2/21/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 PART 1

Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 16 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 15 Part 4

Seon Mi berniat melepas Geumganggo sambil mengingat kenangan-kenangannya bersama Oh Gong.


Sementara itu, Oh Gong bermimpi berada di sebuah lorong rumah sakit bersama orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Diujung lorong ada seorang wanita yang menggedong bayi dan berbicara pada Oh Gong.

“Darah bayi ini akan menyelamatkan manusia. Yang kau lihat sekarang adalah lahirnya Sam Jang. Kau akan menjadi pengawal yang akan melindungi Sam Jang. Aku akan menunjukkan awal dari Sam Jang yang baru. Karena aku ingin kau melindungi anak ini sampai akhir. Jangan pernah melepaskannya.”


Oh Gong terbangun, dia marah saat mengetahui Seon Mi akan melepas Geumganggo dengan alasan memberi kesempatan Oh Gong untuk melarikan diri darinya. Oh Gong menarik tangannya, dia tidak bersedia Geumganggo lepas darinya.


Sa Oh Jeong akan membawakan makanan ke kamar Oh Gong, tapi di taman Sureumdong dia melihat seekor bangau putih bertengget di atas.


Oh Gong dan Seon Mi saling berebut Geumganggo, sampai Oh Gong menahan kedua tangan Seon Mi tetap di tempat tidur. Oh Gong bertanya apa karena Seon Mi takut akan membunuh dirinya, Seon Mi mengatakan dia tidak akan bisa melindungi Oh Gong dengan cara apapun. “Jadi kau berbaring di dalam peti mati tertutup itu? Apa kau bodoh?”
“Iya. Aku bodoh. Kau berengsek!”


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara botol yang pecah. Oh Gong mengatakan itu bukan perbuatannya.


Dengan kebingungan, Seon Mi menyadari dia yang memecahkan botol itu saat sedang berteriak pada Oh Gong tadi.
“Tak peduli seberapa marahnya, apa mungkin aku menghancurkan ini? Aku memiliki kekuatan seperti ini? Sejak kapan?”
Oh Gong mengatakan saat Ah Sa Nyeo masuk dan meninggalkan tubuh Seon Mi, mungkin saja dia meninggalkan sebagian kekuatannya. Soen Mi pun mengakui dia ingat semua kejadian saat Ah Sa Nyeo dan Oh Gong berada di Sureumdong. Dia tahu saat Ah Sa Nyeo menolak minum anggur dan melarang Oh Gong menyalakan lilin. 
“Juga... Kau minum obat.”
“Be... Tidak. Memang benar, tapi tidak seperti itu.”
“Pada priaku... jalang itu...”
Sebuah botol pecah lagi karena Seon Mi menjadi marah karena mengingat Oh Gong mencium Ah Sa Nyeo. Oh Gong pun bertepuk tangan karena kemapuan baru Seon Mi.


Sementara itu di suatu tempat, Ah Sa Nyeo membuka matanya dengan lemah.
“Aku menghilangkannya kali ini.” Sepertinya dia sedang menyesali sesuatu.


Oh Gong menunjukkan ranjang yang dihias oleh Sa Oh Jeong, dan Seon Mi pun menyukainya. Kemudian Seon Mi menatap Oh Gong dengan senyuman di wajahnya yang tampak sedih.
“Ini memalukan. Kau tahu... ternyata kita bukan pasangan yang ditakdirkan di Surga. Itu... adalah lonceng kematian. Kembali denganmu membuatku sangat takut dan menyakitkan bagiku.”
Seon Mi juga mengatakan dia ingin melindungi Oh Gong dengan caranya sendiri, karena dia tidak memiliki kekuatan apa pun. Menurut Oh Gong Sam Jang sangat spesial, bahkan bisa membunuh orang sehebat Oh Gong. Untuk menghibur Seon Mi, Oh Gong mengatakan akan menjadi waspada sambil memikirkan bagaimana Seon Mi bisa membunuhnya. Dan akan berusaha menghindarinya sehingga Oh Gong tidak mati. 
“Baiklah. Jangan pernah mati karena aku.” Ucap Seon Mi dengan perasaan yang lebih baik.
Lalu Oh Gong berbicara dengan wajah seperti kesakitan, dia merasa akan mati karena menghabiskan malam pertama hanya dengan tidur. Dia merasa tidak adil, dan bisa mati melihat Seon Mi tersenyum dan sangat menggemaskan.
“Berhenti tersenyum. Ini sungguh membunuhku. Tidak bisa begini. Jika tetap di sini bersamamu, aku akan mati karena tergoda. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo.”


