1/24/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 3 PART 1

SINOPSIS Longing Heart Episode 3 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 2 Part 1

Ada yang berbeda pagi itu.. didepan ruang kelas, berkumpul banyak siswa yang berbarengan berteriak ‘Terima! Terima! Terima!’, Karena ternyata, disana ada seorang kakak tingkat yang tengah menyatakan cintanya pada Ji-soo.
“Maaf sunbae.. aku tak bisa menerimamu. Karena aku telah menyukai pria lain..” jawab Ji-soo


Melihatnya, membuat Pak Kang bertanya pada dirinya sendiri: “.. di momen inilah, hubungan kami mulai merenggang. Anda saja, dulu aku menyatakan perasaanku pada Ji-soo, mungkinah apa yang telah terjadi pada hari pertemuan kami 10 tahun mendatang, akan berubah?”


Kakak tingkat itu, lanjut bertanya pada Ji-soo: “Siapa pria itu? Aku hanya akan menyerah, kalau pria itu memang lebih baik daripadaku..”

Tak bisa diam saja, Pak Kang menginterupsi obrolan mereka. Memanfaatkan posisinya sebagai seorang guru, dia menyebut  tindakan sunbae itu, tidak sopan.. sekarang mereka berada di sekolah dan harus menuruti aturan yang berlaku di sekolah: “Ketika bel berdering, maka seluruh siswa harus masuk kelas!”

Meskipun kesal, tapi dia tak bisa menyanggah perkataan Pak Kang. Akhirnya para siswa berjalan memasuki kelasnya masing-masing,, hingga tinggallah Shin-woo, yang bergumam bertanya pada dirinya sendiri: “Ada seseorang yang dia suka? Siapa?”
----------------------------------------


Hari ini, para murid ditugaskan membuat surat berisi harapan untuk untuk dirinya sendiri di 10 tahun mendatang, “Kalian boleh menuliskan apapun yang yang kalian inginkan. Karena kata-kata memiliki kekuatannya tersendiri, yang bisa menuntun kalian menuju masa depan yang memang kalian inginkakan...”

Deadline-nya malam ini, dan Pak Kang agak memodifikasi tugasnya. Bukan hanya dalam bentuk tulisan, dia pun meminta para siswa untuk membuatnya dalam bentuk video.


Melihat Shin-woo yang terus melamun, dia pun menghampirinya lalu melihat bukunya yang dipenuhi coretan kalimat ‘siapa pria yang disukai Ji-soo?’

Gereget.. Pak Kang langsung mengatakan: “Kamu! Kamu! Kamu!”


Tiba-tiba, Ji-soo mengajukan sebuah pertanyaan padanya: “Sonsaeng-nim.. apa yang ingin anda katakan pada diri anda 10 tahun mendatang?”

“Hmm.. justru sepertinya, aku ingin mengatakan sesuatu pada diriku dari 10 tahun yang lalu..” jawabnya
“Apa itu?” tanya Ji-soo

Sambil menggebrak meja Shin-woo, Pak Kang berteriak: “Ugh! Berhentilah bertingkah bodoh!”


Kemudian, di depan kelas dia mengungkapkan bahwa dirinya sangat ingin menyuruh dirinya (di masa lalu) untuk menyatakan perasaanya dan tidak melepas cinta pertamanya, atau dirinya akan menyesali hal itu selamanya.

“Apakah.. itu berarti, 10 tahun yang lalu.. anda tak pernah menyatakan perasaan anda kepadanya?” tanya Ji-soo

“Hmm..” jawab Pak Kang

“Kenapa anda tak melakukannya?” tanya Shin-woo

“Karena aku orang yang bodoh dan pengecut... Sangat bodoh, sampai tidak memahami perasaan orang yang kusukai dan sangat pengecut, sampai menyerah hanya karena takut terluka. Pada akhirnya, aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya, dan perasaan itu berubah menjadi penyesalan. Tapi sekarang aku tahu, aku masih bisa merubah masa depanku.. setidaknya, jika aku berani menaytakan perasaanku. Tapi, jika kalian tak melakukan apapun hanya karena takut akan terluka, tak akan ada yang berubah. Jadi.. kalian harus ingat ini baik-baik, bahwa cinta berawal dari sebuat pengakuan...” papar Pak Kang, yang sektika membuat seselas terenyuh karenanya


