1/24/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 3 PART 3

SINOPSIS Longing Heart Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 3 Part 2

Shin-woo memilih untuk berjalan pergi, meninggalkan Pak Kang bersama dengan Ji-soo. Berduaan saja, Pak Kang dengan sangat kikuk.. mencoba untuk meluruskan keadaan. Dia bilang.. mungkin saja, Ji-soo salah mengartikan perasaannya sendiri.. bukan cinta, tapi itu hanya sebatas rasa kagum semata.

“Baiklah, anggap saja itu hanya sekedar rasa kagum. Jika itu membuat anda merasa nyaman, maka anggap saja seperti itu.. tak penting, bagaimanapun aku menyebutnya. Tapi yang jelas, perasaanku tak akan pernah berubah..” tutur Ji-soo


“Terimakasih atas perasaanmu itu.. tapi, aku akan lebih senang jika kamu mengatakannya kepada orang lain. Aku bisa memahami bagaimana perasaanmu.. tapi, yang ingin kukatakan padamu sekarang adalah--” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ji-soo langsung bertanya: “Bisakah kita mengakhiri pertemuan hari ini, sekarang saja? Rasanya menyedihkan, mengetahui hal akan akan terjadi setelah mengetahui akhirnya akan seperti apa..”

Sebelum pergi, Ji-soo memberikan benda yang dia bawa: “Ini hadiah ulangtahun untuk anda...”


Pak Kang mendatangi Shin-woo, yang sekarang tengah menyendiri di pesisir laut. Dia memberikannya sekaleng bir, namun Shin-woo menolaknya dan memilih berjalan pergi..

“Ada yang harus kita bicarakan..” ujar Pak Kang

“Membicarakan apa lagi? Kenapa dari sekian banyak hari, kita bisa ulang tahun di hari yang sama!?” tukas Shin-woo, “Kalau pun kau ingin memberiku hadiah.. kumohon enyahlah dari kehidupanku. Karena hanya itu-lah yang kuinginkan sekarang!”  tegasnya

“Mengapa hari ini kau tak menyatakan perasaanmu pada Ji-soo dan malah membantunya menyatakan perasaan padaku?! Apa kau bodoh? Seharusnya, kau menyatakan cintamu padanya lebih dulu!” tutur Pak Kang

“Untuk apa? Aku telah mengetahui perasaannya.. bagaimanapun juga, aku telah kalah dalam permainan ini--” tukas Shin-woo


Pak Kang tak bisa berkomentar apapun, perkataan Shin-woo.. sama persis dengan yang dia katakan 10 tahun lalu ketika dirinya menyerah, “Sejarah.. terulang kembali dengan sendirinya. Dan kali ini, akulah yang menjadi musuh diriku sendiri..”
----------------------------------------


Keesokan harinya, Pak Kang menyapa Na-hee yang baru datang. Akan tetapi, Na-hee menjawabnya ketus.. menyuruhnya untuk berhenti bersikap manis padanya, karena dirinya akan bersikap dingin pada Pak Kang.


Kalimat itu, membuat Pak Kang menyadari bahwa sikap baiknya pada Ji-soo dikhawatirkan malah memperburuk keadaan. Untuk itu, dirinya berniat untuk bersikap dingin saja.

Sebisa mungkin, dia menghindari Ji-soo. Bahkan, minuman pemberian Ji-soo malah dia berikan pada siswa lain. Ketika di lapangan pun, dia bersikap sok sibuk dan tak mau berbicara dengan Ji-soo.


Namun melihat sikapnya yang seperti itu, membuat Shin-woo kesal.. dia merasa Pak Kang tak menghargai seorang siswa yang ingin berbicara dengannya.


Akhirnya, Pak Kang duduk bersama dengan Min-suk dan Geun-dok. Dia pun bertanya pada Geun-sok: “Apa kamu mengantar bu guru dengan selamat hingga ke rumahnya?”

Mendengar pertanyaan itu, malah membuat Geun-dok mengehla nafas panjang dan menggebrak meja hingga membuat minuman Pak Kang tumpah membasahi kemejanya,

“Sonsaeng-nim, semuanya karenamu!” teriak Geun-dok yang lansgung berlari pergi


“Ada apa dengan anak itu!” keluh Pak Kang
“Entahlah, seharian ini dia memang bersikap aneh seperti itu..” ajwab Min-suk


Di koridor, Geun-dok berjalan dengan sangat lesu.. ketika Min-suk bertanya kenapa? Geun-dok langsung menyentuh bibirnya, dia teringat kejadian tempo malam..
Ternyata, saat mencegah Bu Guru minum lebih banyakk.. dia malha digigit, lalu mereka terjatuh dan tak sengaja bibir Bu Guru bersentuhan dengan bibirnya..


