1/14/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 37 PART 2

SINOPSIS My Golden Life Episode 37 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 37 Part 1
Woo Hee keluar dari kamar dan melihat suaminya, Bos Kang, sedang memasak. Ia takut Bos Kang tiba-tiba pergi. “Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan berada di tempat yang bisa kau lihat,” kata Bos Kang dan membuat Woo Hee tersipu.


Woo Hee menggelitik perut Bos Kang dan berkata akan membuat sarapan besok dan melarang Bos Kang bangun lebih dulu daripadanya.


“Ah hentikan, ini geli. Ini sangat geli,” kata Bos Kang sambil menjatuhkan dirinya ke lantai. Padahal Woo Hee sudah tidak menggelitiknya lagi. Bos Kang sadar, lalu berdiri dan berkata dengan serius, “Ayo kita makan.” Woo Hee hanya tersenyum geli.


Ji Soo datang ke toko dan Bos Kang memujinya sebagai asisten yang baik, karena datang lebih awal. Bos Kang meminta Ji Soo mengemas roti yang akan matang sebentar lagi, karena dia akan mengantar Woo Hee ke cafe. Woo Hee berjanji akan membuatkan kopi sebagai gantinya.


Ji Soo: “Jangan khawatir dan nikmati saja kencan pagi kalian.”
Bos Kang: “Thank you..”

Woo Hee lalu mengingatkan Bos Kang untuk memakai jaket musim dinginnya. “Aku iri pada mereka,” gumam Ji Soo sambil tersenyum. Lalu terdengar suara pintu dibukna, “Kami belum buka...” Ucapan Ji Soo terhenti, karena yang datang adalah Hyuk.


Hyuk: “Hyung tidak ada.”
Ji Soo: “Dia mengantar Woo Hee ke cafe.”
Hyuk: “Jadi kita bisa bicara disini. Aku tidak mengerti. Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini padaku, Ji Soo?”


Ji Soo bertanya apa yang dia lakukan. Hyuk berkata, “Kau bilang kau tidak menyukaiku. Kenapa kau mengatakan itu? Aku selalu bersikap sama. Apa aku melakukan kesalahan padamu?” Ji Soo menyebut Hyuk sangat lambat dalam berpikir, padahal dia sudah bilang kalau dia tidak punya alasan apapun. Hyuk mendekati Ji Soo.  Ji Soo hanya bisa mundur sedikit, karena di belakangnya ada meja kasir.


“Tidak. Itu ada alasannya,” kata Hyuk. “Perasaan orang tidak berubah dalam semalam.”


Ji Soo berkata, “Itu karena aku sudah punya pacar. Itulah kenapa aku tidak menyukaimu. Aku tidak tertarik padamu. Menurutku kau adalah orang yang baik.” Dia menjawab sambil terkadang memejamkan matanya dan menghindari tatapan Hyuk.


Hyuk: “Kau sudah punya pacar?”
Ji Soo: “Ya. Dia sudah lama mengejarku. Ngomong-ngomong Tuan Sunwoo, apakah salah jika gadis sepertiku tidak menyukaimu?”


Suara oven berbunyi, sehingga itu menjadi alasan Ji Soo untuk meninggalkan Hyuk. Hyuk terdiam dan menatap Ji Soo dari belakang dan terlihat sedih.


Pak Choi bertanya apakah Ibu No tidak akan berangkat ke kantor. Ibu No merasa Do Kyung akan datang. “Dia tidak bisa datang ke kantor, jadi aku rasa dia akan datang ke rumah,” kata Ibu No. Lalu ponselnya berbunyi. “Ini Do Kyung. Dia menggunakan ponselnya lagi.” Pak Choi tetap akan ke kantor, karena ada rapat.


Do Kyung: “Aku datang.”
Ibu No: “Dia bilang tidak tertarik padamu sama sekali. Tapi dia langsung menghubungimu bukan?”


Do Kyung lalu duduk dan mengatakan bahwa bukan Ji An yang memberitahunya, melainkan seseorang di cafe. Do Kyung bertanya bagaimana ibunya bisa tahu tentang ini.


Ibu No bilang bahwa Ji An mengatakan bahwa dia bisa mengetahui segala hal. “Apa kau tidak tahu?” tanya Ibu No. “Apa kau tidak tahu apa yang Ji An tahu?”


