2/07/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 12 Part 3
Ma Wang mengatakan pada Sekertaris Ma kalau tawaran Asanyeo sangat menggoda tapi dia menolaknya karena dia pikir itu adalah Bu Ja. Lain cerita kalau Ma Wang tahu itu adalah Asanyeo.
“Lalu Anda harus menusuk Son Oh Gong dari belakang. Begitu Son Oh Gong merayunya, Anda harus menariknya ke pihak Anda.”
“Ya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi... jadi siapkan kontrak lagi.”


Jonathan berpamitan karena dia akan kembali ke Amerika besok. Ketika filmnya keluar tahun depan, dia berjanji akan mengundang Seon Mi ke festival film itu.
“Terima kasih. Ah! Terima kasih juga sudah mengirim mawar. Meski pun Peri busuk membawa semuanya.”
“Mawar? Aku sudah menyiapkan hadiah lain untukmu.”


Jonathan lalu memberikan sebuah kotak perhiasan pada Seon Mi berisi sebuah kalung.
“Nama kalung itu adalah Happy Ending. Sama seperti akhir filmku, gadis kecil pemberani memilik akhir yang bahagia. Jadi aku berharap akhir yang bahagia untukmu dan Perimu, Seon Mi.”


Jonathan lalu mengulurkan tangannya, Seon Mi menyambutnya lalu mereka berjabat tangan.


Seon Mi mengamati kalung pemberian Jonathan.
“Happy Ending? Jadi ini hampir sama dengan takdir pasangan di Surga.”


Seon Mi lalu membuka kotak tempat dia menyimpan lonceng tapi kotak itu kosong karena Oh Gong sudah mengambilnya.
“Oh? Kemana perginya? Apa itu hilang setelah berbunyi sekali? Aku bahkan belum menunjukkannya kepada Son Oh Gong.”


Oh Gong menemui Peri Ha dia mengatakan agar tidak memberi tahu Seon Mi tentang lonceng kematian, biarkan saja dia mengira itu adalah lonceng cinta. Peri Ha setuju dengannya, karena membiarkannya seperti itu akan membuat dia bahagia. Oh Gong juga mengatakan kalau Seon Mi mengetahuinya di awal hanya membuat dia bersedih lebih lama.


Oh Gong lalu bertanya apakah Bu Ja datang menemui Peri Ha.
“Iya. Hanya sebentar. Dia mengambil lipstik. Dia menyukai lipstik berwarna merah mawar jadi aku memberikannya.”
“Wow, rubah licik.”
“Rubah licik? Aku?”
“Tidak. Hei, Peri Ha, Apa mungkin kau tahu tentang Cenayang?”
“Kau pasti mengira aku banyak tahu karena seorang peri Tao, tapi aku tidak tahu. Jika membahas Cenayang, Bukankah ada orang yang kau kenal?”
“Siapa?”
“Sam Jang. Sam Jang juga seorang Cenayang. Dia manusia tapi mampu melakukan hal yang berhubungan dengan dunia spiritual.”
“Begitu? Jadi, itu alasan dia berkeliaran di sekitar Sam Jang.”


Sa Oh Jeong heran karena Bu Ja memakan steak, sedangkan Oh Jeong tahu kalau Bu Ja tidak menyukai daging. Asayeo beralasan setelah mengalami luka parah, dia ingin makan daging.


Sa Oh Jeong mengamati tangan Bu Ja, dia makan sengan tangan kirinya. Sedangkan Bu Ja menggunakan tangan kakan untuk makan.
“Bu Ja, bukankah kau bertangan kanan?”
“Sa Oh Jeong... bukankah aku kidal?” Asanyeo itu menatap tajam Oh Jeong untuk mempengaruhi pikirannya.
“Oh. Ya, benar. Kau kidal. Makanlah dagingnya.”
“Terima kasih. Sa Oh Jeong, bisa buatkan beberapa makanan favorit Unnie? Aku ingin menemuinya.”


Prof Kang memerintahkan anak buahnya untuk membuang peti batu itu ke laut sesuai rencana awalnya.


