1/28/2018

SINOPSIS Mother Episode 1 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 1 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 1

Seorang diri, Hye-na duduk di pinggir jalan sambil membaca brosur. Kali ini, brosur dari restoran Yoon Bok.. dia eja, satu per-satu menu makanan yang tertulis disana, ‘kari dan nasi’, ‘omelete’, ‘donkatsu’, ‘tteobokki pedas’, ‘rabeokki’.. Dan sama seperti sebelumnya, kali ini dia pun seakan membanggakan kemampuannya itu kepada hamster-nya, “Lihat, aku pandai membaca ‘kan..”


Kebetulan, Soo-jin yang dalam perjalanan pulang... melewati jalanan tempat Hye-na berada. Dia pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri Hye-na, “Anak kecil, harusnya tidak boleh keluar jam segini!“ ujarnya


Soo-jin membawa Hye-na kerumahnya, dia terus menelpon Ja-young tapi tak ada jawaban. Hye-na sendiri, tengah sibuk memerhatikan biskuit.. dia pun minta izin Soo-jin, apakah dirinya boleh memberikan biskuit itu untuk Jjing?

“Ya silahkan..” jawab Soo-jin
Hye-na patahkan biskuit itu sedikit, lalu memberikannya pada Jjing, dan ditangannya masih tersisa sedikit lagi, “Sayang sekali... bolehkah aku memakannya?”
Soo-jin tak menjawabnya, dia berjalan menuju dapur meninggalkan Hye-na yang dengan lahap menghabiskan biskuit tersebut..


Di dapur, Soo-jin memasak.. sementara itu, Hye-na asyik melihat-lihat benda disekitarnya. Tiba-tiba, dia pun bercerita: “Aku tak pandai membaca buku.. ”
“Kenapa?” tanya Soo-jin
“Karena aku tak bisa membaca dengan cepat..” jawab Hye-na
“Benarkah? Bu guru tak tahu hal itu..”


Kemudian, Hye-na menunjukkan brosur Restoran Yoon Bok yang telah lusuh, “Maka dari itu, setiap hari, aku terus belajar..” ucapnya dengan bangga


Makanan telah siap, Hye-na dengan lahap menyantap nasi kari yang dibuatkan Soo-jin, “Ibuku juga pandai memasak..” ujarnya
“Iyakah? Apa masakan ibumu yang paling enak?” tanya Soo-jin


Hye-na terdiam sejenak, lalu dia menyebutkan seluruh menu yang dia baca dari brosur restoran Yoon Bok, “Nasi kari, omelete, donkatsu.. kedengarannya enak, bukan? Terus.. dia juga bisa masak tteokbokki, rabeokki..”
“Kamu pasti sangat senang, karena ibumu pandai memasak..”
“Ya! Dan ibukku juga sangat cantik!”
“Benarkah?”
“Dia pandai berdandan, dan dia bekerja di toko kosmetik. Makanya dia harum.. tapi, kenapa bu Guru tak pernah menggunakan riasan apapun?”
“Ibuku juga sangat cantik dan dia juga pandai berdandan. Waktu masih kecil ketika melihat ibuku berdandan, aku berpikir.. mustahil aku bisa melakukannya. Akhirnya aku menyerah saja..”
“Bu guru tidak mau jadi seperti ibunya bu guru?”
Sejenak diam, lalu Soo-jin menjawab, “Ya..”
“Apa bu guru.. membenci ibunya bu guru?”
“Hmm...”
“Lantas, hal apa yang bu guru suka?”
“Burung...”


Selesai makan, Soo-jin menemani Hye-na yang belajar membaca menggunakan buku mengenai burung. Sebagai tambahan, Soo-jin sedikit bercerita mengenai burung,


“Burung-burung yang bermigrasi, terbang menyebrangi samudera melakukan perjalanan yang terkadang jaraknya lebih dari puluhan kilometer. Namun mereka tidak pernah tersesat. Hujan atau salju, siang atau malam, mereka terbang diatas lautan yang dingin  tanpa peta atau petunjuk apapun. Karena dalam otaknya, telah tersimpan petanya sendiri...”


