1/25/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 PART 3

SINOPSIS Longing Heart Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 5 Part 2

Sekarang sudah jam 1:30, hujan sangat deras.. Shin-woo masih berdiri menunggu Ji-soo ditempat yang telah dijanjikan. Dia berulangkali menelponnya, tetapi tak ada jawaban.. 


Tak sengaja, Shin-woo melihat tas hadiah milik Ji-soo yang berisi kemeja untuk Pak Kang. Dia tak mengatakan apapun. Dia hanya mengehela nafas, lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.


Ditempat lain, Ji-soo yang baru saja selesai memperbaiki ponselnya tak sengaja bertabrakan dengan Sung-jin, si siswa brandal yang membuat Shin-woo harus mendapat hukuman tempo hari.


JI-SOO: “Apa sudah menjadi kebiasaanmu untuk tidak meminta maaf!”
SUNG-JIN: “Ah.. baiklah, aku.. minta.. maaf..”
JI-SOO: “Bukankah, ada satu orang lagi yang harusnya menerima permintaan maaf darimu, selain aku!”
SUNG-JIN: “Siapa?”
JI-SOO: “Aku telah mendengar semuanya.. mungkin sekarang mereka telah melupakan kejadian itu, tapi tetap saja kau adalah siswa yang merokok di toilet waktu itu! Bagaimana bisa, kamu berjalan tegap, tanpa rasa malu setelah melimpahkan kesalahanmu pada Shin-woo! Bahkan kau tak pernanh meminta maaf padanya, sekali pun!”
SUNG-JIN: “Lau kau sendiri? Apakah kau sudah minta maaf pada Shin-woo?”
JI-SOO: “Maksudmu?”
SUNG-JIN: “Ah.. mungkin bukan minta maaf, tapi seharusnya kau berterimakasih...”
JI-SOO: “Maksudmu apa?”
SUNG-JIN: “Baiklah, aku akan menjelaskannya. Aku tidak pernah menyuruh Shin-woo untuk mengakui kesalahanku, dia sendiri yang bersedia melakukannya.. dan itu karenamu--” 


Sung-jin menjual motor gedenya. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat aneh, mengingat tingkahnya yang sangat hobi balapan dan kebut-kebutan dengan mengendarai motor tersebut. 


Tetapi ternyata, dia punya alasannya tersendiri.. meskipun tak percacya sepenuhnya, tetapi dia memutuskan untuk menjualnya setelah mendengar perkataan Pak Kang yang menyebutkan bahwa dirinya akan mati karena motor tersebut.
Kala itu, Pak Kang mengatakan: “Kalau sikap seseorang bisa berubah, mungkin takdirnya pun akan berubah..”
----------------------------------------


Pak Kang terbaring lesu di kamarnya, dia menyadari bahwa sekarang adalah tanggal 30 September 2017, yang merupakan hari dimana insiden itu terjadi, “Hari ini, ibuku meninggal..”


Ji-soo berjalan seorang diri, dia teringat obrolannya dengan Sung-jin barusan.. yang membuatnya memgingat kembali, seberapa besar pengorbanan yang telah dilakukan Shin-woo untuknya selama ini. Bersamaan dengan itu, barulah dia membaca pesan daari Shin-woo. Dia langsung panik, dan berlari menuju tempat yang tertulis disana..


Akan tetapi, setibanya di tempat tersebut.. tak ada siapapun, dan hanya ada sebuah payung biru (milik Shin-woo) yang menutupi tas hadiah yang sengaja ditinggalkan Ji-soo disana sebelumnya...


Sedih.. seketika, tangan Ji-soo terasa lemah dan payung yang dipegangnya hampir temjatuh. Namun tiba-tiba, ada uluran tangan yang menegakkan kembali payung terebut..


Tentu saja, itu adalah tangannya Shin-woo.. dia muncul, dalam kondidi badan yang telah basah kuyup. Beberapa detik, mereka saling mnaetap satu sama lain, tanpa mengatakan apapun. Ji-soo memegangi dadanya, dai teringat kembali perkataan Pak Kang padanya.. dan detik itu, terasa harinya mulai berdegup kencang..


JI-SOO: “Daritadi, kamu menungguku dalam kondisi seperti ini? Seharusnya, kamu pergi saja kalau aku tak memberikan balasan, atau kamu bisa memintaku bertemu di lain waktu saja! Kenapa harus menunggu seperti ini?”
SHIN-WOO: “Tetapi, karena menunggu seperti ini, akhirnya kamu datang menemuiku. Pasti kamu kedinginan, ayo kita pergi ke tempat lain..”
Ji-soo meraih tangan Shin-woo, membuatnya meneduh dibawah payung yang sama dengannya. “Sebenarnya, apa yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Ji-soo


Ditempat lain, Pak Kang menelpon Shin-hee.. dia bertanya dimanakah ibu berada saat ini? Jawabannya agak mengejutkan, karena ternyata.. ibu pergi menaiki kapan ferri, katanya untuk menemui Pak Kang.
“Ah.. ti.. tidak.. kita harus bergegas! Akan ada sebuah insiden!” tutur Pak Kang dengan sangat gelisah. “Kali ini, bisakah aku menghentikan takdir.. yang melintas melewati sela-sela jariku bak angin lalu ???” gumamnya


----------------------------------------


Dalam kondisi panik, Pak Kang kemudian menelpon Shin-woo: “Kau dimana?! Ibu kita dalam bahaya!”
Shin-woo kebingungan, terlebih setelah mendengar kalimat ‘ibu kita’. Dia pun pamit pergi meninggalkan Ji-soo, tanpa menjelaskan apapun padahal Ji-soo bertanya, ada apa dengan ibunya Shin-woo?


