2/06/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 11 Part 4
Seon Mi berteriak untuk menghentikan Oh Gong agar tidak membunuh dua pria itu. Karena Geumganggo, jantung Oh Gong lalu dia menjadi muntah darah. Seon Mi ketakutan lalu mendekat untuk melihat apa yang terjadi pada Oh Gong. Tapi Oh Gong melarangnya untuk mendekat, dan dia menghilang.


Seon Mi sangat sedih melihat keadaan Oh Gong. Dia menghilang begitu saja tanpa mengatakan apapun.
“Kau terluka karenaku.”


Dua pria itu melarikan diri dan tiba di tempat Bu Ja terjatuh, tapi mereka kehilangan Bu Ja.


Seon Mi berlari sambil menangis dan terngiang ucapan Oh Gong.
“Setelah ku pikir, cuma kau di dunia ini yang bisa membunuhku. Karena jika kau menyuruhku mati, aku akan mati.”


Seon Mi datang ke kamar Ma Wang di rumah sakit, dia memberitahu kalau Oh Gong terluka karenanya.
“Akhirnya... kau membuatnya seperti itu.” Ma Wang hanya berkomentar dengan singkat.


Oh Gong membawa Bu Ja ke Sureumdong. Bu Ja meminta maaf tapi Oh Gong menyuruhnya diam saja, dia berbicara sambil memejamkan mata. Lalu Bu Ja bertanya apakah Oh Gong baik-baik saja.
“Aku bukan Zombie di mutilasi yang harus di suruh untuk sembuh. Diam saja. Mari kita tetap diam... sebentar saja.”
“Kau terluka?”
“Aku tidak terluka, aku hanya terkejut. Berhenti bicara dan diam. Setelah membaik, aku akan mengobatimu.”


Oh Gong mengingat lagi saat Seon Mi berteriak padanya agar dia tidak membunuh dua pria yang melempar Bu Ja dari atap.
“Tidak! Hentikan, Son Oh Gong! Tidak! Tidak!” Kemudian jantung Oh Gong terasa sangat sakit dan dia muntah darah.
Lalu Oh Gong bergumam “Sepertinya dia sungguh akan membunuhku.”


Ma Wang mengatakan pada Seon Mi apa yang terjadi pada Oh Gong, yaitu karena Seon Mi menyuruhnya untuk berhenti dan dia melawan maka jantungnya berdegup kencang.
“Bahkan jika dia terluka karenaku... itu pasti terluka secara emosional, bukan benar-benar terluka. Dan bukankah dia sangat kuat? Seharusnya tidak ada yang bisa menyakitinya!”
“Benar, tapi sekarang Dewa Agung terluka. Kau membuatnya seperti itu. Karena Geumganggo. Sederhananya... cintanya untukmu membuat hati monyet yang keras menjadi lembut.”
“Lalu, karena Geumganggo, dia menjadi lemah? Ini kelemahan yang fatal. Dia bisa mati karena itu. Tentu saja... yang bisa membunuhnya... satu-satunya adalah orang yang di cintai.”


Seon Mi termenung sambil berbicara pada dirinya sendiri “Son Oh Gong. Aku mungkin bisa membunuhnya?”


Oh Gong menyiramkan minuman pada luka-luka di tubuh Bu Ja kemudian luka itu perlahan sembuh. Dia lalu memberikan botol minuman itu untuk Bu Ja.
“Sudah sembuh sekarang. Son Oh Gong, terima kasih.”
“Minumlah, ini mengobati perutmu yang sakit. Ini sangat berharga. Mewah bagimu untuk meminumnya.”


Bu Ja bertanya apakah ini Sureumdong, lalu Oh Gong mengatakan kalau ini adalah tempatnya. Bu Ja juga bertanya di manakah Seon Mi.
“Dia mungkin juga terkejut.”
“Ada apa? Kau terluka? Unnie pasti sedih. Aku tahu bagaimana perasaannya karena dia dan aku terhubung. Dia pasti sangat sedih.”
“Zombie, jika kau terus bicara, luka yang hampir sembuh akan terjadi lagi. Diam.”
Bu Ja lalu mengatakan dia bukan zombie lagi karena dia sudah mengetahui namanya.
“Namaku Jung Se Ra. Bukankah namaku cukup cantik?”
“Tidak terlalu cantik, Nona Jung Se Ra.”
“Aku juga ingin memberitahu Jeo Pal Gye bahwa aku tahu namaku.”
“Benar. Dia kakakmu.”
“Ya, aku harus segera menemuinya. Kau juga harus pergi menemui Unnie.”
“Entah sebagai Jin Bu Ja atau Jung Se Ra, kau cukup merepotkan.”
“Ayo pergi bersama, Son Oh Gong.”
“Baiklah. Ayo pergi, Jung Se Ra.”


Oh Gong sudah memakai mantelnya, saat akan keluar Jung Se Ra menarik mantelnya.
“Apa lagi sekarang?”
“Nanti, tolong bakar aku di Sureumdong. Ini tempat yang bagus. Kau bisa melakukannya?”
“Aku akan memberimu pelayanan yang mewah.”
Bu Ja tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.


Pal Gye bersama Naga Giok berada di tempat Peri Ha. Dia mengkhawatirkan Bu Ja yang tidak bisa dihubungi.
“Dia mengatakan selamat tinggal seperti akan pergi jauh. Aku khawatir. Ini bukan masalah besar kan? Sangat aneh ketika dia mengucapkan selamat tinggal. Oh. Seharusnya aku juga ikut.”
“Zombie sudah mati, walau pun bersikeras, dia tidak bisa mati. Bahkan ketika kau tidak memberinya energi kuat.” Peri Ha berusaha menenangkan Pal Gye.
“Dia bilang pergi ke suatu tempat dengan Dewa Agung. Dia tidak mungkin membakar Bu Ja, kan?”  Pal Hye yang merasa sangat gelisah lalu pergi dari tampat itu.