Hye-na takjub dia pun bertanya: “Menurut  Bu Guru, bagaimana rrasanya terbang sejauh itu?”
Soo-jin malah balik bertanya, “Mau bertemu dengan mereka? Buung-burung yang bermigrasi.. ”
“Kapan????”
“Kalau sekarang terlalu dingin. Tapi kalau kita tidur dulu, lalu membawa selimut dan beberapa makanan hangat--”


Wajah Hye-na berubah sedih, “Tapi ibuku... mungkin akan mengkhawatirkanku” ucapnya pilu
Bersamaan dengan itu, ponsel Soo-jin berdering. Ibunya Hye-na menelpon, mengatakan bahwa dirinya telah berada dirumah *dari tadi juga ada dirumah kan!!!*. Saat bersiap pulang, tak sengaja Hye-na menjatuhkan catatannya di rumah Soo-jin.


Ketika mereka sampai di depan rumah Hye-na, Seol-ak berjalan keluar dan mereka berpapasan. Sejenak Soo-jin menatap mata Seol-ak, lalu melihat Hye-na yang tengah meringkuk seakan ketakutan. 


Tapi kemudian, Hye-na kembali tersenyum.... sebelum turun dari mobil, dia mengucapkan terimakasih dan tak lupa mengatakan bahwa dirinya sangat ingin melihat migrasi burung. 
Setelah Hye-na pergi, Soo-jin terlihat gugup.. terbayang dalam pikirannya, runtutan kejadian ketika seorang anak kecil disiksa.. dan sebuah tatapan mata dari seorang pria misterius, yang kurang lebih peris sama dengan tatapan mata Seol-ak barusan.


Bergegas, Soo-jin pergi ke kantornya.. kepada Eun-chul dia minta tolong, dia menuliskan alamat Hye-na, lalu berkata “Nanti kutelpon, jadi apa kamu bisa pastikan kalau dia baik-baik saja?” 
“Memangnya apa yang harus kupastikan?”
Dengan suara gemetar, Soo-jin menjawab: “Dia pergi sekolah dan pulang dengan selamat.... Entahlah, pokoknya firasatku bilang, akan ada hal buruk yang tejadi padanya...”
“Dia muridmu?”
“Ya..”
“Terus kenapa?”
“Aku khawatir.. aku sangat khawatir, sampai membuatku ingin marah rasanya! Aku melihat pria yang tinggal dirumahnya. Ini pertama kalinya aku melihat dia, tapi tatapannya.. adalah tatapan seorang monster yang tega menganiaya wanita dan anak-anak..” tutut Soo-jin


Keesokan harinya, Soo-jin menyampaikan kepindahannya itu pada pihak sekolah. Ye-eun berkomentar, menyebut pekerjaan Soo-jin sangat cocok dengan kepribadiannya yang dingin dan menyeramkan.


Sepulang sekolah, Soo-jin berteriak memanggil Hye-na. Tetapi Hye-na malah berlari menjauhinya. Tai tiba-tiba, langkahnya terhenti dan dia berbalik menghadap Soo-jin, “Bu guru, kupikir aku bisa melihat migrasi burung bersama denganmu..” ucapnya dengan suara penuh kekecewaan


Duduk menyendiri, Hye-na menikmatii udara siang hari sambil melihat burung-burng yang terbang di langit. Setelah puas, dia pun berjalan pulang.


Akan tetapi, betapa terkejutnya dia ketika melihat kandang hamster-nya telah ditumpuk di tempat sampah, namun ada Jjing disana. ketika ibunya keluar, Hye-na bertanya: “Jjing dimana?”


“Jjing sudah pergi ke surga! Lebih bagus seperti itu, daripada dikurung ‘kan!”
“Tapi bu, Surga itu.. tidak ada..”
“Bukan ibu yang melakukannya!”


