1/25/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 PART 1

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 4 Part 3

Berjalan meninggalkan gedung sekolah, Pak Kang seolah-olah mendengar suara lembut Ji-soo yang berulangkali memanggil namanya. Di momen itu, dalam benaknya dia berkata: “Aku harus pergi.. Karena disana, Ji-soo pasti telah menungguku. Karena ini, tak akan menjadi terkahir kali aku melihatnya.. karena pasti, aku akan melihatnya kembali di masa depan..”


Tepat ketika menoleh kedepan, telah ada Ji-soo yang berdiri menatapnya lalu berjalan menghampirinya: “Sonsaeng-nim.. apakah anda benar-benar akan berhenti mengajar di sekolah ini?”
“Pasti Kang Shin-woo yang memberitahumu..” tebaknya
“Apakah.. ini semua karena saya? Apakah saya telah membuat anda merasa tidak nyaman dan--”
“Lihatlah, kamu mengatakan omong kosong lagi..!” tukas Pak Kang sambil menjitak jidat Ji-soo, “Ada sesuatu yang membuatku harus pergi, hanya itu saja..” tambahnya
“Kemana anda akan pergi? Apakah ini, menjadi pertemuan terakhir kita.. sonsaneng-nim?” tanya Ji-soo dengan nada gelisah


“Berjanjilah, untuk bertemu kembali.. suatu hari nanti--” ujar Pak Kang sambil mengelus rambut Ji-soo: “Terkadang, kamu tak bisa memahami atau salah mengartikan perasaanmu sendiri. Dan hal itu, seringkali membuatmu menyesal dikemudian hari. Tetapi, bagian ini (sambil menepuk dada) tak pernah berbohong. Jadi fahami betul isi hatimu dan temukanlah siapa sebenarnya orang yang benar-benar kamu sukai. Karena ketika kamu berhasil menemukannya, bagian bagian ini, tepat disini (sambil mengelus dada),akan memberikannmu sebuah sinyal..” jelasnya


Terakhir, Pak Kang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Simbol perpisahan mereka: “Terimakasih untuk segalanya... Jaga dirimu baik-baik, sampai saatnya kita bertemu lagi nanti” ucapnya di bibir, sementara dalam benaknya dia mengatakan: “Terimakasih, karena telah menyukaiku. Aku sungguh berterimakasih.. terimakasih.. terimakasih.. dan terimakasih---”


Seiring dengan langkah kepergian Pak Kang, memori kebersamaan mereka akhir-akhir ini... kembali terulang kembali dalam ingatan Ji-soo yang seketika membuat matanya berkaca-kaca dan bibirnya kelu, tak bisa mengatakan apapun....
----------------------------------------


Sekarang, Pak Kang tengah berjalan bersama dengan ibu. Dia bercerita mengenai keputusannya untuk berhenti mengajar di sekolah Shin-woo. Spontan, ibu pun keheranan mendengarnya. Namun dengan riang, Pak Kang menjelaskan perasaanya yang sangat bahagia dan bebas, “Mungkin, ini pertama kalinya aku bisa berjalan-jalan seperti ini di hari kerja. Aku terlalu lelah.. hidupku sangat padat.. Semasa sekolah aku sibuk bekerja paruh waktu, di berbagai tempat. Setelah lulus, aku lansgung pergi wajib militer.. setelah aitu, aku menghabiskan waktuku untuk bekerja..” jelasnya
“Aku tak mengenal siapa ibumu, tapi kurasa dia pastinya sangat bangga kepadamu!” komen Ibu
“Syukurlah jika begitu.. karena, aku selalu bekerja keras supaya ibuku tak menyepelekanku..” ujar Shin-woo

“Wah.. Pak Kang, anda anak yang sangat berbakti..” puji Ibu yang kemudian mengajaknya mampir di kedai, untuk sekedar minum bersama dengannya


Obrolan mereka pun berlanjut.. beberapa saat berlalu, Pak Kang telah menceritakan segala hal tentang kisah percintaan-nya, termasuk reaksi cinta pertamanya yang mengatakan tak ingin bertemu lagi dengannya, meskipun itu adalah momen peremuan mereka yang pertama kalinya setelah 10 tahun berpisah tanpa kabar appaun.

