2/07/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 Part 1
Ma Wang sedang mengobrol dengan Sekertaris Ma. Menurut Ma Wang, Oh Gong tidak akan memberitahu Seon Mi kalau itu adalah lonceng kematian. Jika Sam Jang menganggapnya sebagai lonceng cinta dan terus jatuh cinta dengan Oh Gong. Itu akan lebih menguntungkan baginya. Dia tidak akan pernah memberitahunya, bukan karena dia takut Seon Mi terluka karena mengira itu lonceng cinta, tapi karena Oh Gong tidak akan terperdaya karena cinta.

Sekertaris Ma bertanya kenapa Ma Wang sepertinya senang Oh Gong tidak mati. Ma Wang berusaha menyangkalnya, dia mengatakan sangat membenci b*jingan itu. Ma Wang hanya memanfaatkan Oh Gong untuk memperdaya Sam Jang.


Bu Ja memberitahu Pal Gye kalau namanya adalah Jung Se Ra. Menurut Pal Gye namanya cantik, dan nama pemberiannya terdengar norak dan dia merasa malu. Jung Se Ra lalu mengangkat kedua jempolnya.

“Jin Bu Ja juga bagus. Bu Ja sangat keren. Terbaik. Jeo Pal Gye, kau bisa terus mengingat dan menganggapku sebagai Bu Ja.”
“Lalu, aku akan terus menjadi saudaramu, Jin Bu Ja.”
“Tentu, aku akan terus menjadi Jin Bu Ja, hanya untukmu.
Tiba-tiba tangan Bu Ja terkulai begitu saja, Pal Gye sangat mencemaskannya tapi Bu Ja mengatakan sepertinya ini karena dia terjatuh. Pal Gye lalu segera mengambilkan obat pengawet untuknya.


Saat Pal Gye tidak ada, Bu Ja menerima telepon dari Prof Kang, dia mengaku sebagai orang yang merawat ibu Jung Se Ra.
“Aku ingin bertemu denganmu. Kau bisa datang?”


Pal Gye datang dan Bu Ja sudah pergi.


Ma Wang pulang ke rumah dengan sangat gembira, dia pikir semua orang berkumpul untuk mengadakan pesta penyambutan tapi ternyata tidka ada satu orangpun di rumah.


Ma Wang lalu membuka kulkas, dia bertambah kesal saat tidak ada makanan sama sekali.
“Sa Oh Jeong sudah tahu aku suka bubur. Tapi dia tidak pernah membuatkannya. Dan aku juga sakit.”


Dia lalu masuk ke kamar mandi dan melihat kamar mandinya sangat kotor, penuh dengan bunga-bunga layu.
“Sampah apa ini? Mereka tidak tahu apa-apa tentang kebersihan. Bagaimana jika ini menganggu pekerjaan?”


Ma Wang membungkus sampah yang ada di rumahnya sambil meggerutu.
“Bu Ja tidak ada di sini jadi tidak mungkin Pal Gye di sini. Kurasa Naga Giok juga tidak akan datang. Mari kita selesaikan. Sial.”


Oh Gong tidak menyangka Ma Wang sudah berada di rumah dan heran melihat Ma Wang sedang bersih-bersih.
“Yaa. Aku baru keluar sebentar dan sekarang rumah berantakan. Aku di rawat di rumah sakit dan sekarang pulang... lalu melihat rumah ini berantakan, kau seharusnya sudah membersihkannya.”
“Oh Jeong sibuk rapat umum pemegang saham jadi tidak sempat untuk tinggal di rumah.”
“Apa ini rumah Oh Jeong atau semacamnya? Kau bahkan tidak tahu membedakan sampah makanan dan sampah minuman? Aku juga harus meletakkan di depan rumah... tapi kau tetap tidak mau berkontribusi sama sekali?”


Oh Gong meletakkan seboto minuman dan bungkusan di meja lalu mengucapkan selamat atas kepulangan Ma Wang.
“Ini bubur favoritmu. Aku tidak tahu membuatnya jadi kubeli. Dan ini anggur ucapan selamatmu.”
“Oh, kau membeli bubur untukku? Kau membeli bubur jamur yang sangat kusuka.”
“Iya, kudengar bubur di sana sangat lezat. Makan ini selagi aku keluar membuang sampah. Dan minum juga anggurnya.”
“Kau tidak menaruh sesuatu di sini? Benar?”


Ma Wang membuka buburnya dan sangat senang dengan pemberian Oh Gong.
“Astaga. Sepertinya kau menambahkan jamurnya.”


