1/30/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 7 PART 2

SINOPSIS Longing Heart Episode 7 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 7 Part 1

Selagi menunggu hasil pemeriksaannya keluar, Shin-woo dewasa bertanya pada Shin-woo remaja apa jangan-jangan dia sengaja terluka supaya dibawa kesini dan bisa bertemu dengan Ji-soo?

“Mana mungkin sengaja.. kau sendiri yang membuatku terluka!”
“Barusan kau menyebutku ‘kau’.. sekarang berbicara tidak sopan padaku!?”
“Lagian, kalau dipikir-pikir, tak ada alasan untukku memanggilnya dengan sebutan sonsaeng-nim lagi.. bagaimana pun juga dirimu adalah diriku. Benar ‘kan, Shin-woo yaa...”


Beberapa saat kemudian, Ji-soo datang.. dari hasil rontgen, ternyata memang ada sedikit keretakan pada tulang lengan. Dia pun memeberi pilihan, antara dirawat disini atau dirawat jalan saja..

“Dirawat saja..” celetuk Shin-wo remaja
“Tapi dari catatan, kamu tak memiliki asuransi kesehatan dan biaya rawatnya cukup mahal..” jelas Ji-soo
“Aku ingin dirawat..” ujar Shin-woo remaja
“Heh.. apa maumu sih!” keluh Shin-woo dewasa


“Kenapa wajah kalian sangat mirip? Apa kalian bersaudara?”
“Selain saudara.. dia juga muridku..”
“Murid?”
“Hmm.. kau belum cerita yaa? Sekarang aku telah menjadi seorang guru.. guru SMA tepatnya...”
“Tapi, nama dia siapa? Di data pasien, bahkan namanya ditulis anonim..”


Sejenak, saling menatap bingung.. spontan Shin-woo menjawab “Deok Goo, namanya Deok Goo.. dia tak mau mengatakannya, karena malu..”

Mendengarnya, membuat Ji-soo menahan tawa.. sementara Shin-wo remaja, berbisik.. menggerutu.. mengeluhkan bahwa nama itu adalah anama untuk anak anjing!


“Itu bukan namaku!” keluhnya, namun Shin-woo membekap mulutnya dan berkata, “Maaf yaa kalau dia ini kurang sopan.. selama ini, dia sekolah diluar negeri makanya dia tak punya asuransi kesehatan disini..”


Ji-soo bilang, Deok Goo bisa masuk ke ruang rawatnya setelah mendapatkan penanganan medis. Lalu Shin-woo bertanya, mengapa Ji-soo bisa ada disini?

“Karena.. sesuatu. Tapi jika ada kesempatan, aku pastikan untuk segera kembali ke Seoul lagi..” jawabnya
“Besok---”
“Maaf aku sibuk..” jawab Ji-so yang lanjut berjalan pergi untuk memeriksa pasiennya


Meskipun bersikap acuh, tapi sesaat kemudian Ji-soo melirik tempat Shin-woo tadi berdiri. Sayangnya, sekarang Shin-woo sudah tak ada disana..


Ketika Ji-soo berada di ruangannya, datang seorang suster yang bertanya apakah pasien boleh masuk? Ji-soo menjawab ya.. dan ternyata, paisen yang dimaksud adalah Shin-woo.


“Shin-woo yaaa...”
“Kenapa? Aku ini ‘kan, pasien juga.. kemarin aku kecelakaan mobil dan belum sempat diobati..”
“Mana? Mana bagian yang sakit?’
“Tapi, bisakah kamu duduk ditempatmu 5 menit saja.. kurasa dengan seperti itu, aku akan sembuh..”
“Aku sibuk..”
“Ayolah, aku hanya ingin melihatmu makan. Sekarang sudah lewat dari jamnya makan siang, tapi kamu belum makan apapun..”


Tibat-tiba, masuklah Joo-hwan.. dia datang untuk mengajak Ji-soo makan siang diluar. Tetapi Shin-woo melarangnya.. dan terjadilan perdebatan. Untung saja, muncul suster yang memberitahu, kalau seorang pasien ingin bertemu dengan ji-soo.


Sebelum pergi, Ji-soo memberikan makanan dari Shin-woo kepada Joo-hwan, “Sunbae, katanya kamu belum makan ‘kan...”


