2/13/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 13 PART 4

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 13 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 13 Part 3
Pal Gye menghampiri Bu Ja (Ah Sa Nyeo) untuk mengabarkan kalau dia sudah menemukan ibu Bu Ja. Dengan bersemangat dia lalu menarik tangan Bu Ja untuk mengajaknya ke rumah sakit.


Tapi Ah Sa Nyeo menepis tangan Pal Gye dan tidak sengaja mengenai hidungnya. Pal Gye pun merasa kesakitan, secara refleks Ah Sa Nyeo membelai hidung Pal Gye yang sakit.


Pal Gye segera memeluk Ah Sa Nyeo, dan mengatakan kalau dia benar-benar Bu Ja.
“Ah, apa kau tahu betapa takutnya aku mengira kau sungguh sudah pergi? Syukurlah.”


Ah Sa Nyeo tidak segarang biasanya, terkadang muncul sisi lembut Bu Ja, terutama saat bertemu Pal Gye.

“Aku...”
“Jangan katakan ‘bukan’!Aku tahu kau Ah Sa Nyeo. Meski begitu, Bu Ja juga masih di sana. Jadi jangan bicara kepadaku seolah Bu Ja sudah tidak ada. Aku akan pergi dan menemui ibumu dulu sendirian. Mari pergi bersama lain waktu.”


Ah Sa Nyeo dengan sedih memperhatikan Pal Gye yang pergi sendirian.
“Menyakitkan. Aku harus lekas bertukar tubuh dan menyingkirkan badan Bu Ja ini.”


Ah Sa Nyeo menyerahkan tempat dupa kepada Ma Wang, lalu Ma Wang mengatakan hari inilah saatnya. Hari ini terakhir dari reinkarnasi kesembilannya dan Ma Wang sangat siap.
“Ma Wang nim hanya perlu menyiapkan sesuatu untukku.”
“Apa itu?”
“Darahnya Sam Jang. Tubuh ini bukan milikku, maka darahku pun sangat lemah. Jika aku mencampur darahku dengan darah Sam Jang, maka akan baik-baik saja. Masukkan darah Sam Jang pada wadah dupa ini.”


Ma Wang lalu menemui Seon Mi, dia mengatakan ingin minta tolong kepada Seon Mi.
“Sam Jang, ada seseorang yang harus kau temui bersamaku.”


Seon Mi datang ke toko tempat Na Chal berada, dia sedang termenung wajahnya sangat sedih. Dia teringat wajah wanita dalam lukisan di kantor Ma Wang.


Na Chal tersadar dan bertanya pada Seon Mi apa ada yang bisa dibantunya. Seon Mi mengatakan dia hanya ingin melihat-lihat. Seon Mi melihat malaikat maut yang selalu berada di belakang Na Chal.


Seon Mi menoleh, dia melihat Ma Wang sedang menatap Na Chal sambil menangis.


Seon Mi dan Ma Wang berbicara sambil menatap lukisan Na Chal, dan bertanya apakah dia akan mati hari ini karena malaikat maut selalu bersamanya.
“Benar. Dia menjalani masa hidup yang sama untuk setiap reinkarnasi, kemudian mati. Hari ini adalah hari terakhir kehidupan kesembilannya.”
“Jadi, kau ingin aku menyingkirkan Malaikat Maut agar tidak membawanya pergi?”
“Mustahil menyingkirkan Malaikat Maut. Aku tahu. Dia akan mati hari ini. Itu bukan sesuatu yang dapat kita cegah. Tetapi aku menemukan sebuah metode untuk mengakhiri kesengsaraan atas pengulangan kelahiran dan kematiannya pada reinkarnasi saat ini.”


“Ma Wang-nim, kudengar hal itu sangat berbahaya untukmu.”
“Aku harus melakukannya. Bantu aku, Sam Jang.”
“Apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Darah Sam Jang. Aku membutuhkannya.”


Ah Sa Nyeo memberitahu Jenderal Es kalau dia akan segera dapat mencampur darahnya dengan darah Sam Jang. Begitu dia merasuki tubuh Sam Jang, Ah Sa Nyeo akan menjadi lebih kuat dibandingkan dia di masa lalunya.
“Apa yang hendak kau lakukan dengan Son Oh Gong-nim?”
“Aku hendak mengambil alih tubuh wanita itu dan menikahinya.”


Sa Oh Jeong mengatakan pada Oh Gong kalau cenayang mampu memanipulasi bintang dan membaca takdir manusia. Itu berarti memungkinkan baginya untuk mengumpulkan seluruh takdir Na Chal Nyeo.
“Berarti perjanjiannya dengan Ma Wang bukan kebohongan. Dia membanggakan hal itu langsung kepadaku.”


“Dia mampu memindahkan jiwa seseorang ke tempat lain.”
Oh Gong terkejut saat Oh Jeong mengatakan tentang berpindah jiwa.
“Ya, dia dapat melakukannya dengan mencampurkan darah.”


Ah Sa Nyeo mengatakan pada Ma Wang kalau dia akan mengumpulkan semua bintang takdir Na Chal. Sisa reinkarnasi menyakitkan Na Chal Nyeo adalah 99 kali, jadi Ma Wang harus diserang oleh kekuatan jahat dari 99 reinkarnasi yang tersisa. Dan energi bintang-bintang itu akan melesat kepada Ma Wang bagaikan anak panah.
“Kau, Ma Wang-nim, akan dihantam dengan kekuatan jahat tersebut. Pertama-tama, kita harus menyiapkan wadah dupanya. Tolong beri aku darah Sam Jang.”


Seon Mi lalu mengiris tangannya dengan pisau dan menteskan darahnya di tempat dupa.