Do Kyung tahu Ji An tidak menerimanya, tapi ia tetap meninggalkan rumah, itu pasti mengejutkan bagi ibunya. Dia ingin hidup mandiri, bisa menghasilkan uang sendiri, dan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi bahagia,


Ibu No bertanya, “Apa kau akan tetap melakukannya walaupun tanpa Ji An?.” Do Kyung tersentak. “Apa kau akan kelur dari rumah jika bukan karena Ji An?” Do Kyung masih diam saja. “Apa kau akan tetap mencari cara untuk behagia jika bukan untuk Ji An?”


“Tidak. Aku ingin melakukannya bersama Ji An,” jawab Do Kyung yakin.


Ibu No merasa diperolok oleh anaknya sendiri. Do Kyung mengingatkan kalau dulu ibunya menerima dan menyukai Ji An. “Itu karena aku pikir dia adalah putriku!” teriak Ibu No. “Aku menyukainya ketika dia putriku. Tapi putri siapa dia? Dia putri Seo Tae Soo dan Yang Mi Jung.”


Do Kyung: “Tapi itu bukan salah Ji An.”
Ibu No: “Apa?”
Do Kyung: “Tolong pikirkan tentang Ji An-nya saja.”
Ibu No: “Seo Ji An saja? Kenapa aku harus melakukannya? Dia bahkan tidak pantas disebut namanya.”


“Dia menjadi sangat berharga bagiku,” kata Do Kyung.


Ibu No bertanya apakah Do Kyung berhasil memenangkan hati Ji An dan apakah mereka sudah menjalin hubungan. Ibu No kemudian menirukan ucapan Ji An, “Aku tidak mengerti kenapa Do Kyung meninggalkan rumah, walaupun tidak ada apa-apa diantara kami. Jadi berhenti berteriak kepadaku dan tinggal dengan putramu. Aku tidak pernah memikirkannya dan tidak akan pernah memikirkannya. Tidak ada yang aku inginkan darinya. Dan terutama aku tidak ingin bersama dengan keluargamu lagi.”


Do Kyung mengehela napasnya. Ibu No bilang Ji An sudah menolak keluarganya dan bersikap kasar, bahkan berkata dengan lancar tanpa terintimidasi. Ibu No menduga bisa saja itu adalah rencana mereka. Do Kyung berkata ia tidak akan pernah melakukan itu.


Ibu No tidak terima kalau putranya yang merupakan pewaris Haesung, harus meninggalkan segalanya demi cinta sepihaknya. “Apa kau benar putraku, Do Kyung?” Ibu berkata agar Do Kyung segera memperbaiki keadaan sebelum kakeknya tahu.


Do Kyung meminta ibunya agar tidak menemui Ji An lagi. Do Kyung lalu berpamitan.


Do Kyung berjalan pulang dan memikirkan ucapan Ji An yang disampaikan oleh Ibu No. Ia sedih karena Ji An terdengar seperti benar-benar tidak menginginkannya.


Ji An membaca poster Kontes Desain dimana pemenangnya akan mendapat pembiayaan kuliah. Ia lalu menerima telepon dari Do Kyung.


Do Kyung: “Aku baru saja bertemu ibuku. Apa yang kau katakan padanya?”
Ji An: “Aku yakin ibumu sudah mengatakannya.”
Do Kyung: “Jadi, kau sungguh-sungguh mengatakan bahwa kita tidak punya hubungan apa-apa dan tidak akan pernah ada yang akan terjadi di masa depan?”
Ji An: “Itulah yang aku rasakan.”


Do Kyung bertanya tidak bisakah Ji An percaya padanya. Dia berkata berusaha keras melakukan itu semua karena Ji An. Ji An bilang ia tahu itu, tapi ia tetap tidak bisa memahami kenapa ia harus melakukannya juga.


Do Kyung: “Karena kau menyukaiku juga.”
Ji An: “Aku menyukaimu, tapi aku tidak akan melakukan apapun denganmu.”
Do Kyung: “Aku ada disini. Kenapa kau tidak bisa melakukan itu? Aku ada disini untuk melindungimu.”


“Apa yang ingin kau lakukan denganku? Apa kau ingin menikahiku?” tanya Ji An. Do Kyung mengiyakan. “Ini konyol.” Ji An bilang ia sudah tidak mau menjadi bagian dari keluarga Do Kyung lagi.


Do Kyung meminta Ji An meraih tangannya dan percaya padanya. Ji An bertanya kenapa dia harus percaya pada Do Kyung dan kenapa dia harus meraih tangan Do Kyung padahak itu sudah jelas tak dapat diraih.