Mendengarnya, membuat ibu kebingungan.. namun satu hal yang disadarinya, bahwa Pak Kang memiliki banyak kesamaan dengan Shin-woo: “Kalian sama-sama kesulitan untuk melupakan rasa penyesalan. Anda bilang, 10 tahun menunggunya tanpa pernah menyatakan perasaan anda pada cinta pertama anda. Kurasa, Shin-woo memiliki sifat yang tak jauh beda, setidaknya dalam hal yang semacam ini...”

“Apa.. ibu telah mengetahui, kalau Shin-woo menyukai seseorang?” tanya Pak Kang
“Tentu saja aku tahu, karena aku adalah ibunya” jawab ibu, sambil tertawa, “Setelah membesarkannya selama 18 tahun, ini adalah pertama kalinya aku melihat dia seperti itu. Tiba-tiba, dia selalu bangun pagi bahkan tanpa perlu aku bangunkan. Maka suatu hari, diam-diam aku mengikutinya.. dan disanalah, aku melihatnya menaiki bus bersama dengan seorang gadis cantik. Hanya dengan melihatnya saja, aku bisa menebak bahwa hati Shin-woo berdegup kencang.. Aigoo, putraku ini.. sebenarnya, setelah suamiku meninggal, aku terlalu sibuk mencari uang, hingga menyita banyak waktu kebersamaan bersama dengan anakku. Tapi tetap, hanya dengan mendengar suara mereka membuka pintu saja.. aku bisa menebak, apakah mereka sedang bahagia, sedih, lelah atau bahkan sedang ingin BAB. Aku benar-benar memahami apa yang mereka rasakan.. ” paparnya yang kemudian erterimakasih pada Pak Kang yang telah membuatnya, makin memahami perasaan Shin-woo


“Daripada berterimakasih, kuharap anda berjanji satu hal padaku.. eommoni~” pinta Pak Kang
“Berjanji?”
“Sejujurnya, kedatanganku kesini adalah untuk megatakan hal ini kepada anda. Jangan bertanya kenapa, pokoknya anda harus melakukannya, okay! Apapun yang terjadi!!!” ujar Pak Kang, “Sebentar lagi, akan ada telpon dari adik anda. Tetapi anda tidak boleh pergi menemuinya, apapun alasannya. Pokoknya, kumohon jangan pergi!” ungkapnya dengan mata yang yang mulai berkaca-kaca
----------------------------------------


Hari berubah gelap, Pak Kang berjalan di jembatan yang menjadi tempatnya terjatuh kesungai yang membawanya ke tempat ini. Dalam benaknya, dia bertanya-tanya: “Apakah aku telah melakukan segala hal yang seharusnya kulakukan? Apakah ketika kembali ke masa depan, semuanya akan menjadi lebih baik? Apakah aku bisa bertemu dengan mereka (lagi) ???”
Menarik nafas dalam-dalam, dia meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan berubah. Keberadaannya disini, malah akan semakin memperburuk keadaan, dan sudah seharusnya dia kembali ke tempatnya berada.


Tanpa ragu, dia melompat ke sungai... namun setelah itu, kita melihatnya terbangun di sebuah kamar. Dia melirik jam dinding, yang dengan jelas, masih menunjukkan tanggal ’28 Septermber 2007’..
Dia masih berada di masa lalu? Kenapa?


Entahlah, karena Shin-woo sendiri sangat kebingungan karenanya. Beberapa hari berlalu, dia telah mengkonsumsi obat-obatan.. menabrakan dirinya, hingga kaki dan tangannya babak belur, tetapi dia masih tetap hidup di masa lalu, dia terjebak.. dia tak bisa kembali ke masa depan.


