1/02/2018

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 22 PART 2

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 22 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Nothing to Lose Episode 22 Part 1
Eui Hyun masuk ke ruangannya dan melihat Jung Joo sedang mengacak-acak rambutnya.
“Rambutmu tidak berbuat salah.”


Jung Joo memberitahu apa yang disampaikan oleh prof Yoo.
“Jika keadaan memburuk, permohonan akan ditolak lagi. Senator Do membuat Kim Ik Chul menarik kembali pernyataannya. Itu bukti terkuat yang kumiliki.”
Jung Joo mengambil mantelnya dan langusng pergi.
“Hakim Lee...” Eui Hyun akan berbicara tapi ada telepon dari ayahnya.


Eui Hyun menemui ayahnya di luar.
“Ini pakaian dalam dan kemejamu. Ayah ingin meninggalkannya di mejamu, tapi ayah ingin bertemu denganmu.”
“Kenapa Ayah tidak masuk sebentar?”
“Tidak. Hakim Lee, yang berada di ruanganmu, terkait dengan kasus yang ayah bela. Kembalilah bekerja. Ayah pergi dahulu.”
“Ayah.”
“Jika ingin membantu Hakim Lee, kamu harus menyiapkan diri sepenuhnya.”


Jung Joo masuk ke kamr perawatan Kim Ik Chul, tapi ruangan itu kosong. Perawat memberitahunya bahwa Kim Ik Chul dipindahkan ke ICU karena keadaannya memburuk.


Jin Se Ra datang ke kantor mencari Eui Hyun, tapi ruangannya kosong. Dia membawa sesuatu untuk Eui Hyun, lalu duduk di kursinya.

Eui Hyun tidak membawa ponselnya, saat Jung Joo menelepon Se Ra menerima teleponnya.
“Hakim Lee, ini Jin Se Ra.”
“Nona Jin. Di mana Hakim Sah?”
“Dia pasti sedang pergi sebentar. Haruskah kusuruh Eui Hyun menghubungimu kembali?”
“Tidak, aku akan menghubunginya lagi. Sampai jumpa.”


Saat Eui Hyun kembali ke ruagannya, Se Ra memberitahu kalau Jung Joo meneleponnya.
“Halo, oppa.”
“Kenapa kamu datang kemari?”
“Aku datang untuk menemuimu. Hakim Lee baru saja menghubungimu. Kalian saling bicara di akhir pekan?”
“Seperti yang kamu lihat, kami juga bekerja di akhir pekan.”
Eui Hyun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Jung Joo.
“Kurasa tidak mendesak. Dia bilang akan menghubungimu lagi.”
“Kamu menjawab teleponku?”
“Ya, kenapa? Tidak boleh?”


“Mulai sekarang, jangan menjawab telepon orang lain.”
“Orang lain? Aku tahu aku bukan pacarmu, tapi kamu menganggapku adikmu.”
“Panggilan telepon itu pribadi. Jadi, hargai privasiku.”
“Oppa, kamu menyukai Hakim Lee? Kamu menyukainya sebagai wanita?”
“Itu sebabnya kamu datang kemari saat aku bertugas?”
“Tidak, tapi urusan ini baru saja menjadi penting. Jawab pertanyaanku.”
“Aku akan beri tahu Hakim Lee dahulu jika akan menjawab pertanyaanmu.”


Eui Hyun berjalan melewati Se Ra dan duduk di kursinya.
“Katakan kenapa kamu kemari. Aku harus kembali bekerja. Buatlah sesingkat mungkin.”
“Oppa...”


Jung Joo datang ke rumah Jang Soon Bok dia melihat Yong Soo sedang berlatih untu berbicara di persidangan besok.


Eui Hyun menunggu Jung Joo di dekat rumahnya.
“Hakim Sah.”
“Halo, Hakim Lee.”
“Kenapa kamu kemari?”
“Aku sedikit khawatir. Kamu juga tidak menjawab teleponku.”
“Aku tadi bersama Yong Soo, makanya panggilanmu terlewatkan. Aku juga merasa bersalah.”
“Se Ra adalah orang yang kuajar. Dia muridku. Aku kebetulan bertemu dengannya di Sekolah Hukum Harvard, maka...”
“Apa aku bertanya?”
“Kamu bilang merasa bersalah.”
“Aku hanya memikirkan apakah menyuruh Yong Soo bersaksi keputusan benar.”
“Apa? Benarkah itu? Aku pamit kalau begitu.”


Eui Hyun merasa malu dan jadi salah tingkah. Dia akan masuk mobil tapi menuju sisi yang salah. Lalu berbalik lagi menuju sisi kemudi.


Jung Joo bertanya lagi padanya.
“Kamu merasa bersalah soal apa?”
“Tidak ada. Aku tidak lagi merasa bersalah.”
“Ada apa?”
Mereka berdua menjadi diam karena mendengar perut Jung Joo berbunyi.
“Kamu belum makan?”
“Belum. Sebenarnya...”
“Ingin kutemani? Aku tahu tempat makan udon lezat di dekat sini.”
“Kamu hanya akan menemaniku, meski sudah makan?”
“Ya. Kamu tidak ingin kutemani?”
“Ayo.”


Eui Hyun memperhatikan Jung Joo yang makan dengan sangat lahap. Jung Joo melihat Eui Hyun tidak menghabiskan makanannya lalu menawarkan akan membantu menghabiskan makanan Eui Hyun. Eui Hyun lalu memberikan makanannya pada Jung Joo.


