2/06/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 Part 3
Sekertaris Ma dan Seon Mi datang ke pohon yang dianggap angker itu. Tanah itu milik Kang Dae Sung dari Yayasan Korea dan konstruksi terhenti karena pohon itu. Seon Mi bertanya apakah roh jahat keluar karena pohon ini. Sekertaris Ma juga tidak mengetahuinya dan memutuskan untuk mencari tahu dengan menggunakan darah Sam Jang.


Para pekerja sedang beristirahat, salah seorang diantaranya kerasukan roh jahat. Matanya berubah menjadi merah, dia lalu mengambil sebuah palu besar dan menghampiri Seon Mi dan sekertaris Ma.


Pria itu akan menghantamkan palunya tapi Sekertaris Ma berhasil menahannya.
Dia lalu berteriak “Jauhkan tanganmu dari pohon!”
“Sam Jang, ini orangnya?”
“Iya. Dia orang yang di rasuki roh jahat ketika di rumah sakit.”


Tiba-tiba ada angin kencang dan langit menjadi gelap. Angin membawa daun-daun bertebangan, salah satu daun terbang mengenai tanga Seon Mi dan membuatnya terluka. Darah menetes dan membuat tanah bergetar.


Pria itu lalu berbicara dengan suara roh jahat “Aku telah menjadi pelindung selama lebih 1.000 tahun. Manusia bodoh. Mulai sekarang ini tanggung jawabmu!”


Roh jahat itu menghilang, meninggalkan pria itu tergeletak di tanah.
“Sepertinya roh jahat itu menghilang. Pohon itu juga baik-baik saja. Kerja bagus, Sam Jang. Ayo.”


“Tapi, menurutmu apa maksudnya menjadi pelindung lebih dari 1.000 tahun?”
“Pohon ini berumur lebih dari 1.000 tahun. Karena roh jahat itu sudah lama terikat padanya.”
“Yang kita singkirkan sebenarnya adalah roh jahat, bukan?”
“Bagaimana pun, pria itu sudah normal dan konstruksi akan segera di mulai. Ayo.”


Pria yang pingsan itu lalu ditolong oleh teman-temannya.


Oh Gong memberitahu Ma Wang kalau dia akan membakar Bu Ja. Ma Wang hanya mengatakan kalau Sam Jang akan sedih.
“Ini lebih baik daripada membiarkannya melihat dia menjadi roh jahat. Aku ingin mempersingkat waktu bersedih dengan memberitahunya nanti.”
“Melihat apa yang telah kau lakukan untuk memikirkan kesedihan Sam Jang... hatimu pasti sudah menjadi lembut.”
“Ya, jika aku membuat kesalahan, dia sungguh bisa membunuhku.”
“Bagaimana mungkin manusia membunuh Dewa Agung? Mengapa kau bertindak bodoh?”
“Kau sudah tahu tentang lonceng kematian kan?”
“Aku mendengar semuanya tentang Sekretaris Ma yang menanyakan hal itu dari cucu penjual.”


“Kau tahu Sam Jang memiliki lonceng kematian? Dan dia bilang ini sudah berbunyi.”
“Lalu kau juga tahu salah satu dari kalian akan membunuh dan satunya akan mati kan?”
“Selama Geumganggo bersamaku, aku tidak akan membunuhnya. Lalu, dia sungguh akan membunuhku?”
“Kau belum menyiapkan diri untuk di bunuh olehnya kan?”
“Siapa bilang. Jika tidak ingin mati maka aku harus menggunakan cara apapun. Aku harus menyingkirkan Sam Jang terlebih dulu kan?”


Oh Gong melihat Seon Mi datang bersama Sekertaris Ma, lalu dia bertanya pada Ma Wang.
“Apa yang harus ku lakukan ketika wanita yang mungkin membunuhku itu cantik?”
“Jika dia cantik bagimu, tidak ada yang bisa kau lakukan. Apa kau akan mati di tangan Sam Jang?”
“Ma Wang, jangan khawatirkan aku. Aku tidak akan pernah mati.”
“Aku tidak mengkhawatirkanmu. Terserah kau mati atau tidak.”
“Bu Ja akan menemuimu nanti. Jangan cengeng dan menangis.”