Shin-woo kesal, dia mengambil lagi makanannya, “Aku memebli ini bukan untuk diberikan padamu!”
“Lagian, aku juga sudah makan!” tukas Joo-hwan


Ternyata, psien yang ingin bertemu dengan Ji-soo adalah Shin-woo. Denga memanfaatkan kondisi tangannya, Shinwoo bilang kalau dirinya tak berselera makan, padahal dirinya harus makan obat, “Bisakah, anda makan di depanku supaya aku berselera makan?” pintanya


Ji-soo tersenyum, “Kamu mengingatkanku pada masa lalu.. ada seorang teman yang bersedia menghabiskan makananku” ucapnya
“Kalau begitu, anggap saja.. sekarang saatnya membayar hutang pada teman anda itu..”
“Baiklah, tapi kalau aku makan.. kamu juga harus makan yaa..”


Sambil makan, Ji-soo bertanya.. seperti apa sosok Shin-woo sebagai seorang guru? Apakah dia guru yang baik?
“Ya.. begitulah. Meskipun agak canggung untukku mengakuinya..”
“Baguslah.. karena, sebagai seorang teman dia pun orangnya sangat baik..”


Kemudian sambil menahan tawa, Ji-soo bertanya, “Apakah, namamu benar-benar Deok Goo?”
Melihat eskpresi Ji-soo, membuat Shin-woo berrkata: “Kurasa, nama ini tidak buruk juga..”
“Tapi.. kurasa nama itu terdengar cukup aneh, apalagi karena kamu tinggal diluar negeri..”


Tiba-tiba, muncullah Joo-hwan, “Wah.. ternyata kamu memiliki pasien yang sehebat ini.. sudah lama aku tak melihatmu tersenyum seperti itu..”
“Sunbae..”
“Eh, bukannya dia pria yang kemarin?”
“Iya.. hari ini dia masuk Rumah Sakit...”
“Aih.. kalau begitu, bolehkah aku cemburu pada pasienmu ini?”


Sambil berjalan keluar, Ji-soo berkata, “Sunbae.. dia itu anak SMA..”


Ketika berduaan saja, Joo-hwan memberitahu Ji-soo kalau besok dia telah mengosongkan jadwa mereka.
“Aku tidak mengambil cuti.. memangnya ada apa?”
“Hari itu cuman datang sekali setahun, tapi kamu selalu melupakannya.. besok adalah ulang tahunku!”
“Ah.. maaf sunbae..”
“Kamu ini yaa.. setiap tahun, selalu aku yang harus mengingatkanmu.. apa orang yang berulang tahun mesti selalu mengatakannya sendiri? Itu memalukan.. sekarang, kamu merasa bersalah ‘kan? Kalau begitu, temani aku dinner besok maka aku akan memaafkanmu..”


Dan tiba-tiba, muncullah Shin-woo.. dia memotong pembicaraan mereka dan mengatakan kalau tahun ini, Joo-hwan harus merayakan ulang tahunnya sendiiran. Dia kemudian, mengajak Ji-soo untuk datang ke pertemuan sahabt-sahabatnya esok hari..


Tetapi Ji-soo menolak, dia bilang.. dia tak mau bertemu dengan mereka. Mengingatkan lagi apa yang sempat dia katakan.. dia menegaskan bahwa kehadiran Shin-woo membuatnya merasa ak nyaman dan berharap supaya mereka tak akan berhubungan dalam bentuk apapun lagi..

“Tapi kenapa? Apa alasannya?”
Ji-soo tak mau menjawab hal itu, pokoknya.. dia menegaskan bahwa dirinya tak akan datang ke pertemuan besok.


Tak jauh darisana, tak sengaja Shin-woo remaja menguping pembicaraan mereka..


Di malam hari, dua Shin-woo mengobrol.. Shin-woo remaja, menyesalkan apa yang terjadi sekarang, “Jadi ini alasannya, kenapa kau sangat bersikeras menyuruhku untuk menyatakan perasaanku!”
“Makanya lebih baik kau kembali saja, karena mengetahui masa depan bukan hal yang baik untukmu!”