Kalimat itu, membuat Ji-soo berniat untuk menyatakan perasaannya. Tak sengaja, ketika dia hendak memberikan minuman kaleng.. dia malah melihat kalender di meja Pak Kang. Disana, tanggal besok dilingkari.. dan tertulis kalau itu merupakan hari ulang tahunnya Pak Kang.


Dalam kelas, 3 sekawan tenga mengerjakan tugasnya. Giliran pertama adalah Min-suk.. sebelum merekamnya, dia pun bercerita bahwa dirinya ingin menjadi seorang Pegawai Negeri saja. Pernyataan itu membuat Shin-woo dan Geun-dok keheranan.

“Bukannya, kamu ingin menjadi seorang kartunis(seniman/pembuat komik). Kenapa sekarang ingin menjadi pegawai negeri?” tanya Shin-woo

“Aku tidak ingin hidup kelaparan.. pegwai negeri itu, punya gaji tetap dan uang pensiun..” jawab Min-suk

“Tetep saja.. rasanya bakatmu terbuang sia-sia..” keluh Shin-woo
“Bakat saja tidak cuku..” tukas Min-suk yang kemudian menyuruh Geun-dok saja yang direkam duluan


Tak perlu berpikir, dengan yakin Geun-dok mengungkapkan bahwa dirinya hanya memikili satu keinginan untuk dirinya 10 tahun mendatang, “Cinta pertama!”


Sontak, jawaban itu membuat Shin-woo dan Min-suk tertawa. Min-suk bertanya, apakah Geun-dok itu sedang bercanda? 

“Kau itu, sudah menyukai begitu banyak perempuan!” komennya

“Kalau diibaratkan, mendengar keinginanmu itu sama seperti mendengar Park Ji Sung (atlet sepakbola) mengatakan ingin mencetak gol sekali saja..” tutur Shin-woo

“Alasanku terus berkencan, karena aku tak pernah menyukai satu pun wanita yang ku kencani! Aku tak pernah merasakan perasaan itu, bahkan sekali saja.. aku tak tahu, bagaimana rasanya ketika aku menyukai seseorang! Makanya, aku sangat iri padamu Shin-woo. Au selalu bertanya-tanya ‘seberapa besar cintamu pada Ji-soo sampai kamu beritngkah seperti ini?’...” papar Geun-dok

“Kuharap, aku bisa menggabungkan kalian lalu memisahkannya lagi. Kekuatanmu (Geun-sok), adalah beringkah tanpa berpikir.. sementara kau (Shin-woo), terlalu polos dan tulus..” komen Min-suk

“Tapi sekarang, kau bisa menyebutku pria nekat. Karena aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku..” tuas Shin-woo yang kemudian, menaruh sepucuk catatan kecil di bawah tas Ji-soo, “Besok adalah hari ulangtahunku, aku akan mengajaknya bertemu untuk menyatakan perasaaku..” tambahnya


Beberapa saat kemudian Ji-soo melihat catatan tersebut. Karena tertulis nama pengirimnya adalah ‘Kang Shin-woo’ dan juga terdapat kalimat yang menagtakan bahwa besok adalah hari ulang tahunnya, maka Ji-soo salah faham.. dia tersenyum, mengira itu dikirim oleh Pak Kang..
----------------------------------------


Sepulang sekolah, Shin-woo diajak membeli hadiah di toko perhiasan. Dia merasa kikuk, menurutnya.. sebuah cincin untuk menyatakan cinta, terlalu berlebihan.

Min-suk tertawa, lalu menjelaskan: “Coba pikiran sisi positifnya.. kalau dia tak mernyukaimu, tapi menyukai cincin darimu.. bukankah setidaknya, dia akan menerima pernyataan cintamu..”