“Kita bicara lagi nanti, setelah aku menyelesaikan masalah ini..” pinta Shin-woo
“Padahal, baru saja aku melihat ibumu tadi..” gumam Ji-soo


Disaat tengah terburu-buru, tak sengaja Pak Kang bertemu dengan Na-hee. Tanpa menjelaskan permasalahannya, dia pun langsung meminjam mobil tersebut..

Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Shin-woo dan langsung menyuruhnya untuk ikut bersama dengannya, “Sonsaeng-nim apa yang terjadi pada ibu anda?” tanya Shin-woo

“10 tahun yang lalu, ada sebuah insiden yang membuat kapal feri yang ditumpangi ibukku tenggelam..”  tutur Pak Kang

“Tapi, apa hubungannya kejadian 10 tahun yang lalu dengan sekarang?” tanya Shin-woo
“Hari ini, adalah hari dimana inside 10 tahun yang lalu itu terjadi.. dan ibu kita tenggelam dalam feri itu..” jawab Pak Kang
“Maksud anda apa?”


Pak Kang mengeluarkan ponselnya, dia menyuruh Shin-woo untuk membuka kucinya menggunakan sidik jarinya: “Itu adalah ponsel yang diproduksi 10 tahun mendatang..”
Shin-woo berhasil membuka ponsel tersebut, dan dia bingunga: “Kenapa bisa..?”
“Karena kita memiliki sidkk jari yang sama!”
“Apa?!?!?”
“Kamu masih belum mengenali siapa aku?”
Terdiam, Shin-woo teringat kembali momen dirinya bersama dengan Pak Kang dan itu membuatnya menggeleng keheranan, “Tidak mungkin.. ”
“Itu hal yang mungkin! Buktinya, sekarang aku berada dihadapanmu! Aku adalah dirimu, diusia 28 tahun...” tukas Pak Kang
“Lalu.. sekarang ibu kita...”
“Aku mencoba menghentikannya, namun semuanya berakhir sama seperti ini. Kau akan melihat wajah ini sepuasnya, 10 tahun mendatang. Jadi berhentilah menatapku dan berdoa saja untuk ibu! Berdoa, supaya segalanya berubah!!!” tutur Pak Kang


Sampai di dermaga, mereka langsung bertanya pada penjaga tiket.. apkah feri-nya sudah pergi? Dan ternyata.. memang sudah pergi, beberapa sata yang lalu.

“TIDAK! Anda harus menghentikan mereka! Sekarang juga! Karena sebenar lagi, akan ada insiden besar!” teriak Pak Kang

Bersamaan dengan itu, seisi kantor terlihat panik. Mereka baru saja menerima informasi, bahwa ada kapal lain yang bertabrakan dengan feri mereka.


Bergegas, Pak Kang berlari menuju pesisir laut, “Tidak! Aku tak bisa membiarkan ini terjadi!” teriaknya

“Mungkin, kali ini kejadiannya berbeda.. mungkin saja, ibu tak menaiki feri itu!” ujar Shin-woo

“Tidak! Aku tahu dia menaikinya.. karena hanya ada satu feri yang berlayar hari ini.. semuanya terjadi, persis seperti kala itu...” tukas Pak Kang yang kemudian berjalan menuju lautan. Shin-woo mencoba manahannya, tetapi Pak Kang menepisnya dan terus berjalan, kemudian melompat kedalam air: “Aku tak bisa membiarkannya pergi begitu saja, untuk yang kedua kalinya!”


Namun.. ketika berada dalam air, tiba-tiba Pak Kang merasakan sesuatu yang janggal. Dia pun bertanya-tanya: “Mengapa harus sekarang! Mengapa!!!!!”

EPILOG:


Ternyata, Pak Kang sangat sering mengunjungi kedai Ibu. Dia bilang, karena dirinya sangat menyukai masakan ibu.. disana, ibu sempat membuatkannya masakan spesial. Namun sayang, Pak Kang tak bisa memakannya, karena dia alergi kacang..

“Wah.. anda sangat mirip dengan Shin-woo. Bukan hanya nama, tapi wajah kalian pun agak mirip..” ujar Ibu


Ibu menanyakannya pada Shin-hee, namun Shin-hee tak sepemikiran dan menganggap perkataan ibu hanya mengada-ada saja. 


Bertemu dengan Shin-woo, Pak Kang kemudian mengajaknya bermain gamnes di mesin pinggri jalan. Disaat itulah, dia menasihati Shin-woo, menyuruhnya untuk bersikap baik pada ibu, bahkan sampai memberitahu mengenai nyeri lutut yang diderita ibu..

“Darimana anda mengetahuinya?” tanya Shin-woo

“Aku menemukan obat yang sama dengan yang dikonsumsi ibumu, dalam tas mendiang ibuku yang ternyata mengalami keluhan nyeri lutut..” jawab Pak Kang yang kemudian bersorak bahagia karena memenangkan permainannya

“Ah.. kau licik! Kau pasti mengatakan itu untuk mengalihkan perhatianku!” tukas Shin-woo

“Dasar nakal! Aku tak mungkin, menggunakan nama ibuku untuk berbhong!” ujar Pak Kang yang kemudian meminta Shin-woo untuk benar-benar membantu sang ibu


Kebetulan, ibu yang berada di sebrang jalan tengah sibuk menyapu jalanan depan kedai. Pak Kang, menjewer telinga Shin-woo lalu menyuruhnya untuk menyapu membantu ibu..
Comments


EmoticonEmoticon