentang teman sekolahnya yang meninggal karena gantung diri.
“Ya, temanku bilang begitu. Sama seperti di dongeng The Sun and Moon... sebuah tali jatuh dari surga dan adiknya gantung diri lalu meninggal.”


Seon Mi lalu bertanya pada Han Joo mengenai hal yang dikatakan Han Byeol.
“Ada kejadian di salah satu kompleks kami. Mereka jatuh dari balkon. Tapi kakak perempuan itu bilang dia melihat semuanya. Dia masih kecil, jadi yakin ada sesuatu yang keluar dari buku dongeng atau semacamnya.”
“Buku dongeng?”
Advertisement


EmoticonEmoticon