1/16/2018

SINOPSIS My Golden Life Episode 38 PART 3

SINOPSIS My Golden Life Episode 38 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Golden Life Episode 38 Part 2
Di lantai atas, Seo Hyun sedang menikmati musik klasik. Tapi kemudian ia mendesah dan mematikan musiknya. “Ah, aku butuh musik beat. Apa dia sangat sibuk?” gumamnya. Ia mengecek ponselnya dan tak disangka Ji Ho meneleponnya. “Halo?”


Ji Ho: “Hey, Cinderella. Keluarlah.”
Seo Hyun: “Sekarang? Hey, kau ada di klub?”


Seo Hyun menyusul Ji Ho ke klub. Seo Hyun sangat terkejut melihat Ji Ho sedang menari dan mabuk. “Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau kesini untuk minum bukan bekerja?” tanya Seo Hyun. Tapi Ji Ho tidak mendengarnya, jadi ia memukul kakinya.


“Hai, Cinderella. Apa yang kau lakukan disini?” JI Ho lupa kalau dialah yang menghubungi Seo Hyun. Menurutnya Cinderella harus pulang saat tengah malam, jadi tidak mungkin dia menghubungi Seo Hyun. Kemudian tubuhnya terhuyung, Ji Ho mabuk berat dan hampir muntah.


Seo Hyun membawanya keluar klub dan membelikan Ji Ho obat. “Cinderella memberiku racun,” kata Ji Ho. Seo Hyun menyuruhnya berhenti bicara omong kosong dan meminum obatnya.


Seo Hyun meminta Ji Ho menceritakan masalahnya. Seo Hyun bertanya apakah itu tentang usaha franchise-nya. “Ya. Aku harus segera menyelesaikannya. Aku harus menghasilkan banyak uang. Tapi bagaimana jika ayahku mati sebelum itu terjadi?”


Seo Hyun: “Apa dia sakit?”
Ji Ho: “Tunggu saja. Aku akan menjadi sangat kaya. Orang tuaku tidak perlu mengkhawatirkan biaya rumah sakit.”


Ji Ho berdiri dengan terhuyung. “Tunggu saja! CEO Seo Ji Ho segera datang! Ayo pergi!” Kemudian Ji Ho terjatuh dan Seo Hyun berteriak.


Seo Hyun membawa Ji Ho pulang ke kamar kosnya. Ji Ho masih saja mengigau. Seo Hyun melihat kamar Ji Ho dan merasa tempatnya menarik. Dia kemudian iseng mengetuk dindingnya. “Hey! Kau tidak sendirian disini!” teriak orang dari kamar sebelah. Seo Hyun ketakutan dan bergegas pergi.


Pak Choi pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia bahkan terjatuh. Ibu No sangat terkejut. Supir Park lalu membawa Pak Choi ke dalam kamar.


Ibu No: “Mandilah.”
Pak Choi: “Tidak mau.”
Ibu No: “Kau tidak bisa melakukan ini di depan para pelayan.”
Pak Choi: “Hey, No Myung Hee. Kenapa kita menikah?”
Ibu No: “Mandilah saja.”


Pak Choi mengulangi pertanyaannya. Pak Choi berkata bahwa dia menikah karena ingin menjadi Ketua, tapi kakek mengujinya terlalu lama. Ia lalu tertidur.


Ibu No kehabisan kata-kata.


Hyuk sebelumnya mendapat kabar dari Ji An bahwa dia akan menginap di rumah keluarganya dan berjanji akan memberitahu kondisi ayahnya esok hari. Ia kemudian memberitahu Do Kyung, kalau Ji An akan menginap di rumahnya orangtuanya.“Aku tidak tanya,” kata Do Kyung tidak peduli. Hyuk kemudian ke kamar mandi, dan Nona Yang turun dari lantai dua.


Nona Yang: “Kau bermuka dua. Kau dan Ji An saling masuk ke kamar di malam hari.”
Do Kyung: “Apa maksudmu?”
Nona Yang: “Apa kau berpura-pura di depan saksi? Kau tidak bisa melakukannya disini. Kau mendapat kartu kuning. Sekali lagi dilakukan, maka kau akan mendapat kartu merah. Kau harus keluar dari sini nanti.”


“Siapa melakukan apa pada malam hari?” gumam Do Kyung tidak mengerti.


“Itu bukan mimpi? Apa dia merawatku sepanjang malam? Hhh...”


Ji An merenungi semua perkataan buruknya kepada ayah. Ia menangis mengingat itu semua, “Ayah...”


Di kamarnya, Ji Tae juga merasakan kesedihan yang sama. Ia menyesali semua perkataan kasarnya kepada ayah. Belum lagi Soo A yang tidak ada disampingnya.


Ji Tae membuka hadiah yang ayah berikan kepada Soo A. Isinya adalah sebuah kalung.


Ji Tae membuka sebuah kotak lagi, dan isinya ternyata adalah gelang bayi. “Gelang bayi? Bagaimana ayah tahu?” Ji Tae kemudian membuka sebuah surat yang juga ada disana.


