2/20/2018

SINOPSIS Cross Episode 5 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 6 Part 1

Hyung-bum datang ke ruangan In-kyu, suasana sempat terasa menengangkan ketika dia tiba-tiba bertanya: “Siapa kau sebenarnya? Apa kau benar-benar seorang dokter?”


Tetapi kemudian, dia menaikkan lengan seragamnya, dimana aterlihat banyak bekas garukan, “Kemana saja kau ketika kondisi pasienmu seperti ini?!” keluhnya

“Mengapa kau menggaruknya sekeras itu..” ujar In-kyu yang kemudian menelpon suster untuk minta dibawakan set perawatan luka.


Untuk memastikannya, In-kyu bertanya pada Hyung-bum: “Kau benar-benar tak tahu, kemana aku pergi?”

“Ah iya.. kau berangkat kerja’kan.. Bagaimana?”  

“Lumayan..”

In-kyu tertawa, “Sudah kubilang. Aku ini pandai menilai karakter seseorang..”


Berikutnya, In-kyu bertanya siapa yang akan melakukan operasi penanaman dari organ dia angkat. Sebelum menjawabnya Hyung-bum bertanya, kenapa In-kyu ingin mengathui hal tersebut?

“Karena aku ingin tahu, apakah ada kesempatan untuk menghasilkan lebih banya uang..” 

“Sepertinya kau sangat terobsesi dengan uang.. tapi tidak, itu terlalu berbahaya. Karena trnsplantasinya tidak bisa dilakukan di Korea”

“Bagaimana kalau aku yang pergi ke luar negeri?”

“Kau serius? Ide yang lumayan bagus.. karena kebanyakan klien kita, ingi dokter dari Korea.. tapi, apa kau percaya diri?”

“Tentu saja”


Obrolan mereka terhenti, karena suster masuk dan In-kyu harus menangani bekas luka garukan pada kulit Hyung-bum.


Si broker mengirimkan surat obrituari, dia menggunakan paket express supaya suratnya bisa sampai di tangan Hyung-bum pada hari itu juga.


Ketika pulang menuju apartemennya, In-kyu kaget karena melihat pintu kamarnya yang tak tertutup rapat. Segera, dia pun masuk dan terlihat isi kamarnya benar-benar dalam kondisi berantakan, barang-barang berserakan di lantai.


Dokter Son dan dokter Lee beserta ayah mereka, makan malam bersama. Terisrat jelas, bahwa kedua ayah mencoba untuk menjodohkan baka mereka. Akan tetapi, dokter Son menyatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas kaka-adik, dan dirinya pun terlalu sibuk sampai tak memilik waktu untuk berkencan.


Karena ada panggilan darurat, dokter Son pamit pergi. Tinggallah dokter Lee yang menjadi target ‘ceramah’ kedua ayah. Son sajang memintanya untuk meyakinkan dokter Son, karena putrinya itu hanya akan melakukan hal yang diyakini olehnya.

Berikutnya, mereka memperbincangkan rumor mengenai kemampuan dokter Go yang katanya makin menurun. Bisa jadi karena kondisinya mmemang bermasalah, atau pun karena faktor usia. Namun dokter Lee tak mau ikut dalam spekulasi itu, dia malah membela dokter Kang dengan menyebut kalau kejadian ‘bile leak’ itu bisa terjadi pada saat proses pemulihan, bukan pada saat operasi. Jadi merak tak bisa menyimpulkan bahwa itu merupakan kesalahan dokter Go.


In-kyu mendatangi gedung dimana sebelumnya dia diminta untuk melakukan operasi ilegal. Namun ketika masuk kedalamnya, ternyata seisi ruangan telah bersih, tak tersisa apa pun~


Selanjutnya, dia pergi ke counter untuk membeli ponsel baru. Dia sempat bertanya, apakah dia bisa melacak nomor teresmbunyi? Namun pelayan mengatakan, bahwa hal tersebut mesti ditanyakan langsung ke pusat.


Berikutnya, In-kyu pergi ker RS untuk menjenguk Ji-young. Dia duduk disampingnya, lalu perlahan Ji-young mulau sadar, “Syukurlah.. aku sangat mengkhawatirkanmu... Hmm, kamu pasti tidak mengenal ahjussi’kan?”

