1/25/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 PART 2

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 5 Part 1

Dengan wajah ditekuk, Geun-dok bertanya pada kedua sahabatnya: “Bagaimana caranya, seorang wanita memanggilku ‘oppa’, meskipun aku lebih muda darinya?”
Untuk menjawabnya, Min-suk menyuruh Geun-dok untuk melihat kearah So-ra dan Ji-soo yang tengah menonoton acara musik yang menampilkan seorangg idol yang mereka sebuat ‘oppa’, 


“Hey-aa! Kenapa, kalian menyebutnya oppa padalah dia jelas lebih muda dibandingkan kalian?!” teriak Min-suk
“Yaiyalah.. aku akan memanggilnya oppa, jika dia punya lebih banyak uang daripadaku...” jawab So-ra yang seketika membuat Geun-dok menyatakan, bahwa dirinya telah menemukan jawaban dari pertanyannya.


Meninggalkan obrolan itu... kepada Shin-woo, Min-suk memberitahukan apa yang dia dengar dari So-ra mengenai isu yang mengatakan baha Ji-soo katanya akan pindah sekolah ke luar negeri.
----------------------------------------


Dalam kelas, kebetulan So-ra dan Ji-soo tengah mengobrolkan hal tersebut. Di meja Ji-soo terlihat sebuah brosur pameran pendidikan luar negeri, dan itu membuat So-ra langsung bertanya padanya: “Kamu benar-benar akan pindah ke luar negeri?”
“Tidak..” jawab Ji-soo dengan sangat yakin. Dia menjelaskan, bahwa dia hanya akan datang ke pameran itu karena disuruh orangtuanya. Awalnya, dia sempat berniat untuk pindah sekolah, namun sekarang dia memilih untuk tetap disini
“Kenapa?” tanya So-ra
“Hanya karena.. hatiku menginginkannya.” Jawab Ji-soo, yang kemudian memindahkan sticker spongebob pemberian Shin-woo ke tempat pensilnya.


“Kenapa, kamu hanya menempelnya satu sticker itu disana?” tanya So-ra
“Supaya aku bisa sering-sering melihatnya..” jawab Ji-soo
“Kurasa.. aku bisa memahami, alasan mengapa kamu ingin tetap berada disini..” tutur So-ra


Tak lama kemudian, Shin-woo masuk kelas. Dia melihat brosur yang tersimpan di meja Ji-soo, yang seakan memperkuat info dari Min-suk. Tetapi bukannya bertanya lebih lanjut, Shin-woo malah diam.. dan memerhatikannya dengan wajah sedih..
----------------------------------------


Karena merasa tak enak badan, Pak Kang memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit. Akan tetapi, kartu identitas yang dia bawa dari masa depan, menunjukkan bahwa dia lahir tahun 1990, yang otomatis membuat dia seharusnya baru berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA...
Resepsionis mempermasalhkan hal itu, dia menganggap Pak Kang telah menipunya. Tak ada pilihan lain, Pak Kang terpaksa mengaku kalau dirinya memang masih berumur 17 tahun dan itu malah membuat perdebatan makin rumit. 


Tiba-tiba, datanglah kakaknya Shin-woo. Melihat keberadaan Pak Kang, membuatnya bertanya-tanya: “Bukankah, katanya anda mau pindah? Kenapa masih disini? Sepertinya asa sakit? Haruskah aku menelpon Na-hee?”
Dengan kikuk, Pak Kang menjelaskan kalau dirinya memang akan pergi. Namun Shin-hee menyadari, bahwa Pak Kang terlihat sangat lemah: “Pergi kemana? Bukankah sebaiknya anda dirawat dulu?”
“Ah.. aku akan pergi ke rumah sakit yang lebih besar, di pulau sebrang...” jawabnya, “Jangan beritahu siapa pun kalau kamu melihatku disini, okay?!” pintanya yang kemudian berlari pergi


Tetapi, dia meninggalkan Kartu Identitasnya disana. Shin-hee melihatnya, dan dia mengira itu adalah milik adiknya~
----------------------------------------


Dirumah, ibu menghampiri Shin-woo yang tengah melipat kaus kaki.. namun tak sesuai pasangannya. Dari jauh pun kelihatan, kalah badan Shin-woo memang ada disana namun pikirannya melayang entah kemana..
“Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya ibu
Shin-woo menjawabnya dengan sebuah pertanyaan juga: “Eomma... apakah hubungan pribadi sesorang telah ditakdirkan darisananya?” 
“Takdir?”
“Aku terus berusaha sebisaku, tapi tak pernah berhasil. Makanya, aku berpikir, apakah memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama..” keluh Shin-woo


