2/06/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 Part 2
Oh Gong yang sedang kedinginan mendatangi Bu Ja ke ruang tamu, tadinya dia akan memarahinya karena menyetel AC sangat dingin. Tapi Oh Gong melihat Bu Ja dengan banyak sekali bunga dari rumah sakit yang dibawa oleh orang-orang yang menjenguk Ma Wang. Oh Gong lalu mengomel lagi, dia mengatakan semua bunga itu akan segera layu jadi apa gunanya dikumpulkan. Bu Ja harus membuangnya, tapi karena bunga-bunga itu masih bagus, Bu Ja merasa sayang untuk membuanganya. 

“Tapi kurasa begitu mulai membusuk, tidak ada yang mau melihatnya. Mereka sama sepertiku.”
“Tidak, mereka beda. Kau pikir cantik seperti bunga? Beraninya kau membandingkan dirimu?”
“Aku cantik! Setelah menjadi Zombie, aku bahkan mendapat kartu nama untuk menjadi selebriti. Aku sangat cantik!”
“Baik. Kau cantik. Sangat cantik. Hei, Zombie bisa mendengar mereka cantik dari mulutku adalah kemewahan sesungguhnya.”


Setelah berdebat dengan Oh Gong, Bu Ja mengatakan keinginannya untuk menghilang.
“Iya. Ini mewah. Son Oh Gong, terima kasih telah memberiku kehidupan mewah sampai sekarang. Aku siap mengakhiri semuanya sekarang. Tolong bakar aku.”
“Pergi tanpa tahu siapa dirimu... atau alasan kau mati, Kau akan baik-baik saja?”
“Kurasa tidak ada keluarga yang mencariku. Dan aku melihat musuhku. Aku melihat orang-orang yang mencoba menguburku.”
“Kau melihatnya? Lalu balas dendamlah pada mereka.”
“Aku tidak mau. Jika balas dendam pada mereka, maka aku menyakitinya. Itu membuatku takut. Aku tidak ingin menjadi roh jahat. Dan aku tidak perlu balas dendam. Aku ingin menghilang saat masih cantik seperti ini.”
“Baiklah. Lakukan apa yang kau mau.”
“Jagalah rahasia dari semua orang. Beri aku waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Dan kau kedinginan jadi nyalakan pemanas ruangan dan matikan AC. Aku akan tidur di bak mandi sekarang.”


Sekertaris Ma memberitahu Ma Wang kalau orang yang di rasuki roh jahat dan menikamnya adalah pekerja bangunan. Dia bekerja di lokasi konstruksi Yayasan Korea Prof. Kang Dae Seong.
“Aku akan pergi ke sana bersama Sam Jang. Aku punya firasat buruk tentang ini.”
“Dia punya Son Oh Gong jadi aku yakin tidak akan banyak membantu tapi...”
“Ma Wang, ada sesuatu yang mencurigakan antara Sam Jang dan Son Oh Gong.”
“Apa itu?”


Ma Wang sangat terkejut saat Sekertaris Ma mengatakan kalau Sam Jam memiliki lonceng kematian. Tapi Sam Jang belum mengetahui kalau itu adalah lonceng kematian.


Seon Mi sedang mengamati lonceng kematian.
“Bagaimana bisa ini... Apa Sekretaris Ma tahu aku memiliki Lonceng Cinta? Haruskah aku membawakannya dan bertanya apa ini benar?”


Oh Gong mengirimkan pesan “Aku akan berada di sampingmu sekarang. Hitung sampai sepuluh.”


Seon Mi segera merapikan rumahnya dan juga bercermin untuk merapikan rambutnya.


 Oh Gong datang lalu Seon Mi berpura-pura tidak antusias dengan kedatangannya.
“Kau di sini? Ada apa ini? Kau bahkan mengirim pesan terlebih dulu.”
“Aku memutuskan untuk mempermudahmu. Jika mendadak muncul, kau akan terlalu bersemangat. Aku tak bisa membiarkanmu mati karena bahagia, kan?”
“Aku tidak akan mati hanya karena bahagia.”
“Sungguh? Itu akan segera terjadi.”


