2/06/2018

SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 1 PART 2

SINOPSIS Laughter in Waikiki Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Eulachacha Waikiki Episode 1 Part 1

Sesampainya di rumah, Jun-ki dan Du-shik agak heran melihat Dong-gu yang tengah melamun menatap kearah jendela belakang. Ketika ditanya kenapa, Dong-gu hanya diam..

“Aish.. apa sekarang sedang musim-nya diam tak banyak bicara..” keluh Jun-ki


Sesaat kemudian dengan suara lemas, Dong-gu mengakui kalau dirinya telah putus dengan Soo-ah. 

“Hah?! Kenapa? Alasannya apa?” tanya Du-shik

“Dia memberikan 90 alasan, tapi sepertinya masih banyak lagi alasan lainnya..” jawab Dong-gu

“Lah kenapa.. kurasa, kau pria yang baik-baik saja..” ujar Du-shik


“Heh.. karena Soo-ah makin tua, keluarganya pasti mendesak dia untuk segera menikah. Tapi lihatlah pria ini.. dia tak punya pekerjaan tetap, dia tak punya masa depan.. bisnis penginapannya pun, sebentar lagi akan bangkrut. Kalau aku jadi Soo-ah, aku pun akan minta putus.. Berkencan, merupakan kemewahan untuk orang-orang semacam kita..” papar Jun-ki yang kemudian beranya pada Dong-gu, “Kenapa kau keliahtan sangat depresi?? Apa jangan-jangan? kau sampai berlutut dihadapannya??”


“Aku masih punya harga diri!” tegas Dong-gu yang kemudian bercerita mengenai tingkahnya yang sampai melemparkan cincin couple mereka. 

Jun-ki kaget.. dia tak habis fikir, mengapa Dong-gu sampai membuang cincin emas itu, “Hey! Daripada dibuang, lebih baik kalau kau menjualnya.. dan uangnya dipakai untuk bayar tagihan! Haruskah aku mencarinya dan memungutnya lagi?”

“Dasar gila! Untuk apa melakukan hal seperti itu itu! Harga diriku mau dikemanakan!” tegas Dong-gu

“Kau diamlah disini dan jaga harga dirimu.. Biar kami yang mencarinya!” ujar Jun-ki

“Jangan coba-coba untuk pergi kemana pun!!!” tukas Dong-gu yang kemudian menagih bayaran dari mereka, tetapi mereka segera mengalihakn pembicaraan dengan membahas bayi itu..

Dong-gu berniat untuk membawanya ke kantor polisi, akan tetapi Jun-ki dan Du-shik tak setuju, dengan alasan ‘kasihan’

“Kalau kasihan, harusnya kalian yang mengurus bayi ini!” keluh Dong-gu yang kemudian meminta mereka untuk melepas alat gendongan.


Tetapi Jun-ki dan Du-shik malah berlari memasuki kamar yang langsung mereka kunci dari dalam. Dong-gu marah besar, “Tunggu saja, aku akan bawa palu dan menghancurkan pintu ini!”


Ketika Dong-gu pergi mencari palu, mereka membuka pintu.. berteriak dan sambil tertawa menunjukkan kalau palunya ada ditangan mereka. Alhasil, Dong-gu hanya bisa berteriak kesal seorang diri~


Esok paginya, pintu tak dikunci lagi... tapi ternyata, Du-shik dan Jun-ki telah pergi entah kemana. Tinggallah Dong-gu dengan bayinya yang terus menangis..


Tiba-tiba ponselnya berdering, kali ini.. dia ditelpon karena harus membayar tagihan listrik, jika tidak dibayar maka aliran listrik ke penginapan ini akan dihentikan. Dong-gu bingung, harus mencari uang darimana?


Tiba-tiba, si bayi melirik jari manis Dong-gu yang dulunya terpasang cincin.. dan terus melirik ke arah sana hingga membuat Dong-gu berkomentar, “Eh.. jangan membuatku malu.. aku masih punya harga diri.”


Namun beberapa saat kemudian, kita melihat Dong-gu yang telah berada di tempat pemotretan Soo-ah. Kebetulan, Soo-ah belum datang.. jadinya Dong-gu bisa leluasa mencari cincinnya disana..


Dengan teliti, dia mencarinya di setiap sudut ruangan bahkan sampai kolong kursi. Tapi tiba-tiba, Soo-ah muncul, “Ada perlu apa? Kemarin kamu bertingkah seperti orang yang tak mau bertemu denganku lagi..”


“Hmm..anu.. hmm.. aku ingin bertanya tentang sesuatu..”

“Apa?”

“Menurutmu kapan isu THAAD akan berakhir?”

“Kau datang kesini untuk menanyakan hal itu padaku?”

“Ya.. kita memang telah berpisah, tapi kita masih sama-sama warga Korea Selatan. Jadi, kita masih bisa membahas tentang politik di negara kita ‘kan..”