Ji An: “Kenapa? Karena kau kaya? Aku tidak membutuhkannya. Aku tidak menyukainya karena kau kaya. Aku mulai bahagia sekarang.”
Do Kyung: “Kau bahagia karena memotong kayu di workshop? Bagaimana itu bisa membuatmu bahagia?”


Ji An bilang ia serius dan tidak akan menerima Do Kyung. Ia lalu pergi dengan alasan harus kembali bekerja.


Do Kyung merasa sangat sedih. Apa dia putus asa ya untuk mendapatkan hadiah Ji An?’


Di luar cafe, Ji An menatap Do Kyung yang masih duduk di cafe.


Ji An juga sama sedihnya.


Ayah kembali ke rumah lamanya dan memasang tulisan yang berbunyi, “Namaku Seo Tae Soo. Aku harap ini tidak pernah terjadi, tapi jika kau melihatku jatuh di lantai, tolong hubungi Rumah Sakit Hyangrim atau Nyonya Yang Mi Jung.”


Ji Tae menerima telepon dari Seok Do yang mengatakan bahwa ayah bersikap aneh. Seok Do memberitahu tentang ayah yang sering sakit perut dan muntah. Dia mengatakan bahwa ayah menunjukkan tanda-tanda kanker perut, jadi Ji Tae harus membawanya ke rumah sakit. Ji Tae mengerti.


Hae Ja melihat ayah yang sedang menahan sakit perut di depan tangga rumahnya. Tapi ayah bilang ia baik-baik saja. Dia juga melarangnya untuk menghubungi 911, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah.


Ji Soo mengintip ibu yang sedang bekerja di restoran. Ia menatapnya dengan sedih, namun di sisi lain dia bahagia karena bisa melihat ibunya.


Hae Ja menghubungi ibu. Awalnya juga ia tidak percaya saat suaminya menduga ayah terkema kanker, tapi sekarang ia melihat sendiri ayah sedang berjongkok menahan sakit di luar gerbang rumah.


“Dia.. Dia menunjukkan tanda-tanda kanker yang sama dengan Seok Do?” tanya ibu khawatir.


Ji Soo menatap bangunan restoran, “Ibu penuh semangat. Dia akan baik-baik saja tanpaku.”


Tiba-tiba seseorang menabrak Ji Soo dari belakang karena terburu-buru. Orang itu kemudian langsung masuk ke dalam taksi. “Oh, ibu? Kenapa dia tidak mengenaliku?”


Ayah tidur sampai malam. Saat keluar, ia melihat ibu dan Ji Tae, bahkan Ji Ho juga ada disana. Ayah bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Ibu bilang itu semua karena ayah dan memintanya duduk.


Ji Tae memberitahu ayah kalau Seok Do menghubunginya dan mengabarkan kondisi kesehatan ayah. Ayah bilang Seok Do hanya mengada-ada. Tapi Ji Tae bilang, Ji Ho, ibu dan Hae Ja juga melihat ayah yang sakit perut dan muntah. 


Ayah tetap mengelak dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Ia juga menolak saat Ji Tae mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit dan berbohong kalau sudah periksa kesehatan karena akan melaut.


Ji Tae: “Ayah sudah check-up?”
Ayah: “Ya.”
JI Tae: “Kalau begitu, tunjukkan hasil tesnya.”
Ayah: “Apa?”
Ji Tae: “Aku ingin lihat apakah hasil tesnya valid.”


Ayah menolak menunjukkannya. “Kalau begitu, tunjukkan saja padaku,” pinta ibu. Ayah tetap tidak mau. Ayah lalu bertanya kenapa mereka peduli padanya.


Ayah meminta mereka be rhenti mengurusi urusannya. Ayah juga tidak akan meminta mereka membayar biaya pengobatannya. Ayah kembali salah paham dan mulai marah lagi. Ia meminta mereka agar tidak mengurusi hidupnya.


Ayah kemudian kembali ke kamar. Ji Ho heran kenapa ayah tidak menunjukkan hasil tesnya saja.


Ibu: “Apa kau sungguh akan tetap marah sampai kau pergi?”
Ayah: “Kenapa aku peduli? Kau tidak berarti bagiku sekarang. Ketika pasangan kehilangan kepercayaan, maka kita seperti orang asing.”
Ibu: “Sayang, aku bilang aku menyesal.”


Ayah tidak peduli, dan tetap memainkan gitarnya. [crstl]

1 komentar


EmoticonEmoticon