1/12/2018

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 29 PART 2

SINOPSIS Nothing to Lose Episode 29 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Nothing to Lose Episode 29 Part 1
Jung Joo datang ke tahanan untuk menemui prof Yoo. Dari awal dia sudah menanahan air matanya, begitu juga dengan prof Yoo yang sudah berkaca-kaca. Hingga akhirnya setelah beberapa saat mereka berbicara, mereka berdua sudah berderai air mata. Jung Joo berbicara dengan penuh emosi, sedangkan prof Yoo tampak sangat sedih dan menyesal.

“Pasti berat bagimu datang kesini. Terima kasih sudah mengunjungi aku”

“Kenapa kau mengirimkan ratu keadilan untukku? Aku tidak mengerti, bagaimanapun aku memikirkannya. Kau membantuku menjadi hakim... Karena rasa bersalahmu pada kakakku. Bagaimana kau bisa menghasut orang itu untuk membunuh kakakku? Aku datang kesini untuk mendengar jawabanmu tentang itu.”

“Untuk menjadi hakim, aku berusaha sangat keras, seolah-olah nyawaku taruhannya. Dan akhirnya aku menjadi hakim. Tapi... Kalau aku mengungkapkan... Suamiku memperkosa anak SMP saat mabuk, aku tidak punya pilihan lain, selain mengorbankan jabatan hakimku.”
“Untuk mempertahankan jabatanmu, bukannya kau membunuh Kim Ga Young dan melanggar hukum?”

“Ya. Itulah pertama kalinya aku membuat kesalahan. Bertemu denganmu... Di kamar kecil karena dokumen kasus kakakmu. Setelah kau menjadi hakim, kau memimpin permohonan sidang ulang Jang Soon Bok. Aku pikir itu semua adalah takdir. Kalau kau, sebagai hakim... Dan bagian dari diriku, menghukum aku, aku pikir aku bisa menerima hukumanku, itu sebabnya... Aku mau kau mengungkapkan kebenaran yang aku tutupi. Jadi aku membantumu pada sidang ulang Jang Soon Bok.”

“Kalau begitu, menghasut untuk membunuh kakakku semakin tidak masuk akal.”
“Tapi semakin... Dekat kau mendapatkan kebenaran, aku menjadi takut. Meskipun aku kehilangan semuanya, termasuk status dan reputasiku. Aku pikir aku bisa mengungkapkan kebenaran. Tapi aku salah. Pikiran kalau... Kebenaran dibalik kasus Choi Kyung Ho akan terungkap... Membuat aku takut setengah mati. Pada saat itu, aku bukanlah diriku sendiri.”
“Jadi... Selama bertahun-tahun itu, maksudmu kau berusaha menghancurkan dirimu sendiri... Karena rasa bersalah telah membunuh kakakku, benarkan?”
“Aku telah... Melakukan kejahatan besar padamu, Jung Joo.”
“Pada akhirnya, aku adalah bom waktumu. Bom yang bisa terus kau simpan... Ataupun kau buang.”
“Aku akan membayar apa yang telah aku perbuat pada kakakmu”
“Kalau kau berpikir... Kau bisa membayar perbuatanmu dengan bunuh diri. Kau tidak akan pernah termaafkan. Bayarlah kejahatanmu setiap hari. Hadapi akibat dari perbuatanmu.”


Jung Joo keluar dari penjara dan menghampiri Eui Hyun yang menunggu di samping mobil. Dari kejauhan, Han Joon melihat mereka berdua.


Han Joo datang untuk bertemu dengan ayahnya.
“Kenapa kau datang kesini? Kau seharusnya menemui ibumu.”
“Kenapa ayah tidak... Memberitahu aku tentang luka ibu?” 
“Bagaimana bisa? Ayah tahu bagaimana aku membenci ayah karena salah paham. Pikirkanlah bagaimana hancurnya ibumu sampai melukai dirinya sendiri. Ayahlah penyebab rasa sakitnya. Bagaimana ayah bisa mengatakan yang sebenarnya? Ibumu... Menganggap jabatan hakim sebagai tugasnya. Seumur hidupnya dia hidup dengan kebanggaan sebagai hakim. Ayah rasa... Ayah bisa mengerti kenapa dia melakukan itu. Ibumu lurus seperti panah dan dikenal tanpa kompromi. Syukurlah dulu dia tidak bunuh diri. Ini semua salah ayah. Jadi jangan benci ibumu.”
“Aku mau meninggalkan Seoul.”
“Apa? Han Joon...”
“Aku tidak akan bunuh diri, jangan khawatir.”
“Ayah bisa percaya itu kan?”
“Ya. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi. Tapi, tetaplah sehat sampai kita bertemu lagi. Aku pergi sekarang.”


