1/08/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 36 PART 1

SINOPSIS My Golden Life Episode 36 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 35 Part 3
Ibu No memanggilnya Eun Seok, kemudian dia meralatnya menjadi Ji An. Ji An masih diam saja. Sepertinya dia bingung, kenapa Ibu No menyapanya seperti itu, bukannya memarahinya. “Lama tak berjumpa,” kata Ibu No.


Ji An kemudian membalas sapaannya dengan menundukkan kepalanya. Ibu No bertanya apakah Ji An ada di daerah tersebut untuk menemui Ji Soo. Ji An mengatakan bahwa dia bekerja paruh waktu di sana.


Ibu No: “Bekerja paruh waktu?”
Ji An: “Ya.”
Ibu No: “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bekerja paruh waktu?”
Flashback..


Ibu No mengingat saat Ji Soo meminta maaf karena ia adalah anak kandung di keluarga mereka.

Ji An pamit pergi dengan masih menundukkan kepalanya. Ibu No bertanya apakah Ji An hidup dengan miskin karena perkataannya dulu. “Kau harusnya bekerja di restoran ibumu. Kenapa? Kau tidak mau bekerja disana. Kau bilang kau sedang bekerja. Ini bukan keselahanmu. Carilah pekerjaan normal apapun. Aku tidak akan menghentikanmu. Aku hanya marah saat itu,” kata Ibu No.


Tangan Ji An bergetar dan dia hampir menangis. Ibu No kemudian pergi dan berkata akan menemui Ji Soo.


Ji An berjalan terburu-buru, lalu bersandar di dinding untuk mengatur napasnya. Ji An baru tahu kalau ibunya bekerja di restoran. Ji An lalu bertanya dimana restoran ibu pada Ji Ho melalui pesan. 


Ji Soo kembali bekerja sambil melamun, kemudian dia mendengar suara pintu dibuka dan terkejut karena yang datang adalah ibunya.


Ibu melihat Bos Kang sedang digandeng oleh Woo Hee. Ia juga mendengar kalau Wpo Hee mengatakan tidak sabar untuk pindah kesana. Dan Ibu No melihat ada pria lain disana yaitu Hyuk. Mereka lalu keluar meninggalkan Ji Soo bersama Ibu No yang mereka kira adalah pelanggan.


Ji Soo bertanya kenapa ibunya datang kesana. Smabil tersenyum Ibu No mengatakan bahwa dia hanya ingin melihat putrinya bekerja. Ibu mengajak Ji Soo makan malam bersama, tapi Ji Soo bilang ia ada jadwal Bahasa Prancis.


Bos Kang kembali ke dalam dan Ibu No memberikan satu buah roti padanya untuk dibungkus.


Ibu No masuk ke dalam mobil, lalu menghubungi Ibu Min. Ia menegurnya, karena seharusnya Bu Min mengecek teman-teman pemilik Toko Roti juga.


Bu Min: “Apa ada yang salah?”
Ibu No: “Cek teman-teman Pemilik Toko lagi. Dia punya adik ipar yang seumuran dengan Ji Soo.”


Do Kyung bertemu seseorang yang bersedia menjadwalkan presentasi untuknya. Orang itu merasa proyeknya bagus karena bisnisnya ramah lingkungan. Do Kyung berkata ia akan kembali lagi setelah menyiapkan presentasinya.


Ibu yang sedang memberi instruksi pada pegawainya, dikejutkan dengan kedatangan Ji An.


“Ji An..” sapa ibu bahagia. Tapi nampaknya Ji An masih marah pada ibu. Dengan datar, Ji An mengajak ibunya untuk bicara.


Ji An: “Bagaimana ibu bisa terus menjalankan restoran ini? Aku tidak berpikir kau akan melakukannya.”
Ibu: “Aku disini hanya sampai mereka menemukan pemilik baru. Sudah sejak lama, aku mengatakan pada mereka aku tidak menginginkan ini.”
Ji An: “Kenapa kau menunggu sampai mereka menemukan pemilik baru?”