Kembali pada realita, ternyata hanya dirinya yang meyadari hal tersebut. Karena ketika bertemu, Bu Guru bersikap biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun diantar mereka...


Shin-woo membantu Ji-soo merapikan bangku di perpustakkaan. Setelah itu, mereka duduk menyandarkan diri di rak buku..

“Terimakasih..” ucap Ji-soo, “Kurasa, selama ini aku terus berterimakasih padamu. Kemarin pun sama seperti ini..”

“Cobalah mengatakan hal lainnya kepadaku. Aku tahu kamu butuh seseorang yang bisa meinjamkan telinganya untukmu..” tutur Shin-woo
“Wah.. serasa, kamu bisa membaca pikiranku saja..” ucap Ji-soo


“Semuanya karena Pak Kang ‘kan?” tanya Shin-woo
“Hmm.. kurasa, aku telah membuatnya merasa tak nyaman. Dia terus menghindariku..” jawag Ji-soo
“Mungkin, hanya kamu saja yang berpikiran seperti itu. Dia tak bisa membeda-bedakan muridnya, begitulah.. tetapi kembali lagi, dia pun seorang manusia..” tutur Shin-woo
“Aku khawatir, aku takut.. Pak Kang malah membenciku” ujar Ji-soo
“Kenapa? Memangnya kamu mengejek atau berbicara buruk tentangnya! Kamu hanya... mengatakan kalau kamu menyukainya..” papar  Shin-woo


Karena kemejanya basah dan hari ini ada inspeksi, terpaksa Pak Kang menggunakan kemeja yang dihadiahkan Ji-soo. Kebetulan, Ji-soo yang tengah berjalan dengan Shin-woo melihatnya.. dia pun tersenyum karenanya..


Dengan kikuk, Pak Kang mencoba untuk meberikan penjelasan pada Shin-woo. Namun dengan datarnya Shin-woo berkomentar: “Pasti anda sangat bahagia.. karena hanya dengan mengenakan kemejan darinya, adana bia membuatnya tersenyum..”


Sekarang saatnya olahraga, para siswa melakukan pemanasan yang harus dilaksanakan selama 200 kali, tetapi pada hitungan ke-200 mereka tak boleh mengucapkannya. Tetapi selalu saja.. ada satu orang yang keceplosan,, yang membuat mereka hatus mengulang lagi dari awal.. Jin-sung kesal, dia hendak menghajar siswa itu. Tetapi, Shin-woo yang tengah dirundung banyak pikiran.. jadi ikut tersulut emosinya dan mereka pun berkelahi disana..


Insiden itu membuat mereka  dihukum. Selain diharuskan menulis surat permintaan maaf Shin-woo dan Jin-sung diberihukuman untuk membersihkan halam sekolah  di pagi hari selama seminggu kedepan. 


Semua siswa pegi meninggalkan ruangan, hingga tinggallah Shin-woo dan Pak Kang...

SHIN-WOO: “Pak, aku ingin bertanya.. kenapa anda datang kesini? Disini anda tak memiliki keluarga dan tempat ini, bukanlah kampung halaman anda... tapi kenapa anda datang kesini? Dan kenapa anda terus ikut campur dalam segala urusanku?! Aku tak mengerti.. apalagi, kehadiran anda hanya menghalangi jalanku saja..”

Tanpa mendengar jawaban dari pertanyaannya, Shin-woo langsug pamit pergi meninggalkan Pak Kang yang hanya bisa terdiam, “Aku mengatakan hal menyakitkan pada diriku sendiri.. dan rasanya benar-benar menyakitkan...”


Mengambil koran dalam lacinya, Pak Kang lalu bertanya-tanya: “Aku merusak segalanya? Kedatanganku.. hanya menghalangi jalannya...”


Berbarengan dengan Shin-woo yang berjalan keluar, Ji-soo baru saja selesai belajar di perpustakaan dan dia melihatnya, dia berteriak memanggilnya tetapi Shin-woo berjalan pergi begitu saja..


Di depan tempat pembungan sampah, Shin-woo terdiam.. dia menatap kado yang tadinya ingin dia berikan ketika menyatakan perasaannya. Tapi sekarang, dia memilih untuk membuangnya saja, “Lagipula.. aku telah kalah dalam permainan ini..” ucapnya pilu

2 komentar

  1. Liaaaaaaaaa๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
    Komennya di episode genapkah? Masuk sini apa ngilang jg? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh, gak sempet bikin komennya hihi

      Hapus


EmoticonEmoticon