1/02/2018

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 24 PART 1

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 24 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Nothing to Lose Episode 23 Part 2
Hakim Oh memberikan selamapat pada Jung Joo karena permohonan sidang ulang Choi Kyung Hoo dikabulkan.
“Terima kasih. Semua berkat dukungan kalian.”
“Aku tidak berbuat apa-apa. Hanya menambahkan beberapa kalimat. Kurasa Hakim Sa berperan besar.”
“Ya.” Eui Hyun menanggapi pujian dari hakim Oh dengan sangat singkat dan hanya sambil lalu. Hakim Oh pun menjadi heran.
“Tidak mudah menjawab dengan berani seolah-olah itu hal kecil.”
“Tidak sesulit itu.” Eui Hyun berbicara masih dengan menunduk memandangi kertas di meja.
Hakim Oh dan Jung Joo pun tertawa melihatnya.


Hakim Oh lalu bertanya pada Eui Hyun tentang sidang penangguhan yang dipimpinnya.
“Pertanyaanku saat persidangan tidak cukup untuk menilai apakah syarat jaminan terpenuhi, maka aku ingin mengunjungi rumah sakit yang merawat putrinya dan memeriksa fakta-fakta.”
“Jika kita membiarkan pembunuh dilepas dengan jaminan, rakyat biasa tidak akan bisa memahaminya dari sudut pandang mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita memeriksa alasan permohonan penangguhannya lebih teliti. Karena kamu wanita, temani dia sebagai hakim bertugas, Hakim Lee.”
“Ya. Aku juga sedih saat membaca berkas kasus. Melihat sendiri akan membantu memutuskan kasusnya.”
“Kamu pasti sibuk dengan sidang ulang kakakmu. Tapi pekerjaan kita lebih banyak di akhir tahun. Jang Soon Book menyatakan dirinya tidak bersalah selama 10 tahun terakhir, tapi kakakmu menjalani hukuman tanpa menyatakan dia tidak bersalah, maka lebih sulit bagimu untuk membuktikan dia tidak bersalah. Karena pengadilan akan makin tertekan jika dua putusan dibatalkan berturut-turut, mereka mungkin mengambil tindakan tegas pada kasus Choi Kyung Ho. Menangkap pembunuh sebenarnya akan menyelesaikan semua masalah. Pokoknya, semoga sukses. Hanya itu dukungan yang bisa kuberikan.”
“Ucapan penyemangat saja cukup tepercaya untukku.”
Hakim Oh dan Jung Joo lalu tertawa.
“Hakim anggotaku menganggapku bisa dipercaya, bukan? Tapi entah bagaimana pendapat hakim hebat seperti Hakim Sah.” Hakim Oh berbicara sambil melihat ke arah Eui Hyun, yang membuat Eui Hyun merasa tidak enak.
“Apa? Aku juga berpikir Anda tepercaya. Senang berada satu panel dengan Anda, Pak Oh.” Eui Hyun berbicara dengan canggung.
Hakim Oh merasa senang karena dia dianggap terpercaya maka dia akan mentraktir makan siang Jung Joo dan Eui Hyun besok, karena hari ini dia sudah ada janji. Maka Jung Joo mengatakan kalau hari ini dia yang akan mentraktir Eui Hyun, dan bertanya apa yang akan mereka makan.
“Kamu ingin makan apa?”
“Apa pun selain jjajangmyeon.”

Jung Joo dan Eui Hyun sedang makan siang di ruangannya.
“Selamat menikmati. Kapan kamu pergi ke rumah sakit? Jika kamu mengendarai mobilmu, bisa memberiku tumpangan?”
“Kita pergi terpisah.”
“Apa?”


