2/22/2018

SINOPSIS Cross Episode 8 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 8 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 8 Part 3

Dalam salah satu operasi, dokter Go tak ingin menjadi dokter utama dan malah ingin menjadi asistennya dokter Lee saja. Tentu, hal tersebut membuat dokter Lee keheranan, dia rasa dirinya masih terlalu junior untuk melakukannya.


“Kau pasti bisa melakukannya, asalakan kau tidak gugup..” ucap dokter Go

“Kenapa anda tiba-tiba bersikap seperti ini?” tanya dokter Lee

“Selagi aku masih ada disini. Bukankah, setidaknya kau ignin belajar dariku..” jawab dokter Go


Operasi-pun dimulai, dan dokter Lee melakukannya sesuai instruksi dokter Go.


Son Sajang merenung dalam ruangannya, dia mengingat kembali ucapan Presdir Choi yang menjanjikan dilloloskannya RS ini kedalam daftar destinasi kompleks wisata medis. Hal tersebut bisa dilakukannya dengan mudah, karena menantunya adalah walikota Seoul~


Han-shik pulang dengan membawa sekantong barang belanjaan. Didalam kamar yang seperti kandang ayam, Hyung-bum masih berbaring tidur..


Tiba-tiba ponsel Han-shik berdering, ada telpon masuk dari klien yang memesan organ dengan golongan darah A Resus Positif. Han-shik menyanggupinya, llau membuka buku catatannya,


Tiba-tiba, Han-shik dikagetkan oleh suara Hyung-bum yang baru terbangun dan lansgung memangilnya, karena ingin melihat isi buku catatan tersebut. Han-shik memebrikan buku itu, lalu sambil membacanya.. Hyung-bum bertanya mengenai seseorang yang entah siapa dan dimana orang itu berada, “Kau merawatnya dengan baik? Dia makan teratur’kan?”


“Tentu saja.. aku merawatnya dengan sangat baik..”

“Dia belum tahu kita berhubungan’kan?”

“Memimpikannya saja, kurasa tidak mungkin..”

“Sebentar lagi, kita sampai pada Hari-H. Aku tak sabar melihat wajah bedebah itu!”


Sendirian, In-kyu berangkat menuju kediaman Lee Gil-sang..


Sementara itu, di ruang konferensi para dokter tengah membahas operasi putri presdir Choi. Dokter Go kurang setuju, alasannya karena donor hidup terlalu beresiko dan lebih baik untuk menunggu donor mati otak saja.


Direktur Lee menunjukkan hasil pemeriksaan, yang meungjukkan telah terjadinya komplikasi di bagian kaki pasien, yang jika diabaikan bisa jadi mengharuskan kakinya diamputasi, padahal pasien masih sangat muda, usianya baru 24 tahun.

“Saya menghargai pendapat anda, tapi keselamtan kedua pihak menjadi hal yang utama dalam operasi transplantasi. Pada donor mati otak, kita bisa mengambil seluruh pankreasnya, tapi pada donor hidup kita hanya mengambil sebagaian dan kita tak bisa menjain keselamatan hidupnya di kemudian hari..” papar dokter Go

“Sekarang, coba saja dulu. Kalau memang tidak memungkinkan, barulah kita menggunakan donor mati otak seperti keinginan anda!” tukas direktur Lee


Kemudian, dokter Go melihat hasil pemeriksaan pasien serta pendonor ginjal, dia pun bertanya pendonor pankreas-nya bagaimana?

“Baru akan ke RS sakit besok..”

“Kalau begitu, kita bicara lagi setelah melihat hasil pemeriksaan pendonor pankreasnya.” 


Mendengar sikap dokter Go, membuat Son Sajang benar-benar marah.


Tetapi, ketika menemuinya secara lansgung, dia tak bisa membentaknya dan malah basa-basi dengan meminta maaf atas tindakannya tadi pagi.


“Operasi transplantasi pasien Choi Sum-mi bagaimana?” 