Saat Oh Gong sudah keluar dari kamar, Seon Mi mengambil sebuah pecahan kaca lalu mengamatinya dan berpikir bagaimana bisa dia memecahkan botol itu.


Setelah mengantar Seon Mi, Oh Gong melihat Sa Oh Jeong sedang membersihkan taman. Sa Oh Jeong mengatakan sedang membawakan makanan tapi dia mengira Sam Jang masih bersama Oh Gong dan dia memutuskan untuk melihat-lihat taman saja, karena dia pikir tidak boleh masuk kemar Oh Gong.
“Tidak ada yang terjadi sampai kau tidak boleh masuk. Karena kau di sini, bersihkan kamar di Sureumdong.”
“Iya. Aku akan membersihkannya. Omong-omong, Hyungnim, seekor bangau putih datang ke Sureumdong.
“Bangau putih. Datang ke Sureumdong? Lalu, itu berarti bukan binatang bersayap biasa.”


Oh Gong teringat wanita dalam mimpinya yang menggendong bayi.
“Ini lahirnya Sam Jang.”


“Yang menunjukkan sesuatu padaku sebelumnya... apakah itu?”
“Apa yang Anda lihat?”
“Oh. Dia bilang itu lahirnya Sam Jang. Tapi ini aneh. Aku diberitahu bahwa dia menjadi Sam Jang sebagai hukuman untuk membebaskanku. Tapi apa maksud kelahirannya?”
“Sama seperti yang Anda dengar, dia pasti menjadi Sam Jang sejak lahir.”
“Lalu itu lebih aneh lagi. Kau bilang itu bangau putih... Apa yang ingin dia tunjukkan padaku?”
Mereka berdua mendengar tangisan bayi lalu mencari sumber suara itu.


Sa Oh Jeong melihat bayi di tempat bangau bertengger sebelumnya. Dia mengatakan pasti bangau putih pasti membawanya.


Oh Gong membawa bayi itu ke tempat Ma Wang. Ma Wang keheranan, bagaimana bisa dalam semalam Oh Gong sudah mempunyai bayi. Dengan sungguh-sungguh Oh Gong mengatakan oada Ma Wang kalau bayi itu ditinggalkan di taman Suremdong.
“Tapi masalahnya, mengapa bayi ini... Mengapa mirip denganmu? Apa itu masuk akal? Bagaimana bisa terjadi dalam semalam?” kata Ma Wang sambil menunjuk Oh Gong dan bayi itu.
Oh Gong menjelaskan lagi kalau dia kemarin dia tidur semalaman karena obat yang digunakan untuk Ah Sa Nyeo. Oh Gong lalu teringat sial Ah Sa Nyeo dan bertanya di mana dia sekarang. Dengan alasan kekuatannya yang makin melemah, Ma Wang beralasan Ah Sa Nyeo lolos darinya. Oh Gong merasa heran, seburuk itu kah kekuatan Ma Wang sekarang.
“Benar. Dan aku masih merasakan efek samping. Aku di landa kemalangan dan kedinginan. Sekarang aku seekor Banteng tanpa tanduk.” Kata Ma Wang sambil menggetarkan tangannya.
“Aku akan menangkapnya. Ma Wang, istirahatlah sampai tandukmu tumbuh. Itu akan tumbuh kembali, jadi jangan khawatir.”
Ma Wang dan Sekertaris Ma meneriaki Oh Gong yang pergi begitu saja tanpa membawa bayinya.