Setelah selesai makan, Jung Joo kembali berbicara dengan Eui Hyun.
“Kamu pernah mengajar Se Ra?”
“Tadi kamu bilang tidak peduli.”
“Aku tidak peduli apa pun saat lapar. Tapi setelah kenyang, aku tertarik.”
“Aku tidak suka menjadi renungan. Bagaimana persiapan sidangnya?”
“Biasa saja. Kita harus menanyai Yong Soo dengan cermat agar pengadilan menerima fakta bahwa Ga Young memanggil kakakku dengan nama depannya.”
“Setelah Han Joon tahu dia bisa membongkar kasus ini, dia tidak akan diam saja.”
“Aku berjanji kepada Profesor Yoo akan melakukan apa pun agar dia tidak ikut campur.”
“Mari berusaha sebisa kita bagaimanapun caranya.”


Permohonan Sidang Ulang Choi Kyung Ho, Hari Kedua Sidang.
Jung Joo berbicara kepada Yong Soo yang menjadi saksi.
“Para hakim setuju mengizinkan ibu Anda duduk di samping Anda, maka dengarkan dengan saksama dan jawab dengan nyaman. Seo Yong Soo, Anda mengenal Choi Kyung Ho, bukan?”
“Kyung Ho dan saya akrab. Kyung Ho diperlakukan tidak adil.”
“Anda juga mengenal Kim Ga Young, bukan?”
“Ga Young dan saya akrab. Ga Young... Berikan sepatu kets Ga Young kepadaku!”
Tiba-tiba Yong Soo tidak bisa mengendalikan dinya. 
“Yong Soo, kita bicarakan sepatu ketsnya nanti.”
“Sepatu kets Ga Young! Sepatu kets Ga Young!”
“Yong Soo, tidak apa-apa.” Jang Soon Bok menenangkan Yong Soo, lalu mengangguk pada Jung Joo. Jung Joo pun kembali bertanya pada Yong Soo.
“Apa Ga Young mengenal Kyung Ho?”
“Kami juga makan ramen bersama.”
“Apa panggilan Ga Young untuk Kyung Ho?”
“Ga Young memanggil Kyung Ho dengan nama depannya.”
“Dia memanggilnya dengan nama depan? Terima kasih. Tidak ada lagi pertanyaan.”


Hakim Seo bertanya pada Yong Soo.
“Saksi. Saksi? Seo Yong Soo?” Yong Soo sepertinya tidak mengerti saat hakim Seo memanggilnya, setelah hakim Seo mengetuk meja Yong Soo bisa menjawabnya.
“Ya.”
Jung Joo berdiri dan berbicara pada Hakim Seo. “Yang Mulia. Saksi tampak sangat gugup.” 
“Saya hanya akan menanyakan hal sederhana. Seo Yong Soo?”
“Ya.”
“Apa Kim Ga Young pernah memanggil Choi Kyung Ho "Pak D"?”
Yong Soo tidak menjawab, dia hanya menggerak-gerakkan kepalanya dengan tidak yakin.
“Itu ya atau tidak?” Hakim Seo berbicara dengan pelan karena bingung melihat jawaban Yong Soo.


Hakim Seo kembali bertanya dan semakin membuat Yong Soo gugup. Setelah Jang Soon Bok menenangkannya, dia bisa menjawab.
“Apa jawabannya tidak? Jika berbohong di sini, Anda akan terkena masalah. Dia memanggil demikian atau tidak?”
“Saya tidak tahu.”
“Anda tidak tahu? Kita akan akhiri pemeriksaannya di sini.”


“Pemohon.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Anda menyerahkan banyak bukti dan menanyakan banyak saksi selama sidang permohonan sidang ulang. Jika tidak ada lagi yang diajukan, kita akhiri di sini.”
“Yang Mulia, jika Anda mengizinkan satu sidang lagi...”
“Anda sudah berbuat lebih dari cukup sebagai pemohon. Kita akhiri di sini.”


Han Joon masuk ke ruang sidang dan berbicara dengan hakim Seo. Tidak lama setelah Han Joon masuk, Eui Hyun juga masuk ke ruang sidang dan duduk di kursi.
“Yang Mulia. Saya Do Han Joon, jaksa dari Kejaksaan Wilayah Seoul. Saya akan bersaksi bahwa Choi Kyung Ho tidak bersalah.”
“Apa?”
“Saya adalah putra Do Jin Myung, yang bersaksi pada sidang pertama.”
“Tepatnya, Anda akan bersaksi soal apa?”
“Saya tidak bisa mengatakannya sekarang. Saya akan mengatakannya sebagai saksi. Saya yakin dalam pengadilan pidana, saksi bisa ditambah saat sidang untuk mengungkap kebenaran.”
“Itu benar, tapi... Kami ingin ada catatan bahwa pemohon memintanya. Pemohon? Anda ingin memanggil Do Han Joon sebagai saksi?”
Jung Joo hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan hakim Seo.
“Jika pemohon menolak memanggil Anda sebagai saksi...”
“Tidak. Dia akan setuju.”
Jung Joo masih diam saja dan memandang Han Joon.
“Kami berasumsi pemohon tidak ingin memanggil saksi.”


Jung Joo memotong ucapan hakim Seo.
“Saya akan memanggilnya.”
Hakim Seo kembali berbicara “Jika pihak penuntut tidak keberatan, Do Han Joon akan menjadi saksi, dan...”
“Bukan Do Han Joon. Saya memanggil Sah Eui Hyun sebagai saksi.”
“Apa?”
“Saya memanggil Sah Eui Hyun, yang duduk di ruang sidang, sebagai saksi.”
Comments


EmoticonEmoticon