Saat Oh Gong kembali, Ma Wang sudah menyiapkan meja untuk dua orang. Dia mengajak Oh Gong makan bersama. Oh Gong sulit mempercayai kebaikan Ma Wang.
“Aku juga?”
“Maksudku, kau juga hampir mati.”
“Ma Wang, kau peduli denganku?”
“Hei, aku khawatir kau memasukkan sesuatu jadi aku membagikannya.”
“Aku tidak memasukkan apa pun. Tidak ada! Kau sangat takut.”


Ma Wang bertanya apakah Oh Gong memberitahu Seon Mi tentang Lonceng kematian.
“Mengapa? Kau khawatir aku akan mati? Kau takut sendirian?”
“Lupakan. Makan saja buburnya.”
“Ah, ku dengar dari Sam Jang kau menangkap roh jahat yang bersemayam di pohon hari ini.”
“Benar. Dia mengurusnya bersama Sekretaris Ma.”
“Itu sungguh roh jahat kan? Kau tidak merencanakan hal lain kan?”
“Hei, karena harus membersihkan masalah akibat melepaskanmu, aku menderita seperti ini.”
“Kau pikir aku akan membuat masalah lagi? Apa aku pembuat sial?”
“Benar, bukan? Kau tidak akan membuat masalah lagi.”
“Benar. Lalu, tidak akan terjadi sesuatu.”


Bu Ja datang ke tempat yang ditentukan oleh Prof Kang.
“Aku tidak menyangka kau sungguh datang, tapi kau di sini sekarang. Kurasa kau tak kenal takut karena tidak mati.”
“Apa kau orang yang membunuhku?”
“Maaf. Itu sebuah kecelakaan.”
“Kematianku sebuah kecelakaan?”
“Bagaimana bisa kau masih hidup? Ini sangat menarik.”
“Dimana Ibuku?”
“Aku mengajukan pertanyaan tapi kau menjawabnya dengan pertanyaan lain. Aku benci itu.”
“Bantu aku bertemu Ibuku.”
“Dan sepertinya kau juga tidak berniat menjawab pertanyaanku. Walau begitu, aku akan bersikap baik dan menjawab pertanyaanmu.”


Prof Kang lalu menunjuk peti kemas di sampingnya.


Dengan bodohnya Bu Ja percaya begitu saja dan masuk ke peti kemas itu. di dalam, dia mendekati peti batu keramat dan berusaha membukanya. Pada saat itu pintu terkunci dari luar. Bu Ja berteriak tapi tidak ada yang membukanya.


Prof Kang memerintahkan dua orang penjahat itu untuk membuang peti kemas itu ke laut agat Bu Ja tidak bisa kembali.


Saat Bu Ja sedang berusaha membuka pintu, peti batu itu mengeluarkan cahaya yang masuk ke dalam tubuh Bu Ja.


Bu Ja yang sangat ketakutan dan juga terkejut lalu melihat seorang wanita misterius yang memakai jubah berdiri membelakanginya.


Bu Ja berteriak karena ketakutan saat peti batu itu bergetar seperti terjadi gempa bumi.


Dua penjahat itu juga merasakan getaran dalam dari peti kemas.


Mereka berdua melihat cahaya dari dalam peti kemas, lau mereka pun masuk untuk memeriksanya.


Bu Ja sudah menjelma sebagai seorang wanita misterius, dan terlihat senang melihat dua pria itu.
“Kalian harus menjadi tumbal persembahan untukku.”


Peti kemas itu lalu bergetar lagi dan terdengar teriakan dua pria itu.


Prof Kang melihat peti kemas itu sudah kosong tapi terdapat banyak darah di mana-mana.
“Sekarang apa yang terjadi?”


Soo Bo Ri mengatakan yang dikurung di bawah pohon itu adalah Asanyeo yang beristirahat di sana selama lebih dari 1.000 tahun. Asanyeo adalah cenayang yang membuat seorang Raja. Dia di kurung setelah membunuh.

Ma Wang berpendapat jika itu roh jahat yang berumur lebih 1.000 tahun, maka poinnya cukup banyak jika dia menangkapnya. Menurut Soo Bo Ri, Asanyeo bukan sesuatu yang mudah. Tidak seperti roh jahat, jika bersembunyi di tubuh manusia, Ma Wang tak akan bisa membedakannya. Dia bisa memanfaatkan manusia dengan mengendalikan pikiran mereka. Dia Cenayang yang memiliki kemampuan menciptakan naga dan bahkan raja. Jika ada yang salah, mungkin dia bisa mengubah seluruh dunia menjadi terbalik.