Ma Wang kebingungan apa yang harus dilakukannya dengan bayi itu.
“Dia selalu membawa semua yang mengganggu dan meninggalkannya denganku. Ah, yang benar saja!”
“Jika Son Oh Gong menangkap Asanyeo, dia akan tahu Anda membiarkannya pergi. Menurutmu, anak Putri Kipas Besi sudah mati?”
“Sampai aku tahu apakah Asanyeo bicara  sebenarnya, aku akan membuatnya tetap hidup. Itu tipu daya yang membuat kecurigaan tanpa alasan. Kecurigaan itu bisa menjadi kebenaran. Ada kemungkinan kecil anak itu masih hidup. Sampai kecurigaanku di konfirmasi, aku tak bisa percaya siapa pun.”
“Termasuk Dewa Agung?”
“Benar, termasuk pria itu. Aku harus mencurigai semuanya. Apa kau juga... datang untuk menipuku?” kata Ma Wang pada bayi itu. Tapi bayi itu menyentuh dan bermain tangan Ma Wang. Ma Wang pun merasa sangat senang karena hal sepele itu. Saat itu juga dia meminta Sekertaris Ma untuk membelikan mainan bayi, Ma Wang sangat menyukai bayi itu.
“Hei, Sekretaris Ma, pergi beli mainan. Aku akan menuruti kemauannya. Astaga, kau tersenyum. Astaga. Sedang apa kau? Cepat belikan! Astaga, kau sangat menggemaskan. Tanganmu juga. Astaga, kau tersenyum.”


Prof Kang masuk ke sebuah ruangan di mana Ah Sa Nyeo berbaring di sebelah peti batu.
“Berapa lama aku harus menunggu? Kurasa kita perlu bicara.”


Prof Kang mengatakan pada Ah Sa Nyeo kalau banyak hal yang membuatnya penasaran.
“Tentang siapa kau, dan apa kemampuanmu. Banyak yang ingin aku ketahui. Jika aku memberitahumu semuanya, itu akan melelahkan.”
“Haruskah aku mengurus anak di sebelah yang kau khawatirkan itu? Mereka bilang kau perlu menyingkirkan orang yang tahu tentang Akiko.” Ah Sa Nyeo tersenyum sambil melirik ke arah hantu Akiko di samping Prof Kang.


Prof Kang sedang bersama Direktur Museum, dia berterima kasih pada pria itu karena sudah membantu menjaga masalah keluarganya agar tidak tersebar. Pria itu mengatakan bahwa kakek buyutnya adalah pejuang kemerdekaan yang terkenal dan menerima medali kehormatan.


Flashback. Direktur Museum membuka kotak kayu berisi meja rias lalu berbicara pada ibu Kang Dae Sung.
“Aku tidak tahu apa pun. Masa lalu yang tersembunyi tidak pernah di usik.”


Direktur Museum mengaharapkan sesuatu dari Kang Dae Sung.
“Berjanjilah aku akan mendapatkan posisi yang pasti. Saat kau masuk dunia politik, jika masa lalu keluarga pro-Jepang  terungkap, itu akan menjadi batu sandungan.”
“Batu sandungan harus disingkirkan. Ayo bicara sembari minum teh.” Ucap Kang Dae Sung dengan senyum misteriusnya.


Prof Kang mengajak Direktur Museum ke rumahnya untuk menunjukkan peti batu yang dikatakan ditemukan di lokasi konstruksi. Prof Kang keluar dari ruangan itu, sementara Direktur Museum sedang mengamati peti itu.


Di luar, Ah Sa Nyeo sudah menunggu. Saat Kang Dae Sung keluar dia lalu masuk. Kang Dae Sung mendengar suara jeritan dari dalam ruangan.
Advertisement


EmoticonEmoticon