Saat akan pergi, Prof Kang melihat kelopak mawar lalu memugutnya dan menciumnya.
“Mawar. Masih berbau. Dia tidak mati?”


Sekertaris Ma menemui seorang pekerja di lokasi pohon keramat. Dia memberitahu Sekertaris Ma kalau peti batu itu diambil dari bawah pohon, dan akar pohon itu melilit di sekitar peti batu. Peti batu itu sekarang sudah dipindahkan ke gudang sehingga tidak ada yang membicarakannya.


Ma Wang dan Sekertaris Ma masuk ke kadal gudang seperti yang dia katakan oleh pekerja proyek. Ma Wang masih bisa mencium aroma mawar di tempat itu. Peti batu itu sudah tidak ada di sana.

INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS

Sekertaris Ma: “Sepertinya mereka sudah membuangnya. Atau mungkin saja di pindah ke tempat lain. Apa keuntungan bagi manusia memiliki peti mati batu Asanyeo?”
Ma Wang: “Kau bilang Yayasan Korea Kang Dae Sung, bukan? Apa dia tahu Asanyeo adalah Cenayang yang bisa membuat seorang Raja... sehingga dia mengambil  peti mati batu itu?”


Prof Kang membawa peti batu itu ke rumahnya.
“Kurasa wanita itu akan datang mencarinya.”


Asanyeo datang menemui Seon Mi dengan membawakannya makanan dan bunga mawar.


Saat Seon Mi sedang menyiapkan makanan, Asanyeo itu mengendus aroma dari tubuh Seon Mi.
“Kau memiliki bau bunga teratai.”
“Ya, darahku seperti itu. Kau juga memiliki darahku di dalam tubuhmu.”
“Iya. Orang yang membangunkanku adalah Sam Jang.”


Asanyeo lalu bertanya apak Oh Gong tidak datang. Seon Mi mengatakan akhir-akhir ini situasi mereka sedang canggung.
“Sejujurnya, di hari kau terluka, dia juga terluka.”
“Aku tahu. Dia terluka karenamu kan? Karena kau memanggilnya. Lalu kau seharusnya tidak memanggilnya. Itu akan membuat dia kesakitan. Jika tidak memanggil Son Oh Gong... kau tidak akan bisa melakukan apapun kan?”
Seon Mi mulai merasa aneh dengan Bu Ja saat dia berbicara seperti itu.


Asanyeo lalu mengambil sekuntum bunga.
“Untuk dilindungi oleh Dewa Agung... bukankah kau harus memiliki kemampuan khusus?”
“Kemampuan apa?” tanya Seon Mi yang tampak bingung.


Asanyeo lalu meniup bunga yang dipegangnya. Tiba-tiba kepalanya dipukul dari belakang oleh Oh Gong.


Son Oh Gong berpura-pura marah karena dia tidak undang untuk makan bersama
“Berapa banyak kemewahan yang kuberikan? Semua makanan yang kau bawa ini dari Oh Jeong. Kau seharusnya memanggilku. Lalu, makanlah.”


Oh Gong menyeret Asanyeo dan menyuruhnya duduk.


Oh Gong lalu menghampiri Seon Mi dan membuang bunganya.
“Mengapa kau membuang bunganya? Kau juga membuang semua hadiah bunga yang datang ke kantorku kan?”
“Iya. Kau sudah cantik seperti ini. Mengapa aku harus perlu melihat bunga? Aku tidak butuh bunga. Dan bunga itu berbahaya.” Ucapan Oh Gong membuat Seon Mi tersiupu.


Oh Gong lalu menggengam tangan Seon Mi yang terluka lalu membuka plester lukanya dan meniupnya untuk menyembuhkannya.
“Aku sudah bilang jangan terluka kan?”
“Aku terluka tanpa ku sadari.”
“Jangan terluka. Meski pun aku tetap menganggapmu cantik dengan bekas luka, itu menggangguku. Sepertinya aku tidak perlu menunggu lagi.”
“Apa?”
“Ada sesuatu. Banteng b*jingan.”