Oh Gong menyalahkan Ma Wang karena membuat masalah besar. Tapi menurut Ma Wang, Sam Jang lah yang melakukannya.

“Kenapa kau menyalahkan itu kepada Sam Jang? Kau membebaskan roh jahat itu seperti membebaskanku. Poin Ma Wang harus di ambil.”
“Hei, kenapa poinku di ambil! Kau tidak tahu usahaku mendapatkannya?”
Soo Bo Ri lalu melerai mereka, menurutnya Ma Wang lah yang memulai semua ini jadi dia harus menemukan Asanyeo.


Mendadak Ma Wang berpura-pura batuk dan berbicara seperti orang yang tercekik.
“Karena efek samping dari obat yang menekan kekuatanku... aku perlu memulihkan diri. Sudah lama aku tidak hidup. Sepertinya ini parah. Tolong beri aku istirahat.”


“Lalu, Dewa Agung, kau harus mencari dan mengurusnya.” Kata Soo Bo Ri kepada Oh Gong.
Oh Gong memegang dadanya dan berpura-pura kesakitan.
“Mengapa ini? Ow... Aku sekarat! Kau tidak tahu bahwa hatiku sudah menjadi lembut? Sejak saat itu, aku sering terkena serangan jantung. Ohh, hatiku... Aku harus minum obat untuk menahannya.”


Oh Gong lalu mengeluarkan sebuah botol dari sakunya dan akan meminumnya tapi Ma Wang mengambil botol itu.
“Lihat aku. Lihat.”
“Hei, ini permen nafas.”
“Oh? Kau tidak batuk. Kau pasti sudah baikan.”
“Kalian! Sudah cukup bertingkah seperti ini.  Aku harus berdiskusi dengan seisi Surga bagaimana menangani Asanyeo.”


Oh Gong masih terus menyalahkan Ma Wang karena membangunkan Asanyeo.
“Kau melakukannya dan bilang itu bukan apa-apa! Bagaimana mungkin Banteng begitu ceroboh.” Oh Gong lalu memukuli dan menendang patung banteng milik Ma Wang.
“Hei, hentikan!”
“Banteng bodoh!”


Ma Wang lalu membalasnya dengan meludahi patung monyet milik Oh Gong.
“Jangan! Jangan lakukan itu! Hentikan! Hei, berkat kecerobohanku kau dibebaskan dari Gunung Lima Elemen kan? Kau berengsek tak tahu terima kasih.”


“Pokoknya, jangan panggil Sam Jang untuk hal  berbahaya dan selesaikan kesialanmu sendiri.”
“Kaulah kesialan pertama yang aku buat. Kulihat Sial Nomor Satu menyakiti hati Sial Nomor Dua. Astaga. Bagaimana pun, yang terbaik adalah menghindari kesialan. Aku tidak mau ikut campur. Dia bangian dari darah Sam Jang. Asanyeo akan mengejar Sam Jang... dan akhirnya kesialan itu... akan diselesaikan olehmu! Dasar monyet.”


Ma Wang naik ke tangga tapi dia mengulangi lagi meludahi patung monyet.
“Berhenti meludah! Kau gila?”


Seon Mi membaca berita tentang pohon keramat itu, dan Han Joo ikut membicarakan tentang lahan itu.
“CEO, Anda berencana membeli tanah di Icheon? Pilihan bagus!”
“Apa harga tanahnya akan naik?”
“Tentu saja. Seluruh area itu milik Yayasan Korea. Profesor itu, Kang Dae Sung. Keluarganya adalah Yayasan Korea. Dia berasal dari keluarga bergengsi, cerdas, dan tampan. Istriku lebih menyukainya dari pada idola. Jika dia menjadi Presiden, maka akan membuat kota Icheon menjadi hebat. Jadi dia orang yang sangat mengesankan.”


Han Joo lalu menuju ke jendela dan melihat seorang wanita duduk di luar.
“Omong-omong, apa jalanan licin atau semacamnya? Mengapa Jajjangmyeon datang begitu lama? Hah? Kenapa wanita itu melihat ke sini? Dia ingin menyewa kamar? Ugh, aku sangat lapar.”


Wanita itu adalah Bu Ja yang dirasuki Asanyeo, dia terus melihat ke arah kantor Seon Mi.
“Wanita itu ada di sana. Haruskah aku menyapa?”


Bu Ja melihat ada seorang pria pengantar bunga, dia lalu meniupkan kelopak bunga mawar merah ke arah pria itu. kelopak bunga itu masuk ke mata pria pengantar bunga dan merasukinya.
Advertisement


EmoticonEmoticon