“Saya masih mempertimbangkannya”

“Tapi kenapa?”

“Saya harus mencarikan donor mati otak untuknya..”

“Seperti yang anda ketahui, dia tak punya banyak waktu lagi..”


Son sajang mmeberikan laporan medis, yang menunjukkan bahwa komplikasi telah sampai ke bagian mata yang bisa berakibat kebutaan.


“Sejujurnya, pasien itu adalah putri dari orang yang bekerja denganku selama lebih dari 40 tahun. Masalahnya, orang itu agak tidak sabaran.. kalau pun kau menolak melakukan operasi, pasti dia akan melakukannya di tempat lain. Meskipun itu berarti harus diluar negeri. Tapi bagaimana, kalau terjadi kesalahan ketika dia melakukan prosedur ilegal semacam itu? Kumohon pikirkanlah sekali lagi...”


In-kyu sampai di kediaman Lee Gil Sang. Disana, tinggal seorang ahjumma, dia bertanya In-kyu siapa dan ada perlu apa kesini?

“Apakah benar ini rumahnya Lee Gil Sang?”

“Iya..”

“Saya, dokter yang mengoperasi Lee Gil Sang..”


Masuk kedalam rumah, terdapat sebuah foto Lee Gil Sang yang disimpan di meja. Ahjumma meminta In-kyu menunggu sejenak, karena dirinya akan membuatkan makanan untuknya.


Ditinggal seorang diri, In-kyu memerhatikan seisi ruangan. Dia kaget, ketika menemukan beberapa benda.. seperti kalender dan jam dinding yang bertuliskan RS. Sunrim..


Bergegas dia berjalan pergi, meskipun ahjumma memintanya untuk makan terlebih dahulu. In-kyu tetap pamit, “Saya datang kesinihanya untuk memberikan penghormatan.” Ucapnya


Di Rumah Sakit Ji-in menyapa In-sung, yang merupakan pendonor liver sekaligus putra dari Kongres Noh, “Bekas luka operasinya bagaimana? Baik-baik saja’kan?”

“Ya gitudeh..”

“Kamu datang periksa setiap minggu. Tapi kenapa pamanmu tidak datang? Dia pun mesti diperiksa..”

“Paman yang mana? Kami tidak pernah berbicara setahun kebelakang!”

“Hah? Terus pria yang waktu itu siapa?”

“Yang mana?”

“Yang mendonorkan ginjalnya untuk ayahmu..”


Mendengarnya, sontak membuat In-sung jadi gugup, “Ah... pamanku yang itu. Aku lupa.. kukira, kamu membicarakan pamanku yang satunya lagi..” jelasnya yang kemudian buru-buru berlari pergi


In-kyu menemui dokter Go, dia langsung bertanya: “Pernahkah kau menduga, kalau di Rumah Sakit ini terjadi proses transaksi penjualan organ ilegal?”

“Rumah Sakit kita tak pernah melakukan hal semacam itu! Kita mengaturnya dengan cara yang benar.. kita melakukan pengecekan dokumen, serta konsultasi dengan pekerja sosial. Hal yang barusan kau katakan, adalah ejekan untuk semua orang yang bekerja di departemen transplantasi organ!”

“Kalau pihak pendonor dan penerima setuju untuk berbohong, maka kita tak akan pernah bisa mengetahuinya! Semua orang bisa menjadi keluarga jika memalsukan kartu identitas mereka!”

“Aku telah bekerja disini sangat lama dan aku tak pernah menerima permintaan semaca itu..”


Tapi tiba-tiba, dokter Go teringat kejadian ketika tiba-tba Kongres Noh mendapatkan donor ginjal, serta perkataan Son Sajang siang tadi mengenai transaksi organ ilegal.


In-kyu mengeaskan, bahwa seseorang di RS ini mengenal dan bahkan ada kaitannya dengan Lee Gil-sang. Menurutnya, ada pasien yang membeli organ dari pendonor ilegal.