Sekertaris Ma mengatakan kalau Ma Wang ingin menemukan peti mati yang dimiliki Kang Dae Sung, dia harus menerima risiko mengekspos keberadaanya.
“Mengapa aku harus menerima risiko itu? Aku berencana menemukan peti mati itu nanti.”
“Son Oh Gong mungkin menunggu Anda.”
“Setelah menahan Asanyeo, dilihat dari  sikapnya, dia mungkin akan bertarung dengannya. Akan berbahaya untuk bertarung di rumah Sam Jang, jadi dia akan menyeretnya ke Sureumdong. Ketika mereka berdua selesai, kita akan tahu apa yang diinginkan Asanyeo.”
“Seperti yang kuduga, Ma Wang, Anda hebat. Tapi... apa sebenarnya yang diinginkan Cenayang itu?”


Oh Gong menghampiri Asanyeo dan menganjaknya ke Sureumdong.
“Sudah kubilang akan membakarmu.”
“Ah, tidak perlu lagi.”
“Tidak, aku harus membakarmu.”
Lalu Oh Gong berbisik padanya “Ayo pergi diam-diam.”


Oh Gong menyeret Asanyeo dan pura-pura merangkulnya. Dia mengatakan pada Seon Mi akan ke Sureumdong untuk mengambil sebotol alkohol yang enak.”
“Alkohol? Aku punya alkohol di rumah.”
“Tidak, aku akan membawakan yang paling mahal dan kesukaanmu.”
Mereka berdua lalu menghilang.


Seon Mi menunggu kedatang Oh Gong dan Bu Ja sampai makanannnya dingin.
“Makanannya dingin. Mengapa mereka tidak kembali? Haruskah kupanggil?”
Lalu Seon Mi mendengar bel berbunyi.


Seon Mi membukakan pintu, ternyata Ma Wang yang datang. Ma Wang mengatakan dia datang untuk menghentikan Seon  Mi.
“Sam Jang, jangan panggil Son Oh Gong malam ini. Son Oh Gong harus mengurus hal yang penting di sana.”


Asanyeo bertanya pada Oh Gong apakah mereka datang ke Sureumdong untuk bertarung. Oh Gong mengatakan kalau banyak alkohol mahal di sini jadi mengapa bertarung disana. 
“Kau Asanyeo?”
“Ya, Dewa Agung Son Oh Gong.”
“Kau sudah tidur selama 1.000 tahun jadi pasti banyak hal yang ingin kau lakukan sekarang. Aku tidak ingin menghentikanmu. Ma Wang akan mengganggumu saat kau melakukan apa maumu. Dia juga pergi mencari peti mati batumu. Jangan katakan padanya bahwa aku memberitahumu dan menemui Ma Wang.”
“Kau sungguh tidak akan menghentikan apa yang ku lakukan?”
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku harus melakukan apa mauku.”


Oh Gong lalu bertanya lagi apa yang ingin dilakukannya,
“Aku ingin menjadi Sam Jang. Aku ingin memilikimu. Son Oh Gong, kau akan melindungiku
mulai sekarang.”
“Mengapa aku sangat populer akhir-akhir ini?” Oh Gong tersenyum dengan sinis.


Asanyeo lalu meniupkan kelopak mawar yang ditujukannya ke mata Oh Gong. Tapi Oh Gong menepisnya dengan lengannya. Kelopak mawar itu tetap masuk menembus lengan Oh Gong dan masuk ke dalam matanya.
“Sepertinya itu sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Aku bisa memanipulasi jiwa. Yang aku inginkan adalah kau. Mulai sekarang, kau akan tetap di sisiku selamanya, tidak akan berubah. Kau akan melindungiku.” Ucapnya sambil mengelus pipi Oh Gong.


Asanyeo lalu duduk di pangkuan Oh Gong yang diam terperdaya sihir Asanyeo.
Advertisement

3 comments

Yaa! Apa apaan itu. Masak iya dewa agung terkena sihir cenayang???

musim pelakor di indonesia sdh menyerempet drama korea

Arghhhhh...tidaaakkk... Son oh gong sadarlah !!!


EmoticonEmoticon