2/20/2018

SINOPSIS Cross Episode 5 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 5 Part 2

Pada akhir episode sebelumnya... suasana di Ruang Operasi agak memanas, karena tim menunggu In-kyu yang juga belum datang padahal pasien telah diberi anestesi lebih dari se-jam yang lalu.


In-kyu sendiri, malah sibuk menangani pasien anak yang dibawanya, yang  kondisinya memang benar-benar kritis. Berkali-kali dilakukan CPR secara manual mau pun menggunakan alata, tetapi tanda-tanda vital anak ini, tetap menurun.


Namun terjadi sebuah mukjizat.. setelah diberi resusitasi 200 joule, perlahan denyut jantungnya mulai berdetak lagi. Semuanya bersnyusukur dan bisa bernafas lega..


Tak lama kemudian, datang dokter lain yang akan menangani anak tersebut. Dia bertanya beberapa hal tentang identitas pasien. Tapi karena, tak ada wali resminya, maka dokter itu menyuruh dokter Son untuk menghubungi polisi, takutnya anak tersebut merupakan orang hilang.


Ji-in hendak membawa In-kyu pergi ke ruang operasi tetapi dokter Son memanggilnya, dia mengkhawatirkan kondisi luka di sikut In-kyu, “Mana mungkin kamu mau melakukan operasi dalam kondisi seperti itu?”


Dokter Son ingin menjahit luka tersebut. Akan tetapi, Ji-in melarangnya, karena tak ada waktu. Dia pun hanya mengambil sebuah plester, yang kemudian dia pasangkan di sikut In-kyu untuk menutupi luka guna mencegah darah menetes ke sembarang tempat.


Dalam lift, Ji-in memarahi In-kyu, “Kamu ini keterlaluan! Dokter macam apa yang terlambat melakukan operasinya, selama lebih dari 3 jam?!”

“Memangnya, sekarang jam berapa?” tanya In-kyu

“10:07 p.m, memangnya kenapa?” ujar Ji-in

“Aku hanya terlambat selama 2 jam 37 menit. Bukan 3 jam” tukas In-kyu


“Wahh.. dasar! Jangan lakukan apa pun! Jangan mengajatakan apapun!” keluh Ji-in yang benar-benar kesal


“Aku minta maaf.. karena terlambat dan karena segalanya..” ucap In-kyu yang berhasil membuat Ji-in berhenti menggerutu. Tapi kemudian, lagi-lagi In-kyu menegaskan terlambatnya kurang dari 3 jam.


Ji-in melaporkan kedatangan In-kyu kepada ayahnya via telpon. Dokter Go sendiri, sekarang masih dalam proses pengangkatan organ livernya, Kongres Noh.


Ketika masuk ruang operasi, In-kyu langsung dimarahi oleh dokter anestesi. JI-in mencoba untuk membelanya, dengan menceritakan kejadian barusan. Akan tetapi, In-kyu sendiri terkesan cuek dan tak peduli dengan omongan orang.

“Kalau saja, bukan karenaa anak tadi.. aku tak akan memaafkan sikapmu ini!” bisik Ji-in


In-kyu pun memulai operasinya, karena laparatomi telah dilakukan, selanjutnya dia bisa langsung melakukan tugas intinya yaitu mengeluarkan liver yang telah rusak. Dalam prosesnya, In-kyu dibuat kaget karena menemukan ‘bile leak’ (kebocoran cairan yang diproduksi liver, yang bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kematian). 


Dokter anestesi heran, “Ah.. Tidak mungkin.. karena dokter Go yang melakukan operasinya waktu itu.. Apakah, karena klip-nya ada yang lepas?”

“Tidak.. klipnya masih ada..”


In-kyu mengetesnya dengan cara memasukkan sebuah kassa, yang ketika dilihat ternyata memang terdapat cairan kehijauan yang keluar dari liver. Untuk mencegah kondisi pasien memburuk, dia meminta tim untuk bekerjasama mempercepat proses pengangkatan liver, supaya bagian pembuluh darah sekitarnya bisa segera dibersihkan. Dia pun meminta tim untuk menyediakan pembuluh darah sintesis.


Dalam ruang operasi Kongres Noh, nampak ada sesuatu yang janggal dengan dokter Go. Penghilatannya agak kabur, hingga membuatnya sempat diam sejenak. Ketika ditanya kenapa, dokter Go menjawab tak ada apa pun yang terjadi kepadanya dan dia sanggup untuk melanjutkan operasinya.


Setelah In-kyu menggunting pembuluh darah dan mengangkat liver pasien, dokter disampingnya bertanya, “Bukankah pembuluh darah yang tersisa terlalu pendek?”