Oh Gong lalu berjalan ke arah Seon Mi, dia mengomel karena Seon Mi tidak memakai syal di saat dingin seperti ini. Oh Gong lalu mengajaknya makan, mereka lalu pergi bergandengan tangan.


Sekertaris Ma melaporkan masalah roh jahat telah diatasi. Ma Wang mengatakan kalau Son Oh Gong sudah tahu tentang lonceng kematian.
“Sungguh? Namun dia bicara dengan Sam Jang seolah acuh tak acuh seperti itu?”
“Dia bilang tak akan pernah mati. Aku kenal Dewa Agung. B*jingan itu pasti akan menyingkirkan Sam Jang terlebih dulu. Cinta? Hal seperti itu tak akan pernah bisa memenangkannya.”


Seon Mi bertanya pada Oh Gong apa ada yang terjadi, tapi Oh Gong tidak mengatakan apa-apa.


Seorang wanita berdiri di samping Bu Ja yang sedang menunggu lift. Dia mengamati Bu Ja dengan sungguh sungguh.


Bu Ja merasa tidak enak, karena dia pikir wanita itu mencium bau busuk dari tubuh Bu Ja.
“Nona, apa mungkin namamu Jung Se Ra?”
“Apa? Kau mengenalku?”


Pria suruhan Prof Kang membuka tas ibu Jung Se Ra dan menemukan ponsel milik ibu.
“Apa itu? Itu milik Ibu Jung Se Ra kan? Apa yang akan kau lakukan? Kau akan membawanya ke rumah sakit pindahannya?”
“Tidak ada yang pantas dikhawatirkan. Kita bisa membuangnya. Baterainya masih menyala. Meski pun sakit, dia pasti mengisi dayanya jika ada telepon dari putrinya.”


Wanita itu membawa Bu Ja ke kamar yang tadinya ditempati oleh ibunya.
“Wanita yang di rawat di sini menangis setiap hari karena putrinya yang hilang. Dulu banyak foto di sana. Mereka pasti sudah membersihkannya saat dia pindah rumah sakit.”
“Kau bilang aku Jung Se Ra?”


Wanita itu melihat masih ada satu selebaran orang hialng yang tersisa, dia mengambilnya lalu memberikannya pada Bu Ja.
“Ini dia! Lihat.”
“Ini aku! Ini sungguh aku! Dimana Ibuku sekarang?”


Ponsel ibu Jung Se Ra berdering, Bu Ja yang menghubungi nomor itu. Pria botak itu menekan tombol menerima panggilan dan mendengarkan siapa yang menghubungi nomor itu.
“Apa itu Hyungnim? Itu ponsel Ibu Jung Se Ra kan? Apa yang harus kita lakukan? Siapa itu?”
“Ini Ibu? Kau Ibuku? Aku Se Ra. Ibu di mana? Ibu di mana sekarang?” Bu Ja menangis saat berbicara di telepon.


Bu Ja berlari keluar dari kamar yang tadinya ditempati oleh ibunya sambil menangis. Dia masih mengingat perkataan pria yang menerima telepon darinya.
“Aku orang yang merawat Ibumu. Kenapa kita tidak bertemu sekarang?”


Oh Gong menggenggam tangan Seon Mi yang terluka.
“Aku terluka karena roh jahat yang menempel di pohon.”
“Begitu? Aku sedang merawatmu. Aku tidak bermain trik.”
“Saat tanganku tergores daun, darahku menetes ke tanah dan bergetar.”
“Apa ada hal aneh yang keluar?”
“Tidak. Itu dengan cepat membaik dan roh jahat di pohon menghilang.”
“Hati-hati. Darah Sam Jang bisa membangkitkan sesuatu yang sangat mengganggu.”