Ketika tengah mengenap bukunya, tak sengaja Yoo-jin melihat catatan ‘kebahagiaan’ milik Hye-na yang tertinggal disana. Sambil duduk, dia pun membacanya: ‘jalanan miring dan melengkung’, ‘koper yang ada rodanya’, ‘suara Jjing yang memakan biji bunga matahari’, ‘suara terjangan ombak’, ‘angin yang berhembus sebelum hujan’, ‘saat menatap mata kucing‘, ‘saat balon semakin membesar’, ‘jalan menuju lautan’, ‘bayangan matahari di air laut’, ‘saat ibu memelukku erat’, ‘kopi latte’, ‘pertama kalinya melihat Bu Soo-jin tersenyum’


Bersamaan dengan itu, Hye-na tengah mengalami hal yang bertolak belakang dengan apa yang disebut ‘kebahagiaan’. Seol-ak membuka koper tempat Hye-na tertidur, lalu menatapnya dan berkata: “Kau menangis? Kau tak menangis? Kalau menangis, kau akan mati! Kalau air matamu sampai jatuh, kau akan mati! Kalau kau menimbulkan suara sekecil apapun, kau akan mati!”


Setelah berusaha tegar, perlahan mata Hye-na mulai berkaca-kaca lalu berlinanglah air matanya karena teringat sosok Jjing yang telah menjadi sahabatnya selama ini. Spontan, Seol-ak langsung menjambak rambut Hye-na dan menyeretnya hingga ke tengah rumah.


“Kubilang, apa yang aku lakukan pada anak yang membuat masalah?” tanya Seol-ak
Dengan suara bergetar, Hye-na menjawab: “Tapi paman.. kita tinggal dilantai satu. Jatuh dari lantai satu.. tak akan membunuhku...”


Seol-ak tertawa, “Mau kuceitakan apa yang terjadi pada Jjing?” ucapnya yang kemudian mencekik lelher Hye-na, “Aku mendorongnya dengan sangat kuat, seperti ini. Sangat kuat, hingga matanya membengkak seperti mata udang dan keluar dari kepalanya. Lalu keluar cairan bercampur darah, yang melekat dan lengket seperti air liur...” jelasnya *hffftttt?!?!?!?!*


Setelah cekikannya dia lepas.. Hye-na batuk-batuk karena sesak. Tapi kemudian, Seol-ak mengambil kosmetik milik Ja-young.. dia menyebut Hye-na terlihat kotor, lalu secara paksa dia memakaikan lipstick di bibir Hye-na dan menyemprotkan parfum ke badan Hye-na, kemudian dia mengendus Hye-na dalam jarak yang sangat dekat *OH NOOOO!!!*. Hye-na bergetar ketakutan, hingga dia tak bisa mengatakan apapun..


Bersamaan dengan itu, muncullah Ja-young.. dia melihat apa yang tengah dilakukan Seol-ak, dan Hye-na melihatnya lalu berlari padanya, “Ibu..” teriaknya


Tetapi dengan sangat keras, Ja-young malah memukul Hye-na hingga terjatuh, “Menjijikan.. kotor sekali!” ucapnya yang kemudian menghapus lipstick di bibir Hye-ba dengan cara yang begitu kasar. 


Beberapa saat kemudian, kita melihat Ja-young dan Seol-ak menaiki mobil untuk pergi menonton ke bioskop. Hanya ada mereka berdua, tanpa anda Hye-na disana..


Soo-jin mengunjungi rumah Hye-na untuk mengembalikan buku catatannya. Tetapi didepan gerbang dia melihat sebuah kresek hitam yang mencurigakan, yang secara tiba-tiba terlihat sebuah senter yang menyala didalamnya. 


Bergegas, Soo-jin membuka kresek tersebut.... dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok Hye-na dalam kondisi yang sangat lemah didalam sana. Tangisnya pecah, dia pun teringat kilasan momen mengerikan ketika seoang pria menampar seorang gadis kecil (dirinya sendiri?)