Diam-diam, Dong-gu masih berusaha mencari cincinnya.. tanpa sepengetahuan Soo-ah dia pun berhasil menemukannya dan langsung mengambilnya. Setelah itu, dia pun pamit dan berlari pergi, padahal ternyata ponselnya tertinggal di meja~


Dong-gu mendatangi toko perhiasan, dia berniat menjual cincinnya. Tapi bersamaan dengan itu, datanglah Soo-ah..


“Jadi ini, alasanmu datang menemuiku.. harusnya bilang saja padaku, mungkin aku akan membantumu mencarinya...”

“A.. aku harus membayar tagihan,..”

“Oh gitu yaa..” ucap Soo-ah yang kemudian memberikan cincin miliknya dan mempersilahkah Dong-gu untuk menjualnya juga, setelah itu, dia berjalan pergi, tanpa bersedia mendengarkan penjelasan lanjut dari Dong-gu


Di lokasi syuting.. Park Sung Woong membuat para kru tertawa karena leluconnya (masih dengan cara nunjuk-nunjuk). Meskipun tak faham, Jun-ki memberanikan diri untuk menghampirinya, sekaligus meminta maaf atas kejadian kemarin..


Park Sung Woong menunjukkan jari ke arahnya.. sejenak suasana jadi hening, hingga spontan Jun-ki mengatakan, “Terimakasih karena telah memaafkan saya..”

Tak diduga, Park Sung Woong langsung berdiri dan menepuk pundaknya. Jun-ki agak bingung, “Maksudnya apa?”


Seorang kru menjelaskan kalau barusan Pak Sung Woong telah memaafkannya, “Wahh.. sekarang kau sudah memahaminya..”

“Benarkah?!” ucap Jun-ki dengan penuh rasa bangga


Selesai syuting, Jun-ki langsung berterimakasih pada Park Sung Woong.. dan lagi-lagi, direspon dengan sebuah tunjukkan ke arahnya. Terdiam sejenak, Jun-ki lalu berkata: “Terimakasih karena anda telah memuji saya..”


Tak disangka, tebakannya tepat.. Park Sung Woong langsung tertawa dan dengan gaya bicara ‘tunjuk-tunjuk’ nya, dia pun mengajak seluruh kru dan pemain untuk makan daging ditraktir olehnya..


Acara makan-makannya berlangsung cukup meriah, semua orang terlihat begitu senang, termasuk Jun-ki yang ternyata memang sudah cukup lama tak merasakan makan hingga sekenyang ini..


Ketika tengah berada dalam toilet, Jun-ki bertemu dengan Park Sung Woong. Disana lah terjadi memon memalukkan yang sangat dia sesali kemudian,

Park Sung Woong mencoba untuk memberitahukan kalau ada sebutir nasi yang menempel di pipi Jun-ki. Akan tetapi.. Jun-ki salah faham, dan malah mengira Park Sung Woong minta dicium olehnya dan Jun-ki benar-benar menciumnya~


Pulang kerumah.. Jun-ki tak sanggup mengatakan apapun, berulang kali dia hanya memukul-mukulkan jidatnya ke atas meja. 


Du-shik yang baru pulang, bertanya pada Dong-gu: “Dia itu kenapa?”

“Dia tak akan bisa berakting lagi..” jawab Dong-gu yang kemudian menceritakan kejadian yang dialami Jun-ki barusan

“Tapi kenapa?” tanya Du-shik


“Park Sung Woong memperlihatkan tatapan yang sangat aneh.. kukira, dia ingin aku menciumnya sebagai bentuk ucapan terimakasihku kepadanya..” papar Dong-gu


Melihat wajah Dong-gu yang sangat lesu, membuat Du-shik bertanya pada Jun-ki: “Kalau dia kenapa?”

“Soo-ah memergokinya ketika dia akan menjual cincinnya..” jawab Jun-ki

“Dia melihatku dengan tatapan tanpa rasa ampun..” ujar Dong-gu

“Hfft.. tapi kalau begitu, kita bisa membayar tagihan kita?” tanya Du-shik

“Aku tak jadi menjualnya.. mungkin aku tak memiliki appa pun, tapi aku tak bisa menjual cincin couple kami..” ungkap Dong-gu


Pada momen ini, meraka tersadar bahwa mereka tak punya harapan lagi. Dong-gu megatakan kalau dirinya akan menyerah saja.. Du-shik sempat optimis untuk tetap melanjutkan impian mereka yaitu memproduksi film bersama, namun Jun-ki mematahakan impian itu.. dia merasa saat ini, mereka memang sudah saatnya untuk menyerah.

“Bayi itu bagaimana?”

“Mau diapakan lagi.. kita harus membawanya ke kantor polisi. Lagipula, orangtuanya telah menelantarkannya..”

“Setidaknya, kita harus memberinya makan terlebih dahulu..”


Karena tak ada susu, maka mereka pergi ke supermarket. Di rak, tersisa satu kaleng susu, mereka mengambilnya tapi merauhnya kembali karena harus mengecek uang.