Han Joon segera berdiri dan membelakangi ayahnya.
“Maafkan ayah. Selamat tinggal.”
Setelah mendengar ucapan ayahnya, Han Joon tidak membalikkan badannya. Dia masih membelakangi ayahnya.


Do Jin Myung kemudian berdiri dan akan keluar dari ruangan itu. Tapi kemudian Han Joon berbicara masih dengan memunggungi ayahnya.
“Obat darah tinggi ayah... Jangan lupa meminumnya, Ayah.”


Setelah itu Han Joon pun menangis.


Eui Hyun datang ke rumah Han Joon, saat berada di depan dia berniat menelpon Han Joon tapi ternyata dia sudha lebih dulu menelepon Eui Hyun.
“Hei. Sekarang kau bahkan... Mengangkat telponmu sebelum berdering. Kapan kau datang?”
Han Joon masih berbicara di telepon dan tampak riang.
“Barusan. Aku barusan mau menelponmu.”
“Hei, apa kau mau menginap?”


Han Joon kemudia mengajak Eui Hyun masuk ke rumahnya dan menunjukkan dia sudah membersihkan rumahnya.”
“Lihatlah, aku bersih-bersih untukmu. Rumah ini terasa sangat kosong, karena tidak ada orang di sini. Rasanya dingin, duduklah, duduklah. Aku sudah terlalu banyak minum belakangan ini, jadi aku muak untuk minum lagi. Apa kau lapar? Haruskah aku buatkan ramen?”
“Tidak usah, duduklah.”


Eui Hyun datang untuk berbicara dengan Han Joon, dia memberitahu Jung Joo telah mengunjungi Prof Yoo.
“Aku tahu. Dia ceroboh sekali, bagaimana dia bisa pergi kesana? Dia seharusnya jangan mengunjungi ibuku sekarang.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku juga pergi menemui ayahku.”
“Ayah?”
“Aku tidak bisa memanggilnya Senator Do, dia bukan senator lagi.”
“Tentu. Kerja bagus.”
“Apa-apaan itu? Aku tidak pernah menyangka kau akan bilang padaku kerja bagus. Aku juga merasa senang, aku mau minum sekaleng bir. Apa kau mau soda?”
Han Joon tertawa dan tampak riang seperti Han Joon yang biasanya.


Han Joon dan Eui Hyun sudah berada di dalam kamar. Han Joon sangat senang Eui Hyun menerima ajakannya untuk menginap.
“Hei, Eui Hyun. Setelah malam ini, aku akan pergi meninggalkan Seoul.”
“Apa maksudmu?”
“Hanya begitu saja. Aku terus memikirkan tentang ibu dan ayahku di sini. Juga rasanya terlalu berat kalau berada dekat dengan Jung Joo. Kalau kau tidak ada di sini, aku merasa sangat khawatir untuk pergi. Tapi aku bisa pergi dengan tenang karena kau ada di sini.”


Han Joon diam untuk beberapa saat lalu kembali berbicara sambil melihat ke langi-langit kamar.
“Jagalah Jung Joo dengan baik. Buatlah dia tertawa, mengerti? Apa kau tahu betapa cantiknya dia kalau tertawa?”
“Kenapa aku?”
“Dengarlah dia, hei, kau tidak tahu ya? Apa kau tahu bagaimana caramu memandangnya? Sama seperti saat kau memandangku. Apa itu artinya... Kau sangat perduli padanya. Terserahlah, aku mau tidur. Kau harus tidur juga, kau harus bekerja besok.”


Han Joon dengan berhati-hati menyelimuti Eui Hyun.


Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi, dia memandang rumahnya untuk beberapa saat kemudian pergi dengan mobilnya.


Eui Hyun berlari keluar rumah dan melihat mobil Han Joon sudah pergi.
Comments


EmoticonEmoticon