“Suaramu..” ucap Ji-young, “Aku mengenal suara ahjussi..” tambahnya


In-kyu berjanji bahwa dirinya tak akan pernah menceritakan apa yang sebelumnya terjadi kepada siapa pun. Dia bertanya, apakah Ji-young mengenal dua pria yang ditumainya malam itu?

Ji-young menggelengkan kepalanya. Kemudian In-kyu bertanya, “Bagaimana caranya kamu bisa bertemu dengan mereka?”

“Aku menelponnya..”


Hari itu, Ji-young diperbolehkan pulang setelah dirawat di RS. Namun tak sengaja, dia melihat kedua orangtuanya yang bertengkar karena masalah biaya pengobatannya.


“Berhentilah berkelahi! Sudah kubilang’kan.. aku lebih membanci kalian berhelahi dibanding penyakitku ini! Apakah kalian akan berhenti berkelahi jika aku mati! Haruskah aku menghilang saja!” teriak Ji-young yang kemudian berlari pergi meninggalkan kedua orangtuanya.


Ji-young sadar bahwa sebenarnya dia bukan marah pada orangtuanya, melainkan marah pada dirinya sendiri karena penyakitnya. Hingga tak sengaja, dia melihat nomor telpon penjual organ yang tertempel  di pintu toilet. Dia pun menelponnya..


“Kamu mengingat nomornya?” tanya In-kyu. Ji-young menggelengkan kepalanya, “Aku lupa..” jawabnya


Teringat apa yang terjadi kepada sang adik di masa lalu membuat In-kyu bisa memahami bagaimana perasaan oangtua Ji-young. Dia pun memberikan sebuah pesan untuk Ji-young, “Memang benar, ibu dan ayahmu mengalami masa-masa sulit karenamu. Tetapi, jika sesuatu sampai terjadi kepadamu, makan hidup merekan akan jauh lebih sulit. Maka, fokuslah pada pengobatanmu. Karena hanya itulah, satu-satunya jalan untuk membuatmu dan orangtuamu bahagia..”


In-kyu menuliskan nomor ponselnya di sebuah kertas catatan kecil dan dia meminta Ji-young untuk menghubunginya, kapan pun dia mengalmai kesulitan~


Akhirnya surat orbiatuari itu telah sampai ke tangan Hyung-bum. Isinya adalah berita duka mengenai kematian ‘Kang Dae Soo’ yang akan dikuburkan tanggal 13 Februari 2018 di tempat pemakaman Palmunsan. Disana, tertera nama putranya adalah ‘Kang In Kyu’.


Setelah membancanya, sontak Hyung-bbum tersadara bahwa Kang Dae Soo adalah pria yang dibunuhnya, dan Kang In Kyu adalah dokter yang selama ini merawatnya dalam penjara.. dia marah, namun melampiaskannya dengan tertawa begitu keras~


Ji-in berniat menemui ayahnya, namun beliau tak ada di ruangan. Karena kondisinya sangat berantakan, maka Ji-in menyempatkan diri untuk membersikan ruangan tersebut.


In-kyu hendak mengurus uang jaminan sosial untuk membantu biaya pengobatan Ji-young. Akan tetapi, petugas hanya bisa melakukannya jika keluarga atau wali pasien yang mengurusnya. Bisa juga, jika ada dokter yang mau bertanggung jawab.


Maka In-kyu menelpon dokter Go, yang kebetulan ponselnya ditinggal di meja kerja, sementara di ruangan itu hanya ada Ji-in yang masih beres-beres. Tak sengajam Ji-in melihat sekotak obat milik ayahnya, namun dia tak begitu memehatikannya karena terdistraksi oleh ponsel ayahnya yang terus berdering.


Betapa kagetnya Ji-in, ketika melihat ada panggilan masuk dari seseorang yang dinamai ‘adeul (putra)’ pada ponsel sang ayah. Dengan tangan yang bergetar, dia pun menerima panggilan tersebut..


ketika mendengar suara In-kyu, seketika tangannya terasa lemas.. hingga dia menjatuhkan ponsel tersebut ke lantai. 


Bersamaan dengan itu, dokter Go datang dan mereka pun saling bertatap mata tanpa mengatakan apa pun...

Advertisement


EmoticonEmoticon