Tapi tiba-tiba, datanglah seorang wanita yang lansgung mengambil sekaleng susu tersebut, “Siapa yang mengambilnya duluan, yang berhak membelinya..”

“Ehe.. itu milik kami..” sanggah Song-gu yang kemudian bersikeras merebut kembali sekaleng susu tersebut


Tak lama kemudian, datang seorang ahjumma.. sepertinya dia petugas di tempat ini. Dia pun mendengarkan pembelaan dari kedua belah pihak lalu berkomentar, kalau yang muda menyerah saja..


Mendengar kata ‘menyerah’, spontan membuat mereka bertiga terpancing untuk melupakan isi hatinya..

“Kenapa kita harus menyerah..”

“Kita telah melakukan semampu kita, tapi segalanya tak berjalan sesuai dengan harapan..”

“Kita mengecat dinding, lalu memasang wallpapers bahkan kita mendesan sendiri bagian interior..”

“Itu merupakan harapan terakhir kami!”

“Pokoknya kamu tak bisa menyerah begitu saja!”


Sikap mereka, membuat kedua wanita hanya bisa diam tak mengerti, “Kalian ini bicara apa??”

Pada momen itu lah, Jun-ki merebut sekaleng susu formula, kemudian mereka berteriak: “Aku tak akan menyerah..”


Bak tayangan dalam sebuah film.. mereka berjalan dengan penuh rasa bangga.. Jun-ki sampai mengangkat sekaleng susu yang berhasil dia beli, dan dengan dramatis dia berkata “Kau lihat ekspresi ahjumma tadi?  Wajahnya pucat seketika..”

“Aku tahu.. lagipula, berani-beraninya dia melawan kita..”

“Hfft.. hari yang sangat pas untuk menyeduh susu formula.. hahahahahah...”


“Kalian ngapain? Dikiranya kita sedang syuting film..” ucap Dong-gu ketus

“Hfttt.. kau ini, selalu merusak suasana?!?!” keluh Jun-ki


Du-shik menatap si bayi, “Hey, ingat yaa.. oppa berusaha keras membelikan ini untukmu..” ucapnya

“Tepat sekali.. karena oppa tak akan memaafkanmu kalau kamu melupakan hal ini..” ujar Jun-ki


Tiba-tiba, muncul sekawanan turis yang menghampiri mereka karena tertarik dengan ke-imut-an si bayi. 


Memanfaatkan kemampuan bahasa inggris yang pas-pas-an, Jun-ki mengajak mereka mengobrol dan ternyata mereka tengah mencari tempat untuk menginap.. Spontan, dia pun mengajak mereka semua untuk bermalam di Waikiki~


Mendapatkan tamu sebanyak ini, menjadi pengalaman yang pertama kalinya untuk mereka. Du-shik merasa kalau bayi itu membawa keberuntungan dan berkat momen ini, Dong-gu kembali bersemangat untuk mengejar impian mereka..


Setelah menyiapkan makanan untuk para tamunya, Du-shik dan Dong-gu menghampiri Jun-ki yang tengah sayik mengobrol dengan si bayi,, menggunakan gaya bicara yang kedengarannya mirip orang cacingan..


Dong-gu merasa geli mendengarnya.. dia pun membentak Jun-ki, memintanya berhenti. Tetapi bersamaan dengan itu, si bayi malah menangis..

“Apa mungkin dia kelaparan?” tanya Du-shik


Mereka bertiga membuat susu di dapur, dan cerobohnya mereka malah meninggalkan si bayi di tengah rumah.. seorang diri..


Sambil membuat susu, mereka saling bertanya, mengapa orangtua si bayi tega menelantarkan anaknya begitu saja?

“Pasti mereka punya alasannya tersendiri..” jawab Jun-ki

“Bagaimana kalau mereka tak akan pernah datang kembali?” tanya Dong-gu

“Kita yang akan merawat dan membesarkannya..” jawab Jun-ki yang merasa bahwa si bayi, telah membawa keberuntungan bagi mereka

“Heh.. omong kosong.. mana mungkin, kita bisa membesarkannya..” sanggah Dong-gu


Disaat hendak memberikan susu untuk si bayi.. mereka kaget, karena bayinya telah hilang dan terlihat seseorang berpakaian serba hitam yang berlari meninggalkan tempat ini..


Spontan, mereka pun berlari mengejarnya.. tapi hal itu tidaklah mudah~ 

Mereka bertiga dibuat kerepotan, selama berlari mereka jatuh.. serta menabrak orang lain.. kondisi jalanan yang berliku, membuat mereka sempat kehilangan jejak.


Tapi untunglah, Jun-ki berhasil menghadang orang itu.. dan ternyata, dia adalah seroang wanita~


Melihatnya, membuat Jun-ki terspesona. Bukannya marah, dia malah bertanya, “Apakah anda baik-baik saja? Namaku Lee Jun Ki, nama anda siapa?”


Comments


EmoticonEmoticon