2/21/2018

SINOPSIS Cross Episode 7 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 7 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 6 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 7 Part 2

Setelah dilakukan pemeriksaan CT Scan, dokter bedah saraf mengungkapkan bahwa kondisi pasien terlambat dideteksi, “Saya minta pihak keluarga, untuk bersiap menerima kondisi yang terburuk..”

Mendengarnya, seketika membbuat dokter Baek lemas hingga badannya hampir tumbang.


In-kyu mengejar dokter bedah saraf, dia bertanya apakah operasi tak mungkin dilakukan?

Dokter menjelaskan, kondisi otak pasien yang telah membengkak, ditambah dengan penyakit diabetes yang dideritanya.. kalau pun di operasi, takutnya rangka otak pasien tak akan bisa ditutup kembali karena bengkaknya makin parah.


In-kyu menerima laporan dari lapas, mengenai kondisi Hyung-bum yang mengalami shock: kejang & muntah darah . Dia telah dibawa ke RS, namun mobil yang membawanya mengalami kecelakaan.

Dari gejala yang disebutkan, In-kyu dapat memastikan bahwa Hyung-bum telah menunjukkan tanda-tanda penyakit Gagal Ginjal Akut, sesuai dengan rencananya.

“Mereka dibawa ke Rumah Sakit mana?” tanya In-kyu

“RS Goil, ada laporan petugas kita dibawa kesana..” jawab suster

Mengetahui insiden yang terjadi, kalapas marah besar. Pokoknya, dia menegaskan agar semua petugas menutup mulutnya, jangan sampai berita ini menyebar keluar~


In-kyu sampai di RS Goil. Dia memerhatikan seluruh paseian diruang UGD, kemudian bertanya pada suster.. tetapi dia tak menemukan Hyung-bumd dan hanya bertemu dengan salah satu petugas lapas.


“Kim Hyung Bum, dimana?”

“Memangnya dia tak ada disini? Tadi.. dia dibawa lebih dulu..”

“Ke RS mana?”

“Entahlah.. apa mungkin, dia dibawa ke RS yang berbeda?”

“Sewaktu dibawa pergi, apa Hyung-bum sadarkan diri?”

“Tidak.. dia masih dalam kondisi shock (setengah sadar setengah enggak)..”


Bergegas, In-kyu menelpon RS terdekat namun dipastikan tak ada pasien bernama Kim Hyung-hum disana. Tak tinggal diam, In-kyu melihat peta dan berniat mendatangi satu persatu RS di sekitar TKP.


Dihadapan dokter Baek, beberapa orang dokter melakukan pemeriksanan mati otak terhadap Sung-ho. Dari pemeriksaan awal, bisa dipastikan Sung-ho tak lagi menunjukkan refleks apa pun...


Melihatnya, dokter Baek hanya bisa berdiri kaku.. dan matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih yang teramat dalam.


Pemeriksaan awal selesai, untuk pemeriksaan berikutnya akan dilakukan sekitar 6 jam lagi, serta nafasnya akan diperiksa 5 menit kemudian.


Ditinggal berdua saja, dokter Baek tak kuasa menahan tangisnya dan terduduk lemas disamping Sung-ho~


In-kyu mendatangi beberapa UGD Rumah Sakit, serta pusat penyedia mobil ambulans.. tapi hasilnya nihil. 


Dia pun menelpon pihak lapas, yang kini tengah dibuat hektik karena ketidakjelasan keberadaan Hyung-bum.


Sesuai prosedur RS, ketika ada pasien yang melami mati otak maka keluarga akan diberi penjelasan mengenai donor organ. Seluruh keputusan, diambli oleh anggota keluarga tanpa ada paksaan sedikit pun. Kalau pun telah bersedia, tapi kemudian menyesal.. maka prosedur bisa dibatalkan, selama operasinya belum dilaksanakan.


Ji-in meninggalkan berkas izin keluarga pendonor di hadapan dokter Baek, lalu dia pergi keluar.. guna memberikannya waktu untuk memikirkan hal ini secara matang.


Ji-in menemui ayahnya, dia menceritakan hal yang baru saja dilakukannya, kemudian bertanya: “Ayah.. kalau misalkan,, aku mengalami mati otak dan ayah mesti mengambil keputusan. Kira-kira ayah akan bersikap bagaimana?”

“Hmmm... Kamu inginnya bagaimana?”

“Sebenarnya aku telah menandatangani surat persetujuan, karena aku memang bersedia dan ingin melakukannya. Tapi aku penasaran dengan apa yang ayah pikirkan..”

“Kalau memang itu yang kamu inginkan, maka aku akan melakukannya..”

“Hfftt... ayah memang selalu seperti ini..”

“Aku, selalu menghormati keputusanmu. Maka hargai pula keputusanku..”


Dokter Go menatap JI-in lalu berpesan, “Ji-in aaa.. dimana pun kamu berada dan keputusan apa pun yang kamu ambil, pada dasarnya kamu akan selalu menjadi putriku..”

JI-in tersenyum, “Jangan bekerja terlalu keras..” ucapnya


Keitka kembali ke ruangan, Ji-in tak melihat dokter Baek dan hanya tertinggal berkas persetujuan donor yanag telah diisi dan ditandatangani~


Dokter Baek sendiri, sekarang tengah duduk disamping putranya. Dia menggenggan tangannya erat, dia menangis.. dengan suaranya yang bergetar dia mengatakan: “Tubuhmu masih hangat.. Sung-ho yaa.. ayah hanya ingin kamu tetap hidup, di suau tempat diluar sana.. Anakku.. apa yang akan terjadi, kalau nanti kamu merindukanku? Karena ayah tak akan lagi bisa mengunjungimu.. Ayah sangat sayang padamu’nak..”

Advertisement


EmoticonEmoticon