Ibu mengatakan semua itu demi Ji An. Karena Ibu No mengatakan padanya bahwa dia akan merusak hidup Ji An, jadi ia melakukan apa yang Ibu No minta. Tapi Ji An tidak bisa menerima alasan itu.


Ji An: “Sampai kapan kau akan menyembunyikan hal itu?”
Ibu: “Ketika aku ke Kantor Polisi, aku melihatmu. Aku menerima pesan, yang mengatakan kau ada disana. Aku mengikutimu selama satu jam. Tetapi kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik.”


Ibu menangis dan menyesali perbuatannya, tapi Ji An berkata kalau dia datang bukan untuk mendengar alasan lama itu. Ia sangat ingin agar ibu melepaskan restoran itu. Ibu berkata ia akan berhenti setelah mendapat pemilik baru.


Ibu: “Ji An, tidak bisakah kau pulang ke rumah? Aku mohon. Aku ingin hidup bersamamu lagi.”
Ji An: “Belum bisa.”
Ibu: “Lalu kapan kau akan kembali? Aku membayar apa yang sudah aku lakukan pada Ji Soo. Dia juga tidak menjawab atau menghubungiku.”
Ji An: “Kenapa dia harus melakukannya? Dia kehilangan 25 tahun hidupnya karena ibu dan dia hampir kehilangan orang tuanya karena diriku.”


Ji An mengatakan bahwa Ji Soo hidup dengan baik, jadi jika ibu menyesali perbuatannya, maka ibu harus melupakan Ji Soo. Ibu juga mengingatkan Ji An untuk mencari pekerjaan. Ji An bilang ibunya tidak perlu mengkhawatirkannya, karena ia bisa hidup dengan baik tanpa pekerjaan di perusahaan. 


Ji An pulang ke rumah kos dan melihat Do Kyung sedang sibuk dengan laptop di meja makan. Ji An menatapnya, tapi tidak menyapanya.


Do Kyung melihat Ji An dan tanpa ditanya ia menjelaskan bahwa ia sedang membuat presentasi untuk seorang calon investor. “Benarkah?” tanya Ji An.


Do Kyung meminta bantuan Ji An untuk mengecek presentasinya, karena sebelumnya ia tidak pernah membuatnya. Dulu, ia menyuruh pegawainya untuk melakukan itu. Ji An menolak, karena dia juga punya pekerjaan sendiri.


Ji An mulai mendesain, tapi ia tidak bisa konsentrasi. Ia akhirnya keluar kamar.


Ia langsung duduk di samping Do Kyung dan minta diperlihatkan presentasinya. Ia melihat proposalnya dan mengatakan akan membacanya dulu.


Do Kyung sangat senang dan mengucapkan terima kasih pada Ji An. Ji An hanya menganggukkan kepalanya.


Selesai membaca, ia mengoreksi  dari mulai font, warna, foto dan memberikan solusinya. Do Kyung terus saja menatap Ji An sambil tersenyum. “Pandangan ke layar,” kata Ji An.


Do Kyung: “Kau mau aku kembali ke rumah kan?”
Ji An: “Kau tahu dengan baik.”
Do Kyung: “Lalu kenapa kau membantuku?”
Ji An: “Aku tidak mau kau kembali kesana karena kau gagal. Selain itu, kau juga membantuku ketika aku mulai tinggal bersama keluargamu dulu.”


Ibu tidak bisa tidur. Ia kemudian memberitahu ayah kalau Ji An menemuinya tadi. Ayah tiba-tiba merasa kesakitan, lalu berlari ke kamar mandi. Ibu mengikutinya.


Ibu khawatir dan meminta ayah minum obat. Tapi ayah bilang dia sudah minum obat dan sekarang baik-baik saja. Ia menyuruh ibu kembali masuk ke kamar.


Ji Tae bangun keesokan harinya, tapi Soo sudah tidak ada di sampingnya. Ia mengecek ponselnya dan membaca pesan kalau Soo A berangkat bekerja lebih awal.


Ayah pergi ke rumah lamanya. Ia mengetahui kalau pemiliknya meninggal dan sekarang rumahnya kosong. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa bulan disana.


Pak Choi kembali mengunjungi dokter, tapi kali ini bukan temannya. Ia bilang kurang nyaman jika harus bercerita pada temannya sendiri.