“Kita tidak perlu pergi bersama. Aku bisa pergi sendiri ke sana. Aku tidak paham kenapa Pak Oh ingin kamu menemaniku.”
“Karena dia wanita.”
“Dia ingin hakim wanita karena dia wanita? Itulah ide anakronistik yang memisah pria dan wanita.”
“Jika kamu ingin pergi sendiri, silakan. Aku akan bicara dengan Pak Oh dan mundur dari tugas ini.”
 “Tentu. Beri tahu ketuamu yang meyakinkan bahwa satu hakim sudah cukup.”
“Tentu. Aku akan melakukannya.”
“Baiklah.”
“Hakim Sah, aku tidak menyangka kamu berpikiran sempit.”
“Berpikiran sempit? Aku tidak pernah mendengar itu.”
“Pasti kamu tidak mendengarnya. Pasti kamu terlalu sibuk mendengarkan keluhan orang lain.”
“Begitu, ya. Kamu juga cenderung bicara seenaknya.”
“Bicara seenaknya?”
“Jika kamu akan bilang semua orang tepercaya, seharusnya kamu tidak bicara denganku.”
“Kenapa tidak? Aku hanya bicara jujur. Menurutku kamu tepercaya, terutama karena kita satu ruangan.”
“Tepat. Jika kamu merasakan hal sama terhadap Pak Ketua, seharusnya kamu tidak bicara seolah-olah hanya untukku. Kamu bilang tidak bisa mengatakannya langsung di hadapanku. Maka jelas, kukira kamu hanya mengatakannya kepadaku, dan salah paham. Tidak usah dipikirkan. Ayo makan.”


Eui Hyun lalu berdiri untuk mengambil minum.
“Astaga. Kamu mengambil air hanya untukmu? Itu membuatmu tampak picik dan pelit.”
“Karena aku sudah picik, boleh kukatakan hal lain? Beberapa hari lalu, kamu tidak bisa menghubungi Han Joon, bukan?”
“Ya.”
“Kamu pasti tahu aku bersamanya.”
“Ya.”
“Lalu kenapa tidak menghubungiku?”
“Apa?”


“Secara rasional, Han Joon dan aku meninggalkanmu bersama. Kamu menghubungi Han Joon, tapi dia tidak menjawab. Maka, bukankah kamu harusnya menghubungiku yang bersama...”
“Aku mencoba, tapi berhenti. Awalnya aku hendak menghubungimu, tapi beralih menghubungi dia karena dia mungkin tersinggung jika melihatmu bicara denganku di telepon. Aku juga tidak menghubungimu setelah dia tidak menjawab karena entah kenapa aku merasa bersalah jika menanyakan keadaan Han Joon dan mencemaskan dia. Karena aku tidak ingin mengganggumu untuk memperhatikan perasaan Han Joon. Karena bagiku, perasaanmu sepenting perasaan Han Joon. Puas?” Jung Joo lalu berdiri dari kursinya.


“Kamu mau ke mana?”
“Menghubungi Pak Ketua dan memberitahunya aku tidak akan ke rumah sakit.
“Kamu harus pergi. Duduk. Duduklah kembali. Jika kupikirkan, aku belum pernah menanyai banyak gadis muda. Kurasa akan lebih baik jika kamu menemaniku. Juga, air ini untukmu. Aku tidak minum saat makan jjajangmyeon. Aku makan acar daikon sebagai gantinya.” Eui Hyun berbicara sambil melanjutkan makan acar daikon, Jung Joo tertawa melihatnya.


Hakim Seo membacakan vonis untuk tersangka Kim Joo Hyung.
“Ini sidang kasus nomor 2017235 untuk pemerkosaan dan penganiayaan, 2017851 untuk pembunuhan, dan 20173315 untuk penyanderaan. Terdakwa, Kim Joo Hyung. Kita akan memulai sidang. Terdakwa, Kim Joo Hyung, memerkosa beberapa anak laki-laki, dan selama sidang untuk kejahatan tersebut, dia menyandera jaksa dan melukainya. Selain itu, saat menjalani hukuman di penjara, dia membunuh seorang narapidana, Choi Kyung Ho, menyamarkannya sebagai membela diri. Dengan demikian, kejahatannya sangat serius. Karena itu, dia dijatuhi hukuman sebagai berikut. Atas perintah pengadilan, Kim Joo Hyung dihukum penjara seumur hidup.”


Kim Joo Hyung sangat terkejut mendengar putusan hakim.
“Dipenjara seumur hidup? Bukankah aku seharusnya bebas karena penyakit jiwa?”


Jung Joo berjalan bersama Eui Hyun menuju rumah sakit.
“Sudah lama sekali sejak aku merasa seperti ini.” Jung Joo merasa senang dengan tugasnya kali ini.


