1/30/2018

SINOPSIS Longing Heart Episode 7 PART 3

SINOPSIS Longing Heart Episode 7 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart Episode 7 Part 2

Malam hari, Shin-woo beserta teman-temannya berkumpul di sebuah kafe. Disana, So-ra menggerutu, memarahi Min-suk yang benar-benar berhenti dari pekerjaannya, hanya untuk menyalurkan hobinya yaitu menggambar.


Shin-woo dan Geun-dok tak bisa berbuat apapun.. mereka bergegas menyingkirkan barang-barang disekitar So-ra, karena tahu kalau So-ra akan melemparkannya pada Min-suk.
Min-suk sendiri dengan tengan, meminta So-ra untuk memberikannya kesempatan sekali ini saja...


Sambil merawat wajahnya dengan alat khusus, Geun-son berbisik pada Shin-woo, dia bertanya siapa satu orang lagi yang diundang olehnya?
Shin-woo melihat jam dan ponselnya.. sekarang waktu telah menunjukkan pukul setengah 8 malam, tapi belum ada kabar dari Ji-soo.


Ternyata, Ji-soo telah berada di depan pintu. Dia sempat ragu, dan akan berbalik pulang.. tetapi Shin-woo menahannya, “Setidaknya sudah sampai disini, sangat disayangkan kalah bu dokter tidak masuk kedalah..” ucapnya


Kedatangan Ji-soo benar-benar membuat semuanya terkejut.. ditambah lagi, karena dia datang bersama denga Shin-woo..


Pada Joo-hwan, sebelumnya Ji-soo telah mengirim pesan.. dia minta maaf karena tak bisa datang. Tak lupa, dia pun mengucapkan selamat ulang tahun.


Shin-woo dewasa menyeret Shin-woo remaja untuk mengobrol berdua dengannya. dia tak mengeti, kenapa Shin-woo datang kesini bersama dengan Ji-soo??

“Sudahlah.. lagipula, mereka semua percaya kalau kita ini saudara..”
“Tapi tetap saja!!!”
“Tak akan ada masalah apapun, percayalah padaku..”
“Hfftt.. kalau begitu, tutup mulutmu dan jangan mengatakan hal yang macam-macam..”
“Baiklah..”


Dari semua temannya, So-ra bersikap paling sinis pada Ji-soo.. dia masih merasa kesal, atas kepergian JI-soo yang sangat mendadak dan tanpa berita apapun. Sebelumnya, JI-soo sempat bilang tak akan sekolah keluar negeri, tapi tiba-tiba dia pergi.. hal itu lah yang membuat So-ra sangat jengkel, “Kamu datang dan pergi sesuka hatimu!”

“Maaf.. karena aku pergi tanpa memberitahu kalian. Dan maaf juga, karena butuh wakut lama untukku meminta maaf kepada kalian...”
“Terus apa alasannya kamu pergi dulu?” tanya Geun-dok


Belum sempat di jawab, datanglah duo Shin-woo yang seketika mengalihkan perhatian mereka semua. Tentu saja, kemiripan Shin-woo dan Shin-woo menjadi hal yang mereka pertanyakan.. tetapi atas alasan ‘keluarga’, mereka pun bisa membuat teman-temannya percaya.


Berikutnya, Shin-woo remaja yang bertanya ini itu pada temannya. Kepada So-ra dan Min-suk dia bertanya, “Kapan kalian menikah?”
“Kita lupa kapan kita menikah, yang jelas kita akan bercerai hari ini!” jawab So-ra dengan ketus
“Kenapa?”


“Orang dewa punya masalahnya tersendiri..” jawab Geun-dok
“Aku punya pertanyaan lain.. kamu ‘kan seorang aktor, mana bisa kamu menghafal naskah, disaat mengahafl perkalian saja hanya sampai perkalian 5?!”
“Siapa bilang! Setidaknya, aku hafal sampai perkalian 6!”


Niat hati ingin mendendang kaki Shin-woo supaya dia berhenti bertanya ini-itu, ternyata yang ditendangnya malah kaki Ji-soo.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Ji-soo
“Hah?! Maaf..” ucap Shin-woo yang kemudian berterimakasih karena Ji-soo telah bersedia untuk datang kesini.
“Tidak.. kamu memang benar. Aku ingin berterimakasih pada mereka, sebelum aku bertemu dengan mereka disini..”


Berikutnya, mereka bermain truth or dare.. beberapa saat berlalu dan botol selalu mengarah pada JI-soo. Sayangnya, Ji-soo selalu menolak memberi jawaban, hingga membuatnya minum banyak alkohol hingga dia mabuk.


Shin-woo ingin menghentikan permainan ini. Tapi lagi-lagi botol itu mengarah pada Ji-soo. Sebagai pertanyaan terakhir, Geun-sok meminta Ji-soo untuk menyebutkan nama pria yang menjadi cinta pertamanya..


