2/07/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 Part 2
Seon Mi menerima bunga yang diantarkan oleh pria yang disihir oleh Asanyeo. Saat ditanya siapa yang mengirimkan bunga, pria itu hanya diam saja lalu pergi. Han Joo menebak bunga itu dikirim oleh Jonathan, karena menurtu Han Joo Jonathan adalah pria yang romantis.


Asanyeo menghirup bunga yang dipegangnya lalu meniup sehelai tangkai mawar.


Saat Seon Mi sedang memasukkan bunga ke dalam vas, ada sehelai kelopak yang terbang lalu menggores tangannya hingga meneteskan darah.


Asanyeo mengambil sehelai kelopak yang terkena tetesan darah Seon Mi dan menjilatnya. Dia bilang rasanya enak.


Saat Seon Mi sedang mengobati lukanya, ada beberapa kelopak yang melayang akan menuju ke Seon Mi.


Secara tiba-tiba Oh Gong muncul dan memukul kelopak bunga itu dengan tongkatnya.


Seon Mi kembali ke ruangannya dan melihat mejanya sudah kosong. Bunga-bunga itu menghilang bersama Son Oh Gong. Lalu Seon Mi bertanya pada Sun Yuk Gong apakah  ini perbuatan Hyung-nimnya.


Di luar kantor Seon Mi, Oh Gong menemukan setangkai mawar yang ditinggalkan oleh Asanyeo.
“Tampaknya dia suka bunga. Apa dia tahu ini?”


Sekertaris Ma memberikan tugas yang dilakukan oleh Ma Wang sebagai wakil Soo Bo Ri yang sedang pergi ke surga. Dia menunjukkan data diri seorang pria yang sedang dicari oleh polisi.
“Orang yang ditakdirkan telah tiba di sana.” Sekertaris Ma menunjuk seorang pria yang berjalan ke arah lift.


Ma Wang menghampiri pria itu dan meminta ponselnya. Walaupun pria itu bersikeras menolaknya tapi Ma Wang merebut ponsel pria itu dan melemparkannya ke pintu lift.


“Kau bajingan Jo Sae Pal, membohongi 23.600 orang dari 1,35 triliun won, bukan? 99 orang bunuh diri karenamu dan 2.600 anak menjadi yatim. 7.856 rumah tangga rusak. Kau b*jingan pembunuh kebahagiaan dan senang karena lolos dari hukuman manusia. Jadi, hari ini kau akan menerima murka yang diturunkan Surga.”


Pintu lift terbuka, dan menunjukkan ruang kosong yang sangat dalam yang tidak berujung.
“Setelah jatuh di sini, kau tidak akan mati. Meski pun semua tubuhmu rusak, kau tidak akan mati dan setelah bertahan selama 9 hari, kau akan diselamatkan. Bahkan jika bernafas, kau akan kesakitan di semua persendianmu. Dan hiduplah seperti itu selama sisa hidupmu. Sekarang, kau harus jatuh.”
“Aku salah. Tolong lepaskan aku.”
“Karena bajingan sepertimu... banyak omongan yang mengabaikan Surga. Sini! Pergi kau!” Ma Wang lalu mendorong pria itu terjatuh ke dalam lift.


Saat sedang dalam perjalanan, Ma Wang melihat Cha Eun sedang duduk sambil menangis.
“Wanita itu. Di dunia ini dia dilahirkan? Wanita itu... di dunia ini dia dilahirkan?” Ma Wang berbicara dengan suara bergetar.


Ma Wang akan membuka pintu mobil tapi Sekertaris Ma melarangnya.
“Jangan, Ma Wang. Anda tahu tidak boleh terlibat. Bahkan jika Iblis terlibat, ini tidak akan mencegah kematian tragis... dan akan ada malapetaka lebih buruk di kehidupan berikutnya.”


Ma Wang hanya bisa menatap wanita itu dengan menahan air mata.


Ma Wang mengikuti Na Chal yang masuk ke sebuah toko, sepertinya dia bekerja di sana.


Ma Wang kembali ke kantornya dengan tidak bersemangat dan tampak sedih. Di dalam ruangannya, Bu Ja yang dirasuki Asanyeo sudah menunggunya, dia beralasan ingin mengambil bola energi. Karena Ma Wang sedang tidak bergairah untuk mengobrol, dia hanya mempersilahkan Bu Ja mengambil bola energi itu dan segera pergi.


Asanyeo melihat lukisan Na Chal di dinding.