Jung Joo berhenti di pedagang asesoris, mengambil sebuah jepit rambut dan memakainya lalu meminta pendapat Eui Hyun.
“Bagaimana menurutmu?”
“Bukankah terlalu dewasa untuk siswa kelas dua?”
Mendengar pendapat Eui Hyun, Jung Joo lalu melepaskan jepit rambutnya.
“Apa barusan maksudnya untukmu sendiri?”
“Tidak. Aku terlalu tua untuk mengenakan sesuatu seperti ini. Ayo pergi ke rumah sakit.”


Di rumah sakit, Jung Joo dan Eui Hyun menemui gadis kecil bernama Ji Sun yang ibunya menjadi tersangka pembunuhan ayahnya. Ji Sun bertanya pada Jung Joo siapakah dia, Jung Joo mengatakan pada Ji Sun bahwa dia adalah teman ibunya.
“Kalau begitu, maukah Anda memberi tahu ibuku untuk segera mengunjungiku? Aku harus tetap hidup sampai ibuku datang, tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.”


Jung Joo melihat kartu-kartu yang digantung pada pohon natal di sampingnya.
“Kamu juga punya kartu di sini?”
Ji Sun mengambil kartunya dan memberikannya pada Jung Joo. Jung Joo dan Eui Hyun membaca kartu itu: Meski aku meninggal, tolong jangan biarkan ibuku bersedih. Tolong biarkan dia menangis sedikit saja.
Lalu Ji Sun berbicara pada Jung Joo “Ibu terlalu sering menangis saat Ayah meninggal.”
“Begitu, ya.”
“Aku merindukan Ibu.”


“Sungguh? Kamu harus rajin menjalani perawatan sampai saat bertemu Ibu. Ini hadiah dari Ibu, jadi...” Eui Hyun mengambil jepit rambut dari sakunya, tapi kemudian dia merasa tidak enak karena melihat Ji Sun yang tidak mempunyai rambut.
Jung Joo mengambil pita itu dan dari Eui Hyun “Ibu bilang kamu harus sembuh dan mengenakan ini.
“Baiklah. Ini cantik.” Ji Sun memakainya di topinya.
“Kamu suka?”
“Aku juga bisa memakainya sekarang.”
“Cantik.” Jung Joo memuji Ji Sun.


Jung Joo dan Eui Hyun berjalan di luar rumah sakit.
“Hidup sangat tidak adil. Bagaimana bisa anak sembilan tahun hidup begitu sulit...”
“Dokter bilang mereka tidak bisa meramal apa yang akan terjadi dengan anak-anak. Bahkan saat semua bilang tidak ada harapan, keajaiban terjadi.”
“Aku sungguh berharap keajaiban akan datang kepada Ji Sun.”
“Benar.”


Eui Hyun lalu mengeluarkan sebuah jepit rambut dari sakunya.
“Aku beli dua saat membeli untuk Ji Sun. Kamu tampak menginginkannya.”
“Ini untukku”
“Ya.”


Eui Hyun lalu memakaian jepit rambut itu.
“Setelah kulihat lagi, tidak begitu buruk. Lumayan manis juga.”
“Menurutmu ini tampak cantik?”
“Ya.”


Eui Hyun mendapatkan telepon dari Han Joon yang sedang mabuk.
“Hei, ada apa?”
“Hei, Teman Baikku. Apa yang tidak bisa kulihat?”
“Hei, kamu habis minum-minum?”
“Ya, aku minum. Memang kenapa? Jika aku minum, kukira aku bisa melihat hal lain. Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa. Kini bahkan lebih samar.”
“Kamu di mana?”
“Jadi, Eui Hyun, aku hanya akan melihat hal yang ada di depanku sekarang.”
“Kamu di mana?”
“Jika tahu aku di mana, kamu akan datang?”
“Jawab sekarang juga.”
“Tidak akan. Kamu tidak bisa datang kemari. Aku sering datang kemari bersama Jung Joo, tapi aku tidak yakin kami bisa datang kemari lagi. Kekuatanku untuk menemuinya hilang secara perlahan. Tapi aku akan melihatnya lagi, bukan? Aku tidak punya kekuatan untuk menjauhinya.”
Comments


EmoticonEmoticon