Kemudian giliran Ah Sa Nyeo yang melukai tangannya dan meneteskan darahnya. Tapi ada tangan yang menampun darah Ah Sa Nyeo hingga tidak menetes ke tempat dupa.


“Nice catch.” Ucap Oh Gong saat tangannya berhasil menampung darah Ah Sa Nyeo. Dia juga menahan tangan Ah Sa Nyeo yang terus berusaha menteskan darahnya ke tempat dupa.
“Kenapa kau melakukan ini? Sedang apa kau? Bukankah sudah kubilang jangan mengacau?” Ma Wang sangat tidak senang melihat kedatangan Oh Gong.


Oh Gong: “Kurasa, dia bersikap aneh. Kenapa kau harus mencampur darahmu? Darahmu bahkan tidak memiliki kekuatan saat ini.”
Ah Sa Nyeo: “Jika kau menghalangiku seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Oh Gong: “Kami tidak membutuhkanmu di sini. Keluar!”
Oh Gong memergoki tangan Ah Sa Nyeo yang masih berusaha membawa pergi tempat dupa itu.
“Tinggalkan di sini. Darah Sam Jang ada di dalam sini.”
Ah Sa Nyeo pun pergi dengan tangan hampa.


Ma Wang yang sangat kesal mengatakan sekali lagi apa yang sedang Oh Gong lakukan di sini, Ma Wang sudah mengatakan agar jangan mengacau.
“Aku tidak mengacau. Lanjutkan.”
“Cenayang itu sudah pergi!”
“Sam Jang bisa melakukannya.”


Seon Mi terkejut mendengarnya, dia tidak yakin dirinya mempunyai kekuatan seperti itu.
“Tetua Soo Bo Ri juga berkata begitu. Sam Jang adalah Cenayang yang lebih kuat dibanding Ah Sa Nyeo. Kau bisa melakukannya.”
Ma Wang tidak percaya begitu saja, dia meminta untuk memanggil Tetua Soo Bo Ri ke sini untuk mengonfirmasi. Oh Gong mengakatakan kalau Soo Bo Ri sedang pergi menjemput seseorang, dia akan sampai sebentar lagi.


Na Chal sedang menangis sambil mengamati wanita yang membunuh anaknya, dia lalu mengeluarkan pisau dari tasnya. Malakat maut selalu berada di dekatnya.

194
Soo Bo Ri datang “Tunggu!”, dia lalu berbicara pada malaikat maut. Dia meminta malaikat maut untuk pergi dulu, semestinya dia bisa menundanya beberapa jam dengan kekuatannya.


“Seo Yoon Hee-ssi, hentikan yang kau lakukan. Temui seseorang sebentar bersamaku.”
“Urus saja urusanmu sendiri, menyingkirlah.”


Na Chal membalikkan badan dan akan pergi, tapi Soo Bo Ri kembali berbicara.
“Seseorang yang hendak menanggung 10.000 tahun kesengsaraan demi dirimu. Demi orang itu, sepuluh menit. Hanya sepuluh menit saja dari waktumu, untuk orang itu.”


Dengan mata berkaca-kaca, Ma Wang melihat kedatangan Na Chal.


Na Chal menghampiri Ma Wang dan berbicara dengan lirih “Aku... disuruh bertemu denganmu. Kau siapa?”
“Bahkan meski kau tidak mengenalku dengan baik, aku... sangat mengenalmu. Agar kau memiliki takdir yang membahagiakan, aku akan mempertaruhkan segalanya... dan berdoa.” Ma Wang berbicara dengan lemah karena diliputi kesedihan. Dia membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan Na Chal.


Soo Bo Ri memperhatikan Na Chal dari lantai atas.
“Aku melakukan ini di bawah ancaman berandal itu, apakah ini hal yang benar?”


Flashback. Soo Bo Ri ketakutan dan tersudut saat Oh Gong membentaknya.
“Bawa saja dia! Pertemukan mereka sekali saja!”
“Oh Gong-ah! Aku ini sedang dihukum.”
“Kenapa kau tidak bisa menghentikan Malaikat Maut menjemput jiwa selama beberapa saat padahal kau Dewa?! Kau harus membawanya. Kau tidak mau membawanya? Haruskah aku ke atas sana bersamamu? Aku lempar saja semuanya!!!”
“Aish, dasar psikopat kepar*t!”


Oh Gong berpesan pada Ma Wang agar jangan mati, karena tanpa Ma Wang dia akan merasa bosan. Ma Wang hanya memberikan kode dengan tangannya agar jangan menangis.


Sebelum meninggalkan Ma Wang, Oh Gong menepuk bahunya dan memegangnya beberapa saat.


Soo Bo Ri memerintahkan Seon Mi untuk meletakkan tangannya di wadah dupanya. Seon Mi mengikutinya dengan ragu-ragu.
“Kau adalah Sam Jang. Kau adalah manusia paling istimewa. Kau bisa melakukannya.”
Saat Seon Mi meletakkan tangannya, tempat dupa itu mengeluarkan cahaya.


Beberapa saat kemudian semua bintang di langit bergerak bersamaan menuju ke tubuh Ma Wang dan menghujaninya seperti anak panah. Ma Wang berteriak tak terkendali. Setelah ribuan bintang menghujam tubuhnya, Ma Wang jatuh tergeletak. Dia masih sempat mengucapkan “Aku mencintaimu” lalu tidak sadarkan diri.


Di tempat lain, Na Chal merasa keheranan kenapa dirinya terus saja menangis tanpa sebab.
Advertisement

2 comments

Lanjut kk nulis y jgn lma2

Sangat ditunggu...cepat ya kak


EmoticonEmoticon