Awalnya, Ji-soo seperti yang tak akan memberi jawaban.. namun kemudian dia menyebut nama ‘Kang Shin-woo’
Semua orang sempat kaget, tapi kemudian.. mereka mengira, bahwa Kang Shin-woo yang dimaksud Ji-soo adalah Pak Kang, yang merupakan wali kelas mereka semasa SMA


Tiba-tiba, Shin-woo mendapatkan telpon dari bu Guru Na-hee yang sepertinya tengah mabuk. spontan, Geun-dok bangkit dari tempat duduknya dan bertanya, “Bu Guru mabuk? Sekarang dia ada dimana?”
“Paling.. dia sedang bersama dengan pria pasangan kencan buta-nya..” jawab Shin-woo yang seketika membuat Geun-dok bergegas pergi


“Hey Shoo Geun-dok! Ada dua orang yang mabuk berat an kau pergi begitu saja?!” keluh So-ra
“Lagian.. ada mereka..” ujar Geunsok, yang kemudian menyurhu Shin-woo dewasa untuk mengurus JI-soo dan Shin-woo remaja untuk mengurus Min-suk


Tak diduga, ternyata pasangan kencan buta Na-hee terlihat begitu tua. Selain itu, sikapnya sangat ‘urakan’.. dia mengajak Na-hee untuk segera menikah, dan mengatakan keingannya untuk memiliki 3 orang anak. Na-hee terlihat sangat tidak nyaman..


Dan tiba-tiba, muncullah Geun-dok. Meskippun selalu terlihat kekanakan, namun kali ini caranya memperlakukan Na-hee sangatlah ‘gentle’  


Berikutnya, mereka pulang.. Na-hee berjalan sangat cepat, meninggalkan Geun-dok yang terus berusaha merayunya. Hingga pada akhirnya, Geun-dok tertinggal dan sempat kehilangan jejak Na-hee..


Tapi terdengar suara isak tangis perempuan, dan ternyata itu adalah Na-hee yang tengah jongkok sendirian di pojokan, “Kenapa, aku selalu bertemu dengan pria yang salah..” keluhnya
“Mungkin.. supaya kamu hanya jatuh cinta kepadaku..” jawab Geun-dok yang kemudian meminta NA-hee untuk berhenti mencari pria lain dan memilih untuk bersama dengannya yang memiliki banyak uang dan mobil sport yang keren..


Sayangnya, Na-hee mengatakan kalau yang dia inginkan bukan mobil sport maha. Dia hany aingin, bersama dengan pria dengan mobil sederhana tapi nyaman. Dan mengenai Geun-dok, Na-hee bilang.. dirinya benci fakta bahwa Geun-dok lebih muda darinya.. apalagi karena Geun-sok adalah seorang aktor dan itu membuatnya merasa rendah ini..

“Kenapa kamu yang merasa rendah dirinya?Harusnya juga aku.. karena aku lebih mencintaimu, makanya aku akan selalu merasa lebih rendah dihadapanmu..” tutur Geun-dok


Shin-woo telah sampai dirumahnya So-ra.. dia ingin bertemu dengan anak So-ra, tapi mereka tengah berada di rumah neneknya. Alhasil, Shin-woo hanya bisa melihat foto mereka...


Setelah menidurkan Min-suk di kamar, So-ra duduk berdua dengan Shin-woo dan mereka mengobrol.. Shin-woo bertanya apa salahanya jika seseorang ingin mengejar impiannya?
Memposisikan diirnya sebagai orang yang lebih tua, So-ra malah meminta Shin-woo untuk tidak bermimpi terlalu besar, “Karena mimpi bahagia itu, suatu saat bisa berubah jadi racun untuk orang-orang disekelilingmu.. sama hal-nya dengan pernikahan, awalnysa saja bahagia.. tapi lama-lama kamu akan membenci pasangannu, bahkan sampai ingin membunuhnya.. pokoknya, jalani hidupmu dengan baik dan jangan berakhir seperti Min-suk..”


Tapi kemudian, Shin-woo bilang bahwa dirinya tidak bertanya tentang Min-suk.. dia bertanya tentang diri So-ra, “Kudengar, semasa SMA.. noona adalah orang yang sangat senang menata rambut orang lain dan mendandani mereka..”


Mengambil foto semasa SMA yang terselip di bingkat foto keluarga, Shin-woo menunjuk foto So-ra, “Wajah dirimu yang sekarang berbeda dengan yang dulu..”
“Iyalah.. sekarang, aku sudah tua..”
“Bukan itu maksudku.. mata kalian berbeda. Dulu, mata noona terlihat sangat bersinar, tidak seperti sekarang..” ujar Shin-woo yang kemudian pamit pergi


Sendirian, So-ra teringat masa lalu.. ketika dia sendiri, yang meminta Minsuk untuk tidak menyerah pada impiannya..


Sambil berjalan pergi, Shin-woo bergumama, “Menjadi dewasa.. sepertinya, hal yang sangat sulit..”


Karena kondisi Ji-soo yang mabuk berat, akhirnya Shin-woo harus pulang dengan cara menggendongnya. Namun ditengah jalan, langkahnya terhenti, karena Ji-soo memanggilnya dengan sebutan ‘sonsaeng-nim..’
“Bukan.. ” ucap Shin-woo yang kemudian menurunkan Ji-soo dari gendongannya.


“Lihatlah baik-baik.. aku bukan gurumu. Waktu itu, banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu tapi aku tak bisa mengatakannya, karena aku adalah gurumu!” tutur Shin-woo dengan usara yang bergetar


Ji-soo yang masih berada dibawah pengaruh alkohol. Kekeh mengatakan kalau Shin-woo adalah gurunya, “Setidaknya.. jawab saja iya. Lagipula ini hanya mimpiku..”
“Baik.. lakukan itu. Panggil saja aku ‘sonsang-nim’..” ucap Shin-woo dengan pasrah


Ji-soo memeluknya, “Aku sangat merindukanmu, sonsaeng-nim..” cuapnya sambil tersenyum
Comments


EmoticonEmoticon