Lanjut berbicara tentang masa lalu, Shin-woo dewasa bertanya apakah ada hal yang jangga, ketika Shin-woo remaja bertemu dengan Ji-soo untuk yang terkahir kalinya dulu? Setelah mengingatnya.. Shin-woo rasa, tak ada sesuatu yang aneh.


“Lalu kenapa.. hari itu, menjadi terakhir kalinya, kita bemu dengan Ji-soo????”


Keesokan harinya, Shin-woo bermain basket seorang diri. Dia agak kesulitan, karena hanya bisa menggunakan satu tanganny saja.


Sementara itu, Ji-soo tengah duduk di bangku taman Tumah Sakit. Dia membaca sms dari Shin-woo lalu menerima telpon dari Joo-hwan yang memintanya untuk datang menemaninya merayakan ulang tahun. bahkan, dia menceritakan kisahnya yang sedih karena kesepian merayakan ultah seorang diri..


Tapi sepertinya, selain merayakan ultah ada hal lain yang ingin dia lakukan.. telrihat, dari sebuah kotak cincin yang tengah dipegangnya.
“Memangnya, sekarang kamu ada dimana, sunbae?”


Belum sempat dijawab, tiba-tiba.. sebuah bola basket menggelinding tepat di kaki Ji-soo dan membuat Ji-soo menutup telponnya, “Sunbae, nanti kutelpon lagi..” ucapnya


Mengetahui, bahwa Shin-woo yang tengah bermain basket.. Ji-soo pun memarhinya, “Kamu ini.. apa yang sedang kamu lakukan, dalam kondisi tangan seperti itu!”

Shin-woo malah tersenyum, “Mau kupinjamkan telinga? Itu adalah keahlianku..”
“Apa?”
“Kurasa sepertinya, bu dokter butuh seseorang yang mau meminjamkan telinganya untuk mendengarkan cerita anada..”
“Yang kukhawatirkan sekarang, adalah pasien yang tak mau mendengarkan apa kata dokter yang merawatnya..”


Ji-soo melempar bola basketnya pada Shin-woo, lalu Shin-woo berkata, “Kalau begitu, jadilah temanku. Kalau aku bisa memasukan (bola ke dalam ring) -nya, maka bu dokter akan menjadi temanku”


Shin-wo melemparnya dan berhasil masuk.. sekilas, momen itu, mengingatkan Ji-soo pada masa lalunya, yang sama persis seperti ini..


Mereka pun duduk, dan Ji-soo menceritakan keluh kesahnya. Shin-woo memrasa lega, karena akhirnya mendapatkan kepastian, bahwa Ji-soo tak berpacaran dengan Joo-hwan.

“Dia, hanya kakak tingkat yang sudah seperti kakakku sendiri..”
“Tapi mana ada, kakak yang bersikap sangat agresif seperti dia..”
“Subae itu.. selalu bertingkah seperti itu pada setiap wanita. Karana aku tahu, makanya aku bisa menghadapinya..”


Berikutnya, Shin-woo menyarankan Ji-soo untuk pergi menemui teman-temannya, “Apa mungkin, anda tidak mau kesana karena guruku (Shin-wo dewasa) ??”

“Hanya karena.. sekarang sudah 10 tahun berlalu. Lagipula, apa gunanya bertemu dengan mereka sekarang?? Kurasa, seiring dengan wakut.. perasaan juga ikut berlalu.”


“Bohong..” ucap Shin-woo yang tengah membuka buku Ji-soo dan menemukan fotonya semasa SMA, “Anda ingin bertemu dengan mereka. Katanya, buku ini sangat cocok untuk membuatmu tertidur.. jadi kurasa, kamu selalu membawanya bukan untuk membaccanya, tapi untuk melihat benda  (foto maksudnya) lain ‘kan..” 


Lagi-lagi perkataan Shin-woo membuat Ji-soo teringat kejadian di masa lalunya..


“Kalau anda merasa malu atau canggung untuk bertemu dengan mereka, aku akan menggantikanmu untuk menjadi pusat perhatian mereka...”
“Maksudmu?”
“Awalnya, anda terkejut karena aku sangat mirip dengan guruku saat masih muda dulu.. Kalau anda datang kesana bersamaku, maka mereka akan sibuk memerhatikanku.. jadi, ayo kita pergi untuk melakukan apa yang ingin anda lakukan..”
Comments


EmoticonEmoticon