Ibu tersenyum, “Tak ada takdir semacam itu.. yang ada, kamu harus mengambil kesempatan-kesempatan tertentu untuk kamu ubah menjadi sesuatu yang namanya ‘takdir’. Bisa jadi, kalian ditakdirkan untuk bersama.. tapi, jika kamu melewatkan kesempatan itu maka semuanya hanya akan menjadi seperti angin lalu yang lewat begitu saja..” paparnya yang kemudian menggerutu: “Kenapa kamu itu terlalu banyak berpikir. Kalau seperti ini terus, kamu akan bernasib sama seperti wali kelasmu!”
“Kenapa.. tiba-tiba, ibu menyebut nama Pak Kang..” ujar Shin-woo yang tiba-tiba teringat obrolannya dengan Pak Kang, yang memberitahukan bahwa ibunya sering meminum obat  untuk mengobati nyeri lututnya


Spontan, Shin-woo memijit lutut ibunya lalu bertanya untuk memastikan: “Ibu, lututmu sakit?” 
IBU: “Darimana kau tahu? Apa matamu itu seperti X-ray?”
SHIN-WOO: “Pak Kang yang memberitahuku..”
IBU: “Wah, bagaimana bisa dia mengethaui lebih banyak hal tentangku daripada putraku sendiri..”
SHIN-WOO: “Jika dipikirkan lagi, memang banyak hal yang aneh tentang dia.. bahkan, dia pun mengetahui begitu banyak hal tentang ku..dan sesekali, dia bertingkah seolah dia mengetahui apa yang akan terjadi... Apa jangan-jangan, dia itu seorang peramal?”
IBU: “Eitss.. peramal apanya. Dia pria yang sangat ramah dan baik. Ibu pun berhasap, ketika beranjak dewasa kau akan tumbuh menjadi pria sepertinya..”


Dalam kamar, Shin-woo gelisah menatap ponselnya. Dia teringat perkataan Min-suk, ditambah nasihat dari ibunya. Yang membuatnya memberanikan diri, untuk mengirim pesan pada Ji-soo: “Ji-soo yaa.. ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Aku akan menunggumu, besok jam 1 di jembatan kunang-kunang..”
“Baiklah, aku tak peduli bahkan jika memang kami tidak tidakdirkan untuk bersama. Yang jelas, aku tak bisa duduk diam dan tak melakukan apapun... aku tak bisa membiarkannya pergi, tanppa pernah mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya.”


Bersamaan dengan itu, Ji-soo sendiri tengah mendatangi tempat dimana Pak Kang menolak pernyataan cinta darinya. Dia menaruh tas hadiahnya disana, sambil berkata: “Sonsaeng-nim.. aku akan menyimpan benda ini.. maksudku perasaanku ini.. ditempat ini..”


Disaat berjalan pergi, ponselnya berdering.. ada pesan masuk, tetapi dia tak sempat membukanya, karena ponselnya keburu mati, “Duh bagaimana ini.. pesan dari siapa? Apakah itu penting?” keluhnya
----------------------------------------


Di pagi hari, ibu menerima telpon dari adiknya yang memberi kabar kalau dirinya sakit dan meminta Ibu untuk menjenguknya. Spontan, ibu mengiyakan permintaan tersebut.. tetapi dia langsung teringat janjinya pada Pak Kang.yang membuatnya berubah pikiran dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa menjenguk adiknya itu saat ini--
“Aneh.. bagaimana bisa dia (Pak Kang), menegtahui kalau adikku akan menelponku..” guman ibu keheranan


Tiba-tiba, terdengar pintu terbuka dan masuklah seorang tukang pos yang mengirimkan dokumen kartu identitas milik Shin-woo. Melihatnya, membuat ibu tersenyum.. tak menyangka kalau sekarang putranya telah genap berusia 17 tahun dan memiliki kartu identitasnya sendiri. 


Melihat Shin-woo yang telah berpakaian rapi, membuat ibu bertanya: “Kamu mau pergi kemana?”
“Ah.. aku mau bertemu temanku..”
Sebelum membiarkannya pergi, lebih dulu Ibu merapikan sweater yang dikenakan Shin-woo, “Semoga berhasil..” ucapnya
“Hmm.. maksud ibu? Kubilang, aku hanya akan bertemu dengan temanku saja ‘kok..” jawab Sin-woo kikuk


Sesaat setelah Shin-woo pergi, ibu baru menyadari kalau dia lupa mengembalikan cincinnya *awww ibu yang sangat peka*, “Anak ini.. dia pergi ke medan peran, tanpa membawa senjatanya..”


Shin-hee keluar dari kamarnya, dia menghampiri Ibu lalu bertanya: “Apakah Shin-woo sudah pergi? Padahal ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya..” sambil menunjukkan kartu identitas milik Pak Kang yang dia kira miliknya Shin-woo, “Tapi, kenapa cetakan baru terlihat sangat lusuh..” keluhnya yang kemudian berjalan pergi


Ibu pun jadi kebingungan.. Mengapa, Pak Kang memiliki kartu identitas Shin-woo? Padahal.. kartu itu, baru saja didapatkan Shin-woo pada hari ini. Terdiam, ibu pun teringat kembali momen-momen serta perkataan janggal yang berkaitan dengan Pak Kang..
Comments


EmoticonEmoticon