Dokter: “Bisa kau ceritakan apa yang kau rasakan?”
Pak Choi: “Aku merasa ada bom di dalam diriku. Aku merasa tidak bisa melakukan apapun. Aku merasa tidak kompeten. Aku tidak tahu kenapa aku hidup. Aku tidak tahu bagaimana menjalankan sisa hidupku.”


Pak Choi berusaha menahan tangisnya.


Ayah mulai membersihkan kamarnya. Ia juga menempelkan koran sebagai penutup jendela. Dan mengganti alas lantainya. Ayah tampak puas.


Sementara itu, Ji Ho dan Seo Hyun melakukan survey lokasi restoran. Pemilik mengatakan bahwa jalan dan area disana ramai. Tapi Seo Hyun mengeluhkan tempatnya yang lusuh.


Pemilik mengatakan bahwa Seo Hyun harus memikirkan budget yang dimiliki kekasihnya. Dengan bersamaan, Seo Hyun dan Ji Ho berteriak kalau mereka bukan sepasang kekasih.


Pemilik mengatakan bahwa saat apartemen yang ada di dekat sana jadi, maka harganya akan restorannya akan meningkat. Ji Ho mengerti, tapi ia tetap aka mengecek lokasi lain.


Seo Hyun bertanya kenapa Ji Ho tidak memulai bisnis sendiri tapi malah mengambil alih bisnis lain. JiHo menjawab itu karena mengambil alih bisnis biayanya jauh lebih efisien daripada memulai dari nol.


Soo A tampak bersiap akan pergi, tapi Ji Tae meneleponnya dan mengajaknya makan siang bersama. Soo A beralasan kalau dia sedang sangat sibuk. Soo A mengatakan bahwa dia sudah menjadwalkan untuk operasi pekan depan di hari libur Ji Tae.


“Apa?!” tanya Ji Tae yang ternyata sudah ada di hadapan Soo A. Soo A lalu mengajaknya keluar.


Soo A bilang ia tidak mau bertengkar dengan Ji Tae. Ji Tae mengajak Soo A pindah ke kota yang lebih kecil. Alasan utama mereka tidak bisa membesarkan anak adalah karena tingginya biaya hiduo di Seoul.


Ji Tae: “Tapi jika kita pindah, biaya hidup pun akan lebih rendah. Kita bisa hidup bahagia. Dan kita bisa mempertahankan bayinya.”
Soo A: “Semua orang ingin pindah ke Seoul. Kenapa kita malah melarikan diri?”
Ji Tae: “Kita tidak melarikan diri, ini hanya pilihan. Kantorku punya cabang di sebuah kota kecil..”
Soo A: “Tidak.”


Ji Tae bilang bahwa bayi juga manusia yang punya detak jantung. Ia juga memperlihatkan foto seorang bayi lucu pada Soo A.


“Ayo kita bercerai,” kata Soo A. Ji Tae shock. Ia tidak menyangka responnya akan seperti itu. Soo A bercerita bahwa orang tua yang miskin tidak bisa memberikan cinta yang seutuhnya, jadi dia memutuskan untuk mencintai dirinya saja. “Maaf, tapi ini keputusanku. Disinilah cintaku berakhir. Maafkan aku.”


Ji Tae: “Bercerai?”
Soo A: “Poin pertama pernikahan kita sudah dilanggar, kita tidak akan punya anak. Dan poin yang ketiga, kita akan berpisah jika kita menginginkannya.”


Ji Tae tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Di kantor Haesung, kakek meminta Ibu No agar membawakan semua proposal yang Do Kyung buat bersama Tim Perencanaan.


Ibu No: “Apa ayah pikir Do Kyung akan memulai bisnisnya sendiri?”
Kakek: “Kau harus mengurus dengan baik Keluarga Jang. Aku akan melakukan segalanya untuk membawa Do Kyung kembali.”

1 komentar

  1. Waduhhh so a plisss jngan gugurin babynya 😱😱 tambah penasarannn .. Up nya plisss hehe

    BalasHapus


EmoticonEmoticon