Oh Gong lalu duduk dan Seon Mi bertanya apa tujuannya datang. Ada hal yang ingin ditanyakan oleh Oh Gong.
“Kau lebih suka berita sedih diberitahu sekarang atau nanti? Ini sesuatu yang pasti terjadi dan tak bisa dicegah bahkan jika kau tahu.”
“Jika itu pasti akan terjadi, maka tahu lebih dulu akan membuat sedih lebih lama.”
“Baik. Aku akan memberitahumu nanti.”
Seon Mi lalu menawarkan teh, Oh Song sangat senang karena ada alasannya untuknya berlama-lama di rumah Seon Mi. Oh Gong mengira minum teh bersama termasuk hal yang berbahaya, tapi Seon Mi mengatakan ini bukan hal yang berbahaya bagi mereka berdua.


Oh Gong mengamati dari balik punggung Seon Mi yang sedang membuat teh.
“Egois sekali. Ini bukan apa-apa baginya tapi sangat berbahaya bagiku.”


Oh Gong melihat sebuah kotak di meja lalu membukanya. Di dalam kotak itu ada lonceng kematian, lalu Oh Gong memasukkannya ke dalam saku.


Saat Seon Mi selesai membuat teh, Oh Gong sudah tidak ada. Seon Mi pun menjadi sedih.
“Dia pergi karena ini berbahaya? Memangnya apa yang aku lakukan!”


Oh Gong menemui cucu pemilik toko untuk memastikan itu lonceng kematian yang hilang. Dia membenarkannya dan menurutnya lonceng itu sudah pernah berbunyi.
“Mengapa bisa bersama Sam Jang?”
“Ah, jadi Noona memungutnya hari itu.”


Ma Wang sedang berbicara dengan Soo Bo Ri, dia tidak yakin Oh Gong yang merupakan makhluk abadi akan mati di tangan Sam Jang dikarenakan takdir mereka berdua yang saling mematikan. Menurut Soo Bo Ri, Oh Gong membuat kelemahan fatal yaitu mengijinkan Geumganggo melunakkan hatinya. Ma Wang masih saja penasaran lalu dia bertanya lagi.
“Lalu agar tugas Sam Jang selesai... dia akan membunuh Son Oh Gong? Atau dia akan mati di tangan Son Oh Gong? Karena ini takdir mematikan, maka pasti salah satu dari dua itu kan?”
“Tidak peduli yang mana, hukuman ini diberikan kepada Dewa Agung oleh Surga. Surga masih belum memaafkan monyet sombong itu.”


Oh Gong mencoba mendengarkan suara lonceng itu tapi tidak ada suara apapun. Dia bisa mendengar Soo Bo Ri berbicara dengan Ma Wang “B*jingan itu tidak pernah merasakan sakit yang sesungguhnya. Itu membuat seluruh Surga marah. Dia perlu merasakan rasa sakit yang sebenarnya setidaknya sekali agar dimaafkan.”


Bu Ja memuji kue buatan Oh Jeong yang sangat lezat, bahkan yang paling lezat di antara yang lainnya. Oh Jeong mengatakan dia memilih resep dari daftar rekomendasi di situs ibu rumah tangga. 
“Sa Oh Jeong, terima kasih sudah membuat banyak makanan lezat untukku.”
“Makan lagi. Aku harus membuat komentar.” Sa Oh Jeong lalu mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu.


Bu Ja datang ke toko es krim Jenderal Es. Dia berterima kasih karena sudah membuatnya berada dalam mode dingin sehingga tidak membusuk. Menurut Jenderal Es, saat musim semi tiba Bu Ja pasti merasa lebih dingin setiap hari. Lalu dia menawarkan kerja paruh waktu di toko es krimnya.
“Aku akan mempertimbangkannya saat musim semi tiba. Apa aku bisa bertemu Peri Ha sebentar?”
“Dia tidak suka bangun di siang hari.”
“Lupakan. Lalu, pastikan untuk bilang terima kasih padanya telah membuatku cantik.”


Jenderal Es mengamati Bu Ja karena ada sesuatu yang aneh menurutnya.
“Bu Ja, apa yang terjadi?”
“Tidak ada. Es krimnya sangat lezat!” Bu Ja berusaha tersenyum, dia menyembunyikan kesedihannya dengan memakan es krimnya.