“Kau ini bicara apa!” tukas dokter Go

“Aku tak yakin.. tapi kurasa, ini ada kaitannya juga dengan kematian ayahku..” ungkap In-kyu

“Berhenti mengatakan omong kosong dan pergilah! Apa yang kau tuduhkan, tak pernah terjadi di sini!” papar dokter Go

“Apa jangan-jangan.. kau telah mengetahui sesuatu, tapi kau tak ingin memberitahukannya kepadaku?!” tuduh In-kyu


Dokter Go tak menjawabnya, dan malah melihat In-kyu dengan tatapan tajan. In-kyu pun semakin meyakini, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya, “Apa pun itu, katakanlah padaku!”

Namun tetap, dokter Go enggak memberikan jawaban, hingga membuat In-kyu berkata: “Kalau seperti ini, maka aku tak punya pilihan lain, selain mencurigaimu juga! Hal yang ingin kau sembunyikan dariku, hanya kan membuatku makin menggila! Tentang Lee Gil Sang, tentang In-joo dan sekarang tentang hal ini!!!!”


“Kapan kau akan berhenti menentangku?” tanya dokter Go dengan suara bernada tinggi.

“Pada akhirnya.. kau menolak untuk memberitahuku yang sebenarnya?” ujar In-kyu

“Meskipun aku tahu, aku tak akan meberitahukanmu dalam kondisi yang seperti ini!” tegas dokter Go

Kebetulan, Ji-in berada di depan ruangan dan dia mendengar hal yang baru saja mereka bicarakan.

“Baiklah.. aku akan mencari tahu semuanya sendiri!” tegas In-kyu yang kemudian berjalan pergi. 


In-kyu melihat Ji-in.. namun tak mengatakan apa pun dan melewatinya begitu saja..


Ji-in melihat ayahnya yang tertunduk lesu, dia hendak menghampirinya.. namun tak jadi, karena dia menerima panggilan telpon yang memintanya menemui pendonor pasien Choi Sun-mi yang baru saja tiba di RS.


Ji-in masuk kedalam ruang rawat, “Choi Gyung-nam ssi..” beberapa kali dia memanggil nama si pendonor tapi tak ada respon, menoleh pun tidak..

“Bukankah nama anda Choi Gyung-nam?” tanya Ji-in

Dengan gugup, pria itu mengiyakan bahwa dirinya bernama Choi Gyung Nam. Ji-in menghampirnya, dan bertanya mengapa dia terlihat sangat cemas, “Apa karena memikirkan operasi?”

“Iya..” jawabnya singkat


“Tidak perlu terlalu cemas.. anda akan baik-baik saja..” ucap Ji-in yang kemudian bertanya, “Apa hubungan anda dengan paseian Choi Sun-mi?”

“Sa.. Sa.. Saya adalah pamannya..”

“Oh begitu rupanya.. mulai dari sekarang, sampai saatnya operasi anda harus puasa dan menjalani beberapa tes..” papar Ji-in yang kemudian memberikan seragam RS untuk dikenakan oleh pasien


Selama pemeriksaan berlangsung, wajah Choi Gyung-nam terus menunjukkan ekspresi cemas. Seakan-akan, dia begitu takut dan mengkhawatirkan sesuatu~


Di rooftop, Gyung-nam duduk menyendiri.. ditangan kirinya, terlihat dia memegang sekuntung rokok.. dan di tangan kanannya dia memegang ponsel yang dia gunakan untuk menelpon putranya.

Dia berbohong.. mengatakan bahwa sekarang dirinya sedangan berada di persisir laut dan meikmati kerang, “Nanti kalau kerjaan ayah selesai, ayah berjanji untuk memeblikanmu apa pun yang kamu inginkan..”

“Ayah serius? Kalau begitu aku ingin pizza..”


“Baiklah.. kita beli pizza ketika ayah pulang. Pokoknya, kita akan makan, sampai kekenyangan..” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis
Advertisement


EmoticonEmoticon