Jadi, malam itu.. setelah terjun ke sungai, dia menyadari bahwa tak ada appaun yang terjadi padanya dan malah datang polisi yang menyuruhnya naik kembali ke daratan--
----------------------------------------


Geun-dok berbisik pada Min-suk, memberitahukan kecurigaannya terhadap sosok Pak Kang yang menurutnya telah berbohong mengenai identitasnya. Dia dengar, Pak Kang adalah alumni SMA ini, tetapi setelah di selisidiki, tak ada data atau bahkan sebuah foto yang membuktikan hal tersebut. Shin-woo yang duduk di dekat mereka, mendengar pembicaraan itu.. tetapi dia tak berkomentar apapun, dan malah melirik Ji-soo yang terlihat sedih..


Tak lama kemudian, datanglah bu Guru Na-hee yang sementara waktu akan menjadi wali kelas mereka untuk menggantikan Pak Kang. Spontan, terlihat Ji-soo menghela nafas panjang.. bersamaan dengan itu, Shin-woo memberinya sebuah sticker bergambar karakater spongebob yang seketika berhasil membuat JI-soo tersenyum, “Wah.. ini sangat langka..” tuturnya
“Iyakah? Aku mendapatkannya hanya dengan sekali coba..” ujar Shin-woo


“Hey! Dasar gila.. jadi kemarin, kamu makan lebih dari 10 bungkus roti, hanya untuk mendapatkan sticker itu..” bisik Geun-dok, yang kemudian dijawab Shin-woo dengan sebuah anggukan


Bu Guru yang berdiri didepan, langsung menegur Geun-dok yang kelihatannya tengah mengobrol. Namun Geun-dok berkilahh: “Bu !!! Shin-woo dan Ji-soo juga mengobrol daritadi..”


Ketika jam istirahat, Mokzart menaruh secarik kertas di meja Bu Guru Na-hee. Ketika dia pergi, muncullah Geun-dok yang langsung membuangnya ke tempat sampah. 


Bersamaan dengan itu, bu Guru muncul. Dia bertanya, apa yang sedang dilakukan Geun-dok? Dengan gugup, dia mengangkat tempat sampah itu, mengatakan kalau dia akan membuangnya.
“Oh, kalau gitu sekalian..” ujar Bu Guru sambil memasukkah sebotol minuman pereda mabuk yan baru saja diteguknya
“Bu guru.. apakah anda mabuk lagi? Apa anda juga, menggigit orang lain lagi?” tanya Geun-dok
Bukannya menjawab, Bu Guru malah bertanya balik: “Hah? Darimana kau tahu hal itu?” 


Geun-dok bingung, dia teringat momen malam itu, tetapi dia tak mau mengatakannya. Alhasil, dia hanya menjawab: “Shin-woo yang memberitahuku..”
NA-HEE: “Aishhh.. anak itu, kenapa menceritakan hal seperti ini kepada orang lain!”
GEUN-DOK: “Tapi bu guru, kenapa anda mabuk?” 
NA-HEE: “Ah... karena tadi malam, aku ada acara kencan buta..” 
GEUN-DOK: “Kencan buta?! Dengan siapa?”
NA-HEE: “Dengan teman kakaknya Shin-woo..”
GEUN-DOK: “Kenapa? Apakah anda tak ingin mencari pria Seuol lagi?”
NA-HEE: “Mau gimana lagi.. aku tinggal ditempat seperti ini, mana bisa mencari pria seperti itu. Lagipula, yang penting pria itu sesuai dengan kriteria idamanku..”
GEUN-DOK: “Memang kriterianya apa?”
NA-HEE: “Seorang pria, yang bisa aku panggil ‘oppa’ (lebih tua)..”
Comments


EmoticonEmoticon