“Soo A, aku tidak memberimu perhiasan saat kau menikah. Aku minta maaf karena aku memberikannya saat aku pergi. Ada saat-saat dalam hidup ini kau merasa jatuh. Dan yang bisa menguatkanmu bisa saja anak-anakmu. Jika kau diberkahi anak seperti itu, maka berikan mereka ini.” Ji Tae menangis, “Ayah..”


Ibu mengajak ayah bicara, tapi ayah menolak. “Maafkan aku. Semua yang kulakukan salah.” Ayah bertanya apa yang ibu lakukan. “Aku memojokkanmu dan memaksa Ji An pergi. Aku juga menerima restoran sebagai imbalannya. Dan aku bahkan tidak tahu kalau kau sakit. Maafkan aku.”


Ayah mengerti tapi dia meminta bantuan ibu, yaitu agar ibu tidak menjadi penghalang bagi anak-anaknya.


Ayah berkata bahwa dia meminta maaf karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik sesuai janjinya dulu. “Pernikahan adalah tentang kepercayaan, bukan hanya hidup bersama. Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku siap untuk pergi,” kata ayah.


Ayah kembali berbaring dan ibu menangis tanpa bersuara.


Ibu kemudian pergi ke kamar dan mandi dan menumpah kesedihannya. Dadanya terasa sangat sesak.


Esok harinya pagi-pagi sekali, ayah pergi dengan membawa gitar dan tasnya. Ia meninggalkan pesan, “Aku pergi untuk hidup sendirian. Kau akan mendapatkan telepon jika saatnya tiba. Jangan khawatirkan aku.”


“Ji An.. Ji Tae...” panggil ibu dengan panik. Ji An dan Ji Tae terburu-buru turun dari lantai 2. “Ayah kalian pergi. Aku tidur larut dan terlambat bangun. Dia bahkan membawa gitarnya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Ji Tae menyesal karena harusnya ia tidur bersama ayah. Ji An menghubungi ponsel ayah, namun tidak aktif.


Ayah sudah sampai di rumah lamanya.


Di bus dalam perjalanan kembali ke rumah kos, Ji An menangis lagi. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Do Kyung: “Seo Ji An. Apa kau datang ke kamarku dua malam lalu? Apa kau merawatku?”
Ji An: “Aku membawakanmu obat-obatan, karena kupikir kau membutuhkannya.”
Do Kyung: “Lalu kau pergi begitu saja? Kau mengompresku dengan kain basah.”
Ji An: “Demammu parah.”


Do Kyung: “Kenapa kau peduli? Kau seharusnya tidak peduli kalau aku demam atau aku mati karena demam itu. Kau harusnya tidak peduli.”
Ji An: “Aku melakukannya sebagai teman satu kos. Jika ada orang lain yang sakit, aku juga akan melakukan hal yang sama.”
Do Kyung: “Kau lupa. Aku tidak suka jika ada orang yang masuk ke ruang pribadiku.”


Ji An bertanya kenapa Do Kyung belum pulang ke rumahnya. “Siapa yang bilang aku akan kembali ke rumah, jika aku denganmu berakhir? Aku sudah bilang. Kebebasanku bukan hanya tentangmu. Aku tidak akan pulang, sampai aku menjadi mandiri. Seo Ji An, sekarang ini bukan tentangmu lagi.”


Do Kyung heran kenapa Ji An tampak kacau padahal ia menginap di rumah keluarganya. “Dia terlihat seperti baru menangis,” gumam Do Kyung.


Ji Tae menelepon ibu. Ibu bilang ia belum berhasil menemukan keberadaan ayah. “Kalau begitu, temui aku di rumah sakit,” kata Ji Tae.


Ayah memainkan gitar di teras rumah lamanya.


Ayah makan sendirian, dan perutnya sakit lagi. Ia meminum obat sakit perut.


Keluarga menunggu hasil pemeriksaan dengan cemas.


Ji Tae: “Bagaimana hasilnya?”
Dokter: “Seo Tae Soo tidak mengidap kanker perut.”
Ibu: “Itu bukan kanker?”
Dokter: “Bukan. Hasil pemeriksaannya negatif.”
Ji Tae: “Lalu kenapa dia muntah, perutnya sakit dan muntah darah?”


Dokter: “Ada yang disebut hypochondriasis, yaitu orang yang terlalu khawatir jika dirinya mengidap kanker, biasanya menunjukkan gejala yang persis sama.”
Ibu: “Hypochondriasis?”
Dokter: “Tapi dalam kasus Seo Tae Soo berbeda. Itu kanker imajiner (khayalan).”
Ji An: “Kanker imajiner?” [crstl]


4 komentar

  1. Makasih ya..sinopsis nya,
    D tunggu kelanjutan y.

    BalasHapus
  2. Adakah ahli yang bisa memberikan keterangan lanjut tentang diaknosis dokternya?? 😁😁 #penasaran soalnya hehe 😆😆

    BalasHapus
  3. Penasaran,, ditunggu terus updatenya

    BalasHapus


EmoticonEmoticon