Bergelut dengan traumanya sendiri, Soo-jin memotret bekas-bekas luka di sekujur tubuh Hye-na yang kini telah dia bawa kerumahnya. Berulang kali, Soo-jin mengucap kata ‘maaf’ dengan suara yang bergetar..


“Hye-na yaa.. mau minum? Kamu mau makan apa? Kamu mau kopi latte?”
Dengan suara lemahnya, Hye-na berkata: “Aku.. ingin pergi melihat burung bermigrasi, bu Guru..”


Esok paginya, Soo-jin membawa Hye-na ke tempat mereka bisa melihat burung yang bermigrasi. Sambil duduk dibalut selimut, Hye-na menceritakan sebuah rahasia dan Yoo-jin merekamnya,
“Namanya.. Lee Hwan. Saat dia tinggal bersama paman dan ibu, dia terlalu berisik, jadi paman mendorongnya dari balkon. Tapi apartemen itu, ada di lantai empat...”
“Kamu tak perlu memberithukan itu pada bu guru, jangan menceritakan hal yang menakutkan..” ucap Soo-jin
Tapi Hye-na tetap melanjutkan ceritanya,, “Saat itu, dia berusia lima tahun. Dia meninggal, bahkan sebelum dia menjadi anak SD. Dia pernah sekolah di TK Long Legs, dan berada di kelas Ongdalsaem. Jadi aku menuliskan namanya di buku catatanku.. walau semia teman sekelas dan gurunya lupa dengan namanya, tapi aku tak akan pernah melupakannya, karena satu-satunya orang yang tahu bagaimana dia bisa meninggal, hanyalah aku. Paman bilang, kalau aku menceirtakan hal ini pada orang lain, maka dia akan membunuhku..”


Melihat sekawanan burung bermigrasi yang terbang di atas langkit, sseketika membuat Hye-na yang lemas lansgung bangkit dan berkari.. dia sempat memeungut sehelai bulu burung berwarna putih yang terjatuh di tanah, lalu dia berjalan menrobos terjangan ombak..


“Hey kalian! Kalian mau pergi kemana? Tidak bisakah, aku ikut bersama dengan kalian? Ajak aku juga! Jauh.. sangat jauh! Hingga ke surga!” teriak Hye-na dengan mata yang berkaca-kaca

Panik, Soo-jin berlari menghampirnya... dia mengajaknya berlari kembali menuju daratan lalau memeluknya erat, “Hye-na yaa.. dengarkan bu guru baik-baik. Ibu akan membawamu pergi, ke tempat yang beribu-riibu kilometer jauhnya, dimana tak akan ada orang yang akan menemukanmu”
“Kalau begitu, bukankah bu guru akan dipenjara?”
“Mungkin saja..”
“Jangan, bu Guru!”
“Kamu harus ikut bersama ibu, karena dengan begitu kamu tak akan pernah bisa kembali kesini. Dan kamu tak akan bisa bertemu dengan ibumu lagi. Tapi jika kamu pulang ke rumah, suatu saat nanti nasibmu akan berakhir seperti Lee Hwan..”


Kemudian, Hye-na bertanya: “Bukankah, seorang anak tak bisa hidup tanpa ibunya?”
“Pasti bisa! Dan bu guru akan membantumu supaya kamu bisa!”


“Ibuku membuangku ke tempat sampah!” ujar Hye-na yang tak kuasa menahan tangisnya lagi
Soo-jin menatapnya, “Maka sekarang, kamu akan menjadi orang yang mengusir ibumu. Kamu bisa ‘kan?” ucapnya yang kemudian mendekap Hye-na dalam pelukannya dengan sangat erat.


Advertisement

3 comments

Whuaa... Bkin bnjir air mta br d ep 1. Betapa Hye Na mncoba brthan mndapt prlkuan ksar sperti itu. Sedih..sakit hati liat nya hye na dgtuin. Keep going ya chingu bkin snopsis nya.. Mksh..

Trus dlanjut... kyaknya film ini bkin dag dig dug nangis jg,,, garapan TVn emg salut...

Ya allah sedih bgt ,bagus dramsnya


EmoticonEmoticon