Setelah Pal Gye pergi, Naga Giok bergumam dengan sikap yang aneh “Jeo Pal Gye mengkhawatirkan Zombie? Bagaimana bisa Babi bersama Zombie?”
“Anda cemburu sekarang, Pangeran? Apa ada kemungkinan Gurita bisa bersama Babi?”
Peri Ha ternyata mendengarnya, dia menjadi bingung dengan keadaan yang dilihatnya.


Pal Gye duduk dengan gelisah di dalam mobilnya sambil mengingat ucapan Bu Ja waktu itu.
“Jeo Pal Gye. Aku paling berterima kasih padamu. Aku senang menjadi adikmu.”


Pal Gye melihat Bu Ja berdiri di depan mobilnya, dia segera keluar lalu memeluk Bu Ja.
“Bu Ja! Syukurlah. Kau menakutiku.”
“Aku bahkan tidak melakukan apa pun.”
“Kau tidak menghubungiku. Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Aku hampir memukul Oh Gong.”
“Jeo Pal Gye, aku menemukan namaku.”


Dua pria yang menjatuhkan Bu Ja menemui Prof Kang untuk melaporkan kalau mereka berusaha menyingkirkan Bu Ja setelah dia menelepon ponsel ibunya. Tapi dia menghilang lagi dengan keadaan terluka parah.
“Kau bilang dia menelepon ponsel Ibunya? Lalu, telepon dia. Jika dia tidak mati kali ini, dia akan muncul.” Kata Prof Kang sambil menyeringai.


Seon Mi mencari Oh Gong ke rumah Ma Wang, Oh Jeong mengatakan Oh Gong tidak ada mungkin dia di Sureumdong.
“Kau bisa membawaku ke sana?”
“Jika ingin bertemu dengannya, kau bisa menggunakan kemampuan Sam Jang kan?”
“Aku tidak bisa melakukan itu karena takut dia akan terluka.”
“Tidak ada yang bisa masuk ke Sureumdong kecuali dia mengajaknya. Maaf.”


Seon Mi masuk ke dalam lift yang merupakan jalan rahasia ke Sureumdong.
“Aku tahu jalan di sana tapi tidak tahu cara untuk masuk. Izinkan aku masuk. Mari kita bicara.”


Seon Mi keluar dali lift, ternyata dia masih berada di rumah Ma Wang.
“Apa yang harus aku lakukan?”


Seon Mi lalu berjongkok dan merasa sangat sedih.


Oh Gong keluar dari lift dan melihat Seon Mi berada di lantai. Dia lalu menyapanya dengan dingin.
“Hei.”
Seon Mi terlalu bersemangat untuk berdiri hingga kakinya keseleo.
“Sakit? Aku sangat kesakitan sebelumnya karenamu. Kita impas sekarang.”


Oh Gong lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Seon Mi berdiri, Seon Mi menggapainya dan segera memeluknya sambil menangis.
“Kau tahu, kau selalu menyuruhku agar tidak menggodamu... tapi kau cenderung yang memulainya. Terluka sepertinya tidak buruk juga.”
Seon Mi mengencangkan pelukannya, kemudian Oh Gong tersenyum dan melingkarkan tangannya di punggung Seon Mi.


Seon Mi berada di rumahnya bersama Oh Gong, dia membuatkan teh dan menawarkan berbagai makanan untuk Oh Gong.
“Ini teh hangat jadi minumlah. Kau suka sesuatu yang hangat kan? Hei, apa kau lapar? Kau mau makan sesuatu? Hei, lalu kau mau buah?”


“Mengapa kau terus memanggil "Hei" bukannya Sayang? Jika memanggil "Hei", siapa yang kau maksud?”
“Aku tidak menyebutkan namamu karena tidak ingin kau terluka. Sebelumnya kau merasa kesakitan saat ku panggil namamu.”


Perlahan Oh Gong mendekatkan tangannya ke samping Seon Mi dan bebicara dengan serius yang membuat mata Seon Mi berkaca-kaca.
“Jadi, kau tidak akan memanggilku dengan nama lagi? Oh begitu, kau ingin memutuskan kontrak kita? Jadi, kau akan membantuku melepas Geumganggo?”
“Kau ingin ku lepaskan?”
“Sungguh?”


Oh Gong lalu mengulurkan tangannya agar Seon Mi melepaskan Geumganggo. Dengan ragu-ragu Seon Mi menyentuh Geumganggo. Tapi tiba-tiba dia menjauhkan tangannya.
“Aku tidak bisa. Aku masih membutuhkanmu dan harus selalu memanggilmu.”


Oh Gong lalu berbicara sambil membelai rambut Seon Mi.
“Kau bilang menyukaiku... tapi kurasa tidak karena kau tidak ingin membantuku melepas gelang ini. Jin Seon Mi, kerja bagus. Kau melakukan hal benar. Kau tetap diam, walau aku mencoba menggoyahkanmu seperti tadi. Aku memperingatkanmu. Aku padamu. Karena aku mencintaimu.”


Oh Gong meminum lagi tehnya, tapi dia mengatakan kalau tehnya asin. Seon Mi pergi ke dapur untuk membuatkan teh lagi.


Oh Gong mengeluarkan lonceng kematian dari sakunya dan memandangi lonceng itu.
Advertisement


EmoticonEmoticon