“Alasan darahku memiliki kemampuan itu karena kau. Karena aku membebaskanmu dan menjadi Sam Jang, walau membangkitkan pengganggu, itu karenamu.”
“Benar. Mulai sekarang, semua yang terjadi adalah karenaku. Jadi, walau mati karenamu, aku tidak akan mengatakan apapun.” 


Prof Kang melihat peti batu yang diambil dari bawah pohon keramat yang sudah ditebang.


Setelah dua orang pria itu pergi, Prof Kang berusaha membuka peti itu tapi tidak bergeser sedikitpun. Tiba-tiba ada cahay keluar dari peti.


Prof Kang melihat sesosok wanita misterius yang mengenakan jubah.


Prof Kang ketakutan, seorang pria yang tadi bersamanya datang lagi.
“Tidak akan ada masalah di lokasi konstruksi. Apa yang harus aku lakukan dengan peti ini?”
“Hancurkan sampai berkeping-keping.”


Saat mereka berdua prgi, peti batu itu mengeluarkan cahaya lagi.


Bu Ja sedang menuggu orang yang mengatakan kalau dia yang merawat ibunya selama ini. Ternyata yang datang adalah dua pria yang akan menguburkannya.


Seon Mi sedang bersama Oh Gong, dia meminta Seon Mi untuk pulang lebih dulu karena ada sesuatu yang harus diurus.


Seon Mi lalu bertanya tentang hal yang akan dikatakan oleh Oh Gong.
“Tentang hal menyedihkan yang kau katakan tadi, itu terus menggangguku.”
“Jika kau tahu, itu akan membuatmu sedih berlama-lama. Pasti ada sesuatu yang menyebabkanmu bersedih.”
“Untuk beberapa alasan, kurasa perlu menanyakannya, jadi aku harus tahu.”
“Jin Bu Ja bilang dia terhubung melalui darahmu, pasti ada sesuatu yang kau rasakan.”
“Apa ini tentang Bu Ja?”
“Aku akan membakarnya. Dia bilang takut menjadi roh jahat. Ketika masih cantik, dia ingin menghilang. Kubilang akan melakukan itu untuknya.”
“Di mana dia sekarang? Dia setidaknya harus mengucapkan selamat tinggal.”


Tiba-tiba ada sesosok gadis yang terjatuh dari atap hingga menghancurkan kap mobil yang ditimpanya. Dia adalah Bu Ja, yang terluka parah. Oh Gong segera memeluk Seon Mi untuk melindunginya. Sebelum menutup matanya, Bu Ja mengucapkan nama Son Oh Gong.


Mata Oh Gong menyala, dia melihat dua pria itu berada di atap sedang melihat di mana tubuh Bu Ja terjatuh.


Oh Gong sudah berada di atap, dia sangat marah dan membuat dua pria itu terdorong mundur dengan kekuatan kasat mata.


Oh Gong teringat ucapan Bu Ja saat terakhir bertemu “Aku bertemu Ahjussi yang mencoba menguburku. Jika membalas dendam, aku harus menyakiti mereka. Aku takut. Aku tidak perlu balas dendam. Ketika cantik seperti ini, aku ingin menghilang.”


Oh Gong yang sangat marah mendorong dua pria itu hingga ke tepi atap.
“Kalian ruapanya! Mati!”


Seon Mi datang dan berteriak agar Oh Gong menghentikan balas dendamnya.


Pada saat itu juga mata Oh Gong kembali berwarna hitam. Dai berhenti karena merasakan sakit yang amat sangat pada jantungnya. Geumganggo juga berubah menjadi berwarna hitam.


Saat sedang merasakan sakit di dadanya, Oh Gong memuntahkan darah dari mulutnya.


Oh Gong menoleh dan melihat Seon Mi berada di belakngnya dengan raut wajah yang panik.
Advertisement


EmoticonEmoticon