Dia lalu berbalik dan berbicara pada Ma Wang.
“Kau sudah menemukan Sinsan yang cantik itu?”
“Aku sudah menceritakan semuanya tentang dia. Sebenarnya hari ini... aku melihatnya. Di kehidupan ini dia juga di pukul dan menangis.”
“Kau bilang tidak bisa mencampuri takdir manusia.”
“Benar.”
“Boleh aku membantumu? Aku tidak terkenal di golongan manusia, goblin atau hantu. Jika aku membantunya seperti itu, mungkinkah surga tidak sadar?”
“Bagaimana kau bisa mewujudkan ide seperti itu?”
“Sudah kubilang, aku ingin melakukan sesuatu untukmu.”
“Namun, menipu Surga tidaklah mudah.”


Asanyeo itu bertemu Sekertaris Ma, dia mengatakan baru saja mengambil bola energi. Sekertaris Ma mencium sesuatu pada tubuh Bu Ja.
“Bu Ja? Kau mengeluarkan bau yang asing.”
“Aku telah mengubah baunya untuk menutupi bau busuk.”
“Ini bau mawar. Tidak buruk juga.”


Asanyeo bertemu dengan Pal Gye yang mengkhawatirkan Bu Ja yang tidak bisa dihubungi. Karena dia harus segera melakukan photoshoot, jadi dia berpesan agar tetap di rumah, Pal Gye akan pulang setelah jadwal selesai.


Pal Gye pergi bersama Naga Giok, lalu Asanyeo itu melihat pantulan Bu Ja di kaca.
“Bu Ja ini sangat dicintai. Walau begitu, dari pada Zombie ini... akan lebih baik mencuri tubuh Sam Jang.”


Asanyeo bertemu dengan Oh Gong. Oh Gong mengambil bola energi yang dibawa Asanyeo karena menurutnya dia baru saja mengobati tubuh Bu Ja jadi dia tidak akan memerlukan bola energi.
“Aku merasa sudah mengobati wanita yang terluka dengan baik. Kau mungkin tidak butuh energi. Aku yang membutuhkannya. Berikan padaku. Jika aku sudah memberimu kemewahan, bukankah kau harus membayarnya? Aku pergi.”


Oh Gong sudah akan pergi tapi dia berbalik dan mengeluarkan setangkai mawar lalu melemparkan ke kaki Bu Ja.
“Hei! Aku memungutnya dari jalan menuju ke sini. Kau suka bunga kan? Kau bilang ingin menghilang saat cantik seperti bunga. Aku pasti akan membakarmu saat kau cantik. Jin Bu Ja. Kau sekarang bukan Jin Bu Ja kan? Kau Jung Se Ra. Jung Se Ra. Astaga. Aku akan membakarmu nanti.”


Asanyeo itu mengamati Oh Gong yang berjalan pergi.
“Dewa Agung, setara dengan Surga, Son Oh Gong. ika aku memiliki Sam Jang, apa dia akan menjadi milikku?”


Oh Gong mengembalikan bola energi, lalu dia berbicara menggebu-gebu dengan Ma Wang yang tampak tidak bersemangat.
“Ma Wang! Ma Wang! Kau melihatnya? Kau tahu kan? Mereka bilang kau menemuinya.”
“Apa?
“Kau tidak tahu? Yang barusan terjadi!”


“Siapa?”
“Cenayang itu bersembunyi di balik wajah dan tubuh Bu Ja!”
“Itu bukan Bu Ja?”
“Wow, sungguh tidak ada yang membantumu saat energimu lemah. Itu bukan Bu Ja.”
“Jika bukan Bu Ja... itu Cenayang?”
“Iya. Asanyeo.”


“Asanyeo? Kenapa dia sampai di sini? Apa yang ingin ia dapatkan dengan berpura menjadi Bu Ja? Ugh, ini... Aku tidak menyadari karena lelah. Lalu? Apa yang kau lakukan dengan Asanyeo? Kau sudah mengurusnya?”
“Aku membiarkan dia pergi.”
“Apa? Kau mengenalinya jadi mengapa biarkan dia pergi?”


Mereka berdua lalu saling melempar tugas menangkap Asanyeo. Oh Gong berdalih jantungnya masih sakit, sedangkan Ma Wang beralasan energinya sedang melemah. Lalu Ma Wang mengajak untuk membagi tugas saja. Oh Gong mengatakan dia akan menangkapnya supaya Ma Wang bisa menemukan cara untuk mengurungnya lagi. Dan juga dia meminta Ma Wang untuk memeriksa pohon keramat itu.
“Tapi, Ma Wang... Mengapa dia menemuimu terlebih dulu? Kau tidak membuat kesepakatan diam-diam dengan dia kan?”
“Dia hanya mengambil energi dan pergi.”
“Jangan menusukku dari belakang.”
“Aku bersungguh-sungguh. Tidak akan! Kau pikir aku berengsek sepertimu! Kau pikir semua orang sama sepertimu.”
Advertisement


EmoticonEmoticon