Sekertaris Ma mengatakan pada Pal Gye dan Naga Giok kalau mereka tidak bisa putus sekarang, dan meminta mereka untuk terus berkencan. Naga Giok sangat setuju, dia mengatakan babi itu cocok berkencan dengannya.
“Mengapa? Mengapa? Mengapa?! Kenapa kami tidak bisa putus? Maksudku, Ma Wang bisa mati dan hidup kembali sesukanya... jadi mengapa aku tidak bisa putus dengan Gurita ini sesukaku?”


Sekertaris Ma menunjukkan sebuah foto kepada Pal Gye yang sedang sangat kesal. Itu adalah foto saat dirinya menngendong Naga Giok yang sedang mabuk.
“Ini sangat tidak adil. Kapan pun dia minum, dia menjadi kacau. Aku, tidak punya pilihan... untuk tidak meninggalkannya dan membawanya ke hotel! Sungguh, tidak ada yang terjadi dengan Gurita ini!”
“Benar. Tidak ada yang terjadi. Babi ini tidak bisa berfungsi dengan baik.”
“Berengsek sialan ini! Dasar!” mereka lalu berkelahi, mendorong dan menjambak satu sama lain.


Sekertaris Ma meninggalkan mereka berdua dan menyambut Bu Ja.


Bu Ja datang untuk berterima kasih pada Sekretaris Ma, karena memberikan bola energi untuknya. Pal Gye datang dan bertanya apakah Bu Ja datang untuk latihan.
“Aku tidak latihan hari ini.”


Naga Giok datang dan menyela pembicaraan mereka, dia mengatakan hari ini Bu Ja tidak begitu bau.
“Aku baru saja bertemu Jenderal Es jadi aku lebih baik dan dingin sekarang. Pangeran, kau harus kembali ke Istana Laut Naga dan menebus kesalahan dengan Ayahmu.”
“Baik. Sebelum kau membusuk lebih lama, aku akan menunjukkan sekeliling Istana Laut Naga.”
“Terima kasih.” Ucap Bu ja dengan sangat manis.


Pal Gye menarik kepala Naga Giok ke belakang agar dia bisa berbicara dengan Bu Ja.
“Lupakan melihat istana dengan Gurita. Ayo pergi ke taman hiburan seperti janji kita.”
Pal Gye langsung menarik tangan Bu Ja dan pergi bersamanya.


Pal Gye menawarkan Bu Ja untuk makan terlebih dulu sebelum pergi dan makanan apa yang dia inginkan. Mendadak Pal Gye mengeluhkan hidungnya yang terasa sakit.
“Ah, hidungku sakit... Ugh, monyet sialan itu selalu memukul hidungku.”
“Apa Son Oh Gong memukul hidungmu karenaku lagi?”
“Ini karena kejadian terakhir kali. Aku baik-baik saja. Dia tidak memukulku berkali-kali.”
Bu Ja lalu mengelus hidung Pal Gye “Tolong jangan berusaha keras karena aku.”
“Sudah kubilang kau adalah adikku. Tidak apa-apa karena kita saudara. Mari makan makanan lezat lalu bersenang-senang.”
“Aku sebelumnya punya janji hari ini.”
“Janji apa?”
“Son Oh Gong akan membawaku ke tempat yang bagus hari ini.”
“Dewa Agung? Aku menyuruhnya berhenti jahat padamu. Kurasa dia menurutinya.”
“Jeo Pal Gye, aku paling berterima kasih padamu. Aku senang kau memanggilku sebagai adikmu.”
“Aku juga. Aku sangat menyukai adikku.”
“Son Oh Gong akan marah jika aku terlambat. Aku akan pergi.” Bu Ja berusaha menyembunyikan air matanya dengan segera masuk ke dalam lift.
“Selamat bersenang-senang!”


Di dalam lift, Bu Ja akhirnya menangis. Pal Gye merasa ada sesuatu yang aneh pada Bu Ja, tapi dia tidak mau memikirkannya lagi.
Advertisement


EmoticonEmoticon