Ditempat yang berbeda, Ji-soo yang ditemani So-ra tengah sibuk mencari kemaja pria yang ingin dia hadiahkan untuk Pak Kang.


Disaat menunggu bus di halte, So-ra bertemu dengan tiga sekawan. Dia bertanya darimana mereka? Dan mereka jawab, dari tempat membeli hadiah

“Hadiah? Hadiah apa?” tanya So-ra penasaran
“Ohh, besok ulang tahunnya Shin-woo..” jawab Geun-dok
“Besok ulang tahunnya Shin-woo? Kalau begitu.. Ji-soo membelikan hadiah untukmu ‘dong!” ujar So-ra yang juga salah faham dengan kado yang baru saja dibei Ji-soo
“Iyakah?” ucap Shin-woo sambil menahan senyum bahagianya


Karena bis-nya telah datang, Min-suk segera pergi bersama dengan So-ra. Tinggallah Shin-woo ditemani Geun-dok, dia begitu gugup: “Duh.. gimana nih. Apa yang harus kukatakan padanya besok..”


Dalam perjalanan pulang, So-ra bertanya pada Min-suk: “Apa ada masalah?”

“Tidak.. tak ada apapun. Semuanya, baik-baik saja..” jawab Min-suk dengan gugup, tapi sesaat kemudian dia ballik bertanya: “Bagaimana kamu mengetahuinya?”

“Duh, kita ‘kan tinggal di bangunan yang sama selama lebih dari 10 tahun. Aku bisa memahami perasaanmu dengan sangat mudah..” jawab So-ra yang kemudian mengeluarkan celana dalam milik Min-suk dari dalam tas-nya yang sontak membuat seisi bus tertawa geli..


“Kenapa benda ini ada padamu..!” keluh Min-suk
“Makanya, kalau jemur baju jangan lupa dicapit. Lagian, aku juga tak ingin melihatnya terus-menerus..”tutur So-ra
Mengalihkan pembicaraan, Min-suk lalu bertanya: “Tentang tugas tadi, apa harapanmu?”
----------------------------------------


Hari berubah gelap, Pak Kang membuka laptopnya untuk memeriksa tugas yang telah dikirmkan para muridnya. Pertama, dia membuka e-mail dari Shin-woo: “Wuhh.. aku jadi gugup, mengetahui apa yang dikatakan diriku pada diriku sendiri..”

Namun harapannya tak sesuai ekspektasi, karena di awal video tersebut.. Shin-woo hanya mengatakan, kalau dirinya tak memiliki harapan apapun, “Yang penting, aku tidak mati kelaparan selama 10 tahun kedepan..”

“Aigooo.. dasar bocah ini..” komen Pak Kang


Tiba-tiba, telpon berdering.. Pak Kang meninggalkan laptopnya, lalu berbicara dengan Bu Guru Na-hee, yang menagih janjinya untuk pergi minum bersama dengannya: “Aku ingin kita pergi besok saja..”

“Ah, baiklah..” jawab Pak Kang, yang berniat memanfaatkan momen tersebut untuk meluruskan hubungannya dengan Bu Guru Na-hee


Di rumahnya, Shin-woo bertanya pada sang kakak: “Noona.. apakah pernah ada seorang pria yang menyatakan cintanya padamu?”
SHIN-HEE: “Tentu saja ada..”
SHIN-WOO: “Kalau begitu, pergakuan cinta seperti apa yang paling kamu sukai?”
SHIN-HEE: “Hmmm... pegakuan cinta dari pria yang paling tampan..”
SHIN-WOO: “Lalu berikutnya?”
SHIN-HEE: “Dari pria yang paling tampan kedua..”
SHIN-WOO: “Hfftt.. seharusnya, dari awal aku sadar kalau aku tak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat darimu, noona... kamu tak pernah membantuku sekali pun..”
Comments


EmoticonEmoticon