“Itulah kenapa aku minta kalian menyiapkan pembuuluh darah buatan, karena yang asli terlalu lunak (mungkin akibat terkontaminasi cairan bile)...” jawab In-kyu

Utuk memasang pembuluh darah buatan, diperlukan waktu lumayan lama, setidaknya sekitar 5 jam. Anestesi masih bisa diperpanjang, tapi pertanyaannya.. apakah In-kyu kuat melanjutkan operasinya hingga beres?


In-kyu mengatakan dirinya mampu, maka tim melanjutkan operasi sesuai dengan instruksinya. Tak lama kemudian, organ dari pendonor tiba, tapi kelihatannya In-kyu mengalami kelelahan. Terbukti, dari tingkahnya yang beberapa kali menghela nafas cukup panjang. 


Ji-in mesti meninggalkan ruangan operasi, karena harus menangani Gyu-sang yang telah melakukan operasi pengangkatan organ. Ditemani rekannya, dia memasang beberapa alat pengukur tanda-tanda vital..


Suasana hari ini terasa begitu hektik. Rekannya bertanya pada Ji-in: “Kenapa kamu tak memberitahu mereka, kalau kamu punya cukup pengalaman untuk bisa melakukan operasi?”


Ji-in enggak menjawabnya. Dan karena seluruh alat sudah terpasang, dia meminta bantuan rekannya untuk mengecek TTV (Tanda-tanda vital: denyut jantung, denyut nadi, pernafasan, dsb) pasien secara berkala, karena dirinya harus kembali ke ruang operasi.


Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara Gyu-sang yang samar-samar memanggil putrinya. Ji-in menghampirinya, lalu berbicara padanya, “Kakek, mengkhawatirkan putri kakek? Jangan khawatir, karena dokter Kang cukup hebat dalam melakukan operasi. Meskipun tingkahnya terkadang menyebalkan, tapi kemampuannya bisa diandalkan. Jadi tak perlu merasa khawatir..”


Mendengarnya, seketika membuat air mata Gyu-sang menetes tanpa dia sadari~


Operasi Gyung-seo telah berlangsung lebih dari 6 jam. Dari raut wajahnya, kelihatan In-kyu benar-benar kelelahan. Tetapi dia berhasil menyelesaikan penanaman liver dengan lancar, hingga darah pasien pun kembali bisa dialirkan dengan normal.


Tetapi operasinya belum selesai, masih ada tindakan anastomosis (sejenis penyambungan saluran pembuluh darah) yang perlu dilakukan. Dari kaca samping, terlihat dokter Go yang memerhatikannya.


Ji-in datang, dia pun menghampiri ayahnya dan bertanya bagaimana operasinya tadi. Tetapi sang ayah, malah bertanya ballik, mengenai kinerja In-kyu.

Ji-in: “Aku tak bisa memahaminya.. dia tipe orang yang sangat apatis, tetapi sangat peduli pada pasiennya. Seperti seseorang yang kukenal.. kalau dipikir-pikir, kalian itu agak mirip..” 

Dokter Go: “Aku bertanya, apakah dia melakukan operasinya dengan lancar?”

Ji-in: “Iya.. sekarang, dia tinggal menyambungkan arteri hepatic dengan saluran empedu..”


Sebelum masuk ke ruang operasi, Ji-in memberitahu ayahnya mengenai kondisi pasien yang ternyata mengalami ‘bile leak’. Mendengarnya, membuat dokter Go agak heran, tetapi Ji-in menjelaskan bahwa kondisi itu, mungkin terjadi selama proses penyembuhan.. dan bukan karena kesalahan pada saat operasi yang terdahulu.


Si broker merangsak masuk kedalam apartemen In-kyu. Karena dia masih memegang ponsel In-kyu, dia pun menyadari keberadaan kamera pengintai karena notifikasinya muncul di ponsel tersebut.


Dia benar-benar marah.. dia mengamuk, sampai melempar seluruh barang yang ada di sekitarnya, termasuk gadget serta ponsel In-kyu.


Dokter Go menyendiri diruangannya, dia menggenggam sekotak obat miliknya.. lalu dia menelpon dokter dan menjadwalkan pemeriksaan untuknya dalam waktu dekat.


Kondisi In-kyu sepertinya makin melemah.. keringat dingin bercucuran bahkan hidungnya sampai mimisan. 


Ji-in bergegas membantu menyumbat hidungnya dengan kapas. Kalaupun In-kyu tak kuat, dokter lain menyarankan supaya dia digantikan oleh dokter Go.


“Aku baik-baik saja..” ucap In-kyu yang kemudian melanjutkan tindakan operasinya.

Advertisement


EmoticonEmoticon